<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562</id><updated>2012-02-17T07:58:17.649+04:00</updated><category term='Madinah'/><category term='Vietnam'/><category term='umrah'/><category term='piramid'/><category term='Hanoi'/><category term='Amsterdam'/><category term='Giza'/><category term='Visa'/><category term='Cairo'/><category term='Xinjiang'/><category term='China'/><category term='Istanbul'/><category term='Beijing'/><category term='Angkor Wat'/><category term='Perancis'/><category term='Tehran'/><category term='London'/><category term='Aswan'/><category term='Arab Saudi'/><category term='Dalat'/><category term='Halong'/><category term='Nil'/><category term='Singapore'/><category term='UAE'/><category term='Inggris'/><category term='Saigon'/><category term='Paris'/><category term='Siem Reap'/><category term='desert'/><category term='Kuala Lumpur'/><category term='Korla'/><category term='Musandam'/><category term='Dubai'/><category term='Itali'/><category term='Vung Tau'/><category term='Amerika'/><category term='Hue'/><category term='Cambodia'/><category term='Nha Trang'/><category term='Newark'/><category term='Makkah'/><category term='Sana&apos;a'/><category term='Hadramaut'/><category term='Turki'/><category term='Malaysia'/><category term='Mesir'/><category term='Iran'/><category term='Isfahan'/><category term='Yaman'/><category term='food'/><category term='Oman'/><category term='Antalya'/><category term='HCMC'/><category term='Belanda'/><category term='Roma'/><category term='Europe'/><category term='Thailand'/><category term='Bangkok'/><category term='Hoi An'/><category term='Luxor'/><title type='text'>The Curious Traveler</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-1209112803553501546</id><published>2010-01-22T01:23:00.008+04:00</published><updated>2010-01-22T16:52:13.437+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isfahan'/><title type='text'>Isfahan- half of the world</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mX_SalkFI/AAAAAAAAAgU/GbM5HaEfbJU/s1600-h/Imam+Square+2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429537939302748242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mX_SalkFI/AAAAAAAAAgU/GbM5HaEfbJU/s400/Imam+Square+2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dengan city square yang menakjubkan, jembatan-jembatan cantik, masjid-masjid yang indah, dan taman yang menawan, Isfahan adalah kebanggaan penduduknya yang menyebut "Isfahan adalah separuh dunia".&lt;br /&gt;Tidak diketahui jelas kapan Isfahan mulai berdiri, namun yang jelas sejak abad ke 1o Masehi telah tercatat sebagai salah satu kota terpenting, terbesar, dan terindah di dunia, sekaligus sebagai ibukota Persian Empire. Hingga kini Isfahan masih diakui sebagai salah satu contoh terbaik arsitektur Persia dan tercatat dalam daftar UNESCO World Heritage Site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isfahan memang salah satu kota tercantik yang pernah saya kunjungi. Tempat paling impresif, tentu saja, adalah Imam Square (namanya dulu Shah Square atau Naghsh-e Jahan Square-- sepertinya nama berganti sesuai nama penguasa).&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Square ini adalah salah satu town square terbesar di dunia, dikelilingi oleh berbagai bangunan bersejarah dari masa dinasti Safavid. Bagian tengahnya dihiasi taman luas dan kolam air mancur, sedangkan salah satu sisinya terhubung dengan Grand Bazaar Isfahan. Sempatkan beberapa jam berjalan mengelilingi Imam Square, mengunjungi masjid Sheik-Lotfallah dan Masjid Shah serta Istana Ali Qapu yang berdiri di sisinya, juga mengagumi berbagai cendera mata khas Iran di toko-toko seni yang mengitari Imam Square. Hasil kerajinan Isfahan bagus-bagus sekali, antara lain enameled copper, karpet, kilim, inlaid works (tapi nggak murah, kualitasnya benar-benar tinggi).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Suasana di sini benar-benar damai dan tenang, terlebih karena mobil tidak diizinkan masuk ke Imam Square. Untuk menutup hari, jangan lupa mampir ke salah satu restoran tradisional dan memesan kabab atau beryooni khas Isfahan plus teh dengan aroma mawar. Then, call it a perfect day in Isfahan...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mewTd8q6I/AAAAAAAAAgs/ryNfKzpQbh0/s1600-h/Sis-o-Se-Pol.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429545378468637602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mewTd8q6I/AAAAAAAAAgs/ryNfKzpQbh0/s320/Sis-o-Se-Pol.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Malam hari atau tepat setelah matahari terbenam adalah saat terbaik mengunjungi jembatan-jembatan cantik yang melintasi sungai Zayandeh. Jembatan yang paling terkenal di antaranya adalah Pol-e-Khaju dan Sis-o-Se-Pol (33 Arches Bridge). Karena jembatan-jembatan ini sangat fotogenik di malam hari, photographers bring along your tripods!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat lain yang harus dikunjungi adalah Chehel Sotoon, istana peristirahatan yang dibangun Shah Abbas II di Abad ke-17. Pilar-pilarnya yang menjulang dibuat dari kayu chenar utuh, memantul di kolam depan istana memberi kesan jumlah pilar dua kali lipat dari sesungguhnya yang cuma dua puluh; demikianlah nam&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mcSCX7RrI/AAAAAAAAAgk/5cv_T9kIdc4/s1600-h/_DSC0537.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429542659460646578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mcSCX7RrI/AAAAAAAAAgk/5cv_T9kIdc4/s320/_DSC0537.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a Chehel Sotoon: "empat puluh pilar" didapatkan.&lt;br /&gt;Bagian dalam istana dihiasi dengan fresco dan lukisan di atas keramik yang sangat indah. Di samping fresco yang melukiskan perang, sebagian besar anehnya menggambarkan para bangsawan sedang menikmati anggur (meskipun diharamkan dalam Islam yang notabene agama resmi Persian empire masa itu)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekedar info; berlawanan dengan keyakinan Islam di beberapa negara lain yang tidak mengizinkan penggambaran makhluk hidup (manusia/ binatang), kebudayaan Islam Persia tidak memeprmasalahkannya. Monumen religius maupun istana dihiasi dengan gambar (dan patung) yang bewarna-warni serta sangat detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat menarik lain adalah Vank Cathedral, gereja katolik Armenia abad ke-16 yang dari luar sangat sulit dibedakan dengan masjid kalau saja tidak ada salib kecil yang nangkring di atas kubahnya. Bagian dalamnya dipenuhi fresco warna-warni yang sangat indah (sayang tidak boleh memotret di sini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau budget mengizinkan, cobalah menginap di Abbasi Hotel yang sebenarnya adalah caravanserai berusia 300 tahun yang sudah dipugar menjadi hotel modern. Atau paling tidak makan malam di salah satu restoran Abbasi Hotel yang sambil mengagumi interiornya yang spektakuler, dihiasi fresco and mosaik-mosaik kaca khas Iran. Then, call it another perfect day in Isfahan...!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;--Selected photos of my trip to Iran are posted in candra.smugmug.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-1209112803553501546?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/1209112803553501546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2010/01/isfahan-half-of-world.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1209112803553501546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1209112803553501546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2010/01/isfahan-half-of-world.html' title='Isfahan- half of the world'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1mX_SalkFI/AAAAAAAAAgU/GbM5HaEfbJU/s72-c/Imam+Square+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-368510681767675152</id><published>2010-01-21T11:49:00.011+04:00</published><updated>2010-01-22T01:10:22.791+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tehran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iran'/><title type='text'>Tehran- the capital of contrasts</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAdrccTEI/AAAAAAAAAf8/pdPde509haw/s1600-h/Museum+Post.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429300966905891906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 203px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAdrccTEI/AAAAAAAAAf8/pdPde509haw/s320/Museum+Post.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Ibukota Iran dan kota terbesar di Iran, Tehran identik dengan kemacetan, gaya menyetir gila-gilaan, gadis-gadis trendy, restoran keren, dan (sssttt..) underground parties.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tehran sendiri bukan kota dengan sejarah panjang. Hingga abad ke-13, Tehran hanya dikenal sebagai desa yang kalah pamor dari kota tetangganya, Rhages. Barulah di abad ke-17, penguasa dinasti Safavid mulai tinggal di Tehran dan akhirnya pada akhir abad ke-18 resmi menjadi ibukota Iran. Sayangnya, di zaman Mohammad Reza Pahlavi, banyak bangunan dan taman bersejarah dihancurkan demi "modernisasi". Hanya sedikit sekali bangunan bersejarah yang tersisa dan skyline didominasi bangunan apartemen "soviet style" yang kelabu coklat; jelas tidak memprioritaskan eksterior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, Tehran punya banyak museum yang menarik, highway yang lebar dan mulus, metro system, dan bus rapid transfer system (sejenis busway lah)-- nggak kelihatan seperti negara embargo deh. Kalau bisa survive dengan gaya menyetir gila-gilaan di sini, Tehran bisa lah jadi tempat tinggal yang nyaman. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAX22U_zI/AAAAAAAAAf0/E2eEXhgDDdA/s1600-h/fashion.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429300866888040242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 205px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAX22U_zI/AAAAAAAAAf0/E2eEXhgDDdA/s320/fashion.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Berjalan di Tehran atau hang-out di salah satu cafe-nya, kita bisa merasakan kontras yang menarik di Tehran. Meskipun pemerintah mengontrol pelaksanaan "hukum Islam" dengan ketat, sangat mudah melihat gadis-gadis berdandan super-stylish (kadang dengan make-up super tebal yang membuat mereka kelihatan teatrikal) dan kerudung disampirkan sekenanya for the sake of rule, bergandengan tangan atau flirting dengan para pemudanya yang tidak kalah trendy.&lt;br /&gt;Night life di Tehran saya kira cuma berputar di sekitar hang-out di restauran atau coffee-shop, tapi the youngsters jelas tertawa mendengar ini ("we make our own parties, home")&lt;br /&gt;Saya juga menemukan, walaupun Iranian channels jelas-jelas cuma channels yang direstui pemerintah dan disensor super ketat, tapi satellite receiver adalah barang normal di setiap rumah. Isinya? Anything you can imagine.&lt;br /&gt;Kontras inilah yang menggambarkan tegangan yang luar biasa antar generasi muda dan pemerintah. Tampak tenang di permukaan namun bergolak di bawah, persis seperti suasana di sekitar Sharif University yang teduh namun dimonitor ketat oleh pemerintah (lokasi berbagai demonstrasi, termasuk tempat terbunuhnya Neda Agha-Soltan). Semua educated youngsters yang saya ajak mengobrol jelas bukan fans berat Ahmadinejad dan menginginkan emigrasi ke negara lain. Saya cuma menghibur "Guys, your government sucks but mine is worse"&lt;br /&gt;Mereka tidak terlalu terhibur. Ternyata, Iran ada di peringkat 168 corruption perception index (top 12 most corrupted contries on earth) sedangkan Indonesia masih *agak lumayan* di peringkat 111. Sigh (I'm not proud of that either)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun hal favorit saya di Tehran adalah orang-orangnya yang asyik, banyak juga tempat yang wajib dilihat di Tehran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1- Golestan Palace&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kompleks istana peninggalan dinasti Qajar yang mulai dibangun abad ke-16 dan sekarang semuanya menjadi museum. Terdiri dari 10 museum, setiap museum membutuhkan tiket terpisah. Cek juga dulu masing-masing jadwal bukanya karena tidak semua dibuka tiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2- Museum of National Jewels&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salah satu museum paling impresif (apalagi untuk kaum-ehm-wanita), karena koleksi perhiasannya yang luar biasa. Mulai dari vas dan cangkir emas yang biasa banget deh, cuma 1-2 kilo emas dengan batu-batu mulia murahan (hehehe) sampai mahkota bertatahkan berlian-berlian besar dan singgasana emas dengan ribuan batu mulia.&lt;br /&gt;Bintang museum ini adalah berlian Darya-i-Noor (sea of light), salah satu berlian terbesar di dunia (182 karat; sekitar 36 gram) dengan warna merah muda pucat yang sangat langka.&lt;br /&gt;Museum ini terletak di bawah tanah National Bank of Iran, tanpa tanda maupun petunjuk. Pokoknya misterius banget deh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAODdUjdI/AAAAAAAAAfs/LdaSHrQA20I/s1600-h/Iran+museum.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429300698474122706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 222px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAODdUjdI/AAAAAAAAAfs/LdaSHrQA20I/s320/Iran+museum.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;3- National Museum of Iran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Museum ini mengoleksi 300 ribu relik mulai dari zaman pre-historik 9 milenium BC, masa pra-Islam, hingga post-Islam. Koleksinya sangat lengkap, sayang panduannya minim jadi kalau bisa mendapatkan buku panduan atau membaca sejarah in advance bakal lebih menarik. Salah satu koleksi favorit saya adalah tablet Darius I yang isinya memuji-muji dirinya sendiri dan dewa Ahura Mazda. Juga sebuat tablet dari seorang raja yang isinya kutukan terhadap siapapun yang merusak tablet bikinannya itu (good they keep it intact, hfff....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4-Park e-Jamshidiyeh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tehran yang kering dan (somewhat) kelabu dilatarbelakangi oleh Pegunungan Alborz yang cantik dengan puncaknya selalu bersalju. Park e-Jamshidiyeh adalah tempat di kaki pegunungan ini, banyak restoran trendy di mana kita bisa melihat pemandangan lampu-lampu Tehran di malam hari. Terus terang saja saya cuma betah sekitar 5 menit di sini walapun sebenernya suasananya asyik banget. Lagi puncak winter plus batas toleransi dingin saya yang rendah banget (maklum asli jogja). Kita bisa juga naik cable car ke puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5-Azadi Monument&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dibangun masa Reza Pahlavi untuk memperingati 2500 tahun Persian Empire. Untuk menyainginya, rezim sekarang membangun Milad Tower yang desainnya pasaran (mirip banget dengan CN Tower-Toronto atau Kuala Lumpur Tower-KL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAIVkKRKI/AAAAAAAAAfk/lGMqksiVq3M/s1600-h/Bazaar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429300600255431842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAIVkKRKI/AAAAAAAAAfk/lGMqksiVq3M/s320/Bazaar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;6- Tehran Bazaar &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bazaar raksasa yang digerakkan oleh pedagang-pedagang kaya raya yang konon membiayai Revolusi Iran tahun 1978. Walaupun ada bagian yang berusia sekitar 200 tahun, sebagian besar hasil pembangunan di abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, did I mention about the traffic?... Jangan lupa siapkan mental untuk menghadapi lalu lintas Tehran yang brutal (menurut saya cuma bisa dibandingkan dengan keliaran Cairo). Walaupun Tehranis umumnya lembut dan baik, mereka otomatis berubah kepribadian di balik roda setir!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-368510681767675152?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/368510681767675152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2010/01/tehran-capital-of-contrasts.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/368510681767675152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/368510681767675152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2010/01/tehran-capital-of-contrasts.html' title='Tehran- the capital of contrasts'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1jAdrccTEI/AAAAAAAAAf8/pdPde509haw/s72-c/Museum+Post.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-8112739626365090209</id><published>2010-01-21T10:55:00.006+04:00</published><updated>2010-01-22T08:32:01.681+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iran'/><title type='text'>Iran (what the hell you are doing there, dude?)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1kqGb-30SI/AAAAAAAAAgE/k5Fg9IQm4Jc/s1600-h/Fin+Garden.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429417115850887458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 284px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1kqGb-30SI/AAAAAAAAAgE/k5Fg9IQm4Jc/s400/Fin+Garden.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;What the hell you are doing there, dude?-- Begitulah komentar sahabat saya ketika saya kabari kalau saya mau jalan ke Iran.&lt;br /&gt;Tapi hey, Iran adalah rumah dari salah satu peradaban tertua di dunia sejak 9 Milenia sebelum Masehi. Puncaknya adalah Persian Empire di bawah Cyrus &amp;amp; Darius The Great yang pada masanya merupakan kerajaan terbesar di dunia. So yeah, it's high in my must-visit list!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan image media yang agak suram sekarang plus embargo, jalan-jalan ke Iran memang nggak gampang. Positifnya, ini berarti saya nggak bakal ketemu dengan rombongan turis masal dan bisa lebih merasakan keaslian suasananya. Negatifnya, ini berarti infrastruktur dan informasi bakal terbatas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VISA. Sebelum terbang ke Iran saya sudah mengecek ke banyak pihak (informasinya lumayan simpang siur) dan akhirnya berkesimpulan kalau warga negara Indonesia bisa mendapatkan visa on arrival di Imam Khomeini Airport, Tehran. Ketika memasuki imigrasi, jangankan saya, para officer-nya pun bingung saya butuh visa atau tidak. Akhirnya setelah menunggu sekitar dua jam tanpa tahu mereka sedang diskusi apa (biasa lah, lost in translation), saya bisa masuk Iran juga. Lesson learnt, guys: dapatkan turis visa sebelum datang ke Iran ketimbang repot di airport, atau resiko nggak bisa masuk (siapa tahu si officer lagi nggak mood hari itu. Regulations are gray here)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang berencana jalan ke Iran, saya menyarankan mengikuti tur (never be my choice) atau dengan seorang teman Iranian.&lt;br /&gt;Kalau jalan dengan teman, saran saya:&lt;br /&gt;- do your research in advance, di sini nggak ada panduan turis atau toko buku yang jual Lonely Planet Guide. Jalan dengan locals bukan berarti mereka tahu tempat-tempat yang menarik dikunjungi, jam &amp;amp; hari buka museum (jadwal buka agak aneh- cek sebelum pergi)&lt;br /&gt;- bawa cash (ie dollar atau euro) karena Visa atau MasterCard atau jaringan ATM internasional tidak berfungsi (embargo bok)&lt;br /&gt;- dress code for females: kerudung (disampirkan ke kepala sudah terhitung memadai), baju longgar yang panjang. Put your super-thick make-up to blend with the locals (hehehehe, ini mah saran iseng; tapi beneran cewek-cewek di Tehran suka agak berlebihan kalau dandan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jalan-jalan di Iran nggak terlalu gampang, after all Iran adalah tempat paling ramah dan welcoming yang pernah saya kunjungi. The winner of the nicest people I met... ya, Iranians.. seriously!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Visited in Iran: Tehran, Khashan, Isfahan (posting berikutnya)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-8112739626365090209?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/8112739626365090209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2010/01/iran-what-hell-you-are-doing-there-dude.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8112739626365090209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8112739626365090209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2010/01/iran-what-hell-you-are-doing-there-dude.html' title='Iran (what the hell you are doing there, dude?)'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/S1kqGb-30SI/AAAAAAAAAgE/k5Fg9IQm4Jc/s72-c/Fin+Garden.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-1637836715805870146</id><published>2009-11-17T08:23:00.022+04:00</published><updated>2009-11-21T10:11:18.389+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hue'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Hue, Vietnam's Old Imperial City</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd9g6-b6bI/AAAAAAAAAe4/bbw0l6qvPsQ/s1600/Imperial+enclosure.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406427882221988274" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd9g6-b6bI/AAAAAAAAAe4/bbw0l6qvPsQ/s320/Imperial+enclosure.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Huahh... akhirnya bisa traveling, walopun cuma 2 hari, setelah berbulan-bulan dormant!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kenapa Hue termasuk di daftar must-visit-in-Vietnam? Jelas karena Hue (kota kuno lagi nih) dipenuhi bangunan bersejarah dan tentu saja termasuk UNESCO World Heritage Site. Hue dulunya ibukota Vietnam dari abad ke-17 sampai tahun 1945. Saat itulah Vietnam terpecah, Kaisar Bao Dai diturunkan dan ibukota Vietnam dipindah oleh pemerintah komunis ke Hanoi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Meskipun sekarang terlihat damai (and somehow romantic) dengan sungai Huong atau Perfume River yang mengalir tenang melintasi Hue, Hue pernah menjadi saksi &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Hue"&gt;The Battle of Hue &lt;/a&gt;dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Massacre_at_Hu%E1%BA%BF"&gt;The Massacre of Hue &lt;/a&gt;yang hampir meratatanahkan kota indah ini. Di jantung kota Hue, istana dinasti Nguyen, yang sudah kosong, berdiri membisu di dalam citadel tua sunyi yang dilindungi tembok dan parit. If only walls could talk...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Datang ke Hue bulan November bisa dibilang gambling; cuaca nggak bisa ditebak. Kadang-kadang bisa hujan deras, mendung sepanjang hari, atau kalau beruntung pas cerah. Untuk photo hunting agak kurang menjanjikan. Enaknya, suhu agak enakan dan nggak terlalu lembab. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;FYI, Hue di musim panas terkenal panas lembab; cocok untuk photo hunting dengan hasil langit biru tapi dijamin kita basah kuyup keringetan dan nggak keren dipotret... hehehe...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akomodasi di Hue, seperti semua tempat di Vietnam, back-packer friendly banget. Kalau mau yang hotel berbintang, juga banyak. Terserah budget... Tapi, buat keliling Hue, regardless where you sleep, menurut saya cuma satu cara jalan-jalan yang paling sip: &lt;em&gt;rent a motorbike!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cukup dengan $5 (manual) atau $8 (automatic) per hari (nggak pake nawar), puas-puasin deh keliling Hue. Ajaibnya, saya sama sekali nggak ditanyai driving license atau disuruh ninggal passport. Bayar trus weeennngggg.... that's it.. Beneran nih..? Antara seneng dan takjub, apa muka saya segitu innocent-nya?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd_DroZ_eI/AAAAAAAAAfQ/uVcxQdQRrvE/s1600/Old+gate.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406429578910105058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd_DroZ_eI/AAAAAAAAAfQ/uVcxQdQRrvE/s320/Old+gate.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Must do di Hue:&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;- mengunjungi &lt;strong&gt;The Imperial Enclosure&lt;/strong&gt; yang terletak di dalam citadel (di sini semua yang bersejarah-bersejarah ngumpul... mulai dari Hall of the Mandarins, The Forbidden Purple City, museum, etc..) Terus terang banyak bangunan sudah rusak dan sedang dibangun lagi karena jaman perang dulu Hue habis-habisan dibom. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;- muter-muter di dalam citadel yang dikelilingi tembok tua dan penuh bangunan bersejarah&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd_nF3UjUI/AAAAAAAAAfY/TjkqR-5fUiI/s1600/Thien+Mu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406430187247406402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 228px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd_nF3UjUI/AAAAAAAAAfY/TjkqR-5fUiI/s320/Thien+Mu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; - ke Pagoda Thien Mu yang menjadi pagoda simbol Hue (sekitar 10 km dari Hue)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;- jalan ke salah satu dari &lt;strong&gt;royal tombs yang tersebar di sepanjang Perfume River&lt;/strong&gt; yang membelah Hue. Saking banyaknya, plan for one or two only. Satu makam aja udah sekitar 2 jam belum termasuk jalan ke sana dan kesasarnya :D Eh jangan salah, walaupun makam, areanya lumayan spektakuler; biasanyanya dikelilingi taman, danau, temple, etc. Tempat orang hidup pun kalah deh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;- makan di salah satu &lt;strong&gt;restoran tradisional Hue&lt;/strong&gt;. Coba deh Hue rice pancake (versi favorit saya: khong heu= no pork, hehehehe). Btw, makanan Hue terkenal enak-enak (apa sih yg nggak enak...?) Pham Ngu Lao area sekitarnya dipenuhi restoran... just pick one.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Warning: untuk para pecinta kehidupan kota, skip it; Hue is not your place. Tapi untuk traveler yang antusias dengan sejarah dan arsitektur, jangan lewatkan Hue walaupun cuma sebentar. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-1637836715805870146?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/1637836715805870146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/11/hue-vietnams-old-imperial-city.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1637836715805870146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1637836715805870146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/11/hue-vietnams-old-imperial-city.html' title='Hue, Vietnam&apos;s Old Imperial City'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Swd9g6-b6bI/AAAAAAAAAe4/bbw0l6qvPsQ/s72-c/Imperial+enclosure.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-7025509035119825317</id><published>2009-02-26T14:18:00.010+04:00</published><updated>2009-02-28T14:13:40.071+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hoi An'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Hoi An...... penuh cobaan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaeFePQGruI/AAAAAAAAAdA/61rx-T_EbUM/s1600-h/Hoian.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307357440416067298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaeFePQGruI/AAAAAAAAAdA/61rx-T_EbUM/s400/Hoian.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;strong&gt;Hoi An adalah kota yang terletak di Central Vietnam; pada abad ke 14-19 pernah menjadi salah satu bandar perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Setelah memudar perannya sebagai kota niaga, sekarang kota ini menjadi musium raksasa berkat kota kuno cantiknya yang dirawat dan dilestarikan (salah satu UNESCO World Heritage sites). Walaupun tidak bisa dibantah Hoi An sudah menjadi kota turis, tapi kharisma dan keasliannya masih tetap hidup. For history lovers, Hoi An adalah tujuan impian di Vietnam. Tapi siapa sangka, Hoi An also revealed my darkest side... hehehehhe guess what...&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hoi An tidak punya airport maupun stasiun kereta, tapi gampang dicapai dari Da Nang airport/ stasiun dengan mobil. Akomodasi gampang banget, konon sih memang surga back-packer saking murah dan bagus kualitasnya. Dan buat lone female traveler kayak saya, so convenient and safe... &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jalan-jalan di Hoi An old town kecil dan sempit, tidak boleh dilewati mobil. Benar-benar nyaman buat pejalan kaki. Rumah-rumahnya semua dijaga keasliannya (walaupun sebagian besar berubah fungsi menjadi toko atau restoran), dengan lampion warna-warni menggantung. Walaupun jumlah turis yang keluyuran luar biasa jumlahnya, tapi suasana tradisional menyelimuti Hoi An dengan kuat. Perempuan dengan ao dai dan caping, anak-anak bersepeda, warung pinggir jalan menyajikan makanan lokal, juga pasar tradisional yang hingar-bingar. Setiap bulan purnama, Hoi An old town ditutup untuk semua kendaraan bermotor ("only primitive vehicles allowed" begitu bunyi peraturannya, hehehe) dan jalanan dipenuhi pertunjukan tradisional... keren....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain suasananya yang back to 15th century, ada hal lain yang membuat Hoi An menggoda. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Baju&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Lho kok? Begini ceritanya. Hoi An dipenuhi dengan toko-toko pakaian. &lt;em&gt;Wait, wait,&lt;/em&gt; terus apa bedanya dengan tempat lain? Di Hoi An, toko pakaian ini menyodorkan katalog-katalog ready-to wear designer terbaru (Next, Mango, Zara,...), terus kita tunjuk yang kita naksir, pilih kainnya, kita pun diukur, dan &lt;em&gt;voila!&lt;/em&gt; baju impian pun jadi dalam waktu 3-4 jam saja. Kurang puas, nggak cocok, kesempitan, tinggal dibenerin saja...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaeGvAyc9eI/AAAAAAAAAdI/4Zs43DuejDU/s1600-h/DSC_0448.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307358828103005666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 234px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaeGvAyc9eI/AAAAAAAAAdI/4Zs43DuejDU/s320/DSC_0448.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Nah... di sinilah letak godaan Hoi An yang paling &lt;em&gt;evil&lt;/em&gt; (you have to come here to feel the temptation!) Bagaimana enggak, disodori katalog designer yang super keren, ditimbuni kain-kain dengan corak dan bahan yang ratusan jumlahnya, ditawari harga seperlima harga baju aslinya, dihujani rayuan-rayuan maut ("ooo, this will look so good on you"... etc... those devils...)... berakhirlah saya menyerah dan nggak sanggup menerima cobaan ini. Jangan tanya berapa biji baju yang akhirnya saya jahitkan di Hoi An (only God knows, saya aja takut mau ngitung). Salah satu dress saya jahitkan tepat 3 jam sebelum flight saya balik ke HCMC (lagi-lagi nggak kuat melawan godaan di menit-menit terakhir...) Jadi juga dan puassss banget deh hasilnya. Seorang ibu-ibu Canadian yang menjahitkan baju bareng saya mengaku tanpa malu-malu kalau dalam sehari dia mengkoleksi sepuluh baju baru! Anak cowoknya yang metal pun lagi sibuk mencoba &lt;em&gt;suit&lt;/em&gt; terbarunya di depan kaca.... Terbersit dalam hati, kalau sampai ada perempuan yang kuat menahan godaan Hoi An, hmmm.. she is &lt;strong&gt;really&lt;/strong&gt; strong....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam perjalanan pulang (udah pakai baju baru dong, hehehehe), saya seperjalanan dengan seorang wanita Belanda yang kelihatannya backpacker banget. Menurut pengakuannya sih sudah enam bulan traveling keliling dunia. Dia dengan bangga mengatakan kalau tidak bikin sepotong baju pun di Hoi An. Kontan saya nyaris memeluknya, "sweetheart, you are one tough lady!"