2008-12-18

Ha Long Bay


Jalan-jalan ke Ha Noi paling pas disambung dengan Ha Long Bay, teluk spektakuler yang termasuk situs World Heritage UNESCO dan dinominasikan sebagai salah satu keajaiban dunia.

Teluk biru tenang seluas 1553 km2 ini dihiasi lebih dari 1500 pulau-pulau kecil berbagai bentuk dan ukuran. Pulau-pulau ini ada yang cuma kosong ditumbuhi tanaman, ada juga yang bergua dan berdanau, ada yang ditinggali manusia. Selain itu, ada juga desa terapung di tengah Ha Long Bay.
Mirip-mirip Krabi di Thailand tapi menurut banyak komentar lebih keren Ha Long Bay (katanya, wong saya belum pernah ke Krabi...)

Menurut ceritanya,jaman Vietnam sedang perang melawan Cina, para dewa menurunkan naga untuk membantu orang Vietnam. Naga ini menebarkan batu-batu mulia yang sekarang berubah menjadi pulau-pulau ini, menjadi benteng sampai akhirnya Vietnam menang melawan Cina... (kalau sampai percaya cerita ini, Anda benar-benar kebanyakan imajinasi)



Cuma tiga jam jalan darat dari Ha Noi, cara paling asyik muter-muter Ha Long Bay tentu aja naik kapal (mosok berenang, pegel dong). Ada juga sih yang berkayak, tapi nggak akan bisa sampai jauh soalnya teluk ini gede juga. Biasanya semua travel agent di Vietnam menawarkan paket tur ke Ha Long Bay dengan kapal, jadi jangan lupa pesan duluan, cek di internet reputasi kapalnya plus tawar-tawaran (hehehe, nggak puas lah kalau belum nawar).
Selain itu, perhatikan juga ramalan cuaca. Kalau pas berkabut ya mendingan ditunda, ketimbang nggak bisa lihat apa-apa. Udara musim dingin di Ha Long lumayan menggigit, jadi kalau mau ke sana jangan lupa ngecek prediksi temperatur biar nggak salah kostum. Maklum, Ha Long ini sudah dekat perbatasan Cina jadi iklimnya agak-agak sub tropis.


Buat pecinta fotografi landscape, honeymooners, atau simply desperately romantic people, Ha Long Bay adalah salah satu ultimate destination deh. Bayangin laut biru tenang dengan ribuan pulau pulau kecil di belakangnya, kapal nelayan tradisional, burung-burung... Oh iya, jangan lupa pilih tur yang menginap di atas kapal, jadi bisa melihat matahari tenggelam dan terbit di Ha Long Bay.. oooo....

2008-12-09

Hanoi

Alasan utama ke Hanoi sebenarnya adalah menghadiri pernikahan seorang teman Vietnam. Sebenarnya pernikahan ini sudah saya tunggu-tunggu, soalnya saya sudah lama menjahitkan ao dai (baju khas vietnam), tapi belum punya alasan memakainya. Masak pakai ao dai ke kantor...? mak, saya belum semuka badak itu...



Hanoi, buat para westerner alias londo (ini bahasa nenek saya) pastinya eksotik banget. Terutama kalau berjalan-jalan di Old Quarter yang sempit dan hiruk-pikuk dengan kegiatan perdagangan mulai dari sutra sampai batu nisan. Tapi buat saya, Old Quarter mirip-mirip dengan Malioboro, tapi lebih besar dan lebih semrawut (payah nih, dasar indo, apa-apa dibandingin dengan kampung...)

Tempat favorit saya di Hanoi adalah Hoan Kiem Lake, danau kecil dekat Old Quarter yang cantik banget. Pas bulan-bulan akhir tahun (November-Desember), udara di Hanoi lumayan dingin; bisa mencapai 10-15 C di malam hari. Berkumpullah para pasangan di pinggir Hoan Kiem Lake, duduk memadu kasih beramai-ramai(ya ampun bahasanya norak banget gak siiiiy). Setiap 2 meter ketemu deh kita dengan pasangan-pasangan ini, yang rata-rata menganggap kalau dunia milik mereka berdua sementara kita cuma numpang...

Karena Hanoi sudah menjadi ibukota Vietnam selama lebih dari seribu tahun, Hanoi termasuk tempat favorit para pecinta sejarah. Tempat yang wajib dilihat:

1. Ho Chi Minh Mausoleum
Tempat mumi Uncle Ho (Ho Chi Minh!) disemayamkan. Jelas nggak terlalu heboh, tapi kalau belum ke sini berarti belum ke Hanoi deh. Dari sini biasanya melanjutkan ke One Pillar Pagoda yang cuma di sebelahnya.

