2012-04-11

Tabriz

Kali ini saya traveling ke tempat yang eksotik banget: Tabriz (at least exotic for me yang dari Jogja :D). Tabriz terletak di sebelah utara Iran, ibukota provinsi Azerbaijan Timur. Kota ini sangat tua; tidak ada yang tahu pasti kapan berdirinya, namun telah disebutkan di epigraf raja Sargon II dari Assyria pada tahun 714SM! Tabriz juga adalah tempat di mana Jalaluddin Rumi bertemu dengan gurunya, Shams-e-Tabrizi, yang sekaligus mengubah Rumi menjadi sufi yang sekarang kita kenal.
Tabriz Blue Mosque

Tabriz terletak sekitar 530 km dari Tehran (dan sekitar 7400km dari Jakarta, hehehe). Dari Tehran, bisa dicapai sekitar 6 jam dengan mobil. Bisa juga sih pakai pesawat atau kereta, tapi untuk melihat pemandangan dan foto-foto memang lebih pas dengan mobil. Jalannya highway yang mulus dan lebar, mantap banget pokoknya. Pemandangan sepanjang jalan menarik banget dan kontras, mulai dari daerah pertanian, landscape bukit-bukit batu beragam warna yang sangat spektakuler, sampai akhirnya gunung-gunung salju ketika semakin mendekati Tabriz.
(Shamsi kedinginan)

Saat itu memang sedang puncaknya musim dingin.Kami disambut badai salju sewaktu memasuki Tabriz. Sementara penumpang lain di mobil mengomel karena badai, saya malah excited banget. Maklum, belum pernah lihat salju, hehehe... Kami berhenti sebentar karena saya pingin foto-foto dengan salju. Shamsi, teman seperjalanan saya yang notabene asli Tabriz, ribut merutuk kedinginan padahal saya sedang asyik foto-foto narsis. Lho mbak Shamsi, yang dari Tabriz itu siapa ya? hahahaha...

Barbari bread for breakfast

Esok paginya, saya diundang makan pagi di rumah Shamsi. Kami duduk ramai-ramai di atas karpet, ngobrol-ngobrol (lebih banyak cengar-cengir karena lost in translation), sarapan dengan barbari, roti khas Tabriz, dengan keju dan madu. Benar-benar sarapan ala local! Oh iya, mayoritas penduduk Tabriz adalah keturunan Azerbaijan dan berbahasa Azeri yang termasuk kelompok bahasa Turki. Tapi secara umum, buat saya yang dari Asia ini, secara fisik maupun budaya perbedaannya tidak terlalu mencolok dengan etnis mayoritas Iran, yaitu Farsi. Mereka juga sangat ramah, terbuka, dan rendah hati.

Selesai sarapan, rencana hari itu adalah mengunjungi beberapa tempat penting di Tabriz. Karena Tabriz adalah kota yang sangat tua, dengan sendirinya Tabriz kaya dengan sejarah. Sayangnya, banyak bangunan bersejarah telah hancur karena serangan musuh maupun gempa bumi yang terjadi berulang-ulang dalam sejarah Tabriz.

Perhiasan dari tahun 1000 SM, Azerbaijan Museum
Jalan-jalan dimulai dengan Blue Mosque, masjid paling terkenal di Tabriz yang dibangun sekitar abad ke-15. Pada abad ke-18 masjid ini hampir seluruhnya runtuh akibat gempa bumi hebat. Sampai sekarang masjid ini belum bisa digunakan sepenuhnya, walaupun sedang berusaha dibangun lagi.

Selanjutnya saya menghabiskan waktu di Azerbaijan Museum, yang katanya menyimpan koleksi sejarah Iran terlengkap kedua setelah National Museum of Iran. Koleksi museum ini menunjukkan sejarah Tabriz yang sangat panjang, termasuk beberapa koin dan seal dari 3000 SM hingga era Islam.

Tempat paling terkenal di Tabriz, pastinya adalah Tabriz Bazaar. Sudah diakui sebagai UNESCO World Heritage Site, pasar ini adalah covered bazaar terbesar di dunia dan salah satu yang tertua juga. Tabriz Bazaar adalah pusat perdagangan yang sangat penting dari abad ke-13 sampai ke-18, apalagi karena letaknya di Jalur Sutra. Bazaar raksasa ini melingkupi area seluas 75 hektar, dengan bagian-bagian khusus seperti bazaar karpet, bazaar sepatu, bazaar perhiasan, dll. Dijamin gempor.
Saya sih nggak terlalu niat shopping, tapi sempat juga beli kacang-kacangan panggang (almond, cashew, macadamia, hazelnut, etc) yang memang specialty-nya Tabriz. Waktu lewat bazaar perhiasan, sempat juga sih mampir dan *mencoba* sebuah cincin berlian solitaire 5 karat. Hadoooh, slrppp...
Bazaar perhiasan di Tabriz Grand Bazaar

El Goli Park dengan Tabriz di background
Sebelum meninggalkan Tabriz, saya sempat memutari El-Goli Park yang menjadi favorit penduduk Tabriz di musim panas. Taman seluas 54 hektar ini dibangun pada abad ke-18. Aslinya, taman ini dibangun untuk irigasi dengan sebuah danau buatan di tengahnya,nanum kemudian diperluas menjadi taman. Walaupun saat itu musim dingin dan taman ditutupi salju, masih banyak orang yang berjalan-jalan di taman yang sangat indah ini. Romantis banget, terutama di sore hari dengan sinar matahari yang orange dan salju yang turun perlahan. Asal tahan dingin aja mbak, mas...

How to get there: drive/train/fly from Tehran
Visa: Indonesians do not need visa to Iran
Budget: cheap to medium.