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-7025509035119825317?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/7025509035119825317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/02/hoi-penuh-cobaan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7025509035119825317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7025509035119825317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/02/hoi-penuh-cobaan.html' title='Hoi An...... penuh cobaan'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaeFePQGruI/AAAAAAAAAdA/61rx-T_EbUM/s72-c/Hoian.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-2598716259066590845</id><published>2009-02-26T09:18:00.015+04:00</published><updated>2009-02-27T07:33:04.144+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cambodia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angkor Wat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siem Reap'/><title type='text'>Siem Reap, part II: Angkor Wat dan temen2nya...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaZgKHGSR2I/AAAAAAAAAco/DTixNQGTcRY/s1600-h/Angkor+Wat+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307034937723078498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 446px; CURSOR: hand; HEIGHT: 242px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaZgKHGSR2I/AAAAAAAAAco/DTixNQGTcRY/s400/Angkor+Wat+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Angkor Wat selalu menjadi cherry on the cake di Siem Reap. Sering disebut sebagai &lt;em&gt;the epitome of Khmer architecture&lt;/em&gt; (canggih amat istilahnya), Cambodia begitu bangganya dengan Angkor Wat sampai gambar bangunan ini dipasang di bendera nasionalnya. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Sadcr940P2I/AAAAAAAAAc4/5BZqT4-_IAQ/s1600-h/apsara.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307312596296417122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 151px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/Sadcr940P2I/AAAAAAAAAc4/5BZqT4-_IAQ/s320/apsara.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Konon salah satu struktur religius terluas di dunia, Angkor Wat dibangun sekitar Abad ke-12 oleh raja Suryavarman II sebagai kuil Hindhu, kemudian berubah menjadi kuil Budha di sekitar abad ke-14. Angkor Wat dikelilingi oleh danau buatan yang cantik dan menempati area seluas 2 km2. Bangunannya sendiri terdiri atas tiga tingkat. Tingkat pertama sedang ditutup waktu saya ke sana (syukur jadi ada alasan nggak usah naik ke atas; bayangin aja kemiringannya sekitar 75 derajat dan anak tangganya dulu didesain buat kaki bayi apa ya? a.k.a kecil-kecil amat, sadis!) Salah satu relief yang paling terkenal di Angkor Wat adalah reliefnya "apsara" alias gadis penari. Semuanya &lt;em&gt;mblegedhing&lt;/em&gt; (bahasa apa coba ini) alias topless, udah gitu ukiran mukanya jelek-jelek semua lagi; bikin ilfil, hahahaha. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di sekitar Angkor Wat, masih banyak candi lainnya yang rugi kalau nggak didatangi. Mengitarinya jelas butuh ketabahan. Soalnya, nggak mungkin kan dateng malam-malam; pasti deh harus siang waktu matahari menyengat. Jadi panas-panas kering Cambodia pun tetap nggak menyurutkan niat ke: &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaZrd5oVLOI/AAAAAAAAAcw/j8oqvMDzh34/s1600-h/Bayon+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307047372333067490" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 307px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaZrd5oVLOI/AAAAAAAAAcw/j8oqvMDzh34/s400/Bayon+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;strong&gt;- Bayon Temple&lt;/strong&gt; yang dulu terletak di pusat ibukota Khmer Angkor Thom (terkenal dengan struktur empat muka raksasanya) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Baphuon, Royal Palace, dilanjutkan ke Terrace of the Leper King&lt;/strong&gt; (konon tempat sang Raja menonton parade angkatan perang dulunya)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;- ditutup dengan &lt;strong&gt;Phnom Bakheng&lt;/strong&gt;: naik ke atas bukit-- bisa jalan kaki atau kalau mau lebih gaya naik gajah ( serius!) -- trus mendaki candi 75 derajat, trus bernapas lega melihat pemandangan hutan yang spektakuler dan Angkor Wat dari atas. Sebenarnya, sunset dari Phnom Bakheng bagus sekali, cuma kalau melihat jumlah turis vs luas Phnom Bakheng, hhh menyeramkan... takut runtuh deh tuh candi tua. &lt;em&gt;Photographers, get your sunset somewhere else!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalau masih belum puas dengan historical visit, masih ada Angkor Museum yang surprisingly modern (dengan panduan keren a la British Museum lo). Belum puas juga? Ya udah coba aja malam-malam jalan di downtown Siem Reap, nyobain makanan Khmer yang ternyata enak di deretan restoran-restoran keren dan affordable di sini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Anyway, night in the supposedly ancient town ini sama sekali nggak kuno... Thanks to tourists kota ini bangun 24 jam. I ended up in a small cafe yang punya live music bagus banget. No Khmer music ya, mereka mainnya top 40, hahaha...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-2598716259066590845?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/2598716259066590845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/02/siem-reap-part-ii-angkor-wat-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2598716259066590845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2598716259066590845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/02/siem-reap-part-ii-angkor-wat-dan.html' title='Siem Reap, part II: Angkor Wat dan temen2nya...'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SaZgKHGSR2I/AAAAAAAAAco/DTixNQGTcRY/s72-c/Angkor+Wat+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-7960927600989538796</id><published>2009-02-01T04:45:00.011+04:00</published><updated>2009-02-26T09:17:42.592+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cambodia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siem Reap'/><title type='text'>Siem Reap, part I: Tonle Sap &amp; Ta Prohm</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUjgK2tbgI/AAAAAAAAAbk/POv9NEhPlHA/s1600-h/Bayon+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297679572247866882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUjgK2tbgI/AAAAAAAAAbk/POv9NEhPlHA/s400/Bayon+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;strong&gt;Sebagai pecinta reruntuhan bersejarah (hehehehe), Siem Reap sudah lama ada di daftar must-visit saya. Siem Reap adalah bekas pusat pemerintahan Khmer Empire yang berkembang sekitar Abad ke-7 higga Abad ke-15. Karena itu, di sini kita bisa menemukan banyak sekali situs bersejarah, yang kini terkubur atau terselip di antara tanah pertanian dan hutan. Makin terkenal setelah menjadi setting film Tomb Raider yang pertama (... bayangin deh Angelina Jolie loncat-loncat di sini) &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengunjungi Siem Reap sebenarnya gampang sekali; jumlah penerbangan internasional ke Siem Reap menakjubkan frekuensinya dan dari berbagai negara pula; mulai dari Bangkok, Singapore, KL, Laos, HCMC, Hanoi, sampai Seoul.... Masuk ke Cambodia pun lumayan gampang, bisa dapat visa on arrival dengan membayar 20 USD dan selembar foto 4x6. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk hotel, Siem Reap punya pilihan yang luar biasa banyak; mulai dari yang super fancy sampai budget option. Saya tinggal di sebuah guest house mid-range (tentu saja ketemu dari internet), yang menawarkan paket all-in: akomodasi, meal, transport, dan guide, dengan harga super reasonable. Tempatnya juga squeaky clean, dilengkapi dengan pemilik yang sangat bersahabat, plus staff yang ramah-ramah. Love it! (kalau mau tahu nama tempatnya, just ask me...)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena tiba di Siem Reap menjelang sore, rencana pertama adalah melihat sunset di Tonle Sap ("the Great Lake"), sekitar 30 menit dari Siem Reap. Danau ini sangat unik, karena selain luasnya yang berubah dramatis dengan pergantian musim, arah alirannya pun turut berubah sesuai musim. Di musim kemarau, Tonle Sap mengalir ke arah Sungai Mekong, mengerut ke ukuran sekitar 3000 km2. Setelah musim penghujan datang, arah aliran berbalik, dan Tonle Sap pun mengembang lima kali lipat lebih, membanjiri hutan dan area sekitarnya. Tonle Sap kaya dengan ikan, menjadi tempat tinggal ribuan orang di atas rumah terapung, juga mejadi habitat bebagai jenis fauna hingga ditetapkan menjadi UNESCO biosphere.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUe-Un1O2I/AAAAAAAAAbM/u6F_JwqsBGw/s1600-h/Tonle.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297674592707754850" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUe-Un1O2I/AAAAAAAAAbM/u6F_JwqsBGw/s400/Tonle.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Menyusuri sungai menuju Tonle Sap, kita bisa melihat kehidupan orang-orang di atas rumah terapung. Anak-anak kecil yang berdayung dengan perahu atau bermain air dengan riang, orang bersiap untuk pesta malam harinya, mengantri beli barbecue ular (!), atau sekedar bersantai di atas hammock tanpa peduli turis-turis norak yang lewat. Tonle Sap sendiri sangat luas, lebih mirip laut ketimbang danau, sampai kita tidak bisa melihat tepi-tepinya. Setelah memotret sunset di atas sebuah restoran terapung, kami pun kembali ke Siem Reap melintasi sungai yang kini gelap, hanya diterangi semburat sisa cahaya matahari terbenam di balik gerumbulan bakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Esok harinya, kami berangkat menuju Ta Prohm pagi-pagi buta untuk mengejar sunrise dan menghindari rombongan turis masal. Di sinilah Tomb Raider dulu dibikin, makanya jadi tempat favorit turis deh. The real Ta Prohm? &lt;em&gt;Eerie, mystical&lt;/em&gt;... apalagi di bawah cahaya matahari pagi yang keemasan malu-malu dan sunyi, reruntuhan kuil batu yang sebagian ditelan oleh akar raksasa pohon kapuk dan banyan ini benar-benar misterius dan sekaligus fotogenik. Justru karena belum direnovasi 100%, Ta Prohm malah jadi makin keren.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUgQI_lQCI/AAAAAAAAAbU/WVLwqfEm4jU/s1600-h/Ta+Prohm+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297675998335418402" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 262px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUgQI_lQCI/AAAAAAAAAbU/WVLwqfEm4jU/s400/Ta+Prohm+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aslinya sih, Ta Prohm didirikan sekitar Abad ke-12 oleh Raja Jayavarman VII sebagai kuil Budha; konon dulunya menjadi tempat tinggal 12,500 orang termasuk para pendeta dan penari. Sulit membayangkan, apalagi dalam kesunyian pagi di tengah reruntuhan batu Ta Prohm kini...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Untungnya kami datang pagi-pagi buta, jadi bisa foto-foto sampai puas. Sebentar matahari meninggi, rombongan turis yang berisik pun memenuhi Ta Prohm dan tempat ini sudah nggak ada mistis-mistisnya lagi deh...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(lanjut ke Siem Reap, part II)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-7960927600989538796?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/7960927600989538796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/02/siem-reap-part-i-tonle-sap-ta-prohm.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7960927600989538796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7960927600989538796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/02/siem-reap-part-i-tonle-sap-ta-prohm.html' title='Siem Reap, part I: Tonle Sap &amp; Ta Prohm'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYUjgK2tbgI/AAAAAAAAAbk/POv9NEhPlHA/s72-c/Bayon+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-4096373709487405016</id><published>2009-01-29T17:36:00.006+04:00</published><updated>2009-01-29T19:44:40.180+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapore'/><title type='text'>One Night in Singapore ...!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYHKvD4xNzI/AAAAAAAAAbE/59JUm2w5KfM/s1600-h/Sinagpore.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296737546610489138" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYHKvD4xNzI/AAAAAAAAAbE/59JUm2w5KfM/s400/Sinagpore.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Entah kenapa, suatu hari Kamis yang kelabu, saya dan seorang teman memutuskan untuk pergi ke Singapore. Karena libur cuma hari Sabtu-Minggu, kami harus merencanakan trip ini dengan cerdas, hehehe... Who expected that, it was gonna be one of the coolest trip ever!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebenernya rencana kunjungan ke Singapore nggak jelas, saya cuma pengen "get a pair of Choo or Blahnik*" (if you know what I mean, hehehe)... Sementara teman saya "cuma pengen wind out dan mau ngikut saya aja, nggak pengen belanja". Nah lo... &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kami sampai di Changi airport hari Sabtu siang, langsung naik MRT ke Orchard-- the prime destination plus tempat kita menginap. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai di hotel dan check-in, tanpa ba-bi-bu kami langsung melangkahkan kaki ke Orchard. Saat itu lagi sale season, jadi belum-belum sudah ngilerlah kami. Kami lalu ketemu dan ditemani seorang teman yang memang Singapore resident dan tahu banget tempat-tempat belanja paling asyik. Jadilah mulai sekitar jam 4 sore sampai jam 10 malam, kami shopping marathon sampai kaki bengkak (beneran!) Teman kami pun terus menyarankan tempat-tempat belanja asyik (dan somehow affordable), juga dengan semangat menyarankan "why don't you buy? enjoy it" Hihihihi, benar-benar dia ini our shopping guardian angel (this is a tribute for you, kalau pas baca, you know who you are and we really think that you are an angel!)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah itu kami pergi ke Lau Pa Sat Festival Market untuk makan malam, apalagi kalau bukan dengan the infamous Singapore Chili Crab! Fueled up, walaupun kaki masih sakit, kami lalu jalan lagi ke Singapore Marina, melihat pemandangan malam Singapore yang menakjubkan dan foto-foto di depan Merlion, patung singa lambang Singapore (dengan gaya narsis dong). Kami lalu menyusuri sungai, melewati Anderson bridge, Clarke Quay... Sepanjang jalan kami terus berfoto-foto gaya gila dan ketawa-ketawa ngakak (curiga they put something in the Chili Crab!) Ketika kami tiba di Clarke Quay yang dipenuhi dengan clubs, waktu sudah hampir jam 3 pagi (club-goers pun sudah menyerah dan siap-siap pulang). Kami pun sadar dan ikut menyerah... it was time to sleep...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Paginya, kami bangun kesiangan, tapi tanpa malu-malu langsung pergi last minute shopping. Dasarrrr... Jam 2 siang kami sudah di atas pesawat (sukses menambah 17 kilo bagasi, hasil belanjaan) dan berusaha melupakan how much we have spent, hehehe.......&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Laporan terakhir: saya tidak beli any pair of Choo atau Blahnik*, tapi yang jelas dapat yang lain dong (many of them, hahahaha). Dan, teman saya yang katanya nggak pengen belanja ternyata belanjanya lebih ngamuk dari saya....!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* wonder who are Choo and Blahnik? Get educated &lt;a href="http://hubpages.com/hub/Jimmy_Choo_Manolo_Blahnik_Christian_Louboutin"&gt;here&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-4096373709487405016?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/4096373709487405016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/01/one-night-in-singapore.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4096373709487405016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4096373709487405016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/01/one-night-in-singapore.html' title='One Night in Singapore ...!'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYHKvD4xNzI/AAAAAAAAAbE/59JUm2w5KfM/s72-c/Sinagpore.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-7890376671123320240</id><published>2009-01-29T11:45:00.006+04:00</published><updated>2009-01-29T17:36:17.514+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nha Trang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Nha Trang... just another beach?!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYGuqZr8stI/AAAAAAAAAa0/DeErBfI0U4o/s1600-h/Nhatrang.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296706680237372114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYGuqZr8stI/AAAAAAAAAa0/DeErBfI0U4o/s400/Nhatrang.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nha Trang adalah salah satu kota pantai paling terkenal di Vietnam, konon teluknya salah satu yang terindah di dunia. Makin populer lagi, setelah menjadi lokasi Miss Universe Pageant 2008. Kebetulan saya ada meeting di Nha Trang, jadi terpaksa deh (beneran nih terpaksa.. hehehe) saya mengunjungi Nha Trang...&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pecinta scuba diving dan watersports bakal have good time di Nha Trang, karena memang di sinilah prime spot-nya. Harganya juga lumayan masuk akal. Sayangnya saya tidak punya waktu buat watersport dan diving, karena setelah diconfirm, diving atau snorkeling trip minimum dari subuh sampai jam 1 siang (sementara pesawat saya besoknya jam 1 siang....) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadilah Nha Trang trip saya sore itu dimulai dengan mengunjungi salah satu spa yang jumlahnya luar biasa banyak di Nha Trang. Selain spa, tempat yang juga populer adalah 'mud bath'. Bener-bener mandi lumpur! Kata teman-teman sih asyik juga dan direkomendasikan (none of them came out with smoother skin but still.... )&lt;br /&gt;Malamnya saya nongkrong di salah satu beach restaurants keren yang menjamur di pinggir pantai, sambil sibuk menolaki ajakan dugem dari teman-teman (hehehe, Nha Trang juga terkenal dengan dunia dugemnya....)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296705693650048722" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYGtw-XM1tI/AAAAAAAAAas/8fNaju4pCcA/s400/Po+Nagar.JPG" border="0" /&gt;Pagi harinya saya mulai muter-muter Nha Trang; naik becak lah yaa (di sini sebutannya cyclo). Enam puluh ribu Vietnamese Dong saja, sekitar 4 dollar, buat setengah hari. Karena pantai nggak terlalu menarik buat saya (lha wong rumah sudah di pinggir pantai), jalan-jalan dimulai dengan mengunjungi Po Nagar. Candi hindu Champa ini dibangun sekitar Abad ke-7 untuk memuja dewi Yan Po Nagar, Champa's equivalent of Mahisasuramardhini (Durga). Kerajaan Champa yang berkembang dari abad 7-18 di Vietnam selatan dan tengah, memiliki akar melayu-polynesian kuat seperti kerajaan-kerajaan di Melayu dan Indonesia. Mereka memiliki teks Melayu tertulis tertua, bahkan jauh lebih tua dari teks melayu tertua yang ditemukan di Sumatra. Kini orang-orang Champa tidak memiliki negara sendiri, setelah kerajaan Champa mulai ditaklukkan Vietnam sekitar Abad ke-15. Mereka sekarang tersebar di Vietnam dan Cambodia. Penampilan fisiknya lebih mirip melayu (mata lebar, kulit sawo matang) dan sebagian besar memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Po Nagar, lalu melanjutkan ke Long Son Pagoda. Walaupun terkenal dengan patung Buddha putih raksasa di puncaknya, pagoda ini menurut saya nggak terlalu spesial. Yang saya ingat spesial, di sini saya melihat orang masuk ke bawah bel raksasa terus dipukul deh bel itu sama seorang nenek tua. Guongggggg..... kebayang dong pasti tuh telinga berdenging..... Cuma saya nggak terlalu tahu maksudnya; ditanya nggak ada yang nyambung...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari situ saya melanjutkan ke Katedral Nha Trang, yang jalan masuknya dipenuhi plakat-plakat nama orang meninggal, Maria Nguyen Thi, Giuseppe Nhanh Trung..... Di dalam dan sekitar gereja orang sedang sibuk menyiapkan pesta natal, saya sih melihat saja sambil chill out di dalam gereja tua bergaya Perancis yang adem ini. By the way, walaupun pemeluk Kristen hanya 8% dari populasi Vietnam, Christmas is a BIG thing here.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sayangnya, cuma sampai di sini lah Nha Trang trip buat saya. Musti pulang bo, besoknya ngantor. Next time mungkin harus diving &amp;amp; snorkeling ya...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-7890376671123320240?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/7890376671123320240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/01/nha-trang-just-another-beach.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7890376671123320240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7890376671123320240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/01/nha-trang-just-another-beach.html' title='Nha Trang... just another beach?!'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYGuqZr8stI/AAAAAAAAAa0/DeErBfI0U4o/s72-c/Nhatrang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-3936519380927658869</id><published>2009-01-29T07:38:00.003+04:00</published><updated>2009-01-29T07:44:09.090+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dalat'/><title type='text'>Dalat, Vietnamese's honeymoon destination</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYElQ4mJ3qI/AAAAAAAAAac/ey1-afrYsGY/s1600-h/DALAT.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296555608764964514" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYElQ4mJ3qI/AAAAAAAAAac/ey1-afrYsGY/s400/DALAT.jpg" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; Dalat di dataran tinggi Central Vietnam adalah top honey moon destination buat Vietnamese. Tempatnya dingin, banyak bunga, ada danau Xuan Huong di tengah kotanya, romantis...&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalat bisa dicapai dengan mobil, sekitar 6 jam dari Ho Chi Minh City, atau dengan pesawat juga bisa. Kotanya sendiri sih buat saya kurang impressive-- TAPI (huruf besar) sangat terpelihara dan penuh perencanaan. Ceritanya, sekitar abad ke-19 waktu jaman Vietnam di bawah Perancis, tersebutlah seorang dokter yang naksir berat melihat potensi Dalat; namanya Alexandre Yersin. Dia pun mengajukan proposal ke pemerintah kolonial Perancis untuk menjadikan Dalat kota peristirahatan. Dalat pun dibangun berdasarkan urban planning yang lumayan canggih, termasuk boulevard dan villa-villa gaya Perancis yang masih lestari sampai sekarang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entah karena hawa dinginnya, atau memang tanahnya yang subur, Dalat dihiasi bunga di mana-mana. Kalau suka bunga, bisa mengunjungi Dalat Flower Garden (yang agak so-so gitu deh). Di dalam kota Dalat, tempat yang umumnya didatangi turis adalah Cho (pasar) Dalat, lalu istana musim panasnya Emperor Bai Dao, dilanjutkan dengan Dalat train station (kita bisa naik kereta tua ke Trai Mat, terus mampir ke Lin Phuong pagoda). Malam hari, kita bisa jalan-jalan di sekitar Xuan Huong Lake yang persis di tengah kota, duduk makan jagung bakar, lalu ngopi di salah satu restauran yang bertebaran dekat Cho Dalat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYElujdnILI/AAAAAAAAAak/Ir-0GQ04ccU/s1600-h/Dalat+station.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296556118488064178" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYElujdnILI/AAAAAAAAAak/Ir-0GQ04ccU/s320/Dalat+station.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di sekitar Dalat, banyak danau dan air terjun yang cantik-cantik. Karena jalur ke air terjun pastinya naik turun, coba jadwalkan barang 1-2 saja. Yang wajib didatangi karena paling dramatis adalah Pongour waterfalls. Selain itu juga ada Bo Blang, Prenn, Elephant, dan air terjun lainnya. Saya juga sempat mengunjungi Traditional Silk Village, di mana kita bisa melihat proses pembuatan sutra mulai dari masih berupa kepompong sampai penenunan dan pencelupan warna. Tempatnya agak di luar kota, dekat Elephant waterfall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jujur saja, masih banyak tempat lain yang lebih impressive di Vietnam ketimbang Dalat. Tapi kalau telanjur tinggal di Vietnam kayak saya, ya gak rugi deh dateng ke Dalat. Jangan lupa beli oleh-oleh strawberry jam yummy khas Dalat yang kandungannya 100% strawberry dan gula tanpa bahan tambahan lainnya.... &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-3936519380927658869?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/3936519380927658869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/01/dalat-vietnameses-honeymoon-destination.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3936519380927658869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3936519380927658869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2009/01/dalat-vietnameses-honeymoon-destination.html' title='Dalat, Vietnamese&apos;s honeymoon destination'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SYElQ4mJ3qI/AAAAAAAAAac/ey1-afrYsGY/s72-c/DALAT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5535930931888864121</id><published>2008-12-18T18:19:00.006+04:00</published><updated>2009-01-28T19:22:41.390+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halong'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Ha Long Bay</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUpk1_Y3flI/AAAAAAAAAZw/d8TKI7_C-fs/s1600-h/Entering+Ha+Long+Bay.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281144391756906066" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUpk1_Y3flI/AAAAAAAAAZw/d8TKI7_C-fs/s320/Entering+Ha+Long+Bay.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jalan-jalan ke Ha Noi paling pas disambung dengan Ha Long Bay, teluk spektakuler yang termasuk situs World Heritage UNESCO dan dinominasikan sebagai salah satu keajaiban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teluk biru tenang seluas 1553 km2 ini dihiasi lebih dari 1500 pulau-pulau kecil berbagai bentuk dan ukuran. Pulau-pulau ini ada yang cuma kosong ditumbuhi tanaman, ada juga yang bergua dan berdanau, ada yang ditinggali manusia. Selain itu, ada juga desa terapung di tengah Ha Long Bay. &lt;br /&gt;Mirip-mirip Krabi di Thailand tapi menurut banyak komentar lebih keren Ha Long Bay (katanya, wong saya belum pernah ke Krabi...) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ceritanya,jaman Vietnam sedang perang melawan Cina, para dewa menurunkan naga untuk membantu orang Vietnam. Naga ini menebarkan batu-batu mulia yang sekarang berubah menjadi pulau-pulau ini, menjadi benteng sampai akhirnya Vietnam menang melawan Cina... (kalau sampai percaya cerita ini, Anda benar-benar kebanyakan imajinasi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUplDruG8gI/AAAAAAAAAZ4/ybmGZ9tcPVo/s1600-h/Sailing+with+junk+on+Ha+Long.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281144626995458562" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 229px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUplDruG8gI/AAAAAAAAAZ4/ybmGZ9tcPVo/s320/Sailing+with+junk+on+Ha+Long.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma tiga jam jalan darat dari Ha Noi, cara paling asyik muter-muter Ha Long Bay tentu aja naik kapal (mosok berenang, pegel dong). Ada juga sih yang berkayak, tapi nggak akan bisa sampai jauh soalnya teluk ini gede juga. Biasanya semua travel agent di Vietnam menawarkan paket tur ke Ha Long Bay dengan kapal, jadi jangan lupa pesan duluan, cek di internet reputasi kapalnya plus tawar-tawaran (hehehe, nggak puas lah kalau belum nawar). &lt;br /&gt;Selain itu, perhatikan juga ramalan cuaca. Kalau pas berkabut ya mendingan ditunda, ketimbang nggak bisa lihat apa-apa. Udara  musim dingin di Ha Long lumayan menggigit, jadi kalau mau ke sana jangan lupa ngecek prediksi temperatur biar nggak salah kostum. Maklum, Ha Long ini sudah dekat perbatasan Cina jadi iklimnya agak-agak sub tropis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUpmBQxil4I/AAAAAAAAAaA/ZoNEj1yO_DI/s1600-h/floatings.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281145684913985410" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUpmBQxil4I/AAAAAAAAAaA/ZoNEj1yO_DI/s320/floatings.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buat pecinta fotografi landscape, honeymooners, atau simply desperately romantic people, Ha Long Bay adalah salah satu ultimate destination deh. Bayangin laut biru tenang dengan ribuan pulau pulau kecil di belakangnya, kapal nelayan tradisional, burung-burung... Oh iya, jangan lupa pilih tur yang menginap di atas kapal, jadi bisa melihat matahari tenggelam dan terbit di Ha Long Bay.. oooo....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5535930931888864121?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5535930931888864121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/12/ha-long-bay.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5535930931888864121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5535930931888864121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/12/ha-long-bay.html' title='Ha Long Bay'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SUpk1_Y3flI/AAAAAAAAAZw/d8TKI7_C-fs/s72-c/Entering+Ha+Long+Bay.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-407455839286700626</id><published>2008-12-09T19:25:00.013+04:00</published><updated>2008-12-09T21:25:54.614+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hanoi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Hanoi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Alasan utama ke Hanoi sebenarnya adalah menghadiri pernikahan seorang teman Vietnam. Sebenarnya pernikahan ini sudah saya tunggu-tunggu, soalnya saya sudah lama menjahitkan ao dai (baju khas vietnam), tapi belum punya alasan memakainya. Masak pakai ao dai ke kantor...? mak, saya belum semuka badak itu...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6lBcVcNeI/AAAAAAAAAZo/gZ55SrZHdmA/s1600-h/oldquarter2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277837257529374178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6lBcVcNeI/AAAAAAAAAZo/gZ55SrZHdmA/s320/oldquarter2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanoi, buat para westerner alias &lt;em&gt;londo&lt;/em&gt; (ini bahasa nenek saya) pastinya eksotik banget. Terutama kalau berjalan-jalan di Old Quarter yang sempit dan hiruk-pikuk dengan kegiatan perdagangan mulai dari sutra sampai batu nisan. Tapi buat saya, Old Quarter mirip-mirip dengan Malioboro, tapi lebih besar dan lebih semrawut (payah nih, dasar indo, apa-apa dibandingin dengan kampung...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6f0oUc7ZI/AAAAAAAAAZI/bt-uuX3V3i4/s1600-h/Hoan+Kiem.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277831539850014098" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 366px; CURSOR: hand; HEIGHT: 326px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6f0oUc7ZI/AAAAAAAAAZI/bt-uuX3V3i4/s400/Hoan+Kiem.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tempat favorit saya di Hanoi adalah Hoan Kiem Lake, danau kecil dekat Old Quarter yang cantik banget. Pas bulan-bulan akhir tahun (November-Desember), udara di Hanoi lumayan dingin; bisa mencapai 10-15 C di malam hari. Berkumpullah para pasangan di pinggir Hoan Kiem Lake, duduk memadu kasih beramai-ramai(ya ampun bahasanya norak banget gak siiiiy). Setiap 2 meter ketemu deh kita dengan pasangan-pasangan ini, yang rata-rata menganggap kalau dunia milik mereka berdua sementara kita cuma numpang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Hanoi sudah menjadi ibukota Vietnam selama lebih dari seribu tahun, Hanoi termasuk tempat favorit para pecinta sejarah. Tempat yang wajib dilihat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Ho Chi Minh Mausoleum &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tempat mumi Uncle Ho (Ho Chi Minh!) disemayamkan. Jelas nggak terlalu heboh, tapi kalau belum ke sini berarti belum ke Hanoi deh. Dari sini biasanya melanjutkan ke One Pillar Pagoda yang cuma di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Museum of Ethnology&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sempatkan 3-4 jam supaya bisa melihat-lihat cerita etnis-etnis di Vietnam beserta contoh rumahnya (original size!