2. Museum of Ethnology
Sempatkan 3-4 jam supaya bisa melihat-lihat cerita etnis-etnis di Vietnam beserta contoh rumahnya (original size!)

3. Temple of Literature (Van Mieu)
Universitas tertua di Vietnam, didirikan lebih dari satu milenium yang lalu.

4. Water Puppet Show
Pertunjukan wayang (lebih pas-nya boneka) populer yang konon sudah merakyat di Vietnam sejak abad ke-15. Nggak membosankan, malah kalau bawa anak-anak dijamin mereka terbengong-bengong kagum.









Wait, wait.. how about the wedding? Pernikahan yang saya kira bakalan eksotis ini (udah ngebayangin para gadis dengan ao dai warna-warni dan adat vietnam yang heboh), ternyata 100% western style. Penganten memakai jas dan white gown, acaranya dilengkapi champagne pouring dan lagu Beethoven. Kitschy. Cuma saya dan orang tua pengantin saja yang memakai ao dai... Huh, kecewa. Konon katanya memang beginilah gaya pernikahan di Vietnam sekarang- western. Mana nih, the original vietnamese wedding??

2008-10-31

Ganti desain

Setelah setengah tahun pakai desain yang sama, rasanya kok bosen.
Akhirnya setelah semalam begadang, jadilah desain baru ini. Saya sih nggak punya keahlian meng-edit html atau xml, semuanya modal berguru dari bloggeruniversity.blogspot.com.
Lumayan kan ya..?

2008-09-23

Vung Tau, Cape Saint Jacques, home...

Dibangunkan oleh desiran ombak,


tawa anak yang berlarian di pantai,


dan langit biru yang disenyumi matahari...


Halah! sok romantis amat sih. Tapi memang beginilah tiap hari saya terbangun di Vung Tau. Super romantis deh pemandangannya. Oh, aren't I the luckiest girl on earth!


Vung Tau, kota minyaknya Vietnam, dulu lebih dikenal sebagai kota peristirahatan. Sempat diberi nama Cape St. Jacques waktu jaman kolonialisme Perancis, masih ada sisa-sisa bangunan kuno bergaya Eropa plus patung Yesus setinggi 32 m yang berdiri dengan tangan terbentang di puncak bukit Nho.

Walaupun sekarang pantai Vung Tau sudah agak-agak tercemar pemandangan kapal niaga dan sampahnya, tapi masih ada beberapa potong pantai yang airnya jernih. Geografinya yang berupa pantai landai memanjang dan bukit-bukit hijau membuat pemandangan semakin spektakuler.



Saya tinggal di tepi "Pineapple Beach", yang konon pantai tercantik di Vung Tau. Saking romantisnya, hampir tiap hari ada satu dua pasangan membuat pre-wedding picture di depan apartemen saya. Lucu juga sih, melihat para pengantin dengan kostum heboh sibuk melompat-lompat menghindari air sambil ditonton anak-anak dan penjual kaki lima. Hehehe, demi pose...

Selain udara bersih, gaya hidup di Vung Tau juga super sehat. Karena pantai yang begitu indah dan udara segar, orang-orang selalu berjalan kaki di pagi maupun sore hari (termasuk saya yang biasanya lebih pilih memeluk bantal sambil membayangkan betapa sehatnya olahraga). Buah-buahan dan sayuran berlimpah ruah, belum lagi seafood yang serba segar dan murah.
By the way, siapa bilang seafood meningkatkan kolesterol? Fitnah tuh. Coba cek di http://www.healthcastle.com/cholesterol.shtml

Nah, jadi kapan mampir? Mumpung saya di sini...!

2008-08-21

Vietnam... new home!

Pindah ke Vietnam, pikiran saya sudah dipenuhi rencana jalan-jalan. Buat saya Vietnam adalah negeri yang eksotik, orisinil, dan misterius. Tapi saudara-saudara saya sibuk bersimpati karena mereka punya mindset kalau Vietnam adalah negeri berantakan bekas perang yang di bawahnya bolong-bolong penuh bekas sarang Vietkong. Hehehe, kebanyakan nonton Rambo sih...!

