2009-01-29

One Night in Singapore ...!

Entah kenapa, suatu hari Kamis yang kelabu, saya dan seorang teman memutuskan untuk pergi ke Singapore. Karena libur cuma hari Sabtu-Minggu, kami harus merencanakan trip ini dengan cerdas, hehehe... Who expected that, it was gonna be one of the coolest trip ever!

Sebenernya rencana kunjungan ke Singapore nggak jelas, saya cuma pengen "get a pair of Choo or Blahnik*" (if you know what I mean, hehehe)... Sementara teman saya "cuma pengen wind out dan mau ngikut saya aja, nggak pengen belanja". Nah lo...
Kami sampai di Changi airport hari Sabtu siang, langsung naik MRT ke Orchard-- the prime destination plus tempat kita menginap.

Sampai di hotel dan check-in, tanpa ba-bi-bu kami langsung melangkahkan kaki ke Orchard. Saat itu lagi sale season, jadi belum-belum sudah ngilerlah kami. Kami lalu ketemu dan ditemani seorang teman yang memang Singapore resident dan tahu banget tempat-tempat belanja paling asyik. Jadilah mulai sekitar jam 4 sore sampai jam 10 malam, kami shopping marathon sampai kaki bengkak (beneran!) Teman kami pun terus menyarankan tempat-tempat belanja asyik (dan somehow affordable), juga dengan semangat menyarankan "why don't you buy? enjoy it" Hihihihi, benar-benar dia ini our shopping guardian angel (this is a tribute for you, kalau pas baca, you know who you are and we really think that you are an angel!)

Setelah itu kami pergi ke Lau Pa Sat Festival Market untuk makan malam, apalagi kalau bukan dengan the infamous Singapore Chili Crab! Fueled up, walaupun kaki masih sakit, kami lalu jalan lagi ke Singapore Marina, melihat pemandangan malam Singapore yang menakjubkan dan foto-foto di depan Merlion, patung singa lambang Singapore (dengan gaya narsis dong). Kami lalu menyusuri sungai, melewati Anderson bridge, Clarke Quay... Sepanjang jalan kami terus berfoto-foto gaya gila dan ketawa-ketawa ngakak (curiga they put something in the Chili Crab!) Ketika kami tiba di Clarke Quay yang dipenuhi dengan clubs, waktu sudah hampir jam 3 pagi (club-goers pun sudah menyerah dan siap-siap pulang). Kami pun sadar dan ikut menyerah... it was time to sleep...

Paginya, kami bangun kesiangan, tapi tanpa malu-malu langsung pergi last minute shopping. Dasarrrr... Jam 2 siang kami sudah di atas pesawat (sukses menambah 17 kilo bagasi, hasil belanjaan) dan berusaha melupakan how much we have spent, hehehe.......

Laporan terakhir: saya tidak beli any pair of Choo atau Blahnik*, tapi yang jelas dapat yang lain dong (many of them, hahahaha). Dan, teman saya yang katanya nggak pengen belanja ternyata belanjanya lebih ngamuk dari saya....!

* wonder who are Choo and Blahnik? Get educated here

Nha Trang... just another beach?!


Nha Trang adalah salah satu kota pantai paling terkenal di Vietnam, konon teluknya salah satu yang terindah di dunia. Makin populer lagi, setelah menjadi lokasi Miss Universe Pageant 2008. Kebetulan saya ada meeting di Nha Trang, jadi terpaksa deh (beneran nih terpaksa.. hehehe) saya mengunjungi Nha Trang...

Pecinta scuba diving dan watersports bakal have good time di Nha Trang, karena memang di sinilah prime spot-nya. Harganya juga lumayan masuk akal. Sayangnya saya tidak punya waktu buat watersport dan diving, karena setelah diconfirm, diving atau snorkeling trip minimum dari subuh sampai jam 1 siang (sementara pesawat saya besoknya jam 1 siang....)

Jadilah Nha Trang trip saya sore itu dimulai dengan mengunjungi salah satu spa yang jumlahnya luar biasa banyak di Nha Trang. Selain spa, tempat yang juga populer adalah 'mud bath'. Bener-bener mandi lumpur! Kata teman-teman sih asyik juga dan direkomendasikan (none of them came out with smoother skin but still.... )
Malamnya saya nongkrong di salah satu beach restaurants keren yang menjamur di pinggir pantai, sambil sibuk menolaki ajakan dugem dari teman-teman (hehehe, Nha Trang juga terkenal dengan dunia dugemnya....)