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6j2WZy3TI/AAAAAAAAAZg/OuGo3H2NLoY/s1600-h/waterpuppet.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277835967446834482" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 250px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6j2WZy3TI/AAAAAAAAAZg/OuGo3H2NLoY/s320/waterpuppet.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;3. Temple of Literature (Van Mieu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Universitas tertua di Vietnam, didirikan lebih dari satu milenium yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Water Puppet Show&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan wayang (lebih pas-nya boneka) populer yang konon sudah merakyat di Vietnam sejak abad ke-15. Nggak membosankan, malah kalau bawa anak-anak dijamin mereka terbengong-bengong kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wait, wait.. how about the wedding?&lt;/strong&gt; Pernikahan yang saya kira bakalan eksotis ini (udah ngebayangin para gadis dengan ao dai warna-warni dan adat vietnam yang heboh), ternyata 100% western style. Penganten memakai jas dan white gown, acaranya dilengkapi champagne pouring dan lagu Beethoven. Kitschy. Cuma saya dan orang tua pengantin saja yang memakai ao dai... Huh, kecewa. Konon katanya memang beginilah gaya pernikahan di Vietnam sekarang- western. Mana nih, the original vietnamese wedding??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-407455839286700626?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/407455839286700626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/12/hanoi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/407455839286700626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/407455839286700626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/12/hanoi.html' title='Hanoi'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/ST6lBcVcNeI/AAAAAAAAAZo/gZ55SrZHdmA/s72-c/oldquarter2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-8778621005010830793</id><published>2008-10-31T22:59:00.003+04:00</published><updated>2008-10-31T23:01:21.812+04:00</updated><title type='text'>Ganti desain</title><content type='html'>Setelah setengah tahun pakai desain yang sama, rasanya kok bosen.&lt;br /&gt;Akhirnya setelah semalam begadang, jadilah desain baru ini. Saya sih nggak punya keahlian meng-edit html atau xml, semuanya modal berguru dari bloggeruniversity.blogspot.com.&lt;br /&gt;Lumayan kan ya..?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-8778621005010830793?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/8778621005010830793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/10/ganti-desain.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8778621005010830793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8778621005010830793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/10/ganti-desain.html' title='Ganti desain'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-1501320179284523546</id><published>2008-09-23T10:23:00.010+04:00</published><updated>2008-09-23T18:55:16.353+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vung Tau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><title type='text'>Vung Tau, Cape Saint Jacques, home...</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj8SYYhTiI/AAAAAAAAAVs/ko5IEOE0cYA/s1600-h/DSC_0015.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249222758413454882" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="232" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj8SYYhTiI/AAAAAAAAAVs/ko5IEOE0cYA/s400/DSC_0015.jpg" width="360" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Dibangunkan oleh desiran ombak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tawa anak yang berlarian di pantai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan langit biru yang disenyumi matahari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah! sok romantis amat sih. Tapi memang beginilah tiap hari saya terbangun di Vung Tau. Super romantis deh pemandangannya. Oh, aren't I the luckiest girl on earth!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj8y977gRI/AAAAAAAAAV0/2Y1O0YDPxTY/s1600-h/Jesus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249223318249898258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 183px; CURSOR: hand; HEIGHT: 243px" height="280" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj8y977gRI/AAAAAAAAAV0/2Y1O0YDPxTY/s320/Jesus.jpg" width="207" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Vung Tau, kota minyaknya Vietnam, dulu lebih dikenal sebagai kota peristirahatan. Sempat diberi nama Cape St. Jacques waktu jaman kolonialisme Perancis, masih ada sisa-sisa bangunan kuno bergaya Eropa plus patung Yesus setinggi 32 m yang berdiri dengan tangan terbentang di puncak bukit Nho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sekarang pantai Vung Tau sudah agak-agak tercemar pemandangan kapal niaga dan sampahnya, tapi masih ada beberapa potong pantai yang airnya jernih. Geografinya yang berupa pantai landai memanjang dan bukit-bukit hijau membuat pemandangan semakin spektakuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj9JDmA9fI/AAAAAAAAAV8/9kCcOeZHafY/s1600-h/DSC_0134.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249223697725715954" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj9JDmA9fI/AAAAAAAAAV8/9kCcOeZHafY/s320/DSC_0134.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal di tepi "Pineapple Beach", yang konon pantai tercantik di Vung Tau. Saking romantisnya, hampir tiap hari ada satu dua pasangan membuat pre-wedding picture di depan apartemen saya. Lucu juga sih, melihat para pengantin dengan kostum heboh sibuk melompat-lompat menghindari air sambil ditonton anak-anak dan penjual kaki lima. Hehehe, demi pose...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain udara bersih, gaya hidup di Vung Tau juga super sehat. Karena pantai yang begitu indah dan udara segar, orang-orang selalu berjalan kaki di pagi maupun sore hari (termasuk saya yang biasanya lebih pilih memeluk bantal sambil membayangkan betapa sehatnya olahraga). Buah-buahan dan sayuran berlimpah ruah, belum lagi seafood yang serba segar dan murah.&lt;br /&gt;By the way, siapa bilang seafood meningkatkan kolesterol? Fitnah tuh. Coba cek di &lt;a href="http://www.healthcastle.com/cholesterol.shtml"&gt;http://www.healthcastle.com/cholesterol.shtml&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi kapan mampir? Mumpung saya di sini...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj9oHUgTBI/AAAAAAAAAWE/ImVishSK-GI/s1600-h/twilite.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249224231301958674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj9oHUgTBI/AAAAAAAAAWE/ImVishSK-GI/s400/twilite.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-1501320179284523546?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/1501320179284523546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/09/vung-tau-cape-saint-jacques-home.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1501320179284523546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1501320179284523546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/09/vung-tau-cape-saint-jacques-home.html' title='Vung Tau, Cape Saint Jacques, home...'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SNj8SYYhTiI/AAAAAAAAAVs/ko5IEOE0cYA/s72-c/DSC_0015.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-7370173442562052971</id><published>2008-08-21T18:56:00.010+04:00</published><updated>2008-09-05T17:33:43.431+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saigon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HCMC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vietnam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='food'/><title type='text'>Vietnam... new home!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pindah ke Vietnam, pikiran saya sudah dipenuhi rencana jalan-jalan. Buat saya Vietnam adalah negeri yang eksotik, orisinil, dan misterius. Tapi saudara-saudara saya sibuk bersimpati karena mereka punya &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; kalau Vietnam adalah negeri berantakan bekas perang yang di bawahnya bolong-bolong penuh bekas sarang Vietkong. Hehehe, kebanyakan nonton Rambo sih...!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun nggak tinggal di Ho Chi Minh City (HCMC) a.k.a. Saigon, hampir tiap weekend saya jalan-jalan di kota yang ramah ini. Tempat favorit jalan-jalan saya adalah Dong Khoi, di mana hotel-hotel berbintang ngumpul, diseling trotoar yang dipenuhi turis dan butik sutra serta cendera mata. Harga-harga di sini masih masuk akal (apalagi buat saya yang baru pindah dari Dubai!) dan orang-orangnya ramah sekali.&lt;br /&gt;Sekali saya beli sehelai baju sutra yang ternyata lehernya kelewat lebar dan bikin saya nggak nyaman. Saya datang ke toko tempat saya membeli baju itu, sambil menunjukkan si potongan leher yang kelewat lebar. Dengan penuh ramah-tamah saya disuruh duduk, dan si penjual rela memasang kancing tambahan-- dengan baju masih menempel di badan saya! Dua minggu kemudian ketika saya lewat, dia bahkan masih ingat saya dan menyapa dengan sebegitu &lt;em&gt;excited&lt;/em&gt;-nya (shh.. sekarang toko ini termasuk salah satu toko favorit saya..). Tentu saja saya juga sempat menjahitkan Ao Dai, baju tradisional Vietnam yang terkenal itu. Lumayan buat baju baru lebaran...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SME0ERbiX9I/AAAAAAAAAPQ/uhbYIgH6urY/s1600-h/Ben+Thanh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242528689238990802" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SME0ERbiX9I/AAAAAAAAAPQ/uhbYIgH6urY/s400/Ben+Thanh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagai pecinta belanja murah, saya juga disarankan mengunjungi Ben Thanh market yang konon katanya pasar &lt;em&gt;sagala aya&lt;/em&gt;. Naik &lt;em&gt;cyclo&lt;/em&gt;-lah saya ke sana (cyclo ini ya saudaranya becak lah, tapi cuma muat satu orang saja). Ternyata Ben Thanh mirip banget sama Pasar Beringharjo, jadi saya pun nggak terlalu terkesan malah merutuk (lebih seru Beringharjo ah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, buat bahan melapor ke saudara-saudara saya yang penasaran dengan Vietkong, saya pun 'terpaksa' mengunjungi museum-museum di HCMC. (sebenarnya *pengakuan* saya memang termasuk kepribadian yang membosankan; museum selalu menjadi tujuan saya di mana pun berada).&lt;br /&gt;HCMC punya banyak bangunan bersejarah yang menyimpan sejarah Vietnam yang pahit getir. Ada Reunification Palace, bangunan tempat diakhirinya Perang Vietnam secara simbolik. Lalu, Ho Chi Minh City Museum dan War Remnant Museum; keduanya dipenuhi relik dan foto kenangan perang yang menyakitkan. Di sini kita bisa melihat dan merasakan pedihnya perang Amerika, dari sisi pandang Vietnam (di sini bukan disebut Perang Vietnam tapi Perang Amerika!). &lt;em&gt;Ya iyalah, wong lagi enak-enak di negara sendiri tahu-tahu diserang orang nggak jelas dari mana, pasti melawan dong!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling penting di Vietnam, top on the top of all, adalah makanan Vietnam! Terus terang saja makanan Vietnam super enak dan sehat; masalahnya banyak melibatkan komponen non-halal jadi musti super hati-hati.&lt;br /&gt;Makanan paling populer tentu saja Pho (baca: fe, dengan "e" seperti "e" di kata emas). Pho adalah mi beras yang dimasak dalam kaldu sapi, dihidangkan dengan irisan daging sapi, tauge, kemangi, jeruk nipis, dan bumbu-bumbu misterius yang konon jumlahnya lebih dari 20 macam. Ada juga bermacam-macam sea food yang sepertinya tidak dibumbu apa-apa, tapi ternyata super enak. Belum lagi jajanannya, semuanya serba bikin ngiler deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vietnam is going to be a big story... so there will be more!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next plan in Vietnam: Vung Tau (Cape St.Jacques: my new home), Hanoi-the capital, Hoi An- for its cultural heritage, Ha Long-for its natural wonder, ........... it's a long list, I hope I'll have time!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-7370173442562052971?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/7370173442562052971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/08/vietnam-new-home.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7370173442562052971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7370173442562052971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/08/vietnam-new-home.html' title='Vietnam... new home!'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SME0ERbiX9I/AAAAAAAAAPQ/uhbYIgH6urY/s72-c/Ben+Thanh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-4649370103386488648</id><published>2008-06-16T14:17:00.013+04:00</published><updated>2008-06-18T23:13:57.277+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='desert'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dubai'/><title type='text'>Desert Safari: not for the weak stomached</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kegiatan favorit turis ketika mengunjungi negeri bergurun tentu saja adalah safari ke padang pasir. Pura-puranya mengikuti kehidupan para badui. Cuma, para badui yang dulunya berkeliaran dengan unta sekarang sudah mengganti untanya dengan &lt;em&gt;fancy 4x4 cars&lt;/em&gt; (Land Cruiser masih tetap yang paling populer).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya pernah bekerja di beberapa lokasi yang terletak di padang pasir (satu setengah tahun lebih!), jadi ide &lt;em&gt;desert safari&lt;/em&gt; rasanya kok garing sekali. Tapi karena ibu dan pakde saya pas berkunjung ke Dubai, kasihan juga kalau nggak diajak melihat padang pasir. Jadilah sore itu kami berkendara dengan &lt;em&gt;land cruiser&lt;/em&gt; dengan sebuah tour operator, menuju ke padang pasir. Serombongan dengan kami ada tiga orang gadis, yang menilik dari aksen mereka, adalah British. Sebelum berangkat, pakde saya (yang punya reputasi sering mabuk kendaraan bermotor), sudah minum antimo dan berbekal panadol serta kantong plastik. Entah buat apa.. &lt;em&gt;guess!&lt;/em&gt; Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu matahari hampir terbenam, padang pasir yang kemerahan memantulkan cahaya sore sehingga kelihatan cantik sekali. Ke mana pun arah mata memandang, puluhan kendaraan 4x4 maupun &lt;em&gt;desert bike&lt;/em&gt; sibuk berkeliaran. Lah kok rame di sini ketimbang di mall? Kirain bakalan sepi dan romantis, ternyata padang pasir adalah tujuan favorit para &lt;em&gt;off-roader.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SFlZa0_lLyI/AAAAAAAAAO4/fMBLO6QSre0/s1600-h/DSC_0247_flip_horzresize.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213296361094852386" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SFlZa0_lLyI/AAAAAAAAAO4/fMBLO6QSre0/s400/DSC_0247_flip_horzresize.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Konon katanya, orang Emirat adalah pengendara &lt;em&gt;desert off-roader&lt;/em&gt; yang paling handal. Sedangkan buat yang belum pernah dilatih &lt;em&gt;desert driving&lt;/em&gt; maupun punya kendaraan 4x4 yang handal, mendingan nggak usah coba-coba deh. Bayangkan kalau Anda terjebak di tengah padang pasir dengan ban mendelep ke pasir lembut... Pasti ada yang nolongin sih, wong tempatnya rame begini; malu ketahuan begonya itu lho yang nggak tertahankan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sopir mula-mula mengemudi dengan kalem, tapi begitu mobil sudah mencapai bagian tengah gurun yang bergunung-gunung tinggi, mulai deh dia pamer keahlian. Kami dibawa naik turun gundukan-gundukan pasir yang rasanya hampir 75 derajat kemiringan. Yang paling ngeri adalah ketika ia menempatkan mobil di punggung bukit pasir curam dengan posisi melintang, lalu membiarkan mobil melorot di pasir yang lembut. Rasanya sudah yakin kalau mobil bakal berguling! Kami berteriak kencang-kencang tanpa malu-malu....Si sopir pun makin 'panas' dan dia makin menakut-nakuti kami dengan keahliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama kok rasanya pakde saya diam saja ya? Saya lihat wajahnya aneh dan pucat, tangannya sibuk mencari kantong plastik, dan akhirnya... hueeeek....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun behenti di tempat yang agak landai; pakde saya langsung lari keluar dan muntah-muntah. Tiga orang cewek Inggris itu sibuk menutupi kuping mereka karena geli, sedangkan saya dan Ibu saya sibuk menahan tawa (sadis ya... tapi kocak banget sih suasananya...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pakde saya mulai kelihatan tenang, kami pun mulai berfoto-foto dengan latar belakang matahari terbenam dan beberapa ekor unta yang tenang berkeliaran. Perjalanan dilanjutkan, kali ini si sopir mengendara agak jinak, tapi masih tetap mengguncang perut. Pakde saya mulai kelihatan pucat lagi dan merogoh kantong plastik... waduh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SFldUZh1n-I/AAAAAAAAAPI/Fl_qELkUgoM/s1600-h/dancer.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213300648689639394" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SFldUZh1n-I/AAAAAAAAAPI/Fl_qELkUgoM/s400/dancer.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Akhirnya beberapa saat yang menegangkan kemudian (bukan karena &lt;em&gt;desert driving&lt;/em&gt;-nya tapi kuatir kalau pakde saya pingsan), kami tiba di &lt;em&gt;camp&lt;/em&gt; di tengah padang pasir. Pakde saya langsung disuruh duduk dan disuguhi lemon panas, sedangkan saya dan Ibu saya mencoba naik unta. Di &lt;em&gt;camp&lt;/em&gt; yang memang 100% dirancang buat turis ini kita juga bisa berfoto dengan elang (binatang kesayangan penghuni gurun), melukisi tangan dengan &lt;em&gt;henna&lt;/em&gt;, berfoto dengan baju khas arab, maupun ikut memasak roti langsung di oven tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan malam dengan barbeque, malam itu ditutup dengan tarian seorang &lt;em&gt;belly dancer &lt;/em&gt;(pakde saya sudah nggak kelihatan bekas-bekas mabuknya sama sekali). Ibu saya cuma geleng-geleng heran dengan gaya si penari yang memang provokatif (&lt;em&gt;belly dancer&lt;/em&gt; memang biasanya selalu 'menggoda' penonton untuk berpartisipasi dalam tarian), sekaligus kagum dengan tariannya yang memang kelihatan susah sekali (menggoyang pinggul 10 goyang/ detik kan nggak gampang tuh). Secara keseluruhan, &lt;em&gt;nice short trip for tourist&lt;/em&gt; deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buat yang punya rencana desert driving, kalau gampang mabuk mendingan nggak usah ya! Sedangkan buat serious tourist yang menghargai keaslian, &lt;em&gt;this isn't for you&lt;/em&gt;!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-4649370103386488648?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/4649370103386488648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/06/desert-safari-not-for-weak-stomached.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4649370103386488648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4649370103386488648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/06/desert-safari-not-for-weak-stomached.html' title='Desert Safari: not for the weak stomached'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SFlZa0_lLyI/AAAAAAAAAO4/fMBLO6QSre0/s72-c/DSC_0247_flip_horzresize.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5387375804674516070</id><published>2008-05-26T22:53:00.007+04:00</published><updated>2008-09-05T17:39:50.435+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='food'/><title type='text'>Food around the world</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mbah putri&lt;/em&gt; (nenek) saya bisa dibilang &lt;em&gt;tempe maniac&lt;/em&gt;, tiada hari tanpa tempe. Hari ini oseng tempe, besok lodeh tempe, besok lagi rendang tempe... Saya sering dimarahi karena dianggapnya bergaya hidup mewah: suka makan ayam. Nah lo. Setelah lima tahun digembleng tempe, lodeh, dan sayur asem (karena selama kuliah saya tinggal bersama &lt;em&gt;Mbah&lt;/em&gt;), ketika harus tinggal di luar negeri rasanya menderita banget.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, beberapa bulan saya nggak doyan makan, kalau pun makan cuma demi kesehatan. Ketika sempat ketemu pare di supermarket, rasanya seperti menemukan harta karun. Saya langsung nelpon Ibu saya "Ma, aku malam ini mau bikin oseng-oseng pare!" Rasanya malam itu saya bahagia sekali. Benar-benar &lt;em&gt;kampungan&lt;/em&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama-lama, lidah saya &lt;em&gt;tune-up&lt;/em&gt; juga. Apalagi dasarnya saya memang tukang makan (bapak ibu saya selalu mengajak saya pergi undangan kawinan, karena saya selalu makan paling banyak di prasmanan; jadi mereka nggak rugi ngasih duit angpao-nya). Sekarang saya sudah doyan macam-macam makanan. Satu hal yang bikin saya masih tetap ragu-ragu mencoba makanan baru di negeri orang adalah kehalalannya. Untunglah, Dubai adalah &lt;em&gt;melting pot&lt;/em&gt; dari berbagai negara; jadi di sini kita bisa menemukan segala macam makanan orisinal dari berbagai negara tanpa ragu masalah halalnya. Tips untuk makan enak yang orisinal adalah mengajak teman yang asli dari negara tertentu untuk makan di restoran favoritnya, terus suruh dia memilih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Thailand&lt;/strong&gt; adalah sumber makanan enak. Waktu saya ke Thailand saya ngiler melulu, soalnya semua kelihatan enak. Berkat Matima, teman Thai saya yang imut-imut, saya jadi tahu &lt;strong&gt;Thai green curry&lt;/strong&gt;: mirip lodeh tapi lebih berbumbu, pedas, dan enaaaaak sekali. Favorit saya yang lain adalah &lt;strong&gt;Crab curry&lt;/strong&gt;: kepiting dimasak dalam bumbu kari thailand yang ringan, menggigit gurihnya, dan &lt;strong&gt;Pla Rad Prik&lt;/strong&gt;: kerapu goreng kering disiram saus asam manis khas Thai. Lalu tentu saja &lt;strong&gt;Tom Yum Goong&lt;/strong&gt;, sup udang pedas segar yang konon adalah masakan Thai terpopuler di dunia. Saya malah sudah sering mencoba masak sendiri beberapa masakan Thai ini, walaupun rasanya, yah,tebak sendiri deh... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SME19ZK8enI/AAAAAAAAAPY/-FhJgIbr1F0/s1600-h/falafel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242530770081053298" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SME19ZK8enI/AAAAAAAAAPY/-FhJgIbr1F0/s400/falafel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Lebanese food&lt;/strong&gt; adalah makanan terfavorit di dunia arab. Gerai makanan Libanon mungkin ada ribuan di Dubai, mulai dari kelas warung sampai &lt;em&gt;fine dining&lt;/em&gt;. Makanan Libanon paling enak menurut saya adalah &lt;strong&gt;shish tawook&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;chicken cubes&lt;/em&gt; yang direndam bumbu lalu dipanggang di atas arang, dimakan panas-panas dengan roti arab yang baru keluar dari oven. Oooo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan Libanon sebenarnya sehat sekali, karena rata-rata dipanggang (bukan digoreng seperti makanan kita) dan dimakan dengan banyak salad sayuran segar. Saya yang nggak pernah doyan salad, jadi nge-&lt;em&gt;fans&lt;/em&gt; dengan &lt;strong&gt;fattoush&lt;/strong&gt; (salad sayuran disiram dengan lemon dan minyak zaitun) dan &lt;strong&gt;tabbouleh&lt;/strong&gt; (salad parsley diiris halus). Keduanya, enak sekali dimakan dengan panggang-panggangan Libanon (ayam, sapi atau kambing) plus &lt;strong&gt;hommous&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hommous (perlu dijabarkan detil karena sangat enak) adalah semacam 'colekan', dibuat dari &lt;em&gt;chickpea&lt;/em&gt; yang dihaluskan dengan sedikit bawang, lemon, serta &lt;em&gt;tahina&lt;/em&gt; (pasta wijen). Saking enaknya sekarang saya benar-benar maniak hommous; makan keripik pakai hommous, mendoan pakai hommous... enak banget deh... (iya.. iya...!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain makanannya, cocktail juice yang selalu dijual di rumah makan Libanon, berupa juice buah kental disusun berlapis di gelas tinggi, juga tidak boleh dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Egyptian food&lt;/strong&gt;, sebenarnya (menurut saya) mirip-mirip Lebanese food, tapi teman-teman Mesir saya menolak mentah-mentah pendapat ini. Makanan Mesir yang paling terkenal adalah &lt;strong&gt;ful&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;ta'amiyya&lt;/strong&gt;. Ful, masakan dari kacang fava rebus, &lt;em&gt;forget about it&lt;/em&gt;; saya nggak doyan. Ta'amiyya alias &lt;strong&gt;falafel&lt;/strong&gt;: chickpea dihancurkan dicampur bumbu lalu digoreng, adalah makanan nasional Mesir. Yang ini enak buat ngemil (sambil nyolek hommous..). Falafel sekarang juga terkenal sekali di Eropa dan New York, banyak dijual di pinggir jalan malahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makanan Vietnam;&lt;/strong&gt; saya baru nyoba sekali terus si Nguyen teman Vietnam saya pindah- jadi nggak pernah &lt;em&gt;explore&lt;/em&gt; lagi. Saya baru mencoba &lt;strong&gt;Pho&lt;/strong&gt;, sup bihun khas Vietnam yang, sumpah, enaknya luar biasa. Saking pengennya makan lagi saya sampai &lt;em&gt;craving&lt;/em&gt; Pho ini. Karena restoran Vietnam masih belum terlalu banyak, saya mencoba mencari resepnya. Tapi ternyata melibatkan banyak oknum bumbu yang susah, jadi saya nyerah deh.. Konon makanan Vietnam enaknya nggak kalah dengan makanan Thailand dan sekarang semakin populer di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen saya yang terbaru adalah &lt;strong&gt;makanan India&lt;/strong&gt;. Terus terang saja dari dulu teman-teman saya sering mengajak makan makanan India, tapi saya selalu menolak. Gara-garanya, saya pernah kerja di suatu tempat terpencil yang kokinya terus-terusan menghidangkan masakan India yang nggak enak banget sampai saya trauma (ternyata masalahnya bukan makanan Indianya tapi kokinya!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Thanks to&lt;/em&gt; Uzma, teman saya yang berhasil menyeret saya ke suatu restoran India, lalu memesankan beberapa makanan buat saya, sekarang saya adalah pecinta masakan India! Favorit saya adalah &lt;strong&gt;tandoori chicken&lt;/strong&gt;, ayam panggang yang entah bumbunya apa, tapi warnanya merah dan sarat bumbu, juga berbagai macam kari (ayam maupun kambing) yang semuanya enak. Top of the top adalah &lt;strong&gt;cheese naan&lt;/strong&gt;, roti khas India yang disajikan panas, di dalamnya dilapisi tipis dengan &lt;em&gt;cottage cheese&lt;/em&gt;...ngiler deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya makanan India terlalu sarat lemak dan minyak, jadi berdosa rasanya kalau sering-sering... Seorang teman juga berjanji mengajak mencoba makanan Kerala (salah satu daerah India) yang konon &lt;em&gt;persik plek&lt;/em&gt; dengan masakan Padang. Laporan menyusul deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, cukup dengan cerita makanan ya... Sekarang saya lapar beneran nih. Ngomong-ngomong, saya baru masak oseng tempe cabe hijau nih. Walaupun rasanya belum seenak bikinan Embah saya, tapi lumayan lah (sshhh, di Dubai ada yang jualan tempe lo). Besok mau bereksperimen bikin gudeg (entah dapat nangka mudanya dari mana, belum tahu). Masakan Indonesia masih paling top deh........!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5387375804674516070?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5387375804674516070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/food-around-world.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5387375804674516070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5387375804674516070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/food-around-world.html' title='Food around the world'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SME19ZK8enI/AAAAAAAAAPY/-FhJgIbr1F0/s72-c/falafel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5819900603849016801</id><published>2008-05-24T21:42:00.009+04:00</published><updated>2008-11-01T07:02:54.269+04:00</updated><title type='text'>The Girls: Stress &amp; The City</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Saya dan teman grubyak-grubyuk saya tidak punya banyak kesamaan kecuali sama-sama perempuan, sama-sama pendatang di kota ini, sama-sama sering tenggelam dalam pekerjaan, sama-sama &lt;em&gt;in the end of our twenties, &lt;/em&gt;dan sama-sama &lt;em&gt;single &lt;/em&gt;(wah, ini sih banyak kesamaan kali ya..) Untuk melindungi oknum-oknum, saya terpaksa menyamarkan nama-nama mereka. Tapi deskripsinya kurang lebih akurat...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fatma&lt;/strong&gt;, cewek mesir yang juga master &lt;em&gt;nuclear engineering&lt;/em&gt; ini, adalah si tomboy teman kesayangan saya. Terutama karena kami sama-sama doyan makan dan nggak bisa &lt;em&gt;clubbing&lt;/em&gt;. Kalau ngomong ceplas-ceplos dan lucu setengah mati. Pikirannya selalu ngeres dan karena itu misi utamanya adalah mencari suami &lt;em&gt;part time&lt;/em&gt; yang cuma datang hari Kamis (maklum hari lainnya dia sibuk, nggak ada waktu!). Ngerokoknya kuat sekali, dan walaupun saya sudah berkali-kali menasihati dia supaya &lt;em&gt;at least&lt;/em&gt; mengurangi, mana mau lah dia dengerin! Saat ini Fatma lagi diet ketat gara-gara habis naik berat badan 15 kilo. Repotnya, dia bersumpah sampai beratnya mencapai normal, dia nggak bakal beli baju baru. Walhasil tiap hari saya melihat dia dengan jilbab, baju, dan jeans yang sama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rana&lt;/strong&gt;, asal Mesir juga, super feminin dan dewasa, walaupun dugemnya rajin, &lt;em&gt;surprisingly&lt;/em&gt; solatnya rajin juga. Saat ini dia punya bos yang banyak tuntutan, jadi dia paling sering kena ejekan karena kerja saat &lt;em&gt;weekend&lt;/em&gt; ataupun pulang kantor malam-malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maryam&lt;/strong&gt;, Algerian, perfectionist &amp;amp; classy. Barang-barangnya serba bermerek. Bener-bener teman shopping yang sempurna; soalnya dia selalu belanja gila-gilaan, jadi saya nggak terlalu merasa berdosa kalau belanja gila-gilaan juga, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Leena&lt;/strong&gt;, dari Pakistan, punya &lt;em&gt;chemistry&lt;/em&gt; banget dengan Fatma karena sama-sama suka berpikir jorok. Kerjanya dugem melulu, &lt;em&gt;with or without anybody&lt;/em&gt;! Walaupun dia paling tua di antara kami, cuma dia yang selalu distop di pintu &lt;em&gt;club&lt;/em&gt;, karena dicurigai masih di bawah 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keempat teman saya ini, hobi mereka yang paling menarik adalah sama-sama suka mengutuk laki-laki dari bangsanya sendiri. Fatma sudah bersumpah darah nggak akan kawin dengan orang Arab apalagi orang Mesir, karena menurutnya mereka cemburuan, munafik, dan nggak mau tahu keinginan wanita (Rana mengangguk-angguk sambil menambahkan kalau laki-laki Mesir tukang bohong dan sombong). Leena dengan berapi-api nimbrung kalau jangan pernah kawin dengan laki-laki Pakistan, karena mereka bermuka dua, munafik juga, dan selalu punya &lt;em&gt;double standard&lt;/em&gt;. Ia malah menambahkan kalau bisa pingin ganti passport saking eneknya jadi orang Pakistan.