Walaupun nggak tinggal di Ho Chi Minh City (HCMC) a.k.a. Saigon, hampir tiap weekend saya jalan-jalan di kota yang ramah ini. Tempat favorit jalan-jalan saya adalah Dong Khoi, di mana hotel-hotel berbintang ngumpul, diseling trotoar yang dipenuhi turis dan butik sutra serta cendera mata. Harga-harga di sini masih masuk akal (apalagi buat saya yang baru pindah dari Dubai!) dan orang-orangnya ramah sekali.
Sekali saya beli sehelai baju sutra yang ternyata lehernya kelewat lebar dan bikin saya nggak nyaman. Saya datang ke toko tempat saya membeli baju itu, sambil menunjukkan si potongan leher yang kelewat lebar. Dengan penuh ramah-tamah saya disuruh duduk, dan si penjual rela memasang kancing tambahan-- dengan baju masih menempel di badan saya! Dua minggu kemudian ketika saya lewat, dia bahkan masih ingat saya dan menyapa dengan sebegitu excited-nya (shh.. sekarang toko ini termasuk salah satu toko favorit saya..). Tentu saja saya juga sempat menjahitkan Ao Dai, baju tradisional Vietnam yang terkenal itu. Lumayan buat baju baru lebaran...

Sebagai pecinta belanja murah, saya juga disarankan mengunjungi Ben Thanh market yang konon katanya pasar sagala aya. Naik cyclo-lah saya ke sana (cyclo ini ya saudaranya becak lah, tapi cuma muat satu orang saja). Ternyata Ben Thanh mirip banget sama Pasar Beringharjo, jadi saya pun nggak terlalu terkesan malah merutuk (lebih seru Beringharjo ah!)

Selanjutnya, buat bahan melapor ke saudara-saudara saya yang penasaran dengan Vietkong, saya pun 'terpaksa' mengunjungi museum-museum di HCMC. (sebenarnya *pengakuan* saya memang termasuk kepribadian yang membosankan; museum selalu menjadi tujuan saya di mana pun berada).
HCMC punya banyak bangunan bersejarah yang menyimpan sejarah Vietnam yang pahit getir. Ada Reunification Palace, bangunan tempat diakhirinya Perang Vietnam secara simbolik. Lalu, Ho Chi Minh City Museum dan War Remnant Museum; keduanya dipenuhi relik dan foto kenangan perang yang menyakitkan. Di sini kita bisa melihat dan merasakan pedihnya perang Amerika, dari sisi pandang Vietnam (di sini bukan disebut Perang Vietnam tapi Perang Amerika!). Ya iyalah, wong lagi enak-enak di negara sendiri tahu-tahu diserang orang nggak jelas dari mana, pasti melawan dong!

Hal yang paling penting di Vietnam, top on the top of all, adalah makanan Vietnam! Terus terang saja makanan Vietnam super enak dan sehat; masalahnya banyak melibatkan komponen non-halal jadi musti super hati-hati.
Makanan paling populer tentu saja Pho (baca: fe, dengan "e" seperti "e" di kata emas). Pho adalah mi beras yang dimasak dalam kaldu sapi, dihidangkan dengan irisan daging sapi, tauge, kemangi, jeruk nipis, dan bumbu-bumbu misterius yang konon jumlahnya lebih dari 20 macam. Ada juga bermacam-macam sea food yang sepertinya tidak dibumbu apa-apa, tapi ternyata super enak. Belum lagi jajanannya, semuanya serba bikin ngiler deh...

Vietnam is going to be a big story... so there will be more!

Next plan in Vietnam: Vung Tau (Cape St.Jacques: my new home), Hanoi-the capital, Hoi An- for its cultural heritage, Ha Long-for its natural wonder, ........... it's a long list, I hope I'll have time!

2008-06-16

Desert Safari: not for the weak stomached


Kegiatan favorit turis ketika mengunjungi negeri bergurun tentu saja adalah safari ke padang pasir. Pura-puranya mengikuti kehidupan para badui. Cuma, para badui yang dulunya berkeliaran dengan unta sekarang sudah mengganti untanya dengan fancy 4x4 cars (Land Cruiser masih tetap yang paling populer).
Sebenarnya saya pernah bekerja di beberapa lokasi yang terletak di padang pasir (satu setengah tahun lebih!), jadi ide desert safari rasanya kok garing sekali. Tapi karena ibu dan pakde saya pas berkunjung ke Dubai, kasihan juga kalau nggak diajak melihat padang pasir. Jadilah sore itu kami berkendara dengan land cruiser dengan sebuah tour operator, menuju ke padang pasir. Serombongan dengan kami ada tiga orang gadis, yang menilik dari aksen mereka, adalah British. Sebelum berangkat, pakde saya (yang punya reputasi sering mabuk kendaraan bermotor), sudah minum antimo dan berbekal panadol serta kantong plastik. Entah buat apa.. guess! Hahaha...

Sore itu matahari hampir terbenam, padang pasir yang kemerahan memantulkan cahaya sore sehingga kelihatan cantik sekali. Ke mana pun arah mata memandang, puluhan kendaraan 4x4 maupun desert bike sibuk berkeliaran. Lah kok rame di sini ketimbang di mall? Kirain bakalan sepi dan romantis, ternyata padang pasir adalah tujuan favorit para off-roader.