Pagi harinya saya mulai muter-muter Nha Trang; naik becak lah yaa (di sini sebutannya cyclo). Enam puluh ribu Vietnamese Dong saja, sekitar 4 dollar, buat setengah hari. Karena pantai nggak terlalu menarik buat saya (lha wong rumah sudah di pinggir pantai), jalan-jalan dimulai dengan mengunjungi Po Nagar. Candi hindu Champa ini dibangun sekitar Abad ke-7 untuk memuja dewi Yan Po Nagar, Champa's equivalent of Mahisasuramardhini (Durga). Kerajaan Champa yang berkembang dari abad 7-18 di Vietnam selatan dan tengah, memiliki akar melayu-polynesian kuat seperti kerajaan-kerajaan di Melayu dan Indonesia. Mereka memiliki teks Melayu tertulis tertua, bahkan jauh lebih tua dari teks melayu tertua yang ditemukan di Sumatra. Kini orang-orang Champa tidak memiliki negara sendiri, setelah kerajaan Champa mulai ditaklukkan Vietnam sekitar Abad ke-15. Mereka sekarang tersebar di Vietnam dan Cambodia. Penampilan fisiknya lebih mirip melayu (mata lebar, kulit sawo matang) dan sebagian besar memeluk Islam.

Dari Po Nagar, lalu melanjutkan ke Long Son Pagoda. Walaupun terkenal dengan patung Buddha putih raksasa di puncaknya, pagoda ini menurut saya nggak terlalu spesial. Yang saya ingat spesial, di sini saya melihat orang masuk ke bawah bel raksasa terus dipukul deh bel itu sama seorang nenek tua. Guongggggg..... kebayang dong pasti tuh telinga berdenging..... Cuma saya nggak terlalu tahu maksudnya; ditanya nggak ada yang nyambung...

Dari situ saya melanjutkan ke Katedral Nha Trang, yang jalan masuknya dipenuhi plakat-plakat nama orang meninggal, Maria Nguyen Thi, Giuseppe Nhanh Trung..... Di dalam dan sekitar gereja orang sedang sibuk menyiapkan pesta natal, saya sih melihat saja sambil chill out di dalam gereja tua bergaya Perancis yang adem ini. By the way, walaupun pemeluk Kristen hanya 8% dari populasi Vietnam, Christmas is a BIG thing here.

Sayangnya, cuma sampai di sini lah Nha Trang trip buat saya. Musti pulang bo, besoknya ngantor. Next time mungkin harus diving & snorkeling ya...

Dalat, Vietnamese's honeymoon destination

Dalat di dataran tinggi Central Vietnam adalah top honey moon destination buat Vietnamese. Tempatnya dingin, banyak bunga, ada danau Xuan Huong di tengah kotanya, romantis...

Dalat bisa dicapai dengan mobil, sekitar 6 jam dari Ho Chi Minh City, atau dengan pesawat juga bisa. Kotanya sendiri sih buat saya kurang impressive-- TAPI (huruf besar) sangat terpelihara dan penuh perencanaan. Ceritanya, sekitar abad ke-19 waktu jaman Vietnam di bawah Perancis, tersebutlah seorang dokter yang naksir berat melihat potensi Dalat; namanya Alexandre Yersin. Dia pun mengajukan proposal ke pemerintah kolonial Perancis untuk menjadikan Dalat kota peristirahatan. Dalat pun dibangun berdasarkan urban planning yang lumayan canggih, termasuk boulevard dan villa-villa gaya Perancis yang masih lestari sampai sekarang.

Entah karena hawa dinginnya, atau memang tanahnya yang subur, Dalat dihiasi bunga di mana-mana. Kalau suka bunga, bisa mengunjungi Dalat Flower Garden (yang agak so-so gitu deh). Di dalam kota Dalat, tempat yang umumnya didatangi turis adalah Cho (pasar) Dalat, lalu istana musim panasnya Emperor Bai Dao, dilanjutkan dengan Dalat train station (kita bisa naik kereta tua ke Trai Mat, terus mampir ke Lin Phuong pagoda). Malam hari, kita bisa jalan-jalan di sekitar Xuan Huong Lake yang persis di tengah kota, duduk makan jagung bakar, lalu ngopi di salah satu restauran yang bertebaran dekat Cho Dalat.

Di sekitar Dalat, banyak danau dan air terjun yang cantik-cantik. Karena jalur ke air terjun pastinya naik turun, coba jadwalkan barang 1-2 saja. Yang wajib didatangi karena paling dramatis adalah Pongour waterfalls. Selain itu juga ada Bo Blang, Prenn, Elephant, dan air terjun lainnya. Saya juga sempat mengunjungi Traditional Silk Village, di mana kita bisa melihat proses pembuatan sutra mulai dari masih berupa kepompong sampai penenunan dan pencelupan warna. Tempatnya agak di luar kota, dekat Elephant waterfall.

Jujur saja, masih banyak tempat lain yang lebih impressive di Vietnam ketimbang Dalat. Tapi kalau telanjur tinggal di Vietnam kayak saya, ya gak rugi deh dateng ke Dalat. Jangan lupa beli oleh-oleh strawberry jam yummy khas Dalat yang kandungannya 100% strawberry dan gula tanpa bahan tambahan lainnya....