&lt;br /&gt;Saya cuma ketawa-ketawa mendengar cerita emosional mereka. Ternyata jadi perempuan Indonesia enak juga, soalnya laki-laki Indonesia baik-baik (sebagian besar lah...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Fatma langsung menyahut kalau dari dulu dia pingin kawin dengan laki-laki Indonesia atau Malaysia, karena terkesan dengan tindak-tanduk mereka yang tengah belajar di Al-Azhar University yang dekat rumahnya. Satu hal yang dia ragukan tentang laki-laki Indonesia atau Malaysia adalah masalah ukuran (..sssh! maksudnya tinggi badan, soalnya Fatma ini lumayan tinggi...hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berencana traveling ke Maroko dan Spanyol bulan September nanti. Kami sendiri nggak terlalu yakin kalau rencana ini bakal mulus, masalahnya kami semua bekerja dan &lt;em&gt;who knows what comes up&lt;/em&gt;. Tapi paling tidak saya dan Fatma (insha Allah) pasti berangkat: kami berencana makan gila-gilaan dan jalan-jalan ke seluruh pelosok Fez, Tangiers, dan Barcelona. That will be FUN!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5819900603849016801?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5819900603849016801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/girls-stress-city.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5819900603849016801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5819900603849016801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/girls-stress-city.html' title='The Girls: Stress &amp; The City'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5206977200158431074</id><published>2008-05-10T15:46:00.006+04:00</published><updated>2008-05-24T21:42:25.938+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sana&apos;a'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadramaut'/><title type='text'>Yemen, the forgotten glory</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Yaman, atau versi inggrisnya Yemen, adalah salah satu tempat lahirnya kebudayaan tertua di dunia lebih dari empat milenia lalu. Dulu, oleh orang Romawi, Yaman sempat dinamai "Arabia Felix" (Happy Arabia) saking kayanya negara ini dengan hasil dagangnya. Kini, Yaman adalah salah satu negara termiskin di dunia dengan GDP cuma seperempat GDP Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendarat di bandara Sana'a, ibukota Yaman, saya teringat saat pertama kali menjejakkan kaki ke tempat ini. Airportnya tidak banyak berubah, mirip bangunan puskesmas di desa terpencil. Sana'a-nya sendiri juga masih seperti lima tahun yang lalu: kotor, semrawut, dan jelas menampakkan kemiskinan. Orang-orang berkeliaran dengan pisau terpasang di pinggang dan mengunyah qat (daun yang memiliki sedikit efek narkotik). Uh, kayaknya saya nggak bisa jalan-jalan sendiri nanti malam, nih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, meskipun Sana'a adalah kota yang luar biasa bersejarah (umurnya sudah lebih dari 2 milenia) dan kaya dengan bangunan antik, traveling ke Sanaa tidak disarankan untuk wanita yang sendirian. Apalagi yang jelas-jelas kelihatan asing kayak saya.&lt;br /&gt;Kebetulan juga baru beberapa hari yang lalu ada peledakan bom di Sanaa, jadi lengkaplah -saya sudah langsung dilarang jalan-jalan.. ihik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SCWw6YkS2vI/AAAAAAAAAOw/580SsHQZGko/s1600-h/House-on-the-rock.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198755861942688498" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SCWw6YkS2vI/AAAAAAAAAOw/580SsHQZGko/s400/House-on-the-rock.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terpaksa hari itu saya harus cukup puas dengan makan malam bersama teman-teman di sebuah jalan yang dipenuhi restoran di Sanaa. Ternyata lumayan nyaman juga kotanya, walaupun dalam hati saya masih dendam karena tidak bisa melihat-lihat kota kuno yang didaftar dalam UNESCO World Heritage Sites ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya saya terbang ke Mukalla, ibukota Hadramaut. Nama Hadramaut memang bikin merinding, karena artinya "maut telah datang", hiiiii.... Tapi ternyata orang-orang Hadrami (sebutan untuk penduduk Hadramaut) antusias sekali ketemu dengan orang Indonesia. Soalnya, hampir seluruh warga Indonesia keturunan Arab ternyata asalnya dari Hadramaut ini. Salah satu yang paling terkenal ya Ali Alatas. Nah, baru tau kan...? Coba saja &lt;em&gt;google&lt;/em&gt; website-nya pemerintah Hadramaut, ada versi bahasa Indonesia-nya lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yaman jugalah letak Marib, lokasi sisa-sisa situs kerajaan Saba, konon adalah kerajaannya ratu Balqis yang terkenal itu. Lagi-lagi, semua situs yang sangat menarik ini sulit dijangkau. Selain karena minimnya sarana juga karena situasi keamanan. (Juli-Januari lalu, ada dua serangan bom pada rombongan turis di Marib juga di Hadramaut)&lt;br /&gt;Yah berdoa saja lah supaya Yaman jadi aman, supaya kita bisa belajar sejarah di negeri yang kaya sejarah ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: gambar di atas diambil oleh teman saya dalam perjalanan kami di Hadramaut. &lt;em&gt;Not my copyright!&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5206977200158431074?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5206977200158431074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/yemen-forgotten-glory.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5206977200158431074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5206977200158431074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/yemen-forgotten-glory.html' title='Yemen, the forgotten glory'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SCWw6YkS2vI/AAAAAAAAAOw/580SsHQZGko/s72-c/House-on-the-rock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-2991199236428524502</id><published>2008-05-05T21:15:00.004+04:00</published><updated>2008-05-10T15:14:02.461+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amerika'/><title type='text'>Going to America......!</title><content type='html'>Pertama kali saya harus pergi ke Amerika adalah sekitar tengah tahun 2002, hanya beberapa bulan sejak kejadian 9/11. Bepergian ke Amerika setelah 9/11 masalah utamanya bukan duit, tapi lebih rumit lagi: masalah visa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah setelah 2 bulan menunggu untuk mendapat jadwal interview, saya dengan rapi jali mengantri jam 6 pagi di depan kedutaan Amerika. Melewati berlapis-lapis penjagaan, akhirnya hampir jam 10 siang saya baru bisa masuk ruang wawancara bersama dengan puluhan orang lain. Beberapa pewawancara duduk di balik jendela, sedangkan yang diwawancarai berdiri di depan jendela itu. Gampang sekali menandai antara pelamar yang dapat visa dengan yang tidak dapat visa, karena biasanya yang tidak dapat visa bete-bete semua tampangnya. Seorang ibu-ibu setengah baya malah sempat bicara agak keras "Tolonglah, anak saya ini sudah sepuluh tahun nggak ketemu kakaknya... Masak ditolak terus visanya...?" Si pewawancara tidak berkomentar malah dengan dingin memanggil nomer berikutnya. &lt;em&gt;Waduh, kok gini ya? &lt;/em&gt;Saya mulai cemas.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya ketemu juga dengan si pewawancara. Dari balik jendela, si pewawancara menanyakan beberapa pertanyaan trivial tanpa melihat ke arah saya, cuma sekali-sekali melirik &lt;em&gt;"What are you going to do? Where? Why?..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan... ia pun mengecap formulir saya. &lt;em&gt;Yeah, I got the visa!&lt;/em&gt; Saya yakin banget ini ada kaitannya dengan tampang innocent saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, begitu mendarat di Amerika, ternyata tampang saya sama sekali nggak innocent. Setiap kali melihat paspor Indonesia saya, saya langsung disuruh ngantri di barisan spesial (barisan teroris apa ya..). Setiap kali ada &lt;em&gt;'random check'&lt;/em&gt; di airport, saya pasti kena. Masalahnya, saya masih harus ganti pesawat domestik lagi, jadi setelah bolak-balik kena &lt;em&gt;'random check'&lt;/em&gt; dari ujung gundul ke ujung jempol kaki, saya sudah gondok banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perjalanan panjang dibumbui dengan rasa jengkel, saya sampai di kota tujuan. Langsung melompat naik ke atas taksi, saya melihat di spion depan ada hiasan berupa tulisan "Allah" dalam huruf Arab.&lt;br /&gt;"You are moslem?" tanya saya pada si supir.&lt;br /&gt;"Yes. I am &lt;em&gt;Palestinian&lt;/em&gt;" katanya mantap.&lt;br /&gt;Walah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat kenangan di atas, ketika baru-baru ini saya harus pergi ke Amerika lagi, saya langsung males. Orang Amerikanya sih rata-rata baik, tapi perjalanannya itu loh... Namun karena untuk urusan kerjaan, rasanya nggak ada pilihan lain. Visa lebih mudah didapat, malah saya langsung diberi visa 5 tahun, tapi perjalanan masih tetap dibumbui banyak penggeledahan dan pemeriksaan.&lt;br /&gt;Pulangnya saya sempat seperjalanan dengan seorang teman warganegara Kanada tapi berdarah Siria (tampang dan namanya pun jelas arab). Ternyata berjalan bersama dia benar-benar merugikan, kena cek melulu!&lt;br /&gt;Ketika saya tanya apakah dia memang selalu digeledah habis-habisan seperti ini, dia menjawab kalau dalam perjalanan memasuki Amerika, malah sempat diinterogasi di ruang tersendiri sampai hampir ketinggalan pesawat. Pertanyaannya melibatkan "Nama kakek? Pekerjaan kakek? Di mana saja kakekmu pernah tinggal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, kalau saya ditanya begini ya mana bisa jawab.......!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-2991199236428524502?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/2991199236428524502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/going-to-america.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2991199236428524502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2991199236428524502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/05/going-to-america.html' title='Going to America......!'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-92166404413712435</id><published>2008-04-28T21:50:00.016+04:00</published><updated>2008-05-10T15:12:27.538+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Newark'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inggris'/><title type='text'>Newark: negeri dongeng...</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ketika diberitahu kalau saya harus pergi Newark untuk urusan kantor, saya langsung sebal. Soalnya, kata teman saya, kota ini membosankan sekali.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya tiba di stasiun Newark dari London. Langsung curiga kalau kata-kata teman saya benar soalnya stasiunnya kecil banget (pokoknya kalau dibandingin stasiun Gombong, menangan Gombong deh...) Dari kesan pertama, kota kecil yang terletak di &lt;em&gt;Nottinghamshire county&lt;/em&gt; ini memang bukan kota yang &lt;em&gt;glamour&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju ke hotel, taksi membawa saya melewati padang-padang luas yang ditutupi bunga kuning cerah. Wow..... Si supir taksi menyebutkan kalau &lt;em&gt;"ini musim semi yang panas, harusnya bunga-bunga itu belum muncul"&lt;/em&gt;. Saya cuma nyengir sambil menutupkan jaket rapat-rapat ke atas kulit tropis saya yang mengkerut kedinginan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoQ1lu-heI/AAAAAAAAALY/cliLtyEA2rk/s1600-h/houses.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195483632973546978" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoQ1lu-heI/AAAAAAAAALY/cliLtyEA2rk/s320/houses.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ternyata, begitu memasuki daerah pemukiman, Newark adalah kota kecil yang cantik sekali. Rumah-rumahnya berdinding bata merah berjendela kotak kecil-kecil, dengan cerobong asap mengepulkan asap tipis. Beberapa rumah dindingnya dirambati tanaman, beberapa rumah menggantungkan kotak-kotak berisi bunga di depan jendela. Persis bayangan saya tentang negeri dongeng. Hampir yakin kalau si Topi Merah pasti tinggal di dekat-dekat sini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoRFVu-hfI/AAAAAAAAALg/z5FETv1TPxE/s1600-h/castle.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195483903556486642" style="FLOAT: left; MARGIN: 5px 5px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoRFVu-hfI/AAAAAAAAALg/z5FETv1TPxE/s320/castle.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau setiap negeri dongeng punya istana, Newark punya kastil. &lt;em&gt;Newark Castle&lt;/em&gt;, meskipun sudah berupa reruntuhan, tapi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota Newark. Dibangun sekitar abad ke-12, kastil ini pernah menjadi kediaman penguasa, pabrik uang, bahkan penjara dan pertahanan perang.&lt;br /&gt;Dari kastil ini kita bisa langsung turun ke pinggiran Sungai Trent yang sudah di-paving sehingga enak sekali untuk jalan-jalan. Dari situ kita bisa melihat padang-padang luas dengan sapi yang sedang merumput, angsa-angsa berenang, pokoknya romantis sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari situ (&lt;em&gt;lha kotanya memang cuma seiprit&lt;/em&gt;), ada juga gereja St.Mary Magdalene yang tidak kalah tua karena dibangun hampir saat bersamaan dengan kastil. Dulunya kota Newark adalah &lt;em&gt;market town&lt;/em&gt; tempat para petani dari daerah sekitar menjual hasil panen. Dan tepat di sekitar gereja St.Mary Magdalene inilah &lt;em&gt;market place&lt;/em&gt; alias pasarnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoNYFu-hdI/AAAAAAAAALQ/NL9-50pcHM4/s1600-h/Church.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195479827632522706" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoNYFu-hdI/AAAAAAAAALQ/NL9-50pcHM4/s320/Church.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya, Newark adalah tipikal &lt;em&gt;small traditional English town&lt;/em&gt; yang sangat cantik, lengkap dengan penduduknya yang sopan dan ramah, meskipun terhadap orang asing.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Malam itu, sambil makan malam di rumah makan Thailand di pojok jalan dekat &lt;em&gt;market place&lt;/em&gt;, saya mengirim sms ke teman saya, protes, karena ternyata Newark cantik sekali. Dia malah membalas "Yah, kalau &lt;em&gt;lu&lt;/em&gt; lihat semua kota kecil di Inggris, semuanya ya &lt;em&gt;kayak&lt;/em&gt; Newark itu... &lt;em&gt;Ngebosenin deh&lt;/em&gt;!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya seperti negeri dongeng begini? Wow!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-92166404413712435?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/92166404413712435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/newark-negeri-dongeng.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/92166404413712435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/92166404413712435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/newark-negeri-dongeng.html' title='Newark: negeri dongeng...'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBoQ1lu-heI/AAAAAAAAALY/cliLtyEA2rk/s72-c/houses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5059261594484622136</id><published>2008-04-26T17:58:00.010+04:00</published><updated>2008-11-01T07:04:43.571+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuala Lumpur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malaysia'/><title type='text'>Kuala Lumpur: just another big city</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBTSG1u-haI/AAAAAAAAAK4/DQCT9wtEGR0/s1600-h/Petronas+Twin+Tower2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194007285210187170" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBTSG1u-haI/AAAAAAAAAK4/DQCT9wtEGR0/s400/Petronas+Twin+Tower2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kuala Lumpur, buat saya &lt;em&gt;'is just another town'&lt;/em&gt; jadi saya nggak terlalu motivated buat membahasnya. Masalahnya, hampir separuh waktu tahun lalu saya habiskan di KL karena urusan pekerjaan. Saking bosennya saya sudah nggak pernah ke mana-mana lagi di KL. "Tapi kan nggak semua orang pernah ke KL?" kata teman saya. Iya deh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti Jakarta, KL selalu panas, lembab, dan hujan sepanjang tahun. Bedanya, KL nggak pernah kebanjiran (atau jarang? rasanya kok belum dengar). KL juga lebih teratur, ada &lt;em&gt;mass rapid transport system&lt;/em&gt; yang bisa diandalkan (train), dan jujur saja lebih nyaman ketimbang Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan Jakarta, KL selalu dibanjiri oleh turis Arab di musim liburan tengah tahun. Mereka biasanya tetap tenang memakai baju tradisional mereka plus membawa anak-anaknya berenteng-renteng. Maklum, Malaysia memang tujuan favorit keluarga Arab karena citranya sebagai negara tujuan wisata 'baik-baik' (bandingkan dengan Thailand...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan di KL, bisa ditebak hampir sama dengan makanan Indonesia. Jadilah buat saya yang kebetulan &lt;em&gt;reside&lt;/em&gt; di suatu negara yang makanannya kelewat beda sama makanan Indonesia, tiap kali saya di KL pasti makan 'ngamuk'.&lt;br /&gt;Untuk first-timer, wajib mencoba nasi lemak (yang ternyata &lt;em&gt;idem ditto&lt;/em&gt; sama nasi uduk... hehehe...) Atau nongkrong di 'mamak', kurang lebih mirip warung kopi atau warung tegal, tapi buka 24x7. Makanannya Indo banget bahkan nggak jarang yang jualan memang orang Indo. Para expat (baca: westerner) yang datang ke KL, biasanya juga dibujuk mencoba duren. Kalo buat saya sih, &lt;em&gt;ah, di kampung juga ada.....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kalau buat shopping, saya sarankan di Jakarta atau Bandung deh, jangan ke KL. Lha orang KL aja rame-rame ke Bandung buat belanja kok malah orang &lt;em&gt;Indon &lt;/em&gt;belanja ke KL?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Popular places to visit in KL &amp;amp; around:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1- Petronas Tower&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tiket untuk naik ke tower dibagikan gratis tiap hari, tapi jumlahnya terbatas. Jadi datang pagi-pagi supaya bisa melihat KL dari Menara Kembar tertinggi di dunia ini (nggak sampai ke puncak sih, cuma ke sky-bridge yang menghubungkan kedua menara ini). Ada apa di dalam? Ya nggak ada apa-apa, cuma cerita basa-basi pembangunan si tower ini dan tembok....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2-Taman Tasik Perdana: Bird park, Butterfly park, Taman Bunga Raya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lumayan enak nih buat jalan-jalan, setelah bosen sama pemandangan kota, kecuali Taman Bunga Raya (=bunga sepatu, bunga nasional Malaysia). Taman ini agak &lt;em&gt;garing&lt;/em&gt;, isinya macam-macam bunga sepatu warna-warni (mirip kebun emak saya di belakang rumah) dan bunga anggrek ...&lt;em&gt;yah&lt;/em&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3- Bukit Bintang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Asyik buat jalan-jalan karena banyak restoran dan dekat dengan banyak pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4- Chinatown&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buat turis yang mau belanja murah (ya murah lah, &lt;em&gt;wong&lt;/em&gt; palsu). Tapi hati-hati deh, di sini penjualnya galak-galak, nggak terlalu ramah. Disarankan belanja di Pasar Uler atau Glodok aja deh.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5- Genting&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau Jakarta punya Puncak, KL punya Genting. Di sini ada &lt;em&gt;fun park&lt;/em&gt; (agak kurang terawat.. suram muram deh), kereta gantung (lumayan buat lihat pemandangan), dan kasino. Di luar kasino ada poster yang menasihati kalau judi itu tidak terpuji dan sudah banyak orang yang jadi korban judi...&lt;em&gt;So..? &lt;/em&gt;persis kayak naruh label peringatan di bungkus rokok, hehehe...&lt;em&gt;mana ada yang baca...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kayaknya saya kok mencemarkan nama KL banget yah..? Aduh maaf deh, bukan maksud hati pakcik. Cuma jujur (hehehe). Kalau mau lebih 'flavorful' mendingan ke Malaka atau Penang aja deh...&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5059261594484622136?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5059261594484622136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/kuala-lumpur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5059261594484622136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5059261594484622136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/kuala-lumpur.html' title='Kuala Lumpur: just another big city'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBTSG1u-haI/AAAAAAAAAK4/DQCT9wtEGR0/s72-c/Petronas+Twin+Tower2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-6784427576838726661</id><published>2008-04-24T19:14:00.009+04:00</published><updated>2008-11-01T07:09:01.169+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Oman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musandam'/><title type='text'>Oman: Musandam, the rock and the sea</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBCyjVu-hKI/AAAAAAAAAIY/mM9K7-enlsA/s1600-h/musandam.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192846690557527202" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 295px; CURSOR: hand; HEIGHT: 178px" height="163" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBCyjVu-hKI/AAAAAAAAAIY/mM9K7-enlsA/s320/musandam.jpg" width="283" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Salah satu tempat paling menawan di Oman adalah Musandam, sering disebut 'the norway of Arabia', karena landscape-nya mirip&lt;/em&gt; fjords&lt;em&gt; di negara skandinavia itu. Di sinilah laut terperangkap di antara gunung-gunung batu yang tinggi dan terjal, membentuk teluk sempit dengan pemandangan spektakuler.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya berkendara keluar Dubai menuju ke Musandam. Baru sebentar keluar dari kota Dubai, pemandangan berubah drastis dari metropolis yang dikelilingi padang pasir berdebu dan membosankan, menjadi padang pasir yang cantik kemerahan. Saat itu masih musim sejuk di Dubai, jadi padang pasir kemerahan itu dipenuhi kendaraan 4x4 yang sedang offroad, &lt;em&gt;desert motorcycles&lt;/em&gt;, juga unta-unta yang selalu terlihat keheranan.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, padang pasir kemerahan menghilang dari pandangan dan pemandangan diganti oleh savana-savana datar serta gunung-gunung batu di cakrawala. Puluhan keluarga asyik berpiknik, ada yang sekedar duduk-duduk di atas tikar, ada yang membawa tenda, bahkan generator. Bukan rahasia lagi kalau orang Arab menyukai piknik dan barbeque; begitu cuaca membaik mereka pasti akan langsung berduyun-duyun keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBC2iVu-hNI/AAAAAAAAAIw/tADIt62WQbA/s1600-h/Untitled-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192851071424169170" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="231" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBC2iVu-hNI/AAAAAAAAAIw/tADIt62WQbA/s320/Untitled-1.jpg" width="284" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Satu jam berkendara dari Dubai, saya pun tiba di perbatasan Oman. Saya beruntung karena &lt;em&gt;check-point&lt;/em&gt; tidak terlalu penuh (konon di hari-hari libur tertentu kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar melintasi perbatasan).&lt;br /&gt;Lepas dari check point, udara laut yang segar dan pemandangan pantai yang luar biasa indah langsung sudah terlihat. Gunung-gunung batu membentuk tebing-tebing tinggi dengan berbagai corak dan warna, langsung bertemu dengan laut yang biru dan bersih tak bercela. Burung-burung camar bertebangan dan berteriak ramai. Wah, jalannya saja sudah bagus, apalagi Musandam-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tiba di Khasab, kota yang terletak di jantung Musandam. Kotanya sendiri kecil sekali, lebih mirip kampung. Suasananya sangat damai, tenang, dan tradisional; benar-benar sangat kontras dengan Dubai yang cuma 2 jam jauhnya. Saya pun menghabiskan sore dengan menikmati matahari terbenam di salah satu teluknya Khasab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya saya bangun pagi sekali supaya tidak ketinggalan matahari terbit. Saya pun berkendara ke salah satu titik tertinggi di Khasab dan sibuk memotret pemandangan yang luar biasa indahnya. Kemudian saya menuju ke salah satu restoran lokal, membeli roti dan keju ala India (yes, Indian! soalnya banyak sekali pendatang India di sini dan cuma mereka yang rela bangun pagi-pagi sekali untuk buka toko). Sarapan pun saya nikmati di pantai dengan pemandangan yang fantastis, ditemani beberapa ekor kambing yang siap menghabiskan apapun yang saya sisakan ... apa lagi yang bisa lebih mewah dari ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBCzWVu-hLI/AAAAAAAAAIg/Aq8gGJxUtoY/s1600-h/khasab.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192847566730855602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="196" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBCzWVu-hLI/AAAAAAAAAIg/Aq8gGJxUtoY/s320/khasab.jpg" width="297" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pun berputar-putar sebentar di Khasab yang pagi-pagi sudah dipenuhi kambing berjalan tenang di sana-sini. Saya juga sempat mengunjungi museum Khasab, yang tampaknya jarang sekali dikunjungi orang. Museum ini dulunya benteng sekaligus tempat tinggal. Cuma ada dua orang yang bekerja di museum ini, penjaga pintu sekaligus guide dan penjaga toko cendera mata (yang ternyata suami istri, hehehe... enak betul..). Mereka ramah sekali dan jelas sangat &lt;em&gt;excited&lt;/em&gt; menerima kedatangan saya. Bahkan saya boleh masuk gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengisi bensin (yang ternyata lebih murah ketimbang di Dubai), seorang local menyarankan saya untuk pergi ke Khor Al-Najd. Khor artinya air yang terperangkap daratan.&lt;br /&gt;Karena tidak punya rencana, saya pun langsung menuju Khor Al-Najd. Sebenarnya salah satu kegiatan favorit turis di Musandam adalah menaiki kapal untuk melihat lumba-lumba. Namun karena pagi itu begitu dingin menggigit, ide untuk berangin-angin di atas kapal kurang menarik hati saya.&lt;br /&gt;Mengikuti petunjuk si local, saya berkendara sedikit keluar Khasab, lalu menaiki sebuah bukit terjal yang kering dan tidak menarik. Saya mulai bertanya-tanya, &lt;em&gt;bener nggak nih&lt;/em&gt;? Begitu mencapai puncak, saya melihat dua mobil parkir dan beberapa orang duduk di puncak. Saya pun ikut parkir dan berjalan ke puncak. Di situlah saya pertama melihat Khor Al-Najd, pemandangan yang sedemikian indah sehingga menjadikan saya &lt;em&gt;speechless&lt;/em&gt;. Ternyata al-Najd adalah teluk kecil berair biru kehijauan dan sangat tenang, diapit oleh bukit batu terjal di ketiga sisinya. Saya pun bergabung dengan orang-orang, terpaku, terdiam, menikmati keindahan Khor Al-Najd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBC0Dlu-hMI/AAAAAAAAAIo/K9Hm8SI0S1c/s1600-h/khornajd.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192848344119936194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBC0Dlu-hMI/AAAAAAAAAIo/K9Hm8SI0S1c/s400/khornajd.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Puas menikmati Khor Al-Najd dari atas, saya pun berkendara turun bukit menuju teluk cantik itu. Saya berfoto-foto dan bermain air sebentar di situ, sambil merencanakan kunjungan selanjutnya. Besok kalau datang lagi, saya berencana berkemah dan menginap di sini serta membuat api unggun...!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-6784427576838726661?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/6784427576838726661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/oman-musandam-sun-sand-stones-and-sea.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/6784427576838726661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/6784427576838726661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/oman-musandam-sun-sand-stones-and-sea.html' title='Oman: Musandam, the rock and the sea'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBCyjVu-hKI/AAAAAAAAAIY/mM9K7-enlsA/s72-c/musandam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-3287850387461631803</id><published>2008-04-18T21:02:00.010+04:00</published><updated>2008-05-03T11:24:11.241+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makkah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arab Saudi'/><title type='text'>Saudi Arabia: Makkah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9ea1u-g8I/AAAAAAAAAGs/pTCgK4Ssj3M/s1600-h/byr-ali.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192472710575195074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9ea1u-g8I/AAAAAAAAAGs/pTCgK4Ssj3M/s400/byr-ali.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9ZwFu-g4I/AAAAAAAAAGM/MIhY-CMFeZA/s1600-h/byr-ali.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Bersamaan dengan jemaah umrah yang lain, tujuh kilometer dari Madinah kami tiba di "Abyar Ali" (sumur Ali). Diberi nama demikian karena konon sepupu Nabi Muhammad, Ali bin Abu Thalib, menggali sumur di tempat ini saat Nabi melaksanakan haji. Abyar Ali atau sering disebut "Byr Ali" ini dijadikan tempat "miqat": di mana para jemaah haji atau umrah mulai mengenakan pakaian &lt;em&gt;ihram&lt;/em&gt; dan memulai ritual umrah/haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Ihram&lt;/em&gt; adalah pakaian yang harus dikenakan jemaah haji/umrah selama melaksanakan rukun ibadah tersebut. Untuk lelaki, pakaian &lt;em&gt;ihram&lt;/em&gt; adalah dua helai kain putih tidak berjahit yang menutupi bagian bawah hingga di atas mata kaki dan bagian atas dengan bahu kanan terbuka. Tutup kepala dan alas kaki yang menutupi jari serta mata kaki tidak diizinkan. Untuk wanita, pakaian &lt;em&gt;ihram&lt;/em&gt; adalah pakaian longgar yang hanya menampakkan wajah dan kedua telapak tangan; menutupnya tidak diizinkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah mulai ber-&lt;em&gt;ihram&lt;/em&gt; dan berniat melaksanakan ibadah, di sinilah larangan-larangan ibadah mulai berlaku hingga berakhirnya ritual. Memotong kuku, rambut, memakai wewangian, bercumbu (apalagi selebihnya..!), berkata kotor, dan berbantahan adalah dilarang keras. Ide dasarnya adalah kita melaksanakan ibadah ini, menghadap Tuhan, dengan kondisi suci dan sederhana tanpa memandang ras dan kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sepanjang perjalanan ke Makkah, kami terus mengucapkan &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt;. Ucapannya dalam bahasa Arab, namun bila diterjemahkan kurang lebih &lt;em&gt;"Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, wahai Tuhan yang tidak ada sekutu baginya. Segala pujian adalah milik-Mu, nikmat adalah dari-Mu, dan kekuatan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu!"