Konon katanya, orang Emirat adalah pengendara desert off-roader yang paling handal. Sedangkan buat yang belum pernah dilatih desert driving maupun punya kendaraan 4x4 yang handal, mendingan nggak usah coba-coba deh. Bayangkan kalau Anda terjebak di tengah padang pasir dengan ban mendelep ke pasir lembut... Pasti ada yang nolongin sih, wong tempatnya rame begini; malu ketahuan begonya itu lho yang nggak tertahankan...


Si sopir mula-mula mengemudi dengan kalem, tapi begitu mobil sudah mencapai bagian tengah gurun yang bergunung-gunung tinggi, mulai deh dia pamer keahlian. Kami dibawa naik turun gundukan-gundukan pasir yang rasanya hampir 75 derajat kemiringan. Yang paling ngeri adalah ketika ia menempatkan mobil di punggung bukit pasir curam dengan posisi melintang, lalu membiarkan mobil melorot di pasir yang lembut. Rasanya sudah yakin kalau mobil bakal berguling! Kami berteriak kencang-kencang tanpa malu-malu....Si sopir pun makin 'panas' dan dia makin menakut-nakuti kami dengan keahliannya.

Lama-lama kok rasanya pakde saya diam saja ya? Saya lihat wajahnya aneh dan pucat, tangannya sibuk mencari kantong plastik, dan akhirnya... hueeeek....!

Kami pun behenti di tempat yang agak landai; pakde saya langsung lari keluar dan muntah-muntah. Tiga orang cewek Inggris itu sibuk menutupi kuping mereka karena geli, sedangkan saya dan Ibu saya sibuk menahan tawa (sadis ya... tapi kocak banget sih suasananya...)

Begitu pakde saya mulai kelihatan tenang, kami pun mulai berfoto-foto dengan latar belakang matahari terbenam dan beberapa ekor unta yang tenang berkeliaran. Perjalanan dilanjutkan, kali ini si sopir mengendara agak jinak, tapi masih tetap mengguncang perut. Pakde saya mulai kelihatan pucat lagi dan merogoh kantong plastik... waduh...

Akhirnya beberapa saat yang menegangkan kemudian (bukan karena desert driving-nya tapi kuatir kalau pakde saya pingsan), kami tiba di camp di tengah padang pasir. Pakde saya langsung disuruh duduk dan disuguhi lemon panas, sedangkan saya dan Ibu saya mencoba naik unta. Di camp yang memang 100% dirancang buat turis ini kita juga bisa berfoto dengan elang (binatang kesayangan penghuni gurun), melukisi tangan dengan henna, berfoto dengan baju khas arab, maupun ikut memasak roti langsung di oven tradisional.

Setelah makan malam dengan barbeque, malam itu ditutup dengan tarian seorang belly dancer (pakde saya sudah nggak kelihatan bekas-bekas mabuknya sama sekali). Ibu saya cuma geleng-geleng heran dengan gaya si penari yang memang provokatif (belly dancer memang biasanya selalu 'menggoda' penonton untuk berpartisipasi dalam tarian), sekaligus kagum dengan tariannya yang memang kelihatan susah sekali (menggoyang pinggul 10 goyang/ detik kan nggak gampang tuh). Secara keseluruhan, nice short trip for tourist deh!

Nah, buat yang punya rencana desert driving, kalau gampang mabuk mendingan nggak usah ya! Sedangkan buat serious tourist yang menghargai keaslian, this isn't for you!

2008-05-26

Food around the world

Mbah putri (nenek) saya bisa dibilang tempe maniac, tiada hari tanpa tempe. Hari ini oseng tempe, besok lodeh tempe, besok lagi rendang tempe... Saya sering dimarahi karena dianggapnya bergaya hidup mewah: suka makan ayam. Nah lo. Setelah lima tahun digembleng tempe, lodeh, dan sayur asem (karena selama kuliah saya tinggal bersama Mbah), ketika harus tinggal di luar negeri rasanya menderita banget.

Awalnya, beberapa bulan saya nggak doyan makan, kalau pun makan cuma demi kesehatan. Ketika sempat ketemu pare di supermarket, rasanya seperti menemukan harta karun. Saya langsung nelpon Ibu saya "Ma, aku malam ini mau bikin oseng-oseng pare!" Rasanya malam itu saya bahagia sekali. Benar-benar kampungan...

