Kegiatan favorit turis ketika mengunjungi negeri bergurun tentu saja adalah safari ke padang pasir. Pura-puranya mengikuti kehidupan para badui. Cuma, para badui yang dulunya berkeliaran dengan unta sekarang sudah mengganti untanya dengan fancy 4x4 cars (Land Cruiser masih tetap yang paling populer).
Sebenarnya saya pernah bekerja di beberapa lokasi yang terletak di padang pasir (satu setengah tahun lebih!), jadi ide desert safari rasanya kok garing sekali. Tapi karena ibu dan pakde saya pas berkunjung ke Dubai, kasihan juga kalau nggak diajak melihat padang pasir. Jadilah sore itu kami berkendara dengan land cruiser dengan sebuah tour operator, menuju ke padang pasir. Serombongan dengan kami ada tiga orang gadis, yang menilik dari aksen mereka, adalah British. Sebelum berangkat, pakde saya, yang punya reputasi sering mabuk kendaraan bermotor, sudah minum antimo dan berbekal panadol serta kantong plastik. Tebak buat apa! Hahaha...
Sore itu matahari hampir terbenam, padang pasir yang kemerahan memantulkan cahaya sore sehingga kelihatan cantik sekali. Ke mana pun arah mata memandang, puluhan kendaraan 4x4 maupun desert bike sibuk berkeliaran. Lah kok rame di sini ketimbang di mall? Kirain bakalan sepi dan romantis, ternyata padang pasir adalah tujuan favorit para off-roader.

Si sopir mula-mula mengemudi dengan kalem, tapi begitu mobil sudah mencapai bagian tengah gurun yang bergunung-gunung tinggi, mulai deh dia pamer keahlian. Kami dibawa naik turun gundukan-gundukan pasir yang rasanya hampir 75 derajat kemiringan. Yang paling ngeri adalah ketika ia menempatkan mobil di punggung bukit pasir curam dengan posisi melintang, lalu membiarkan mobil melorot di pasir yang lembut. Rasanya sudah yakin kalau mobil bakal berguling! Kami berteriak kencang-kencang tanpa malu-malu....Si sopir pun makin 'panas' dan dia makin menakut-nakuti kami dengan keahliannya.
Lama-lama kok rasanya pakde saya diam saja ya? Saya lihat wajahnya aneh dan pucat, tangannya sibuk mencari kantong plastik, dan akhirnya... hueeeek....!
Kami pun berhenti di tempat yang agak landai; pakde saya langsung lari keluar dan muntah-muntah. Tiga orang cewek Inggris itu sibuk menutupi kuping mereka karena geli, sedangkan saya dan Ibu saya sibuk terbahak-bahak (sadis ya... tapi kocak banget sih suasananya...)
Begitu pakde saya mulai kelihatan tenang, kami pun mulai berfoto-foto dengan latar belakang matahari terbenam dan beberapa ekor unta yang tenang berkeliaran. Perjalanan dilanjutkan, kali ini si sopir mengendara agak jinak, tapi masih tetap mengguncang perut. Pakde saya mulai kelihatan pucat lagi dan merogoh kantong plastik... waduh...

Setelah makan malam dengan barbeque, malam itu ditutup dengan tarian seorang belly dancer yang seksi banget. Pakde saya sudah nggak kelihatan bekas-bekas mabuknya sama sekali sewaktu menonton (pastinya). Ibu saya cuma geleng-geleng heran dengan gaya si penari yang memang provokatif (belly dancer memang biasanya selalu 'menggoda' penonton untuk berpartisipasi dalam tarian), sekaligus kagum dengan tariannya yang memang kelihatan susah sekali. Menggoyang pinggul 10 goyang/ detik kan nggak gampang tuh. Secara keseluruhan, perjalanan singkat yang asyik buat turis deh!
aiiiiih Candraaaaa... kok belum nambah lagi neh kan udah travelling lagi tuh :)
ReplyDeleteMet puasa ya... maapkeun lahir batin :)