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mencapai Tanah Haram saat malam sudah larut. Dinamakan Tanah Haram, karena tanah ini disucikan; diharamkan untuk mencabut tumbuhan, membunuh binatang, juga berperang. Pendeknya: "inviolate zone". Semua membisu. Untuk saya yang pertama kali berada di sini, saat itu benar-benar mencekam (orang tua saya sudah pernah berhaji dan tinggal di Makkah lebih dari 2 minggu, jadi buat mereka mungkin lebih terasa seperti nostalgia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAjrsBlR1LI/AAAAAAAAAEs/RR9cFuHAIuQ/s1600-h/kabah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190657712116061362" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 410px; CURSOR: hand; HEIGHT: 185px; TEXT-ALIGN: center" height="192" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAjrsBlR1LI/AAAAAAAAAEs/RR9cFuHAIuQ/s400/kabah.jpg" width="433" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Menjelang tengah malam kami pun tiba di Masjid al-Haram, jantung kota Makkah, tempat di mana Ka'bah berada. Saat memasuki masjid dan melihat Ka'bah yang berdiri tegak di tengahnya, saya sudah tidak mampu menahan air mata. Sedemikian sederhana, namun sedemikian agung. Tidak ada lukisan, atau ukiran, atau makam orang suci di sana. Inilah rumah Tuhan yang telah dilindungi oleh-Nya. Saya yang sedemikian hina dan berlumur dosa ini telah dikaruniai waktu, harta, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan untuk mengunjungi rumah yang agung ini. Saya yang begitu kotor ini telah diundang oleh-Nya! Air mata saya terus mengalir dan saya mulai merasa malu pada beberapa orang yang mulai memandang saya dengan heran. Namun linangannya sungguh tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami langsung memulai umrah kami dengan ber-&lt;em&gt;tawaf&lt;/em&gt;, mengelilingi Ka'bah berlawanan arah jarum jam sebanyak tujuh kali. Dilanjutkan dengan sholat tawaf, bersyukur atas selesainya tawaf di masjid yang mulia ini. &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9bK1u-g5I/AAAAAAAAAGU/zIFArCFuV1w/s1600-h/boys.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192469137162404754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9bK1u-g5I/AAAAAAAAAGU/zIFArCFuV1w/s320/boys.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lalu kami melanjutkan dengan &lt;em&gt;sa'i&lt;/em&gt;, berjalan antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali (jalan antara kedua bukit ini sudah berupa lorong marmer ber-AC yang berada di dalam Masjid Al-Haram itu sendiri). Setelah melakukan perjalanan sepanjang 3 km lebih sedikit ini, ritual umrah pun berakhir dengan &lt;em&gt;tahalul&lt;/em&gt;, memotong rambut. Mau gundul juga boleh, tapi yang disyaratkan adalah minimum tiga helai rambut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Lega dan bahagia, kami pun melanjutkan berzikir di Masjid Al-Haram menunggu waktu subuh tiba. Ketika subuh berakhir dan kami kembali ke hotel, barulah terasa betapa lelahnya badan ini.&lt;br /&gt;Namun rasa lelah itu tampaknya begitu mudah terhapus. Hanya dua setengah hari di Makkah, kami sempat dua kali melaksanakan ritual umrah. Saya juga selalu menyempatkan untuk tawaf sebelum melaksanakan sholat wajib, yang berarti hampir 5 kilometer setiap harinya. Meskipun tidur kami paling banter cuma 4 jam sehari (sayang rasanya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, saat kita berada begitu dekat dengan masjid suci ini!), kami tidak merasa lelah maupun sakit. Benar-benar luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Masjid Al-Haram, ada beberapa tempat yang dianggap istimewa karena konon doa di tempat tersebut tidak akan ditolak: salah satunya adalah &lt;strong&gt;antara Ka'bah dan Hijr Ismail&lt;/strong&gt;, dinding berbentuk bulan sabit di barat daya Ka'bah; juga &lt;strong&gt;Multazam&lt;/strong&gt;, dinding Ka'bah antara pojok Ka'bah yang bertempel Hajar Aswad dengan pintu Ka'bah. Salah satu hal yang juga disukai (karena pernah dilakukan Nabi Muhammad) adalah mencium Hajar Aswad, batu yang konon berasal dari surga.&lt;br /&gt;Karena ribuan pengunjung semuanya ingin berdoa di tempat yang mustajab tersebut, termasuk juga ingin mencium Hajar Aswad, suasana dekat tempat-tempat tersebut sudah seperti zona perang. Liar! Sungguh menyedihkan, karena seharusnya justru dalam ibadah ini menyakiti sesama adalah terlarang.&lt;br /&gt;Namun entah bagaimana, saya justru diberikan kemudahan: saya dapat memasuki Hijr Ismail dan berdoa di sana dengan leluasa, bahkan dapat mencium Hajar Aswad. Sepertinya hampir mustahil, karena yang berdesakan di sana hampir semuanya laki-laki dengan badan besar dilengkapi semangat perang untuk berdesakan. Lagi-lagi hadiah yang tak terkira dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya harus meninggalkan Mekkah, hati saya benar-benar sangat sedih. Satu permintaan terus saya sebutkan: semoga saya diizinkan kembali lagi untuk melaksanakan haji.&lt;br /&gt;Tanah Makkah ini begitu kering, tandus, tanpa keindahan apapun dalam pengertian umum. Namun di sinilah rumah peribadatan yang tertua telah didirikan, dan ke sinilah jutaan umat, yang ingin mempersembahkan hadiah kepada Tuhan Yang Esa, datang dengan segala daya dan upaya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-3287850387461631803?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/3287850387461631803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/saudi-arabia-makkah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3287850387461631803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3287850387461631803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/saudi-arabia-makkah.html' title='Saudi Arabia: Makkah'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9ea1u-g8I/AAAAAAAAAGs/pTCgK4Ssj3M/s72-c/byr-ali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-2540346484270359232</id><published>2008-04-18T19:07:00.010+04:00</published><updated>2008-05-03T11:24:33.151+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madinah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arab Saudi'/><title type='text'>Saudi Arabia: Madinah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9dO1u-g7I/AAAAAAAAAGk/Let-B4L1PZA/s1600-h/jalabiyyas.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192471404905137074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9dO1u-g7I/AAAAAAAAAGk/Let-B4L1PZA/s320/jalabiyyas.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sore itu kami tiba di King Abdul Aziz Airport, lapangan udara di Jeddah yang biasa digunakan sebagai tempat mendaratnya ribuan, bahkan jutaan, jemaah haji dan umrah, sebelum bertolak ke Madinah atau Makkah.&lt;br /&gt;Meskipun kami sempat bermalam di Jeddah, tapi tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kota ini. Sebagai salah satu kota terbesar di negara kaya raya Saudi Arabia, Jeddah bisa dibilang mengecewakan. Airportnya sempit dan tidak efisien, kotanya didominasi oleh bangunan tua dan jalan yang tidak terurus (meskipun ada juga bagian kota yang sangat modern dan bersih). Kami sempat berbelanja di Balad, pasar terkenal dekat corniche, membeli jalabiyya hitam untuk saya, adik perempuan saya, dan ibu saya. Mengenakan jalabiyya ternyata sangat nyaman, kita bisa mengenakan jeans atau t-shirt atau apa saja, lalu tinggal menyampirkan jalabiyya di atasnya &lt;em&gt;and ready to go&lt;/em&gt;! Cuma jelas saja jalabiyya ini tidak praktis dikenakan di Indonesia, karena meskipun sama-sama panas, negeri kita punya kelembaban sangat tinggi yang bisa membuat jalabiyya basah kuyup dan walhasil jadi berbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya kami berangkat ke Madinah lewat jalan darat. Perjalanan sejauh lebih dari 400 km melewati padang batu yang tandus itu memakan waktu sekitar 4 jam. Kami tiba di Madinah lewat pukul sembilan malam. Tanpa menyia-nyiakan waktu kami segera bergegas menuju Masjid Nabawi (yang hanya 100m dari hotel kami) dan sholat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad tidak lama setelah kepindahannya bersama umat muslim ke Madinah, setelah diperlakukan dengan keji oleh para penyembah berhala di kota kelahirannya Makkah. Saat itu Madinah masih bernama Yatsrib.&lt;br /&gt;Masjid Nabawi awalnya hanya bangunan sederhana dengan tiang-tiang batang kurma dan dinding lumpur. Kini masjid ini telah diperluas konon 100 kali ukuran aslinya dan mampu menampung setengah juta jamaah. Makam Nabi dan dua sahabatnya yang tadinya berada di luar masjid, kini berada di dalam masjid akibat perluasan ini. Makam ini sentiasa dijaga ketat supaya tidak ada yang berdoa pada makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari berikutnya di Madinah, tidak ada hal lain yang kami lakukan selain menikmati ibadah di Masjid Nabawi. Kami selalu datang paling lambat 1 jam sebelum waktu sholat tiba, karena beberapa waktu sebelum azan berkumandang pintu masjid telah disesaki manusia dan mencari tempat yang lega untuk bersembahyang sudah mustahil. Saat jeda antara Maghrib dengan Isha, di antara mengkaji Quran dan berzikir, para wanita juga berbagi kurma atau kopi.&lt;br /&gt;Saya bertemu dan ngobrol dengan muslim dari berbagai belahan dunia namun para peziarah lebih didominasi oleh orang Turki dan Indonesia (yang lumayan dihormati di sana). "Indunisii?" adalah pertanyaan umum setelah melihat wajah Asia saya, disusul dengan senyum hangat (bahkan pernah seorang wanita tua Turki memaksa saya mencium tangannya, hehehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAjpCRlR1KI/AAAAAAAAAEk/7SBse6hQ8qw/s1600-h/Nabawi.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190654795833267362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" height="228" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAjpCRlR1KI/AAAAAAAAAEk/7SBse6hQ8qw/s320/Nabawi.JPG" width="372" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Di Masjid Nabawi yang selalu bersih dan wangi ini (skuadron &lt;em&gt;cleaning service&lt;/em&gt;-nya tidak pernah luput membersihkan setiap sudut, juga mengepel dan bahkan mencuci lantai masjid dengan sabun), para jemaah diorganisir dengan baik, sehingga meskipun jumlahnya puluhan bahkan ratusan ribu, ibadah terasa begitu tenang dan khusuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, ada juga bagian Nabawi yang selalu padat dan disesaki pengunjung siang malam: Ar-Rawdah. Ar-Rawdah adalah area di antara mimbar Nabi Muhammad dengan rumah beliau, yang pernah beliau sebutkan "&lt;em&gt;adalah bagian dari taman surga&lt;/em&gt;". Konon, doa yang dipanjatkan di sini tidak akan ditolak oleh Allah. Karena alasan inilah, orang berdesakan untuk memasukinya, lalu sholat dan berdoa di sana. Masalahnya, ukurannya lumayan sempit sedangkan ratusan orang berebut memasukinya. Untung saja di pintu masuk ada beberapa polisi yang mengatur "lalu lintas" bahkan mengusir orang-orang yang terlalu lama berada di Ar-Rawdah supaya yang lain bisa berganti memasukinya. Syukurlah, jalan masuk laki-laki dan wanita juga dibedakan, sehingga saya tidak perlu berdesakan dengan para laki-laki yang biasanya lebih berbau ketimbang wanita, hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami meninggalkan Madinah, rasa sedih menggelayuti hati seakan berpisah dengan kekasih yang begitu dicintai. Namun, kami juga tak sabar untuk segera tiba di Makkah!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-2540346484270359232?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/2540346484270359232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/saudi-arabia-madinah.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2540346484270359232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2540346484270359232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/saudi-arabia-madinah.html' title='Saudi Arabia: Madinah'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9dO1u-g7I/AAAAAAAAAGk/Let-B4L1PZA/s72-c/jalabiyyas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-2071625618051861546</id><published>2008-04-18T17:46:00.008+04:00</published><updated>2008-05-10T15:10:29.598+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arab Saudi'/><title type='text'>Saudi Arabia: Umrah, a religio-romantic journey</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9fD1u-g9I/AAAAAAAAAG0/7pX9DsHjfyE/s1600-h/Masjidilharam.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192473414949831634" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="327" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9fD1u-g9I/AAAAAAAAAG0/7pX9DsHjfyE/s400/Masjidilharam.jpg" width="231" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Kerinduan hati untuk menapak tilas jejak Nabi Allah memanggil kami untuk melaksanakan umrah. "Kami", karena perjalanan ini saya lakukan bersama keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Merancang perjalanan yang bisa mempertemukan waktu Bapak saya (yang masih bekerja), ibu saya (sudah pensiun dini sejak tahun lalu), adik perempuan saya (bekerja), adik laki-laki saya (kuliah), dan saya sendiri yang juga bekerja, sudah merupakan tantangan. Tanpa panggilan Allah rasanya tidak mungkin kami akhirnya bisa berangkat bersama.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang masih &lt;em&gt;clueless &lt;/em&gt;tentang apa sebenarnya umrah ini, berikut ceritanya...&lt;br /&gt;Umrah, atau haji kecil, adalah pelaksanaan ritual keagamaan mengikuti perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar. Berbeda dengan haji, umrah bisa dilaksanakan kapan saja.&lt;br /&gt;Tata caranya sendiri dicontohkan oleh Nabi Muhammad:&lt;br /&gt;- tawaf, tujuh kali mengelilingi Ka'bah (Baitullah, "rumah Tuhan", bangunan sederhana berbentuk kubus di tengah Masjid Al-Haram, yang konon dibangun Nabi Adam dan dibina kembali oleh Nabi Ibrahim)&lt;br /&gt;- sa'i, berlari kecil tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah; mengingat larinya Hajar untuk mencari air buat bayi kecilnya Ismail, selepas ditinggal sendirian di lembah kering Makkah oleh suaminya Ibrahim atas perintah Allah)&lt;br /&gt;- diakhiri dengan tahallul, mencukur rambut, melambangkan diperbaharuinya hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, perjalanan ini bukan cuma religius tapi juga romantis.&lt;br /&gt;Saya mencintai Tuhan, dan saya akan mengunjungi rumahnya!&lt;br /&gt;Saya mencintai Nabi Muhammad, dan saya akan mengunjungi kotanya (Madinah)!&lt;br /&gt;Saya mencintai Nabi Ibrahim, dan saya akan mengunjungi tempat ia pernah berdiri saat membina kembali rumah Tuhan hingga konon telapak kakinya tercetak (maqam Ibrahim)!&lt;br /&gt;Saya mencintai sejarah, dan saya akan mengunjungi salah satu bangunan tertua di dunia (Ka'bah)!&lt;br /&gt;Hati saya berdebar dan kerinduan itu semakin menyesakkan hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Labbaik Allahumma Labbaik!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-2071625618051861546?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/2071625618051861546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/saudi-arabia-umrah-religious-journey.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2071625618051861546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2071625618051861546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/saudi-arabia-umrah-religious-journey.html' title='Saudi Arabia: Umrah, a religio-romantic journey'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9fD1u-g9I/AAAAAAAAAG0/7pX9DsHjfyE/s72-c/Masjidilharam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-1823209796556084487</id><published>2008-04-18T17:22:00.005+04:00</published><updated>2008-05-03T11:25:16.527+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Turki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Antalya'/><title type='text'>Turkey: Antalya</title><content type='html'>Antalya terletak di antara pegunungan Taurus dan laut Mediterania, jadi bisa dibayangkan betapa indahnya tempat ini.&lt;br /&gt;Meskipun Antalya sendiri sangat kaya peninggalan bersejarah, tapi saya sudah kecapekan jalan-jalan. Agak susah bercerita tentang Antalya, soalnya sebagian besar waktu saya habiskan tidur dan makan (resort-resort di Antalya didesain all-in, makanannya juga enak-enak sekali...). Sempat juga sih bersafari dengan jeep 4x4 melintasi pegunungan Taurus, melihat kecantikan alam Antalya dan desa-desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, that's real vacation!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBpUlu-hJI/AAAAAAAAAIQ/rUF_IrVoYXY/s1600-h/Antalya.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192766172805629074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBpUlu-hJI/AAAAAAAAAIQ/rUF_IrVoYXY/s400/Antalya.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-1823209796556084487?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/1823209796556084487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-anatolia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1823209796556084487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1823209796556084487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-anatolia.html' title='Turkey: Antalya'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBpUlu-hJI/AAAAAAAAAIQ/rUF_IrVoYXY/s72-c/Antalya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-3353715569708705321</id><published>2008-04-18T17:21:00.009+04:00</published><updated>2008-05-03T11:25:00.690+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Turki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Istanbul'/><title type='text'>Turkey: Istanbul</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBKBVu-hHI/AAAAAAAAAIA/JCbPP-jYs-c/s1600-h/HagiaSophia.jpg"&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192731757232686194" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBKBVu-hHI/AAAAAAAAAIA/JCbPP-jYs-c/s320/HagiaSophia.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Turki sebenarnya adalah negara terakhir yang saya kunjungi dalam perjalanan saya ke Eropa. Namun saya agak tidak rela kalau Turki disebut Eropa, karena sebagian wilayah Turki masuk dalam wilayah Asia. Namun, apalah artinya benua? Bukankan benua Eropa, Asia, dan Afrika sebenarnya hanyalah satu daratan raksasa?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Jika bumi adalah satu negara, maka Istanbul adalah ibukotanya" demikian kata Napoleon Bonaparte. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Istanbul berdiri bangga dengan sejarahnya yang pernah menjadi ibukota negara-negara besar dunia. Ia pernah dinamai Byzantium dan Konstantinopel saat menjadi ibukota kerajaan Romawi. Lalu menjadi Istanbul setelah Turki ditaklukkan Ottoman pada abad ke-15. Istanbul juga menikmati posisi yang unik, sebelah kakinya berdiri di benua Eropa (sisi Thracia) dan sebelah kakinya di benua Asia (sisi Anatolia), dipisahkan dengan selat Bosphorus di tengah-tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunjungi Istanbul berarti mengunjungi &lt;strong&gt;Hagia Sophia&lt;/strong&gt;. Monumen simbolik yang sayangnya kurang terawat ini, awalnya ketika didirikan pada Abad ke-5 adalah sebuah gereja. Ketika Istanbul diambil alih oleh Ottoman tahun 1453, gereja ini dialihfungsikan menjadi masjid. Setelah Turki dikuasai oleh pemerintahan sekuler tahun 1923, Hagia Sophia diubah menjadi museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejarahnya ini, Hagia Sophia adalah tempat unik di mana kita bisa menyaksikan ada mimbar imam yang di atasnya terdapat lukisan Maria dengan Jesus (lukisan ini masih utuh karena orang Ottoman tidak merusaknya melainkan menutupnya dengan plaster). Saya sih antara kagum dan sedih, sungguh sayang tempat ini malah cuma jadi tontonan bukan tempat ibadah...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBUk1u-hII/AAAAAAAAAII/EUfpU9w-5Zk/s1600-h/suleymani.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192743362234320002" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="334" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBUk1u-hII/AAAAAAAAAII/EUfpU9w-5Zk/s400/suleymani.jpg" width="257" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari Hagia Sophia terletak &lt;strong&gt;Masjid Biru&lt;/strong&gt;, nama populer dari Masjid Sultan Ahmed. Dipanggil Masjid Biru, tidak lain karena interior masjid yang didominasi keramik dan cat warna biru. Lalu ada juga &lt;strong&gt;Suleymaniye Mosque&lt;/strong&gt;, yang dibangun oleh Suleiman the Magnificent, konon untuk menyaingi Hagia Sophia. (&lt;em&gt;Di kedua masjid ini, lampu gantung yang menerangi masjid digantungi dengan telur-telur burung unta, katanya sih untuk mencegah sarang laba-laba. Nah, silakan dicoba di rumah...&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang wajib dikunjungi selanjutnya adalah &lt;strong&gt;Istana Topkapi&lt;/strong&gt;, istana kediaman keluarga kerajaan Ottoman dari pertengahan abad ke 15 hingga abad ke-17. Istananya sendiri tidak terlalu mewah, tapi pemandangannya yang lepas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, benar-benar spektakuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istanbul juga tempat belanja yang mengasyikkan, karena harga di sini bisa dibandingkan dengan Jakarta. Barang-barangnya unik, orisinal (tidak semuanya &lt;em&gt;made in China&lt;/em&gt;, hehehe) dan harganya sangat terjangkau; Turki termasuk negara 'murah'. Meskipun kaya dengan sumber alam dan orang-orang yang cerdas, Turki sempat terhantam krisis ekonomi yang sedemikian parah hingga dalam kurun 1996-2001 nilai tukar Turkish Lira melemah hingga 15 kali lipat! Tahun 2005, Turki mengenalkan mata uang baru, New Turkish Lira (hehehe, nggak kreatif ya...) yang nilainya 1 juta kali nilai mata uang yang lama. Jadi, kalau di tahun 2004 kita bisa membeli sandal jepit seharga 2 juta Lira, di tahun 2005 cukup 2 Lira saja. Ngomong-ngomong, 2 juta Lira di tahun 2004 itu nilainya kurang lebih 14 ribu rupiah. Nah lo, ada juga ya yang lebih parah dari Indonesia...(jangan bangga..!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tempat yang menyenangkan untuk jalan-jalan di Istanbul, terutama karena suasananya yang orisinal, adalah Kapalicarsi (grand bazaar). Sebagai turis yang wajib membawa oleh-oleh, saya juga membeli coffee set khas Turki, &lt;em&gt;Turkish sweets, &lt;/em&gt;dan jaket kulit dengan kualitas sangat bagus di sini. Harga sangat &lt;em&gt;reasonable&lt;/em&gt;. Para penjualnya juga sangat ramah, bahkan pakai acara menyuguh teh segala, sehingga kadang kita harus melarikan diri sebelum diangkat anak (hehehe...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Istanbul sangat menarik, saya sudah agak kecapekan jalan-jalan. &lt;em&gt;I needed a vacation from my vacation, and that's why I was heading to Antalya!&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-3353715569708705321?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/3353715569708705321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-istanbul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3353715569708705321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3353715569708705321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-istanbul.html' title='Turkey: Istanbul'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBBKBVu-hHI/AAAAAAAAAIA/JCbPP-jYs-c/s72-c/HagiaSophia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5837866958497796480</id><published>2008-04-18T17:19:00.026+04:00</published><updated>2008-05-03T11:25:52.051+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Roma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Itali'/><title type='text'>Europe: Rome</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9o21u-g_I/AAAAAAAAAHE/iHrhZKiIoK0/s1600-h/Colosseum.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192484186727810034" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="196" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9o21u-g_I/AAAAAAAAAHE/iHrhZKiIoK0/s320/Colosseum.JPG" width="273" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Untuk para pecinta sejarah, Roma (Rome) adalah open air museum terbesar di dunia. Untuk pecinta makanan, siapa yang tidak kenal dengan Italian food. Untuk para pecinta hidup, Roma adalah jantung Itali: tempat segala keindahan dinikmati,&lt;/em&gt; to the maximum&lt;em&gt;! &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Huh, baru membayangkannya saja saya sudah deg-deg-an....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roma konon dibangun 753 tahun sebelum Masehi, jadi kurang lebih sudah berumur 2760 tahun. Dari Amsterdam, ke kota purba inilah perjalanan saya selanjutnya. Saya memilih naik Easy Jet (low cost carrier-nya Eropa) dari Amsterdam ke Milan, lalu melanjutkan ke Roma dengan kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 9&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba pagi itu di stasiun kereta Termini yang ternyata tidak jauh dari hotel yang saya pesan &lt;em&gt;on-line&lt;/em&gt; sebelumnya. Hotel ini juga tidak jauh dari &lt;strong&gt;Piazza della Repubblica&lt;/strong&gt;, salah satu &lt;em&gt;piazza&lt;/em&gt; (ruang terbuka di kota) yang terkenal di Roma dengan basilika &lt;strong&gt;Santa Maria degli Angeli e dei Martiri&lt;/strong&gt; (panjang banget..), yang sebagian didesain Michaelangelo, di salah satu sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu sudah lumayan siang dan saya belum punya rencana apa-apa hari itu, saya lalu menyewa &lt;em&gt;scooter&lt;/em&gt; untuk mengitari Roma, &lt;em&gt;in style&lt;/em&gt;.. (mengikuti gaya Audrey Hepburn di film Roman Holiday, hehehe) Saya pun dengan &lt;em&gt;pe-de&lt;/em&gt; langsung memacu &lt;em&gt;scooter&lt;/em&gt; dengan berbekal sebuah peta di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan di Roma tidak diaspal melainkan dilapisi batu-batu yang membuatnya sangat unik. Sepanjang jalan, mata saya tidak lepas menemukan bangunan-bangunan kuno maupun klasik, semuanya masih ditinggali bahkan dijadikan apartemen. Bunga-bunga aneka warna menggantung dari balkon, restoran-restoran berjejer di trotoar jalanan, dan orang-orang dengan gaya &lt;em&gt;super stylish&lt;/em&gt; maupun yang jelas-jelas &lt;em&gt;backpacker tourists&lt;/em&gt; berseliweran di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa waktu, akhirnya saya menyimpulkan kalau saya cuma &lt;em&gt;muter-muter&lt;/em&gt; di satu tempat karena bertemu satu bangunan besar yang itu-itu juga. Akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di piazza depan bangunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9oXVu-g-I/AAAAAAAAAG8/PQsu3UaZnr4/s1600-h/Vittorio-Emanuele.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192483645561930722" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9oXVu-g-I/AAAAAAAAAG8/PQsu3UaZnr4/s320/Vittorio-Emanuele.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dari membaca contekan (Lonely Planet Guide to Europe), barulah saya tahu kalau bangunan besar itu adalah &lt;strong&gt;Monument de Vittorio Emanuele II&lt;/strong&gt;, didirikan di awal abad ke-20 untuk menghormati raja pertama Italia bersatu. Menurut saya sih bangunan ini lumayan cantik. Namun karena desainnya yang terlalu mencolok dibanding bangunan sekitarnya, juga pendiriannya yang sempat menelan sebagian dari situs bukit Palatine yang bersejarah, banyak yang sinis bahkan menyebutnya "kue pengantin" atau malah "mesin ketik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan siang, saya mengambil kesimpulan bahwa pizza paling tidak enak ternyata saya rasakan di sini. Saya juga mengambil kesimpulan kalau es krim di Itali rasanya tidak bisa disamakan dengan es krim di bagian dunia mana pun-- bahkan tidak seharusnya disebut es krim. Rasa dan teksturnya &lt;em&gt;magical&lt;/em&gt;, pilihan rasanya juga luar biasa banyaknya. Pantas saja kalau &lt;em&gt;italians&lt;/em&gt; tidak mau menyebutnya es krim, mereka menyebutnya &lt;em&gt;gelato. Because they are not the same! &lt;/em&gt;(sejak itu, di Roma saya makan es krim, eh, &lt;em&gt;gelato&lt;/em&gt;, lebih dari lima kali sehari. Bahkan Wall's pun rasanya berbeda di sini... sugesti mungkin ya...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas mencoba beberapa rasa &lt;em&gt;gelato&lt;/em&gt;, saya pun memacu &lt;em&gt;scooter&lt;/em&gt; menuju bangunan paling terkenal di Itali. Apalagi kalau bukan &lt;strong&gt;Colosseum&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis di balik distrik modern yang sangat sibuk di Roma, berdirilah bangunan berusia hampir dua millenia ini. Colosseum, nama aslinya Amphitheatrum Flavium, fungsi aslinya mungkin mirip dengan stadion pertunjukan. Seperti dipopulerkan oleh Hollywood, Colosseum dulunya menjadi tempat pertunjukan gladiator di mana manusia diadu dengan binatang buas. Konon orang kristen awal yang dulunya dianggap musuh negara, juga dihukum mati di sini dengan perantara binatang buas. Karena inilah, setiap hari Paskah, Paus memimpin prosesi &lt;em&gt;Via Crucis&lt;/em&gt; (jalan kesedihan) ke arah Colosseum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9zJ1u-hBI/AAAAAAAAAHQ/hyjW3WxV7f4/s1600-h/colosseum_interior.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192495508261602322" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9zJ1u-hBI/AAAAAAAAAHQ/hyjW3WxV7f4/s320/colosseum_interior.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, Colosseum lebih mirip dengan reruntuhan (yang diiklankan dengan baik ke seluruh dunia). Bagian luarnya sudah separuh runtuh dan bagian dalamnya sudah nyaris tak berbentuk. Kalau dihitung-hitung, masih banyak &lt;em&gt;roman amphitheatre&lt;/em&gt; yang lebih utuh di bagian dunia lainnya. Ibaratnya, masih banyak penyanyi yang lebih bagus suaranya dari Madonna, tapi semua orang mengakui siapa yang paling terkenal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 10&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ber-&lt;em&gt;scooter&lt;/em&gt; di hari pertama di Roma, hari kedua saya bergabung dengan para turis lainnya untuk mengikuti &lt;em&gt;guided tour&lt;/em&gt; keliling Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kami mulai memasuki lorong-lorong sempit di Roma. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah &lt;strong&gt;Trevi Fountain&lt;/strong&gt;, air mancur antik paling terkenal di Roma (gambar kanan bawah). Di sini konon kalau kita melempar koin, kita akan kembali ke Roma. Jadi semua orang pun melempar koin ke sini, termasuk saya, karena tidak ada yang menolak kembali ke kota yang begitu menawan ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBAlmFu-hCI/AAAAAAAAAHY/mnrGLYIrIaU/s1600-h/Rome_piazzas.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192691706662650914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBAlmFu-hCI/AAAAAAAAAHY/mnrGLYIrIaU/s400/Rome_piazzas.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Trevi Fountain, kami lalu dibawa ke salah satu landmark Roma yang tidak kalah terkenal:&lt;strong&gt; Pantheon &lt;/strong&gt;(foto kanan atas). Pantheon yang dibangun oleh kaisar Agrippa, awalnya dimaksudkan sebagai kuil pemujaan dewa-dewa Romawi. Setelah Kristen menjadi agama resmi kerajaan Romawi, pada abad ke-7 Pantheon diubah menjadi gereja. Bangunan ini sangat terkenal karena masih terpelihara baik, dan juga karena menggunakan desain yang luar biasa rumit. Kubah betonnya, yang konon terbesar di dunia, tidak disemen namun mampu menyangga beratnya sendiri yang sekitar 5000 ton selama hampir dua milenia. Bayangkan betapa hebatnya ilmu sipil orang Roma kuno ini, terlebih hingga kini 'resep beton' kubah Pantheon masih misterius.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami lalu melanjutkan ke Piazza Navona untuk melihat &lt;strong&gt;Fountain of the Four Rivers&lt;/strong&gt; (Fontana dei Quattro Fiumi....