Tapi lama-lama, lidah saya tune-up juga. Apalagi dasarnya saya memang tukang makan (bapak ibu saya selalu mengajak saya pergi undangan kawinan, karena saya selalu makan paling banyak di prasmanan; jadi mereka nggak rugi ngasih duit angpao-nya). Sekarang saya sudah doyan macam-macam makanan. Satu hal yang bikin saya masih tetap ragu-ragu mencoba makanan baru di negeri orang adalah kehalalannya. Untunglah, Dubai adalah melting pot dari berbagai negara; jadi di sini kita bisa menemukan segala macam makanan orisinal dari berbagai negara tanpa ragu masalah halalnya. Tips untuk makan enak yang orisinal adalah mengajak teman yang asli dari negara tertentu untuk makan di restoran favoritnya, terus suruh dia memilih...

Thailand adalah sumber makanan enak. Waktu saya ke Thailand saya ngiler melulu, soalnya semua kelihatan enak. Berkat Matima, teman Thai saya yang imut-imut, saya jadi tahu Thai green curry: mirip lodeh tapi lebih berbumbu, pedas, dan enaaaaak sekali. Favorit saya yang lain adalah Crab curry: kepiting dimasak dalam bumbu kari thailand yang ringan, menggigit gurihnya, dan Pla Rad Prik: kerapu goreng kering disiram saus asam manis khas Thai. Lalu tentu saja Tom Yum Goong, sup udang pedas segar yang konon adalah masakan Thai terpopuler di dunia. Saya malah sudah sering mencoba masak sendiri beberapa masakan Thai ini, walaupun rasanya, yah,tebak sendiri deh... hehehe...

Lebanese food adalah makanan terfavorit di dunia arab. Gerai makanan Libanon mungkin ada ribuan di Dubai, mulai dari kelas warung sampai fine dining. Makanan Libanon paling enak menurut saya adalah shish tawook, chicken cubes yang direndam bumbu lalu dipanggang di atas arang, dimakan panas-panas dengan roti arab yang baru keluar dari oven. Oooo...

Makanan Libanon sebenarnya sehat sekali, karena rata-rata dipanggang (bukan digoreng seperti makanan kita) dan dimakan dengan banyak salad sayuran segar. Saya yang nggak pernah doyan salad, jadi nge-fans dengan fattoush (salad sayuran disiram dengan lemon dan minyak zaitun) dan tabbouleh (salad parsley diiris halus). Keduanya, enak sekali dimakan dengan panggang-panggangan Libanon (ayam, sapi atau kambing) plus hommous.

Hommous (perlu dijabarkan detil karena sangat enak) adalah semacam 'colekan', dibuat dari chickpea yang dihaluskan dengan sedikit bawang, lemon, serta tahina (pasta wijen). Saking enaknya sekarang saya benar-benar maniak hommous; makan keripik pakai hommous, mendoan pakai hommous... enak banget deh... (iya.. iya...!)

Selain makanannya, cocktail juice yang selalu dijual di rumah makan Libanon, berupa juice buah kental disusun berlapis di gelas tinggi, juga tidak boleh dilewatkan.

Egyptian food, sebenarnya (menurut saya) mirip-mirip Lebanese food, tapi teman-teman Mesir saya menolak mentah-mentah pendapat ini. Makanan Mesir yang paling terkenal adalah ful dan ta'amiyya. Ful, masakan dari kacang fava rebus, forget about it; saya nggak doyan. Ta'amiyya alias falafel: chickpea dihancurkan dicampur bumbu lalu digoreng, adalah makanan nasional Mesir. Yang ini enak buat ngemil (sambil nyolek hommous..). Falafel sekarang juga terkenal sekali di Eropa dan New York, banyak dijual di pinggir jalan malahan.

Makanan Vietnam; saya baru nyoba sekali terus si Nguyen teman Vietnam saya pindah- jadi nggak pernah explore lagi. Saya baru mencoba Pho, sup bihun khas Vietnam yang, sumpah, enaknya luar biasa. Saking pengennya makan lagi saya sampai craving Pho ini. Karena restoran Vietnam masih belum terlalu banyak, saya mencoba mencari resepnya. Tapi ternyata melibatkan banyak oknum bumbu yang susah, jadi saya nyerah deh.. Konon makanan Vietnam enaknya nggak kalah dengan makanan Thailand dan sekarang semakin populer di seluruh dunia.

Eksperimen saya yang terbaru adalah makanan India. Terus terang saja dari dulu teman-teman saya sering mengajak makan makanan India, tapi saya selalu menolak. Gara-garanya, saya pernah kerja di suatu tempat terpencil yang kokinya terus-terusan menghidangkan masakan India yang nggak enak banget sampai saya trauma (ternyata masalahnya bukan makanan Indianya tapi kokinya!)

Thanks to Uzma, teman saya yang berhasil menyeret saya ke suatu restoran India, lalu memesankan beberapa makanan buat saya, sekarang saya adalah pecinta masakan India! Favorit saya adalah tandoori chicken, ayam panggang yang entah bumbunya apa, tapi warnanya merah dan sarat bumbu, juga berbagai macam kari (ayam maupun kambing) yang semuanya enak. Top of the top adalah cheese naan, roti khas India yang disajikan panas, di dalamnya dilapisi tipis dengan cottage cheese...ngiler deh...

Sayangnya makanan India terlalu sarat lemak dan minyak, jadi berdosa rasanya kalau sering-sering... Seorang teman juga berjanji mengajak mencoba makanan Kerala (salah satu daerah India) yang konon persik plek dengan masakan Padang. Laporan menyusul deh.

Nah, cukup dengan cerita makanan ya... Sekarang saya lapar beneran nih. Ngomong-ngomong, saya baru masak oseng tempe cabe hijau nih. Walaupun rasanya belum seenak bikinan Embah saya, tapi lumayan lah (sshhh, di Dubai ada yang jualan tempe lo). Besok mau bereksperimen bikin gudeg (entah dapat nangka mudanya dari mana, belum tahu). Masakan Indonesia masih paling top deh........!!!

2008-05-24

The Girls: Stress & The City

Saya dan teman grubyak-grubyuk saya tidak punya banyak kesamaan kecuali sama-sama perempuan, sama-sama pendatang di kota ini, sama-sama sering tenggelam dalam pekerjaan, sama-sama in the end of our twenties, dan sama-sama single (wah, ini sih banyak kesamaan kali ya..) Untuk melindungi oknum-oknum, saya terpaksa menyamarkan nama-nama mereka. Tapi deskripsinya kurang lebih akurat...

Fatma, cewek mesir yang juga master nuclear engineering ini, adalah si tomboy teman kesayangan saya. Terutama karena kami sama-sama doyan makan dan nggak bisa clubbing. Kalau ngomong ceplas-ceplos dan lucu setengah mati. Pikirannya selalu ngeres dan karena itu misi utamanya adalah mencari suami part time yang cuma datang hari Kamis (maklum hari lainnya dia sibuk, nggak ada waktu!). Ngerokoknya kuat sekali, dan walaupun saya sudah berkali-kali menasihati dia supaya at least mengurangi, mana mau lah dia dengerin! Saat ini Fatma lagi diet ketat gara-gara habis naik berat badan 15 kilo. Repotnya, dia bersumpah sampai beratnya mencapai normal, dia nggak bakal beli baju baru. Walhasil tiap hari saya melihat dia dengan jilbab, baju, dan jeans yang sama...

Rana, asal Mesir juga, super feminin dan dewasa, walaupun dugemnya rajin, surprisingly solatnya rajin juga. Saat ini dia punya bos yang banyak tuntutan, jadi dia paling sering kena ejekan karena kerja saat weekend ataupun pulang kantor malam-malam.

Maryam, Algerian, perfectionist & classy. Barang-barangnya serba bermerek. Bener-bener teman shopping yang sempurna; soalnya dia selalu belanja gila-gilaan, jadi saya nggak terlalu merasa berdosa kalau belanja gila-gilaan juga, hehehe...

Leena, dari Pakistan, punya chemistry banget dengan Fatma karena sama-sama suka berpikir jorok. Kerjanya dugem melulu, with or without anybody! Walaupun dia paling tua di antara kami, cuma dia yang selalu distop di pintu club, karena dicurigai masih di bawah 18 tahun.

Dari keempat teman saya ini, hobi mereka yang paling menarik adalah sama-sama suka mengutuk laki-laki dari bangsanya sendiri. Fatma sudah bersumpah darah nggak akan kawin dengan orang Arab apalagi orang Mesir, karena menurutnya mereka cemburuan, munafik, dan nggak mau tahu keinginan wanita (Rana mengangguk-angguk sambil menambahkan kalau laki-laki Mesir tukang bohong dan sombong). Leena dengan berapi-api nimbrung kalau jangan pernah kawin dengan laki-laki Pakistan, karena mereka bermuka dua, munafik juga, dan selalu punya double standard. Ia malah menambahkan kalau bisa pingin ganti passport saking eneknya jadi orang Pakistan.
Saya cuma ketawa-ketawa mendengar cerita emosional mereka. Ternyata jadi perempuan Indonesia enak juga, soalnya laki-laki Indonesia baik-baik (sebagian besar lah...)