$%#*@!), yang sering disebut sebagai karya terbaik Bernini (gambar kiri atas). Empat sungai yang dilukiskan di sini adalah Nil: mewakili Afrika, Danube: mewakili Eropa, Gangga: mewakili Asia, dan Rio de la Plata: mewakili Amerika. Jangan kecewa, Bengawan Solo atau Kapuas belum sempat dijelajahi oleh si Bernini ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan diteruskan menelusuri jalan-jalan kecil yang cantik. Kami berjalan melintasi Via dei Condotti yang dipenuhi dengan butik-butik desainer Itali paling terkenal. Tersiar kabar kalau Valentino (buat yang belum pernah dengar.. hehe... dia ini desainer Itali terkenal..) pernah mencoba maju ke pengadilan supaya McDonald's membatalkan pembukaan gerainya di jalan bergengsi ini. Tentu saja dia kalah....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Sambil melewati butik-butik Hermes, Ferragamo, Bvlgari, dan kroni-kroninya yang memasang label ratusan hingga ribuan dolar untuk tiap item-nya, saya memandang celana jeans yang saya beli di Matahari waktu ada diskon 20%. Kayaknya nggak kalah keren tuh, hehehe...)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami pun tiba di Piazza di Spagna, tempat &lt;strong&gt;Spanish Steps&lt;/strong&gt; yang terkenal itu (foto kiri bawah). Berupa barisan tangga lebar yang berpuncak di gereja &lt;strong&gt;Trinita Dei Monti&lt;/strong&gt;, Spanish steps terbentang hingga ke air mancur Barcaccia yang merupakan bagian Piazza di Spagna. Kanan kirinya dihiasi bunga Azalea warna-warni. Pemandangannya memang enak, jadi ratusan orang duduk-duduk di situ dengan berbagai aktivitas. Cuma di sini dilarang makan, jadi saya pun tidak berlama-lama di situ karena perut sudah bergeriyut tidak karuan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;.&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBAuPVu-hDI/AAAAAAAAAHg/jDwqi3AwHis/s1600-h/Palatine.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBAu1lu-hEI/AAAAAAAAAHo/6231ZnHaZCI/s1600-h/Palatine.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192701868555273282" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBAu1lu-hEI/AAAAAAAAAHo/6231ZnHaZCI/s320/Palatine.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengistirahatkan kaki beberapa saat dan makan siang dengan risotto seafood, saya melanjutkan sendirian ke Palatine Hill konon merupakan awal sejarah Roma. Konon di &lt;strong&gt;Palatine Hill&lt;/strong&gt;-lah letak gua Lupercal, di mana legenda menyebutkan dua pendiri Roma, Romus dan Romulus, dipelihara oleh serigala betina. Meskipun cerita ini lebih dekat ke mitos, yang jelas Palatine Hill dipenuhi dengan reruntuhan bersejarah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengunjungi Palatine membutuhkan buku panduan dan imajinasi yang tinggi, soalnya semuanya sudah dalam bentuk reruntuhan. Untuk westerners yang menyadari di sinilah kebudayaannya lahir, harusnya sangat menarik. Tapi buat saya agak membosankan...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Day 11&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya merencanakan cara lain untuk menikmati Roma: mengendarai &lt;em&gt;Smart&lt;/em&gt;. Mobil kecil dua penumpang favorit Eropa, hemat energi, dan rendah emisi, benar-benar cara paling hijau dan hemat (sewanya murah) untuk menikmati jalan-jalan sempit di Roma.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tujuan pertama adalah negara dalam negara di Roma yang cuma seluas 44 hektar dan dihuni 800 orang, tapi punya kedaulatan sendiri dan pernah menjadi tempat nasib dunia diputuskan. Apalagi kalau bukan &lt;strong&gt;Vatikan&lt;/strong&gt;. Di sinilah &lt;strong&gt;Basilika St.Peter&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Sistine Chapel&lt;/strong&gt; yang terkenal itu berdiri, demikian juga apartemen Paus. Vatikan juga memiliki 'swiss guard' yang terkenal dengan seragam uniknya, prajurit pribadi Paus yang memang khusus direkrut dari kalangan katolik Swiss.&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBA_SVu-hGI/AAAAAAAAAH4/T9w0WExjwnE/s1600-h/vatican.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192719954662556770" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBA_SVu-hGI/AAAAAAAAAH4/T9w0WExjwnE/s400/vatican.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Basilika St.Peter yang berumur 5 abad ini boleh dimasuki siapa saja, asal berpakaian sopan (&lt;em&gt;no short, mini skirt, or sleeveless&lt;/em&gt;). Arsitekturnya benar-benar luar biasa indah, dilengkapi dengan patung-patung orang suci dan lukisan-lukisan indah. Desainnya melibatkan artis-artis barat terkenal seperti Bernini, Michaelangelo, dan Raphael. Bahkan saya sempat melihat sebuah prosesi katolik yang tengah berlangsung, dipimpin oleh beberapa pendeta. Tentu saja karena bukan penganut katolik, saya tidak terlalu tahu, namun bisa merasakan suasana religiusnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dengan Smart yang luar biasa irit bensin dan imut-imut, saya pun menghabiskan sore itu ke setiap sudut Roma, termasuk duduk-duduk di tepian sungai Tiber (Fiume Tevere) yang legendaris. Masih banyak tempat menarik di Roma yang wajib dikunjungi... mungkin nanti di kunjungan kedua...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5837866958497796480?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5837866958497796480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-rome.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5837866958497796480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5837866958497796480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-rome.html' title='Europe: Rome'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA9o21u-g_I/AAAAAAAAAHE/iHrhZKiIoK0/s72-c/Colosseum.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-8317702461475155181</id><published>2008-04-18T17:19:00.025+04:00</published><updated>2008-05-03T11:25:32.176+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amsterdam'/><title type='text'>Europe: Amsterdam</title><content type='html'>&lt;em&gt;Belanda, Netherlands, negeri sempit yang cuma dihuni 16 juta orang,bandingkan dengan populasi Jabotabek yang 23 juta, tidak bisa dianggap enteng. Meskipun kontroversial dalam hal etika sosial (mengizinkan prostitusi, perkawinan sejenis, bahkan mengisap ganja), Belanda juga termasuk 10 negara terkaya di dunia, dengan ekspor hasil pertanian terbesar ketiga di dunia. Fakta paling mengiris hati, tentu saja penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung ratusan tahun. Kayak apa sih, orang-orang ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 6&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kereta cepat yang dioperasikan Thalys, perjalanan Paris-Amsterdam hanya memakan waktu 4 jam. &lt;em&gt;From the heart of Paris to the heart of Amsterdam&lt;/em&gt;- tanpa pengecekan gila-gilaan seperti naik pesawat-tanpa harus check in 2 jam sebelumnya di airport yang selalu di luar kota.. oh, oh, &lt;em&gt;I love trains!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2WpVu-g1I/AAAAAAAAAF0/siZoJJC5kRk/s1600-h/Amsterdam+canal.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191971582381032274" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2WpVu-g1I/AAAAAAAAAF0/siZoJJC5kRk/s400/Amsterdam+canal.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Amsterdam Centraal station menyambut saya dengan suara hiruk pikuk dan desakan manusia. Keluar dari stasiun, suasana hiruk-pikuk makin terasa. Di jalan raya yang tidak bisa dibilang lebar, mobil, sepeda, trem, dan pejalan kaki tumpah ruah tanpa jalur yang jelas. Belum lagi kanal-kanal yang membelah kota, dilewati oleh kapal-kapal beraneka rupa. Wow, saya langsung punya &lt;em&gt;crush&lt;/em&gt; pada kota ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat makan siang tiba, benar saja kata orang kalau Amsterdam adalah tempat paling oke buat orang Indonesia. Di sini banyak sekali restauran Indonesia, mulai dari kelas warung sampai kelas &lt;em&gt;fine dining&lt;/em&gt;. Di belakang hotel yang saya tinggali, ada warung bubur ayam Bandung. Di sebelah hotel juga ada restauran mewah yang menyajikan 'rijsttafel' (aneka makanan Indonesia disajikan dalam piring-piring kecil seperti masakan padang). Mmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore dan malam itu saya habiskan dengan berjalan kaki mengelilingi Amsterdam, lalu menyusuri kanal-kanalnya dengan kapal. Amsterdam memiliki bangunan bersejarah terbanyak di Eropa di pusat kotanya, yaitu melebihi jumlah 7000 bangunan bersejarah. Meskipun demikian, hanya bangunannya yang kuno, infrastruktur pendukungnya semua serba canggih. Benar-benar kota kuno yang super modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 7&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya, saya menaiki bis menuju ke Keukenhof, taman bunga terbesar di dunia, yang terletak di Lisse. Konon sekitar tujuh juta bunga ditanam di taman ini.&lt;br /&gt;Saya beruntung bisa mengunjungi Keukenhof di hari terakhir taman ini dibuka. Karena Belanda adalah negeri empat musim, Keukenhof hanya dibuka hingga akhir musim semi, karena di musim yang lain taman bunga ini pastilah lebih mirip taman daun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2W01u-g2I/AAAAAAAAAF8/gzlpvrBpSbU/s1600-h/Keukenhof.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191971779949527906" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2W01u-g2I/AAAAAAAAAF8/gzlpvrBpSbU/s400/Keukenhof.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sesampainya di Keukenhof, saya benar-benar terpana. Taman ini luar biasa indahnya, dengan bunga warna-warni (yang didominasi tulip) membentuk karpet-karpet menutupi seluruh permukaan taman. Bahkan salah satu anggota rombongan, seorang laki-laki dengan gaya agak preman, terlihat sangat terpana, hingga saya ingin tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghabiskan waktu hingga hampir sore di taman ini, berjalan mengitari taman dengan ratusan bunga mekar di setiap sudut dan harum samar yang menggantung di udara, termenung melihat angsa-angsa yang berenang di sungai jernih dengan latar belakang pepohonan dan bunga beraneka warna. Oh, benar-benar secuil surga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya kembali ke Amsterdam dan berniat belanja oleh-oleh. Di toko &lt;em&gt;souvenir&lt;/em&gt;, bolak-balik saya melihat "Amsterdam survival kit" yang ternyata sekantong kecil ganja. Nggak saya beli, sih. Mau diapain? Diseduh kayak teh? Akhirnya saya cuma membeli oleh-oleh &lt;em&gt;default&lt;/em&gt;, kaos dan keramik &lt;em&gt;Delft&lt;/em&gt; kecil. &lt;em&gt;No survival kit was bought&lt;/em&gt;, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 8&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2XB1u-g3I/AAAAAAAAAGE/iNLNoyqPGg0/s1600-h/madurodam.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191972003287827314" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2XB1u-g3I/AAAAAAAAAGE/iNLNoyqPGg0/s400/madurodam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari terakhir di Belanda, saya menuju ke Madurodam, kota miniatur yang terletak Scheveningen, Den Haag. Meskipun tergolong baru, didirikan pertengahan abad ke-20, kota miniatur ini termasuk salah satu atraksi favorit di Belanda dan konon sudah menarik 10 juta pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madurodam didesain sebagai miniatur dengan skala 1:25, benar-benar imut-imut dan menggemaskan. Selain bangunan-bangunan yang umum ditemukan di kota-kota Belanda, ada juga miniatur pabrik, pelabuhan, oil-rig dan airport Schiphol. Anak-anak berlarian dengan gembira di sela-sela bangunan kecil ini, berlagak seolah-olah raksasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu saya sudah mengepak barang dan terbang ke Itali. Buat saya, &lt;em&gt;surprisingly&lt;/em&gt;, Amsterdam adalah kota yang lebih menarik ketimbang London dan Paris. &lt;em&gt;I'll definitely be back someday.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-8317702461475155181?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/8317702461475155181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-amsterdam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8317702461475155181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8317702461475155181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-amsterdam.html' title='Europe: Amsterdam'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SA2WpVu-g1I/AAAAAAAAAF0/siZoJJC5kRk/s72-c/Amsterdam+canal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-6309867595181113848</id><published>2008-04-18T17:18:00.011+04:00</published><updated>2008-05-03T11:26:16.211+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paris'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perancis'/><title type='text'>Europe: Paris</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Day 3&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendarat di Paris pagi menjelang siang, saya langsung disambut dengan kemacetan yang luar biasa di jalanan. Hotel yang saya pesan lewat internet, meskipun namanya sangat romantis, ternyata lebih mirip hotel melati. &lt;em&gt;Okay-lah, no problem, I'm going to go around anyway&lt;/em&gt;, kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;Saya pun turun ke bawah, sarapan, membaca koran, dan langsung menemukan berita terheboh hari itu: Paris sedang &lt;em&gt;strike&lt;/em&gt;! (pemogokan adalah kegiatan rutin di sini, cuma kok ya pas saya di Paris....) Masalahnya, yang mogok adalah pekerja transport umum, jadi otomatis semua pelayanan transport publik terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun bertanya pada resepsionis, "What transport I should take?"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Well, mam, you can not take anything. Undergrounds, buses, everything stops!"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;"How about taxies?"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"They are also part of the strike"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;"What if I rent a car?"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"That will be a nightmare, because today everybody is taking their cars. Streets are congested and traffic jams are everywhere"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAnDl91SNSI/AAAAAAAAAFE/BOzZ6kVI3Hk/s1600-h/Eiffel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190895102541837602" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAnDl91SNSI/AAAAAAAAAFE/BOzZ6kVI3Hk/s320/Eiffel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; "So what can I do?"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Nothing, just stay in the hotel"&lt;/em&gt; kata si resepsionis setengah tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pemecahan yang sama sekali tidak membantu! Tak lama kemudian, seseorang memberitahu saya kalau French dinobatkan sebagai orang-orang paling tidak &lt;em&gt;friendly&lt;/em&gt; di Eropa....Hmm, &lt;em&gt;no comment...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya tetap memutuskan untuk keluar hotel. Saya langsung berjalan kaki menuju Eiffel yang memang hanya sekitar 1 km dari hotel. Jalanan lengang, tak ada kemacetan. Di tengah jalan, saya sempat melihat patung Liberty, serupa dengan Liberty di New York yang memang hadiah dari Perancis untuk Amerika. Hanya yang ini lebih kecil karena memang 'her little sister'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Eiffel&lt;/strong&gt;. &lt;/em&gt;Landmark Paris yang sangat terkenal; simbol romantisme, kecantikan, keindahan Paris. Begitu melihatnya secara langsung, saya tersadar: inilah hasil marketing yang sukses! Eiffel, paling tidak buat saya, terlihat agak &lt;em&gt;gloomy&lt;/em&gt;, bahkan kotor dengan banyak pengemis berteduh di bawahnya. Namun demikian saya tentu saja tetap naik ke atas Eiffel lalu berfoto-ria dengan latar belakang kota Paris di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkesan, saya pun tidak ingin lama-lama di sini. Saya melanjutkan dengan tur menggunakan bis &lt;em&gt;double-decker&lt;/em&gt; terbuka (yang ternyata tidak ikut mogok). Pertama-tama ke &lt;strong&gt;Les Invalides&lt;/strong&gt;, kompleks bangunan yang berisi museum dan monumen militer termasuk makam Napoleon Bonaparte. Lalu &lt;strong&gt;Place de la Concorde&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;square&lt;/em&gt; terbesar di Paris dengan sebuah obelisk granit setinggi 23 m yang diambil (atau dicuri?) dari kuil Luxor di Mesir. Selepas Revolusi Perancis, di sinilah para bangsawan yang dianggap bersalah, termasuk Louis XVI dan Marie Antoinette, dihukum penggal dengan &lt;em&gt;guillotine.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLLA1u-hWI/AAAAAAAAAKY/lcqI6hEX964/s1600-h/Notredame.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193436535596156258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLLA1u-hWI/AAAAAAAAAKY/lcqI6hEX964/s320/Notredame.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selanjutnya, masih dengan &lt;em&gt;double-decker&lt;/em&gt; bus, saya menuju ke &lt;strong&gt;Notre-Dame&lt;/strong&gt; de Paris, katedral gotik berumur lebih dari 800 tahun yang menjadi salah satu landmark Paris. Seperti layaknya gereja katolik, di sini banyak terdapat patung dan lukisan yang indah. Salah satunya adalah lukisan Maria yang menjadi ikon gereja ini (Notre Dame berarti "our lady", merujuk kepada Maria) serta patung Joan of Arc, pahlawan wanita Perancis yang dihukum mati oleh Inggris dengan alasan kemurtadan (heresy) yang kemudian dijadikan santa 490 tahun setelah kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari itu saya berjalan-jalan di Champs-Elysees, &lt;em&gt;avenue&lt;/em&gt; yang konon paling bergengsi dan termahal di dunia, bersaing dengan New York's Fifth Avenue. Jalan yang cuma sepanjang 2 km ini, dibatasi oleh Place de la Concorde di timur dan Arc de Triomphe di barat, dipenuhi toko-toko bergengsi plus kafe-kafe dan bioskop. Belanja di sini jelas tidak menarik buat saya, pertama karena harganya terlalu mahal, kedua karena sebagian besar barang-barang itu bisa saya dapatkan di Beijing atau Jakarta seperseratus harga di sini... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya mulai, &lt;em&gt;french style&lt;/em&gt;, di sebuah &lt;em&gt;Boulangerie &lt;/em&gt;&amp;amp; &lt;em&gt;Patissierie&lt;/em&gt; dekat hotel. Secangkir kopi dan &lt;em&gt;quiche&lt;/em&gt; bayam paling enak yang pernah saya rasakan, huh.... benar-benar sarapan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLMK1u-hXI/AAAAAAAAAKg/E_8NbZyUh9E/s1600-h/Louvre.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193437806906475890" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="170" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLMK1u-hXI/AAAAAAAAAKg/E_8NbZyUh9E/s320/Louvre.jpg" width="320" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tujuan pertama hari itu adalah Museum Louvre. Meskipun sudah terkenal, museum ini menjadi lebih terkenal lagi sejak dijadikan lokasi &lt;em&gt;opening scene&lt;/em&gt; dalam novel Dan Brown yang menghebohkan dunia, The Da Vinci Code. Memasuki &lt;em&gt;entrance&lt;/em&gt; Louvre, kesan pertama yang saya rasakan adalah perpaduan antara arsitektur klasik (bangunan &lt;em&gt;Palais du Louvre&lt;/em&gt; yang dibangun abad ke-12, aslinya didesain sebagai benteng) dengan arsitektur modern (piramid gelas yang dijadikan jalan masuk Louvre).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Louvre memiliki lebih dari 380,000 objek, dengan koleksi lukisan yang sangat kaya dan menarik. Di antaranya karya-karya Rembrandt, Titian, Rubens, dan tentu saja yang paling terkenal adalah lukisan karya Leonardo da Vinci: the Monalisa.&lt;br /&gt;Saya menghabiskan waktu hingga sore di museum ini. Koleksi kebudayaan barat museum ini benar-benar sangat menarik. Namun ternyata, si Monalisa yang terkenal itu cuma lukisan yang kecil dan &lt;em&gt;biasa banget deh&lt;/em&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang , saya melanjutkan menuju ke Versailles, tempat istana monarki Perancis. Meskipun hari itu para pekerja transport masih mogok, namun untungnya pemerintah Paris menjalankan beberapa transport darurat secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190895519153665330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAnD-N1SNTI/AAAAAAAAAFM/p6wT0TzxBvE/s320/versailles.jpg" border="0" /&gt; &lt;em&gt;Chateau de Versailles&lt;/em&gt; mulai dibangun tahun 1142 di bawah Louis XIII, dimaksudkan sebagai kediaman pribadi Raja dan didanai secara pribadi pula. Namun dalam perkembangannya, istana ini semakin diperluas besar-besaran dengan dekorasi yang sangat mewah dan taman-taman luas dengan berbagai tanaman eksotik; tapi pendanaannya semakin mencurigakan. Kini istana yang sudah menjadi museum ini, beserta taman-taman yang mengitarinya, mencapai ukuran yang spektakuler: 1060 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelilingi istana yang sedemikian indah dan mewah ini, saya bisa memahami bagaimana revolusi Perancis bisa meletus. Di saat rakyat hidup dalam kemiskinan, para aristokrat Perancis justru hidup dalam kemewahan yang berlebihan: dekorasi emas, perak, dan kristal, lantai dan dinding marmer, karpet dan &lt;em&gt;hangings&lt;/em&gt; sutra, lukisan dan patung karya seniman nomor satu dunia, serta taman-taman yang dihiasi air mancur dan patung-patung mewah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking indahnya tempat ini, saya benar-benar kehabisan kata-kata untuk melukiskannya. Untuk mengikuti virtual tour ke Versailles: &lt;a href="http://www.chateauversailles.fr/"&gt;http://www.chateauversailles.fr/&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 5&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya menuju &lt;em&gt;the destination of all destinations&lt;/em&gt; in Europe: Europe Disneyland! (hehehe) Karena jalur kereta yang melayani Disneyland terpengaruh pemogokan, saya terpaksa naik taksi dan membayar lumayan mahal. Tapi demi Disneyland, &lt;em&gt;I'd do anything&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAnFI91SNUI/AAAAAAAAAFU/byvhRsLvMRg/s1600-h/disneyland.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190896803348886850" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAnFI91SNUI/AAAAAAAAAFU/byvhRsLvMRg/s320/disneyland.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Disneyland sebenarnya tidak jauh beda dengan Dufan, tentu saja dalam skala dan varietas lebih besar, serta lebih terpelihara. Yang paling berkesan di sini adalah pengalaman ketika saya naik &lt;em&gt;roller-coaster&lt;/em&gt; Star War yang merupakan &lt;em&gt;indoor roller coaster&lt;/em&gt;, gelap melintasi 'bintang', 'galaksi' dan 'planet' asing. Begitu keluar dari labirin itu, terus terang saja perut saya terasa tidak enak. Tapi salah satu penumpang, yang notabene memakai &lt;em&gt;suite&lt;/em&gt; dan dasi (bolos kerja nih ye), langsung muntah-muntah begitu turun dari kereta. Yaks....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memuaskan &lt;em&gt;my inner child&lt;/em&gt;, sore itu saya pun harus meninggalkan Paris untuk menuju ke negara berikutnya. Au revoir, Paris!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-6309867595181113848?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/6309867595181113848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-paris.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/6309867595181113848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/6309867595181113848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/04/europe-paris.html' title='Europe: Paris'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAnDl91SNSI/AAAAAAAAAFE/BOzZ6kVI3Hk/s72-c/Eiffel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-4302817478498137190</id><published>2008-03-05T00:29:00.011+04:00</published><updated>2008-11-01T06:57:02.195+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inggris'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='London'/><title type='text'>Europe: London</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pagi itu, setiba dari Heathrow airport, udara musim semi yang sejuk menyambut saya di King's Cross station. Agak celingak-celinguk, siapa tahu Harry Potter pas ada di sini, di Platform 9-3/4 sebelum berangkat ke Hogwarts...?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(  By the way, Platform 9-3/4 benar-benar ada: dinding bata merah antara Platform 9 dan 10, dibuat spesial untuk memenuhi permintaan khalayak. Konon para turis sering memadati area di depan dinding bata ini untuk berfoto. Yang lebih fanatik bahkan nekat mendorong trolley mencoba menembus dinding ini! &lt;em&gt;Note: if you are not a Harry Potter lover, you might be confused with all of this. Man, buy a Harry Potter book and read it! This is 21st century and people read Harry Potter!! :D  &lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel yang saya pesan lewat internet terletak dekat Trafalgar Square, jadi saya pun melanjutkan perjalanan dengan &lt;em&gt;tube&lt;/em&gt; (=kereta bawah tanah) ke sana. Pagi itu Trafalgar Square sudah ramai. Ada yang ngobrol, sarapan, atau sekedar &lt;em&gt;see-and-be-seen&lt;/em&gt; (=ngeceng), ditemani ratusan burung merpati yang sepertinya melakukan kegiatan yang sama dengan manusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLBylu-hUI/AAAAAAAAAKI/jgqlKk2XNAM/s1600-h/Big+Ben.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193426395178370370" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLBylu-hUI/AAAAAAAAAKI/jgqlKk2XNAM/s400/Big+Ben.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Day 1 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;London pagi itu saya mulai dengan mengunjungi &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt;-nya: Big Ben. Setelah berfoto di depan jam besar berumur 160 tahun yang ternyata &lt;em&gt;oh-cuma-begini-toh?&lt;/em&gt;, saya melanjutkan dengan Houses of Parliament yang berada tepat di belakang Big Ben.&lt;br /&gt;Bangunan yang sering juga disebut Westminster Palace dan merupakan tempat pertemuan parlemen Inggris ini adalah salah satu bangunan paling cantik yang pernah saya lihat. Sayangnya, tur ke dalam Houses of Parliament hanya dibuka selama dua bulan di musim panas saat parlemen sedang reses. Jadi saya harus puas dengan berfoto-foto di luar saja.&lt;br /&gt;Masih di area yang sama, tepat di depan Houses of Parliament, adalah gereja paling terkenal di Inggris: Westminster Abbey. Berumur sekitar 950 tahun, di sinilah para raja dan ratu Inggris dimahkotai, juga tempat keluarga kerajaan dimakamkan (termasuk beberapa orang terkenal yang "diningratkan": Isaac Newton dan Charles Dickens).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Westminster Abbey, saya berjalan menyusuri St. James Park dengan tujuan istana Buckingham. Di tengah jalan, saya berpapasan dengan serombongan pengawal berkuda yang juga menuju ke istana Buckingham. Kontan saja saya (dan para turis lainnya) bergegas mengikuti mereka karena kami tidak mau ketinggalan atraksi pergantian penjaga istana Buckingham.&lt;br /&gt;Setiap pagi, saat pengawal istana berganti &lt;em&gt;shift&lt;/em&gt;, mereka keluar berbaris dan memainkan lagu-lagu. Jelas sekali hal ini menarik para turis dan mereka tahu hal itu. Buktinya, selain lagu kebangsaan Inggris, mereka juga 'menghibur' para turis dengan memainkan lagu "Killer Queen"-nya Queen dalam pergantian pengawal itu dengan wajah seserius persiapan perang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAmRiBlR1NI/AAAAAAAAAE8/Pz7hNdDGK-I/s1600-h/Guards+Change+of+Buckingham.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190840059247580370" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SAmRiBlR1NI/AAAAAAAAAE8/Pz7hNdDGK-I/s400/Guards+Change+of+Buckingham.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan saya lanjutkan ke British Museum. Tentu saja, menggunakan &lt;em&gt;tube&lt;/em&gt;. Hal yang sangat menyenangkan di London, jaringan kereta bawah tanah sudah menghubungkan hampir setiap sudut di London. Walhasil, perjalanan sangat mudah dan murah (karena kita bisa membeli &lt;em&gt;daily ticket&lt;/em&gt; yang bisa digunakan untuk perjalanan ke mana saja dalam sehari). Jalanan juga menjadi lega, sehingga berjalan kaki menjadi urusan yang sangat menyenangkan: tidak ada debu atau asap knalpot berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu saya makan siang di &lt;em&gt;great court&lt;/em&gt; British Museum, di bawah kanopi gelas yang konon merupakan square tertutup terluas di Eropa. Meskipun (seperti dibilang banyak orang) makanan Inggris benar-benar tidak enak, saya tidak bisa complain dengan suasana senyaman itu. British Museum, salah satu museum terbesar di dunia, pertama dibuka tahun 1753, memiliki koleksi sebanyak 13 juta objek (tentu saja tidak semuanya dipamerkan!). Konon, untuk benar-benar menikmati British Museum kita membutuhkan tidak kurang dari satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi British Museum meliputi setiap sudut dunia: Romawi dan Yunani, Mesir dan Sudan, Mesopotamia, Assyria, Middle East, Cina, Asia Tenggara,... Salah satu koleksi British Museum yang paling terkenal adalah the Rosetta Stone yang merupakan kunci penerjemahan huruf hieroglif Mesir kuno (ada yang masih ingat pelajaran sejarah es-em-a?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut Indonesia, kita bisa melihat beberapa patung kuno dari candi-candi di Indonesia dipamerkan di sini. Rasanya campur aduk juga melihat kekayaan budaya kita justru dipamerkan di luar negeri (mungkin kalau dipamerkan di negeri sendiri malah tidak ada yang peduli).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, saya menonton opera modern "Phantom of the Opera"(opera yang ditulis Andrew Lloyd Weber yang orang Amerika dan pertama kali dipopulerkan di Broadway), di teater dekat Trafalgar Square. Saya membeli tiket termurah seharga 40 pound karena teman saya agak sinis dengan ide nonton opera dan cuma mau membayar tiket termurah (yang juga nggak murah-murah amat...). Namun ternyata, pertunjukannya benar-benar spektakuler sehingga kami keluar dengan agak menyesal karena duduk di kursi termurah yang butuh menjulurkan leher panjang-panjang untuk melihat panggung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Day 2 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya memutuskan untuk menjadi turis sejati dengan mengikuti tur menggunakan &lt;em&gt;double decker&lt;/em&gt; bus mengelilingi London. Namun beberapa saat kemudian saya agak bosan, lalu memilih untuk turun dan &lt;em&gt;mingle&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;londoners&lt;/em&gt; di salah satu tempat paling ramai di London: Piccadilly Circus (tidak ada sirkus di sini, circus di sini berarti 'circle' atau 'lingkaran'). Dipadati toko-toko, restauran, dan orang-orang yang berdesakan, saya bisa melihat bahwa &lt;em&gt;londoners&lt;/em&gt; sekarang bukan berarti &lt;em&gt;british&lt;/em&gt;. Restauran cina, india, dan arab nampak di mana-mana, demikian juga dengan orang-orang dengan berbagai warna kulit dan ras. Bahkan konon, makanan paling populer di London sekarang bukan lagi &lt;em&gt;fish &amp;amp; chips&lt;/em&gt; tapi &lt;em&gt;chicken tikka&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya saya mengambil tur menyusuri sungai Thames. Menyusuri sungai yang sedemikian bersihnya, melewati Tower Bridge, House Parliaments, dan juga London Eye; melintasi sejarah yang dibangun selama ratusan tahun bahkan lebih dari satu milenium, saya benar-benar menyadari betapa beruntungnya London memiliki pemerintah yang begitu mengelola kotanya dan melindungi peninggalan bersejarahnya. Bahkan sungai Thames yang tanpaknya begitu alami ini pun sebenarnya tidak luput dari campur tangan science yang sophisticated. Akibat global warming, permukaan laut semakin meningkat dan juga mempengaruhi ketinggian sungai Thames. Di muara sungai Thames, telah dibangun dam canggih yang bisa dibuka-tutup, yang diregulasi sedemikian sehingga mencegah naiknya permukaan sungai yang terlalu tinggi. Tanpa dam ini, London akan mengalami banjir dari waktu ke waktu seperti Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLCXFu-hVI/AAAAAAAAAKQ/0NoDg6QpJoo/s1600-h/House-of-paliamens+from+London+Eye.