Si Fatma langsung menyahut kalau dari dulu dia pingin kawin dengan laki-laki Indonesia atau Malaysia, karena terkesan dengan tindak-tanduk mereka yang tengah belajar di Al-Azhar University yang dekat rumahnya. Satu hal yang dia ragukan tentang laki-laki Indonesia atau Malaysia adalah masalah ukuran (..sssh! maksudnya tinggi badan, soalnya Fatma ini lumayan tinggi...hehehe)

Kami berencana traveling ke Maroko dan Spanyol bulan September nanti. Kami sendiri nggak terlalu yakin kalau rencana ini bakal mulus, masalahnya kami semua bekerja dan who knows what comes up. Tapi paling tidak saya dan Fatma (insha Allah) pasti berangkat: kami berencana makan gila-gilaan dan jalan-jalan ke seluruh pelosok Fez, Tangiers, dan Barcelona. That will be FUN!

2008-05-10

Yemen, the forgotten glory

Yaman, atau versi inggrisnya Yemen, adalah salah satu tempat lahirnya kebudayaan tertua di dunia lebih dari empat milenia lalu. Dulu, oleh orang Romawi, Yaman sempat dinamai "Arabia Felix" (Happy Arabia) saking kayanya negara ini dengan hasil dagangnya. Kini, Yaman adalah salah satu negara termiskin di dunia dengan GDP cuma seperempat GDP Indonesia.

Begitu mendarat di bandara Sana'a, ibukota Yaman, saya teringat saat pertama kali menjejakkan kaki ke tempat ini. Airportnya tidak banyak berubah, mirip bangunan puskesmas di desa terpencil. Sana'a-nya sendiri juga masih seperti lima tahun yang lalu: kotor, semrawut, dan jelas menampakkan kemiskinan. Orang-orang berkeliaran dengan pisau terpasang di pinggang dan mengunyah qat (daun yang memiliki sedikit efek narkotik). Uh, kayaknya saya nggak bisa jalan-jalan sendiri nanti malam, nih...

Sayangnya, meskipun Sana'a adalah kota yang luar biasa bersejarah (umurnya sudah lebih dari 2 milenia) dan kaya dengan bangunan antik, traveling ke Sanaa tidak disarankan untuk wanita yang sendirian. Apalagi yang jelas-jelas kelihatan asing kayak saya.
Kebetulan juga baru beberapa hari yang lalu ada peledakan bom di Sanaa, jadi lengkaplah -saya sudah langsung dilarang jalan-jalan.. ihik...

Terpaksa hari itu saya harus cukup puas dengan makan malam bersama teman-teman di sebuah jalan yang dipenuhi restoran di Sanaa. Ternyata lumayan nyaman juga kotanya, walaupun dalam hati saya masih dendam karena tidak bisa melihat-lihat kota kuno yang didaftar dalam UNESCO World Heritage Sites ini.

Besoknya saya terbang ke Mukalla, ibukota Hadramaut. Nama Hadramaut memang bikin merinding, karena artinya "maut telah datang", hiiiii.... Tapi ternyata orang-orang Hadrami (sebutan untuk penduduk Hadramaut) antusias sekali ketemu dengan orang Indonesia. Soalnya, hampir seluruh warga Indonesia keturunan Arab ternyata asalnya dari Hadramaut ini. Salah satu yang paling terkenal ya Ali Alatas. Nah, baru tau kan...? Coba saja google website-nya pemerintah Hadramaut, ada versi bahasa Indonesia-nya lho.

Di Yaman jugalah letak Marib, lokasi sisa-sisa situs kerajaan Saba, konon adalah kerajaannya ratu Balqis yang terkenal itu. Lagi-lagi, semua situs yang sangat menarik ini sulit dijangkau. Selain karena minimnya sarana juga karena situasi keamanan. (Juli-Januari lalu, ada dua serangan bom pada rombongan turis di Marib juga di Hadramaut)
Yah berdoa saja lah supaya Yaman jadi aman, supaya kita bisa belajar sejarah di negeri yang kaya sejarah ini...

Note: gambar di atas diambil oleh teman saya dalam perjalanan kami di Hadramaut. Not my copyright!

2008-05-05

Going to America......!

Pertama kali saya harus pergi ke Amerika adalah sekitar tengah tahun 2002, hanya beberapa bulan sejak kejadian 9/11. Bepergian ke Amerika setelah 9/11 masalah utamanya bukan duit, tapi lebih rumit lagi: masalah visa.

Jadilah setelah 2 bulan menunggu untuk mendapat jadwal interview, saya dengan rapi jali mengantri jam 6 pagi di depan kedutaan Amerika. Melewati berlapis-lapis penjagaan, akhirnya hampir jam 10 siang saya baru bisa masuk ruang wawancara bersama dengan puluhan orang lain. Beberapa pewawancara duduk di balik jendela, sedangkan yang diwawancarai berdiri di depan jendela itu. Gampang sekali menandai antara pelamar yang dapat visa dengan yang tidak dapat visa, karena biasanya yang tidak dapat visa bete-bete semua tampangnya. Seorang ibu-ibu setengah baya malah sempat bicara agak keras "Tolonglah, anak saya ini sudah sepuluh tahun nggak ketemu kakaknya... Masak ditolak terus visanya...?" Si pewawancara tidak berkomentar malah dengan dingin memanggil nomer berikutnya. Waduh, kok gini ya? Saya mulai cemas.