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193427022243595602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLCXFu-hVI/AAAAAAAAAKQ/0NoDg6QpJoo/s400/House-of-paliamens+from+London+Eye.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjelang matahari terbenam, saya pun sudah duduk di dalam London Eye. Persis terletak di tepi selatan sungai Thames, London Eye adalah &lt;em&gt;ferris wheel&lt;/em&gt; tertinggi di Eropa (135 meter). Inilah cara paling nyaman menikmati pemandangan London dari atas, setiap kapsulnya ditutup dinding tembus pandang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-4302817478498137190?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/4302817478498137190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/03/europe-london.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4302817478498137190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4302817478498137190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/03/europe-london.html' title='Europe: London'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLBylu-hUI/AAAAAAAAAKI/jgqlKk2XNAM/s72-c/Big+Ben.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-276526363554304037</id><published>2008-03-05T00:20:00.004+04:00</published><updated>2008-05-03T11:19:32.274+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Europe'/><title type='text'>Europe: Pengantar</title><content type='html'>Merencanakan traveling ke Eropa sebenarnya gampang. Transportasi gampang, aman, ditambah akomodasi yang tersedia untuk semua budget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tekad menjelajahi 5 negara dalam dua minggu, saya merencanakan perjalanan sebulan sebelumnya. Saya membuat &lt;em&gt;day-by-day, hour-by-hour schedule&lt;/em&gt; untuk memastikan semua atraksi yang paling bikin saya penasaran dikunjungi, booking hotel online, jauh hari membeli tiket kereta api dan pesawat online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang pasti, saya lagi nggak mood ngirit jadi semua akomodasi saya pesan di hotel yang berbintang (maklum waktu itu saya bekerja di suatu tempat yang &lt;em&gt;so suck I just wanted to forget it!!&lt;/em&gt;) Meskipun demikian, kalau Anda berniat &lt;em&gt;back-packing&lt;/em&gt; around Europe, budget hotel banyak sekali dan rata-rata lumayan oke.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-276526363554304037?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/276526363554304037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/03/europe-pengantar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/276526363554304037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/276526363554304037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/03/europe-pengantar.html' title='Europe: Pengantar'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-5175543052248991401</id><published>2008-02-01T23:31:00.017+04:00</published><updated>2008-05-03T11:19:49.247+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beijing'/><title type='text'>Lost in Translation: Beijing</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ccffff;"&gt;Saya di Beijing cuma dua hari untuk urusan pekerjaan, jadi waktu sightseeing benar-benar terbatas. Setiap waktu luang harus dipergunakan semaksimal mungkin. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul setengah delapan pagi itu saya sudah bersiap naik taksi menuju ke Forbidden City. Teman saya sudah mengingatkan, lalu lintas di Beijing sangat padat di pagi hari, jadi saya harus berangkat sepagi mungkin supaya bisa selesai mengitari Kota Terlarang sepuasnya.&lt;br /&gt;"Forbidden city," kata saya pada si sopir taksi. "#*&amp;amp;@%}+ ?" katanya.&lt;br /&gt;Saya langsung menyodorkan secarik kertas bertuliskan Forbidden City dalam alfabet Cina kepada si sopir. Ia langsung mengangguk dan tancap gas. Huh! Untung sebelum berangkat saya sudah minta &lt;em&gt;concierge&lt;/em&gt; hotel menuliskan tujuan saya di kertas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40 menit kemudian saya sudah berdiri di gerbang belakang the Forbidden City. Entah kenapa si sopir taksi menurunkan saya di sana, tapi ketimbang harus berdebat pakai bahasa Cina mendingan saya ngalah deh. Saya pun berjalan menuju pintu masuk, melintasi jalan di samping kanal yang romantis sekali dengan dinding merah Forbidden City menjulang di depan saya (oh, thank you Mr Driver, now I know why!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R82rNZOELrI/AAAAAAAAAEc/Y-ZwauEaV4M/s1600-h/forbidden+city.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173979793515097778" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R82rNZOELrI/AAAAAAAAAEc/Y-ZwauEaV4M/s320/forbidden+city.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Forbidden City yang merupakan kediaman Kaisar Cina selama 500 tahun sejak tahun 1400, terakhir kali ditinggali oleh Kaisar Puyi hingga tahun 1912. Sejak itu, kompleks seluas 7.2 kilometer persegi ini lebih merupakan sumber rebutan hingga akhirnya menjadi situs warisan budaya UNESCO tahun 1987.&lt;br /&gt;Salah satu yang paling menarik di Forbidden City, buat saya, adalah bagian istana yang diperuntukkan untuk wanita (keputren, bahasa Jogjanya..). Diawali dengan pintu gerbangnya yang diberi tanggul setinggi sekitar setengah meter, konon supaya hantu kesandung dan tidak jadi masuk (masih ingat kan, hantu Cina di film Hongkong yang melompat-lompat?). &lt;em&gt;Wah ini mah nggak bakal menangkal hantu Jawa, soalnya hantu Jawa melayang... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik selanjutnya adalah tulisan besar yang terpampang di dinding salah satu bangunan yang berarti "doing nothing" &lt;em&gt;i.e.&lt;/em&gt; "nganggur"- menunjukkan sebegitu terkungkungnya para putri Cina ini jaman dulu... Ada juga semacam bukit karang buatan yang di puncaknya berdiri sebuah pondok kecil, konon tempat para selir yang kangen pada desanya menyendiri untuk melihat gunung di mana desanya berada.&lt;br /&gt;Walaupun hal di atas mengesankan kalau wanita Cina zaman dulu tidak punya daya, ada juga satu tempat menarik yang agak menjungkir- balikkan fakta ini: sumur sempit tempat Kaisar wanita Cixi menenggelamkan selir saingannya... hmmmm....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kota terlarang ini sebegitu luasnya, saya harus berjalan setengah berlari untuk menuntaskannya sebelum jam satu siang (jam tiga sore saya harus ada di kantor untuk presentasi..!) Ada museum jam, museum perhiasan, museum giok, lumayan menarik tapi sebagian besar displaynya agak &lt;em&gt;gloomy&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya berjalan keluar Kota Terlarang menuju Lapangan Tiananmen yang terkenal itu. Di dinding merah Kota Terlarang yang menghadap Tiananmen, foto raksasa Mao Zedong tersenyum memandang metropolitan Beijing yang sibuk. Langit masih abu-abu dan ratusan sepeda masih berseliweran di Tiananmen....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya melanjutkan perjalanan ke Maliandao, "jalan teh", tempat puluhan toko menjual teh bermacam jenis, kualitas, dan harga. Walaupun sudah sempat "riset" sebentar di internet, pusing juga harus memilih di antara puluhan jenis teh: teh hijau , teh merah, teh krisan, teh mawar,teh hitam, oolong... semuanya masih dibagi dalam berbagai jenis, kualitas, dan origin. Saya dijamu berbagai macam teh yang dibuat di depan saya (termasuk teh bunga yang merekah ketika diseduh). Setelah menawar dan memilih, dengan bahasa manusia dipadu bahasa monyet alias bahasa isyarat, akhirnya saya kembali ke hotel(sambil menahan "panggilan alam" gara-gara terlalu semangat mencicipi semua teh yang disuguhkan) membawa seperempat kilo teh hijau melati, teh merah, dan dua tea set cina yang super cantik. Semuanya sudah ditawar sampai puas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R82pX5OELqI/AAAAAAAAAEU/vPsb00iA_KE/s1600-h/teas.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173977774880468642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R82pX5OELqI/AAAAAAAAAEU/vPsb00iA_KE/s320/teas.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Malam selanjutnya, saya menutup kunjungan ke Beijing dengan aktivitas yang paling menggiurkan di Beijing: shopping! Tujuan: the super famous Silk Market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silk Market menyambut semua pengunjung dengan ramah. Para penjual sibuk merayu dengan bahasa Inggris, Itali, Melayu... &lt;em&gt;impressive!&lt;/em&gt; Tidak terlalu heran sih, karena konon tempat ini dikunjungi 20,000-60,000 orang dari berbagai negara tiap harinya. Di sini kita bisa menemukan tas, sepatu, berbagai produk kulit, segala macam garmen, cendera mata khas Cina, perhiasan, sampai golf clubs dan peralatn olah raga lainnya. Semuanya, tentu saja, "original copy"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setelah berjalan bebarapa saat, barulah saya menyadari sistim menawar di tempat ini. Kalau di Malioboro kita sering dinasihati untuk menawar setengah atau sepertiga harga, di sini aturannya adalah "tawarlah seberapa saja". Contohnya, sebuah sweater &lt;em&gt;cashmere&lt;/em&gt; ditawarkan seharga 800 RMB (sekitar $112) lalu saya tawar 60 RMB. Si penjual juga tidak marah ditawar sebegitu rendah, dia cuma beraksi manja "You are joking, lady! But because you are very beatiful, I will give you special price, 600 RMB!" &lt;em&gt;Hehehe, masih mahal cik&lt;/em&gt;... Akhirnya kami setuju harga 70 RMB, setelah penawaran alot plus acara menarik-narik tangan saya supaya tidak meninggalkan gerainya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi secara umum, para penjual-penjualnya baik dan &lt;em&gt;selling&lt;/em&gt; sekali. Malam itu setelah gempor bercampur puas menjelajah pasar raksasa ini, saya berjalan setengah terseok membawa barang belanjaan. Sepatu Puma, sandal, tas kulit Tod's dan dompet Louis Vuitton (yang saya pilih dari katalog!), jaket Mango, cashmere Banana Republic, kaos, berpuluh macam cendera mata khas Cina, plus satu tas traveling tambahan (karena saya yakin koper saya nggak muat, hehehe). Semuanya bermerek, original copy! &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di atas taksi, saya masih berpikir, apakah saya mendapat good bargain atau salah satu korban rayuan Silk Market? Belum selesai lamunan saya, tiba-tiba mata saya terpaku pada pintu salah satu &lt;em&gt;club&lt;/em&gt; yang kami lewati. Tertulis jelas dengan lampu berkedip &lt;em&gt;"No nuclear weapon allowed"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;"Hei, are they serious or joking?" tanya saya pada si supir taksi "don't they mean &lt;em&gt;No Fire Weapon&lt;/em&gt;?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Si supir melihat ke arah club yang saya tunjuk, lalu menjawab dengan serius,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"#&amp;amp;&gt;^@#*$$!"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya mengangguk dengan serius juga. Oh, I like this city!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-5175543052248991401?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/5175543052248991401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/02/lost-in-translation-beijing.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5175543052248991401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/5175543052248991401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/02/lost-in-translation-beijing.html' title='Lost in Translation: Beijing'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R82rNZOELrI/AAAAAAAAAEc/Y-ZwauEaV4M/s72-c/forbidden+city.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-7115926821669335092</id><published>2008-02-01T11:36:00.003+04:00</published><updated>2008-04-26T12:36:18.810+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Xinjiang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korla'/><title type='text'>Lost in Translation: Korla</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Korla? Where the hell is that?&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke Korla, siang itu saya berada dalam pesawat menuju Urumchi (karena tidak ada direct flight dari Beijing ke Korla). Urumchi, ibu kota provinsi Xinjiang, sering disebut sebagai kota yang paling jauh dari laut; terletak di tengah benua Asia. Lumayan jauh juga, empat setengah jam dengan pesawat dari Beijing ke arah barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLh4Fu-hZI/AAAAAAAAAKw/eljaT4JEbzU/s1600-h/map+korla.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193461674039739794" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLh4Fu-hZI/AAAAAAAAAKw/eljaT4JEbzU/s320/map+korla.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dari pertama mendarat di Urumchi, saya sudah &lt;em&gt;puzzled&lt;/em&gt;, karena tulisan "Urumchi" di bandara ditulis dengan 3 alfabet: latin, cina, dan arab! Nah lo. Dari sini, saya sudah punya feeling kunjungan ini bakal unexpectedly special.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cuma transit, yang saya lihat di Urumchi cuma airportnya. Saya tadinya menduga bakalan melihat airport kecil dengan fasilitas pas-pasan; ternyata Urumchi airport luar biasa besar dan modern dengan ribuan orang yang berlarian mengejar pesawat. Ini bisa dijadikan indikator betapa booming-nya ekonomi Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendengar panggilan untuk boarding ke Korla, saya pun berjalan keluar menuju ke pesawat saya. Airport secanggih ini kok tidak pakai "belalai" yang langsung menghubungkan airport dengan pesawat ya? Sebentar kemudian pertanyaan saya terjawab: pesawat yang bakal membawa kami ke Korla ternyata adalah pesawat kecil dengan baling-baling! &lt;em&gt;"Oh my God, this is going to be a bumpy ride!"&lt;/em&gt; teriak saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam dengan banyak goncangan serta deg-degan, saya pun tiba di Korla. Saya disambut dengan angin kering agak berdebu dan airport yang mirip rumah kuno yang tidak terawat. Saya langsung mengenali penjemput saya yang membawa papan bertulis nama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6LxawtbCQI/AAAAAAAAADQ/al3d02B_UCc/s1600-h/DSC_0110.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161953564974319874" style="FLOAT: right; MARGIN: 3px 10px 10px 3px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6LxawtbCQI/AAAAAAAAADQ/al3d02B_UCc/s320/DSC_0110.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;"Hi, how are you?"&lt;/em&gt; sapa saya pada si penjemput. Ia tersenyum manis. Masuk ke dalam mobil, kami mulai berkendara menyusuri jalanan Korla.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Is the hotel away from here?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Si sopir melihat ke arah saya, lalu menjawab dalam bahasa Cina. Ia menunjukkan beberapa papan petunjuk yang juga dengan huruf Cina, melanjutkan jawabannya panjang lebar.&lt;br /&gt;Tentu saja saya tidak mengerti sepatah kata pun. &lt;em&gt;I start to feel lost.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Check-in di hotel, semuanya masih konsisten: &lt;em&gt;the lost feeling&lt;/em&gt;. Resepsionis yang bahasa Inggrisnya hampir nol, kertas penuh alfabet Cina yang harus saya tanda tangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah malam itu ketika saya makan malam dengan orang-orang dari kantor saya, rasa &lt;em&gt;lost&lt;/em&gt; itu agak terobati. Meskipun sebagian besar dari mereka Chinese, tapi tentu saja mereka bisa bahasa Inggris. Juga ada seorang Malaysian dan seorang Omani di rombongan ini.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tonight we are ordering halal food. I know you are muslim,"&lt;/em&gt; kata Chen, si pemimpin rombongan.&lt;br /&gt;"Wow! This restaurant serves halal food?"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Of course! There are a lot of muslims in Korla!"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Hmm, fakta yang menarik.&lt;br /&gt;Kami pun mulai mengobrol; tentang Korla, tentang Xinjiang, tentang pekerjaan. Sebentar kemudian obrolan mulai berubah aneh, karena para Chinese mulai ngobrol antar mereka sendiri dengan bahasa Cina, sedangkan saya, si Malaysia, dan si Oman, ngobrol sendiri dalam bahasa Inggris, di meja yang sama.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Does this happen all the time?"&lt;/em&gt; tanya saya.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Oh yeah"&lt;/em&gt; kata si Oman pahit "&lt;em&gt;we're always lost in translation"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oh, kirain cuma saya yang merasa begitu. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, salah seorang penduduk lokal yang baik sekali, mengajak saya jalan-jalan di Korla. Kami naik taksi ke downtown, ke pinggir sungai yang jadi pusat keramaian dan pertokoan di Korla. Jalan-jalan di Korla luar biasa bersih, lebar, dan mulus, dengan puluhan pencakar langit, pertokoan yang modern (Adidas, Nike, KFC... &lt;em&gt;capitalism is here, my dear friend!&lt;/em&gt;), pasar malam di mana &lt;em&gt;locals &lt;/em&gt;ngumpul untuk jajan, serta taman hiburan di pinggir sungai yang cantik dan ramai luar biasa.&lt;br /&gt;Wah, siapa sangka kalau ini kota yang terletak ribuan kilometer terpencil di tengah benua Asia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6L4dQtbCSI/AAAAAAAAADg/mLyHHqX1LZQ/s1600-h/oho.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161961304505387298" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6L4dQtbCSI/AAAAAAAAADg/mLyHHqX1LZQ/s400/oho.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Malam itu saya mulai membuka buku "&lt;em&gt;Entering Xinjiang"&lt;/em&gt; yang saya beli di Urumchi Airport. Korla, walaupun bukan kota terbesar di provinsi Xinjiang, adalah salah satu yang paling terkenal. Xinjiang sendiri adalah satu-satunya provinsi di Cina dengan populasi muslim yang sangat tua, terutama karena adanya etnik Uygur di sini. Otomatis di Korla juga banyak terdapat orang Uygur, dengan budaya dan bahasa yang berbeda dengan Cina Han (bahasa Uygur masih tergolong famili bahasa Turki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain etnik Uygur, banyak juga etnik minoritas lain di Xinjiang: Kazak, Mongol, Kirkiz, Tajik... Sebagian masih memegang erat tradisi mereka dan bahkan masih hidup nomaden! Selain kekayaan budayanya, Xinjiang adalah bagian dari perlintasan ancient silk road (jalan sutra), jadi di sini banyak terdapat kota tua dan peninggalan yang hampir tak tersentuh modernisasi karena lokasinya yang sedemikian terpencil. Xinjiang, secara alamiah juga luar biasa cantik. Mulai dari gunung salju, danau yang dikelilingi hutan pinus, hingga gurun, semuanya ada di Xinjiang. &lt;em&gt;What a hidden gem!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak ada surga yang sempurna di atas bumi, Separatisme adalah isu klasik di Xinjiang sejak lama. Salah satu hal yang membuat Xinjiang labil secara politik, selain karena masalah etnis, adalah produksi minyak di Gurun Taklamakan. Hmm, lagi-lagi minyak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok siangnya, setelah saya selesai dengan urusan di kantor (saya ke Korla sebenarnya karena urusan pekerjaan), Chen mengajak saya makan di restoran lokal.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Don't worry, it's halal!"&lt;/em&gt; kata Chen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma daging panggang yang langsung membungat ngiler (hehehe) menyambut saya di restoran ini. Membuka menu, saya terkaget-kaget karena menu ditulis dalam dua alfabet: Cina dan Arab (hey, tidak ada yang latin!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6MBrgtbCTI/AAAAAAAAADo/2mD1WSIlXjM/s1600-h/Untitled-3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161971444923173170" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: right" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6MBrgtbCTI/AAAAAAAAADo/2mD1WSIlXjM/s400/Untitled-3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;"This is an Uygur restaurant"&lt;/em&gt; bisik Chen pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat sekeliling. Hmm, benar juga, mereka kelihatan berbeda. Para pekerja lebih kelihatan seperti orang Eropa dengan mata agak sipit....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;"So, what are we ordering?"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Chen memesan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;polo&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, nasi kambing a la Uygur, dan kebab kambing. Ohohoho, percaya deh, kebab kambing ini adalah kebab paling enak yang pernah saya cicipi seumur hidup...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu saya harus kembali ke Beijing. Rasanya sedih karena perjalanan ini terlalu singkat. Tapi saya sudah jatuh cinta pada Xinjiang. Saat ini Xinjiang berada dalam daftar prioritas backpack traveling plan saya. &lt;em&gt;I am definitely going back, Insha Allah!&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-7115926821669335092?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/7115926821669335092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/02/lost-in-translation-korla.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7115926821669335092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7115926821669335092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/02/lost-in-translation-korla.html' title='Lost in Translation: Korla'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLh4Fu-hZI/AAAAAAAAAKw/eljaT4JEbzU/s72-c/map+korla.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-405781055899968454</id><published>2008-01-31T20:13:00.001+04:00</published><updated>2008-04-26T00:49:37.496+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thailand'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangkok'/><title type='text'>Travelthon in Bangkok</title><content type='html'>Waktu saya di Bangkok cuma satu hari. Jadi inilah cerita saya, satu hari traveling marathon (=travelthon, hehehe) mengunjungi Bangkok dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya bangun pagi sekali, langsung mandi dan turun untuk sarapan. Rombongan tur saya akan berangkat pukul 7, jadi masih ada 45 menit untuk menikmati makan pagi a la Thailand. Tom yum buat sarapan.. ehm...&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, saya sudah ada di atas bis yang membawa rombongan tur. Tidak banyak, cuma empat pasangan suami istri setengah baya dan saya. Dulu saya &lt;em&gt;freaked out&lt;/em&gt; dengan ide traveling sendirian. Tapi setelah dilakoni, wow, it's great!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis membawa kami menembus jalanan Bangkok yang masih lengang. Di sudut-sudut jalan terlihat orang membakar dupa dan meletakkan sesajen. Tujuan pertama kami adalah desa Damnernsaduak, lokasi pasar terapung yang terletak di pinggiran Bangkok.&lt;br /&gt;Sesampainya di desa Damnernsaduak, kami pun melanjutkan perjalanan dengan kapal motor kecil. Kapal itu membawa kami menembus perkampungan yang berdiri di sepanjang kanal yang bercabang-cabang (klongs). Beberapa kali kami bertemu dengan penduduk setempat yang sedang bersampan untuk belanja sayuran di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6JWewtbCOI/AAAAAAAAAC4/_49s1bq0nFs/s1600-h/Untitled-3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161783209391491298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6JWewtbCOI/AAAAAAAAAC4/_49s1bq0nFs/s400/Untitled-3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami tiba di pasar Damnernsaduak, terus terang saja saya lumayan kecewa. Masalahnya, di pasar ini lebih banyak turis ketimbang penjualnya. Jelas sekali kalau Damnernsaduak sudah dikomersialisasi habis-habisan oleh industri turis masal di Thailand (foto kanan atas).&lt;br /&gt;Walaupun agak kecewa, saya sempat membeli ketan dengan mangga khas Thailand, lalu duduk di bangku panjang, makan bersama-sama beberapa penduduk lokal yang juga sedang menikmati sarapan. Banyak juga makanan yang lain juga bikin saya ngiler, cuma karena saya tidak terlalu yakin kalau halal, saya cuma berani ngicipin si ketan mangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami dilanjutkan dengan mengunjungi Pagoda Nakhon Pathom yang kabarnya tertua di Thailand (foto kiri atas). Kali ini kami benar-benar bertemu dengan local dan biksu, jumlahnya mengalahkan turis walaupun persaingan masih tetap ketat....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan pun kembali ke Bangkok dengan empat pasangan yang kelelahan gara-gara jalan ke pagoda yang benar-benar menanjak. Tapi buat saya perjalanan masih panjang. Next destination: Bangkok Grand Palace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok Grand Palace adalah istana raja Thailand pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20. Walaupun King Bhumibol sekarang tidak tinggal di sini, istana ini masih tetap terawat baik dan wajib dikunjungi. Istana ini arsitekturnya sangat menarik, campur sari antara gaya Thailand, Cambodia, Renaissance, agak susah menjelaskannya dengan kata-kata (foto bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya akhiri dengan mengunjungi pasar malam Suan Lum ditemanai seorang teman Thai (yang tadinya saya harap bisa disuruh nawar, tapi ternyata nggak bisa diandalkan) untuk mencari oleh-oleh. Lumayan juga, saya menemukan tea set khas Thailand yang dari dulu saya cari, plus lukisan kopi penari Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, saya sudah berada di airport meninggalkan Bangkok. Cuma satu hari, travelthon, capek, tapi puas! Mungkin kapan-kapan balik lagi? Terus terang, sebenarnya nggak terlalu pengen tuh...&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-405781055899968454?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/405781055899968454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/waktu-saya-di-bangkok-cuma-satu-hari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/405781055899968454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/405781055899968454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/waktu-saya-di-bangkok-cuma-satu-hari.html' title='Travelthon in Bangkok'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6JWewtbCOI/AAAAAAAAAC4/_49s1bq0nFs/s72-c/Untitled-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-6651774751047348094</id><published>2008-01-30T23:15:00.004+04:00</published><updated>2008-11-01T06:53:00.467+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UAE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dubai'/><title type='text'>Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 2: It's Not My Place</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6DURQtbCMI/AAAAAAAAACo/Xtng4bznNKM/s1600-h/DSC_0170.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161358565974935746" style="FLOAT: right; MARGIN: 2px 10px 10px 2px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6DURQtbCMI/AAAAAAAAACo/Xtng4bznNKM/s400/DSC_0170.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Dubai adalah padang pasir dengan beberapa biji gedung dan debu tebal.&lt;br /&gt;Sekarang, Dubai adalah kota dengan ratusan pencakar langit:&lt;br /&gt;- Burj Dubai, gedung tertinggi di dunia&lt;br /&gt;- Burj Al Arab, : hotel tertinggi dan termahal di dunia, yang by the way selalu fully booked&lt;br /&gt;- The Palms, keajaiban dunia terbaru, tiga set pulau buatan berbentuk palem raksasa dengan ratusan bangunan di atasnya (yang kabarnya sudah sold out)&lt;br /&gt;- taman hiburan terbesar di dunia: Dubailand, yang direncanakan mengalahkan Disneyland California,&lt;br /&gt;- juga mall terbesar di dunia: Dubai Mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun seluruh proyek yang saya sebutkan di atas belum sepenuhnya selesai, Dubai sudah genap menjadi &lt;em&gt;the newest world's hottest destination&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan dan ekonomi yang sedemikian pesatnya tentu saja menarik banyak orang untuk datang ke Dubai. Apalagi, pajak di Dubai 0%! Bayangkan, betapa ngilernya Europeans yang di kampung halamannya membayar 50% pajak, untuk segera pindah ke Dubai. Mereka yang di negara asalnya berpikir ratusan kali sebelum membeli mobil, di sini dengan gaya menyetir Porsche, Mercedez, atau Ferrari. Selain tanpa bea masuk, pajak nil, bensin juga disubsidi. Jangan heran kalau jalanan Dubai dipenuhi mobil-mobil paling mutakhir dan mahal di pasaran dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah fasilitas, di Dubai semuanya ada. Jalanan yang mulus dan lebar, pelayanan publik yang efisien, didukung dengan penegakan hukum yang pasti (mau menyuap polisi? Wah, hitung-hitung dulu deh sebelum masuk penjara). Masalah hiburan, buat para pecinta kehidupan malam, jep ajep ajep ajep, Dubai is your perfect haven! Ada puluhan clubs, discos, bars...... you name it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, I am an early sleeper. Night life? Not for me. Saya lebih suka jalan-jalan ke alam bebas, melihat pemandangan, peninggalan bersejarah... Inilah yang Dubai tidak punya. Kota ini begitu artificial, semuanya man made, semuanya baru dibangun kemarin lusa, tanpa sejarah. Di musim dingin, kita masih bisa jalan-jalan offroad dengan 4x4 vehicle ke padang pasir, tapi di musim panas jangan coba-coba karena temperatur bisa mencapai 50 C.&lt;br /&gt;Untuk kompensasi ini, saya biasanya pergi shopping. Semua brand ada di sini dan discount ada terus sepanjang tahun. Tapi, untuk barang non merek dengan kualitas top, Indonesia masih tidak ada duanya. (Jadi kalau ketemuan saya di Indonesia, tolong jangan diajak ke mall ya. Ke pasar aja.)&lt;br /&gt;Sayangnya, shopping ini tidak bisa dilakukan rutin. Selain cepat bosan, bisa bangkrut lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kegiatan favorit saya di weekend (kalau tidak keluar kota) adalah nonton bioskop dan makan. Ada 1001 restoran di Dubai, mulai makanan Arab, India, Thailand, sampai makanan Indonesia. Mulai dari yang $200 sekali makan atau $2 berdua.&lt;br /&gt;Selanjutnya, menikmati bermalas-malasan di atas sofa, nonton TV. Atau masak kalau lagi mood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itu mah nggak usah tinggal di Dubai juga bisa.. ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang! Kan sudah saya bilang kemarin, Dubai is not my favorite place!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fun fact:&lt;/strong&gt; Dubai menggelar shopping festival mulai 24 Januari sampai 24 Februari 2008. Diskon besar-besaran di semua toko! Kalau mau berkunjung (karena baru menang lotere atau memang Anda aslinya kebanyakan duit), ini saat yang tepat. Meskipun cuaca sedang nyaman (temperatur sekitar 18-20 C), harga hotel meroket dan tiket pesawat ke Dubai sulit dicari. Sekitar 5 tahun yang lalu, harga di Dubai bisa disamakan Jakarta, tapi sekarang sudah berlipat-lipat lebih mahal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-6651774751047348094?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/6651774751047348094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/dubai-cerita-seorang-tkw-bagian-2-its.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/6651774751047348094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/6651774751047348094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/dubai-cerita-seorang-tkw-bagian-2-its.html' title='Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 2: It&apos;s Not My Place'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6DURQtbCMI/AAAAAAAAACo/Xtng4bznNKM/s72-c/DSC_0170.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-4873176127807154609</id><published>2008-01-30T20:51:00.002+04:00</published><updated>2008-05-03T11:20:26.240+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UAE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dubai'/><title type='text'>Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 1: The Misunderstandings</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6DA4AtbCLI/AAAAAAAAACg/OR758dxA244/s1600-h/Burj+Arab.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161337241462311090" style="FLOAT: left; MARGIN: 2px 10px 10px 2px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6DA4AtbCLI/AAAAAAAAACg/OR758dxA244/s400/Burj+Arab.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Saat ini saya tinggal di Dubai, jadi rasanya aneh kalau saya tidak berbagi cerita tentang Dubai. Sebenarnya Dubai bukan tempat favorit saya, tapi tidak mengecewakan juga (mungkin kalau para pecinta Dubai mendengar kata-kata saya ini, mereka bakal berteriak "&lt;em&gt;Are you mad? This city is super marvellous!!!&lt;/em&gt;") Anyway, let's start...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sering ditanyakan orang ketika mereka mendengar saya tinggal di Dubai adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1-Wah, apa aman tuh, perempuan kerja di Dubai? Sering diganggu orang Arab nggak?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini klarifikasi saya:&lt;br /&gt;Aman Pak! Lebih aman jalan di Dubai ketimbang jalan di Jakarta. Di sini nggak ada jambret atau copet. Diganggu? Orang Arab sopan-sopan lo Pak. Tapi kalau pakai rok mini, nggak janji lah ya. Makanya kalau berpakaian yang sopan dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2-Harus pakai cadar dan baju hitam-hitam nggak kalau jalan di luar?&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini klarifikasi saya:&lt;br /&gt;Mau pakai baju hitam-hitam, pakai cadar, pakai jilbab warna-warni, pakai baju biasa, pakai baju tradisional negara masing-masing, pakai yang memperlihatkan aurat, semuanya ada di Dubai dengan persentase yang sama rata! Yang ini saya no comment karena masing sering &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; karena masalah aurat itu tadi (maklum wanita Arab ukurannya 'agak' berbeda dengan wanita Asia, hehehe). Kata Ibu saya yang baru berkunjung ke sini beberapa bulan lalu: "Jahiliyah!"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3-Dubai itu dekat sama Mekah kan?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; atau,&lt;em&gt;&lt;strong&gt; Ooo... Dubai... yang di Arab Saudi kan?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Yang ini biasanya saya benar-benar jengkel. Iya lah, Indonesia itu negara besar buanget, tapi coba sekali-sekali melihat peta dunia gitu loh. Atau nonton berita. Jangan nonton sinetron terus, nggak mendidik (hehehe, saya nggak pernah ngamuk kayak gini loh; saya sembunyiin aja dalam hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klarifikasi saya:&lt;br /&gt;Dubai itu Pak, salah satu kota di &lt;em&gt;negara&lt;/em&gt; United Arab Emirates. Jaraknya dari Mekah sekitar 1635 km, kurang lebih jarak dari Makassar ke Jakarta. Saudi Arabia itu cuma salah satu dari 10 negara yang berdesakan di Jazirah Arabia. Jelas Pak? Nanti kalau sampai di rumah tolong buka peta ya! (hehehe.... nggak segalak itu ding...)&lt;br /&gt;Nah, besok kalau Anda ketemu saya, jangan tanya lagi ketiga pertanyaan di atas ya! Awas aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini fakta sesungguhnya: Populasi Dubai diperkirakan sekitar 2 juta orang. Kurang dari 20% adalah warga negara asli (populer disebut "&lt;em&gt;locals&lt;/em&gt;", identik dengan &lt;em&gt;super rich&lt;/em&gt;), 23% Arab pendatang &amp;amp; Iranian, 50% orang India dan Pakistan, sisanya baru pendatang yang lain (Europeans especially British, Americans, Filipino, etc).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini negara Arab apa negara bagian India? Kok lebih banyak orang Indianya? Begitulah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang Asia di Dubai adalah Filipino. Mereka kelihatan mirip sekali orang Indonesia, tapi warna kulitnya cenderung lebih cerah. Kalau saya mengajak ngomong mereka dalam bahasa Inggris, biasanya mereka kelihatan sebal karena dikiranya saya salah satu bangsa mereka yang &lt;em&gt;belagu&lt;/em&gt;. Entah sudah berapa puluh kali saya tahu-tahu diajak ngomong oleh orang Filipin "blktq blktq qtq qtq..!" Biasanya sih saya cuma cengar-cengir, menunggu mereka selesai ngomong panjang lebar, terus menjawab &lt;em&gt;"Sorry, I don't speak that!"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah orang Indonesia di Dubai hanya sedikit, secara garis besar profesi dibagi 3: &lt;em&gt;domestic helper&lt;/em&gt; (halah! pembokat bahasa jelasnya), pekerja hotel/ restoran, dan pekerja oil &amp;amp; gas. Saya termasuk golongan terakhir. Profesi saya agak susah dijelaskan ke non-oilfield people (&lt;em&gt;muggles&lt;/em&gt;, hehehe....). Perusahaan saya juga namanya agak susah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, ketika orang bertanya apa pekerjaan saya, biasanya Ibu saya dengan enteng menjawab "&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Te-ka-we!&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lah bener kan. Saya memang tenaga kerja wanita kok. Gitu saja kok repot!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-4873176127807154609?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/4873176127807154609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/dubai-cerita-seorang-tkw.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4873176127807154609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4873176127807154609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/dubai-cerita-seorang-tkw.html' title='Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 1: The Misunderstandings'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R6DA4AtbCLI/AAAAAAAAACg/OR758dxA244/s72-c/Burj+Arab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-7095166768405015460</id><published>2008-01-29T21:44:00.005+04:00</published><updated>2008-05-10T15:05:50.385+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aswan'/><title type='text'>Sailing on the Nile, bagian 3: to Aswan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R594BgtbCJI/AAAAAAAAACQ/ghCJCu5NyH8/s1600-h/Fishing+on+the+Nile.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160975665345530002" style="FLOAT: right; MARGIN: 2px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R594BgtbCJI/AAAAAAAAACQ/ghCJCu5NyH8/s400/Fishing+on+the+Nile.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kapal kami berlepas dari Luxor senja itu, menuju ke Aswan. Saya bergabung dengan para penumpang yang lain, duduk di atas dek menikmati belaian angin sore Nil yang hangat. Di sepanjang tepian Nil, waktu seakan-akan berhenti: semuanya serba tradisional dan orisinal. Kerbau sedang berendam, anak anak bermain air, para wanita sibuk dengan urusan rumahnya, para petani pulang berladang, ribuan pohon kurma, mangga, dan gandum, semuanya berkilau ditimpa cahaya keemasan matahari sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari selanjutnya, kami berhenti untuk mengunjungi kuil Kom-Ombo dan kuil Horus, masing-masing didirikan untuk memuja dewa favorit penduduk Mesir kuno setempat. Saya terus terang sudah lupa ada berapa puluh dewa, karena Guide kami terus nyerocos, tiap hari mengenalkan nama dewa-dewa baru. Bahkan dewa-dewa ini bisa merging (kayak perusahaan), supaya pemujanya tidak terus menerus berperang. Contohnya dewa Amun dan dewa Ra, yang di saat kemudian menjadi dewa Amun-Ra. Nah , mirip-mirip seperti Chevron-Texaco atau Sony-Ericcson kan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun melanjutkan pelayaran ke Aswan. Saat itu saya sudah bosan dengan sejarah (siapa yang membangun apa, berapa ribu tahun yang lalu, digantikan oleh siapa... I just don't care anymore). Sebaliknya, saya sedang dimabuk perasaan romantis, maklum pemandangan luar biasa cantiknya. Saya cuma duduk-duduk di atas dek, menikmati pemandangan, memesan satu cup es krim dengan rasa berbeda setiap jam, dan memotret setiap rumah, binatang, atau manusia yang ada di tepian Nil....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya kami tiba di Aswan, saya tidak bisa lagi melarikan diri dari sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLQU1u-hYI/AAAAAAAAAKo/5suaw7qTTEE/s1600-h/Isis+Temple+at+Philae.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193442376751678850" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/SBLQU1u-hYI/AAAAAAAAAKo/5suaw7qTTEE/s400/Isis+Temple+at+Philae.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dam Aswan, yang dibangun untuk mengatur aliran Nil, telah membentuk danau buatan Lake Nasser (atau disebut Lake Nubia oleh orang Sudan). Danau buatan raksasa yang luasnya sekitar 5250 kilometer persegi ini, otomatis menenggelamkan banyak desa dan situs bersejarah. Menariknya, ada beberapa situs yang diselamatkan, &lt;em&gt;stone-by-stone&lt;/em&gt;, untuk kemudian dibangun lagi di tempat yang lain, &lt;em&gt;stone-by-stone&lt;/em&gt;! Asli tapi palsu, jadi saya pura-pura melupakan fakta menyedihkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu situs tersebut adalah Kuil Isis di Philae, tempat yang selanjutnya saya datangi. Aslinya didirikan pada zaman Ptolemaic (dinasti asal Yunani yang menguasai Mesir 305-30 BC) di atas pulau Philae, kini direstorasi kembali 550 m dari situs aslinya. Untuk mencapai Kuil Isis kita harus menggunakan kapal kecil menyeberangi Lake Nasser. Kuil Isis populer dengan kualitas romantismenya; bagaimana tidak, dengan kolom-kolomnya yang tinggi dan berornamen indah, terpantul pada air yang biru jernih... Benar-benar tempat yang puitis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat terakhir yang saya kunjungi di Aswan, juga patut dicatat dalam sejarah: sebuah restoran lokal yang masakannya enak sekali. Dengan roti Mesirnya yang masih panas, restauran ini benar-benar best-kept secret...(thanks to Lonely Planet for this secret).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fun fact:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Bicara tentang romantisme, siapa yang tidak ingat Cleopatra. Cleopatra, pharaoh Mesir kuno terakhir, yang sekaligus terkenal sebagai simbol kecantikan Mesir, sebenarnya adalah orang Yunani. Cleopatra dan beberapa pharaoh sebelumnya adalah dinasti Yunani yang memerintah Mesir kuno beberapa ratus tahun sebelum runtuhnya kerajaan ini.Konon dia bahkan nggak bisa ngomong bahasa Mesir kuno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-7095166768405015460?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/7095166768405015460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/sailing-on-nile-bagian-3-for-godsake.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7095166768405015460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/7095166768405015460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/sailing-on-nile-bagian-3-for-godsake.html' title='Sailing on the Nile, bagian 3: to Aswan'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R594BgtbCJI/AAAAAAAAACQ/ghCJCu5NyH8/s72-c/Fishing+on+the+Nile.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-8442863684148015854</id><published>2008-01-29T01:10:00.003+04:00</published><updated>2008-05-10T15:03:32.986+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Luxor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesir'/><title type='text'>Sailing on The Nile, bagian 2: Luxor</title><content type='html'>Pagi itu udara Luxor terasa sejuk menyapa wajah saya. Sleeping train yang membawa saya dari Cairo ke Luxor selama 9 jam benar-benar nyaman; saya tidur nyenyak seperti bayi semalaman.&lt;br /&gt;Berjalan menyusuri jalanan Luxor yang mulai hiruk pikuk, sulit rasanya membayangkan jika ribuan tahun lalu kota kuno Thebes pernah berdiri tepat di sini. Thebes pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mesir Kuno Dinasti Baru, sekitar 3000 tahun yang lalu. Tidak heran Luxor sangat kaya dengan peninggalan bersejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R59i2gtbCII/AAAAAAAAACI/e6FvAgTxjfA/s1600-h/oho.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160952386622785666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R59i2gtbCII/AAAAAAAAACI/e6FvAgTxjfA/s400/oho.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan saya di Luxor dimulai di Kuil Karnak (foto kiri atas dan kiri bawah), yang sering disebut sebagai museum open air terbesar di dunia. Kemudian dilanjutkan dengan Kuil Luxor (foto kanan atas) yang berdiri di sebelah selatan Karnak. Dulunya, antara kedua kuil ini dipisahkan oleh danau buatan. Bayangkan ukurannya, karena luas area situs ini sekitar 35 hektar. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menyeberangi Nil, saya pun tiba di Luxor tepi barat. Orang Mesir kuno membangun Necropolis (kota kematian) bagi raja dan para bangsawan di sini karena sisi barat adalah tempat terbenamnya matahari, yang melambangkan kematian. Salah satu monumen terpenting adalah Kuil Hatshepsut (foto kanan bawah) yang dibangun sebagai kuil kematian Ratu Hatshepsut, firaun wanita yang pernah memegang kekuasaan terlama di Mesir. &lt;/p&gt;Dalam perjalanan pulang, saya juga mengunjungi situs makam bawah tanah di Valley of The Kings, tempat mumi para firaun beserta bekal kematiannya dikubur. Makam ini berupa ruangan sempit bawah tanah , sekitar 4x4 meter, penuh dihiasi lukisan yang menceritakan perjalanan hidup sang firaun. Setiap makam hanya diperuntukkan buat seorang raja atau ratu. Meskipun panas dan pengap (yang merasa mudah pingsan dianjurkan untuk tidak coba-coba), makam ini sangat menarik karena sebagian besar masih asli, belum dipugar sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fun fact:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Setelah selesai dimumifikasi, sang firaun disemayamkan di makamnya dalam peti emas, dibekali perhiasan mewah, kereta kuda, makanan, minuman, bahkan juga sandal dan celana dalam. Meskipun didesain untuk tidak dapat ditemukan, sebagian besar makam di Valley of The Kings telah dirampok habis-habisan oleh para tomb raiders. (ternyata bukan cuma Lara Croft yang terlibat skandal ini, bisnis merampok makam ini umurnya sudah ribuan tahun...) Saya sih tidak terlalu menyalahkan para perampok kubur itu. Mau diapakan emas berkilo-kilo itu oleh sang firaun yang sudah mati? Pasti jauh lebih bermanfaat untuk yang masih hidup...(&lt;em&gt;sssh, just a thought!&lt;/em&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-8442863684148015854?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/8442863684148015854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/sailing-on-nile-part-2-luxor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8442863684148015854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/8442863684148015854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/sailing-on-nile-part-2-luxor.html' title='Sailing on The Nile, bagian 2: Luxor'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R59i2gtbCII/AAAAAAAAACI/e6FvAgTxjfA/s72-c/oho.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-1630971783241312500</id><published>2008-01-28T22:36:00.003+04:00</published><updated>2008-05-10T15:02:25.693+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesir'/><title type='text'>Sailing on the Nile, bagian 1: Pengantar</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R54sbQtbCFI/AAAAAAAAAB0/5lsOKqFUZHo/s1600-h/Untitled-11.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160611069866739794" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R54sbQtbCFI/AAAAAAAAAB0/5lsOKqFUZHo/s400/Untitled-11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;"Mesir adalah hadiah dari Nil" kata Herodotus. &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sulit dibantah. Tanpa sungai Nil, bisa dipastikan peradaban Mesir kuno yang sudah berjaya ribuan tahun lalu saat bagian dunia lain masih berburu dan meramu, tidak akan pernah bersemi. Demikian pentingnya arti sungai Nil, orang Mesir kuno menamakan negara mereka "Khemet"; "hitam", merujuk pada warna lumpur yang dibawa oleh banjir Nil. Setiap tahun, selama ribuan tahun, banjir sungai Nil merendam daerah di sekitarnya. Banjir ini membawa endapan lumpur yang kaya nutrisi, menyuburkan kembali tanah pertanian di sekitar aliran Nil. Semakin tinggi banjir, bisa dipastikan daerah yang terendam semakin luas dan tanah pertanian yang kembali disuburkan pun semakin melebar. Pemerintah Mesir kuno bahkan menetapkan pajak berdasarkan tinggi banjir Nil: semakin tinggi banjir, semakin tinggi pajak pada tahun itu (karena otomatis panen semakin melimpah!). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saat ini, banjir sungai Nil hanya kenangan masa lalu. Dengan dibangunnya Aswan Dam, aliran Nil telah diatur sedemikian sehingga banjir tidak terjadi lagi. Maklum populasi Mesir sudah berkembang sehingga banjir jadi urusan yang super merepotkan (orang Indonesia pasti tahu kan, bagaimana tidak enaknya kebanjiran!) Dilema memang, karena di satu sisi banjir berarti regenerasi nutrisi tanah, di sisi lain berarti terganggu atau bahkan rusaknya infrastruktur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hampir semua situs perdaban Mesir Kuno terletak di sepanjang aliran Nil. Mudah dimengerti, karena Mesir sebenarnya adalah dataran kering dengan curah hujan hampir nol. Ketika kita menyusuri sungai Nil, kita bisa melihat jelas bagaimana dataran yang dekat dengan Nil begitu hijau dan subur, sedangkan di latar belakangnya gunung-gunung berdesakan tanpa sebatang pun tanaman yang sanggup tumbuh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jadi, untuk napak tilas perdaban Mesir kuno, cara terbaik tentu saja berlayar menyusuri Nil. Sungai Nil mengalir ribuan kilometer membelah Afrika, bermula dari dua sumber: Nil Putih yang bersumber di Danau Victoria (Afrika Tengah) dan Nil Biru yang berhilir di Ethiopia. Kedua sumber ini bertemu di Sudan lalu mengalir membelah padang kering hingga bermuara di Laut Tengah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi tentu saja saya tidak perlu melayari Nil mulai dari hulu hingga hilir, karena liburan saya cuma seminggu, hehehe... &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rute klasik menyusuri Nil adalah dari Luxor ke Aswan (menentang arus), atau sebaliknya, searah arus, dari Aswan ke Luxor. Saya memilih menentang arus untuk menyesuaikan dengan kepribadian saya. Hehehe, bukan sih. Saya memilih menentang arus karena pelayaran menjadi lebih lama sedikit dan saya punya waktu lebih untuk menikmati Nil. Hei, saya datang jauh-jauh dari Jogja nih...!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-1630971783241312500?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/1630971783241312500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/sailing-on-nile-bagian-i-pengantar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1630971783241312500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/1630971783241312500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/sailing-on-nile-bagian-i-pengantar.html' title='Sailing on the Nile, bagian 1: Pengantar'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R54sbQtbCFI/AAAAAAAAAB0/5lsOKqFUZHo/s72-c/Untitled-11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-3721740975586281113</id><published>2008-01-28T01:36:00.005+04:00</published><updated>2008-11-01T06:47:59.033+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piramid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Giza'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesir'/><title type='text'>Pyramids of Giza</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R5z5ywtbCCI/AAAAAAAAABY/bDdhkFnC1ec/s1600-h/DSCN9422copy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160273923523938338" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R5z5ywtbCCI/AAAAAAAAABY/bDdhkFnC1ec/s320/DSCN9422copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mengunjungi Mesir tanpa mengunjungi piramid bisa dikatakan sebuah dosa besar..! Karena itu, tidak lebih dari dua jam sejak saya menjejakkan kaki di Mesir, saya sudah sampai di Giza. Hanya sekitar 20 menit dari hingar-bingar Cairo, Giza dengan piramidnya adalah obsesi para pengembara sejati semenjak ribuan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga piramid di Giza, masing-masing dibangun oleh raja (pharaoh) yang berbeda, Menkaure, Khafre, dan Khufu. Piramid yang tertinggi, 138 m, dibangun oleh Khufu 4500 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;"And here I am, pyramids! A girl from Indonesia!" &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya didampingi guide bernama Nancy, seorang wanita Mesir setengah baya dengan keramahan yang luar biasa. Nancy membawa saya ke tempat di mana kami bisa melihat ketiga piramid itu bersamaan. Masya Allah, luar biasa. Saya duduk termenung, antara percaya dan tidak saya berada di sini. Antara kagum dan kasihan pada ketiga firaun yang tetap tidak hidup abadi meskipun mereka telah membangun piramid yang luar biasa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang lain yang merasa masih muda dan sehat, saya juga mencoba masuk ke dalam piramid. Nancy tegas-tegas menyatakan dia tidak mau ikut masuk. Bagaimana tidak, di luar pintu masuk (atau lubang masuk?), terpampang tulisan yang memperingatkan orang tua, penderita sakit jantung, dan klaustrofobik, untuk tidak masuk. Ia juga mengingatkan kalau saya harus membungkuk naik turun sejauh 50 meter tanpa ventilasi memadai, berhimpitan dengan para pengunjung lain (yang semuanya dalam kondisi berkeringat dan terengah-engah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah membungkuk dan berkeringat, saya sampai juga di ruangan luas di tengah piramid. Wow! Kosong, pengap, dan sama sekali tidak menarik! Sambil garuk-garuk kepala saya kembali berimpitan keluar, sambil menyesal tidak mendengarkan kata-kata Nancy. &lt;em&gt;At least, I can tell you what's there so you don't have to enter it....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Nancy lalu duduk di Pizza Hut yang terletak berhadapan dengan Sphinx. Seorang Indonesia, makan pizza yang aslinya dari Itali, dijual di waralaba sukses asal Amerika, sambil memandangi salah satu landmark Mesir kuno yang paling terkenal dalam sejarah. &lt;em&gt;Now, that's what we call crash of cultures!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Fun fact:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; setiap malam, ada light &amp;amp; sound show dengan latar belakang piramid dan sphinx, menceritakan sejarah bangunan bersejarah ini. Wajib ditonton.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-3721740975586281113?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/3721740975586281113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/pyramids-of-giza_27.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3721740975586281113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/3721740975586281113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/pyramids-of-giza_27.html' title='Pyramids of Giza'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R5z5ywtbCCI/AAAAAAAAABY/bDdhkFnC1ec/s72-c/DSCN9422copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-2252377353601494652</id><published>2008-01-27T23:58:00.003+04:00</published><updated>2008-11-01T06:46:03.711+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cairo'/><title type='text'>Cairo - from a history freak point of view</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R5zycgtbB-I/AAAAAAAAAA4/kgmUgcBFrM8/s1600-h/Al-Azhar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160265844690454498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 2px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R5zycgtbB-I/AAAAAAAAAA4/kgmUgcBFrM8/s400/Al-Azhar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Cairo, ibu kota Mesir, nama arabnya adalah Al-Qahirah, kurang lebih berarti "Kemenangan". Berhubung umurnya 'hanya' sekitar seribu tahun, Cairo termasuk anak-anak jika dibandingkan dengan ibukota-ibukota Mesir terdahulu: Memphis (sekitar 4700 tahun), Thebes dan Heracleopolis (sekitar 4200 tahun), atau Alexandria (2300 tahun).&lt;br /&gt;Tapi jangan salah! Cairo adalah tempat impian para history freaks (termasuk saya...) Di setiap sudut, jangan kaget kalau kita bisa menemukan bangunan bersejarah berumur ratusan tahun, berdampingan dengan toko komputer. Atau masjid tua yang terselip di antara toko cenderamata piramid dan sphinx plastik &lt;em&gt;made in China.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khan-Al-Khalili, pasar paling populer di Cairo, sampai sekarang masih didatangi ratusan pedagang dan pembeli dari segala penjuru Arabia. Bedanya, sekarang mereka datang dengan mobil atau taksi, tidak lagi dengan kuda atau unta, seperti Khan Al-Khalili 600 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para history freak sejati, tempat paling menakjubkan di Cairo adalah The Egyptian Museum. Saat ini, museum tersebut terletak di tengah-tengah Cairo, namun museum baru yang lebih bagus sedang dibangun di Giza. Kalau sudah pernah mengunjungi museum ini, Anda bakal cuma melengos pada koleksi Mesir di British Museum atau Louvre. Koleksi Tutankhamun dipajang di sini (lengkap dengan peti emasnya), mumi para firaun termasuk Ramses II (yang diduga sebagai firaunnya Musa a.s.), plus ratusan koleksi lain mulai zaman paleolithik sampai Mesir Romanian . Yang Anda butuhkan: buku panduan yang bagus (pilih yang direkomendasikan Zahi Hawass), sepasang sepatu yang nyaman, air mineral, dan kaos katun (museum ini tanpa AC!). Lupakan kamera Anda karena memotret dilarang keras.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;My Top 5 Cairo historical destinations:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1. Egyptian museum&lt;br /&gt;2. Masjid Al-Azhar (gambar kiri atas)&lt;br /&gt;2. Masjid Mohammad Ali di Salaheddin fortress (gambar kanan atas)&lt;br /&gt;3. Khan Al-Khalili&lt;br /&gt;4. Bayt-Al Suhaimi (best kept secret!)&lt;br /&gt;(Piramid di Giza tidak termasuk, karena secara teknis bukan terletak di Cairo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-2252377353601494652?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/2252377353601494652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/cairo-from-history-freak-point-of-view.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2252377353601494652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/2252377353601494652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/cairo-from-history-freak-point-of-view.html' title='Cairo - from a history freak point of view'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R5zycgtbB-I/AAAAAAAAAA4/kgmUgcBFrM8/s72-c/Al-Azhar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5996345036180471562.post-4502928696012983732</id><published>2008-01-27T22:30:00.003+04:00</published><updated>2008-11-01T06:44:28.037+04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cairo'/><title type='text'>A Night in Cairo</title><content type='html'>Cairo! Terus terang saja sejak kunjungan pertama saya beberapa tahun lalu, saya masih punya 'rasa' dengan Cairo. Kata orang, Cairo macet, kotor, tak teratur. Tapi sebaliknya, saya jatuh cinta pada Cairo pada pandangan pertama. Bagi saya, Cairo punya kepribadian. Sejarah. Tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu ketika saya tiba di Cairo untuk kedua kalinya, saya sudah merasa sok sekali. Sengaja berdandan dengan kohl (pensil mata) agak tebal (biasanya mana pernah, amit-amit deh) supaya sedikit kelihatan seperti &lt;em&gt;Egyptian&lt;/em&gt;. Percaya atau tidak, walaupun hidung saya agak bulat dan jongkok, saya sering dikira orang Mesir. Asal jangan buka mulut deh..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikira orang Mesir lumayan menguntungkan lho. Semua atraksi wisata di Mesir punya 2 macam tarif masuk: untuk orang Mesir dan untuk non-Mesir. Selisihnya kadang-kadang bisa sepuluh kali lipat. Huh, sadis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya dijamu seorang teman Mesir, Esam, dan tunangannya di Khan-Al-Khalili, pasar tradisional tua yang berseberangan dengan masjid Al-Azhar. Esam memesan &lt;em&gt;moloukhia&lt;/em&gt; dengan kelinci. Tunangannya dan saya berbagi&lt;em&gt; shish tawouk&lt;/em&gt;. Di bagian depan restauran, para pemusik mulai memainkan instrumen mereka dengan irama yang menyihir untuk mulai menari. Rasanya kok seperti di cerita 1001 malam, keren banget....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami melangkah keluar dari restauran, waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Esam bertanya "&lt;em&gt;Now, where do you want to go?&lt;/em&gt;" Saya tertawa, menjawab bahwa malam sudah larut. Mereka tertawa juga &lt;em&gt;"The night just starts in Cairo!"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R595xAtbCKI/AAAAAAAAACY/kV8okW3hAas/s1600-h/Fishawi+Coffee+House.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160977580900944034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R595xAtbCKI/AAAAAAAAACY/kV8okW3hAas/s400/Fishawi+Coffee+House.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bung, ini Cairo! Fishawy, coffee shop paling terkenal di Cairo yang terletak di salah satu gang sempit Al-Khalili masih dipenuhi &lt;em&gt;cairenese&lt;/em&gt;, termasuk beberapa anak-anak yang sibuk bermain petak umpet.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;What I was thinking?&lt;/em&gt; Kami pun duduk di Fishawy, bergosip, menikmati segelas kopi arab yang rasanya mirip jamu godog bikinan embah saya, menghisap &lt;em&gt;shisha&lt;/em&gt; rasa &lt;em&gt;strawberry&lt;/em&gt;, menikmati malam hingga pagi menjelang, seperti cara para &lt;em&gt;cairenese&lt;/em&gt; menikmatinya selama ratusan tahun.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairenese: penduduk Cairo&lt;br /&gt;moloukhia: daun yang rasanya mirip bayam&lt;br /&gt;shish tawouk: daging ayam fillet panggang&lt;br /&gt;shisha: hubbly-bubby, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hubbly_bubbly"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Hubbly_bubbly&lt;/a&gt;, cara lain menghisap tembakau&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5996345036180471562-4502928696012983732?l=curious-traveler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://curious-traveler.blogspot.com/feeds/4502928696012983732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/cairo-terus-terang-saja-sejak-kunjungan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4502928696012983732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5996345036180471562/posts/default/4502928696012983732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://curious-traveler.blogspot.com/2008/01/cairo-terus-terang-saja-sejak-kunjungan.html' title='A Night in Cairo'/><author><name>The Curious Traveler</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://bp2.blogger.com/_d7yuIReR7LY/R6MFJgtbCVI/AAAAAAAAAD0/qmXfmrmB1b8/S220/Untitled-3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d7yuIReR7LY/R595xAtbCKI/AAAAAAAAACY/kV8okW3hAas/s72-c/Fishawi+Coffee+House.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