Akhirnya saya ketemu juga dengan si pewawancara. Dari balik jendela, si pewawancara menanyakan beberapa pertanyaan trivial tanpa melihat ke arah saya, cuma sekali-sekali melirik "What are you going to do? Where? Why?..."
Dan... ia pun mengecap formulir saya. Yeah, I got the visa! Saya yakin banget ini ada kaitannya dengan tampang innocent saya...

Tapi, begitu mendarat di Amerika, ternyata tampang saya sama sekali nggak innocent. Setiap kali melihat paspor Indonesia saya, saya langsung disuruh ngantri di barisan spesial (barisan teroris apa ya..). Setiap kali ada 'random check' di airport, saya pasti kena. Masalahnya, saya masih harus ganti pesawat domestik lagi, jadi setelah bolak-balik kena 'random check' dari ujung gundul ke ujung jempol kaki, saya sudah gondok banget.

Setelah perjalanan panjang dibumbui dengan rasa jengkel, saya sampai di kota tujuan. Langsung melompat naik ke atas taksi, saya melihat di spion depan ada hiasan berupa tulisan "Allah" dalam huruf Arab.
"You are moslem?" tanya saya pada si supir.
"Yes. I am Palestinian" katanya mantap.
Walah.

Teringat kenangan di atas, ketika baru-baru ini saya harus pergi ke Amerika lagi, saya langsung males. Orang Amerikanya sih rata-rata baik, tapi perjalanannya itu loh... Namun karena untuk urusan kerjaan, rasanya nggak ada pilihan lain. Visa lebih mudah didapat, malah saya langsung diberi visa 5 tahun, tapi perjalanan masih tetap dibumbui banyak penggeledahan dan pemeriksaan.
Pulangnya saya sempat seperjalanan dengan seorang teman warganegara Kanada tapi berdarah Siria (tampang dan namanya pun jelas arab). Ternyata berjalan bersama dia benar-benar merugikan, kena cek melulu!
Ketika saya tanya apakah dia memang selalu digeledah habis-habisan seperti ini, dia menjawab kalau dalam perjalanan memasuki Amerika, malah sempat diinterogasi di ruang tersendiri sampai hampir ketinggalan pesawat. Pertanyaannya melibatkan "Nama kakek? Pekerjaan kakek? Di mana saja kakekmu pernah tinggal?"

Waduh, kalau saya ditanya begini ya mana bisa jawab.......!

2008-04-28

Newark: negeri dongeng...

Ketika diberitahu kalau saya harus pergi Newark untuk urusan kantor, saya langsung sebal. Soalnya, kata teman saya, kota ini membosankan sekali.

Pagi itu saya tiba di stasiun Newark dari London. Langsung curiga kalau kata-kata teman saya benar soalnya stasiunnya kecil banget (pokoknya kalau dibandingin stasiun Gombong, menangan Gombong deh...) Dari kesan pertama, kota kecil yang terletak di Nottinghamshire county ini memang bukan kota yang glamour.

Menuju ke hotel, taksi membawa saya melewati padang-padang luas yang ditutupi bunga kuning cerah. Wow..... Si supir taksi menyebutkan kalau "ini musim semi yang panas, harusnya bunga-bunga itu belum muncul". Saya cuma nyengir sambil menutupkan jaket rapat-rapat ke atas kulit tropis saya yang mengkerut kedinginan...

Ternyata, begitu memasuki daerah pemukiman, Newark adalah kota kecil yang cantik sekali. Rumah-rumahnya berdinding bata merah berjendela kotak kecil-kecil, dengan cerobong asap mengepulkan asap tipis. Beberapa rumah dindingnya dirambati tanaman, beberapa rumah menggantungkan kotak-kotak berisi bunga di depan jendela. Persis bayangan saya tentang negeri dongeng. Hampir yakin kalau si Topi Merah pasti tinggal di dekat-dekat sini....


Kalau setiap negeri dongeng punya istana, Newark punya kastil. Newark Castle, meskipun sudah berupa reruntuhan, tapi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kota Newark. Dibangun sekitar abad ke-12, kastil ini pernah menjadi kediaman penguasa, pabrik uang, bahkan penjara dan pertahanan perang.
Dari kastil ini kita bisa langsung turun ke pinggiran Sungai Trent yang sudah di-paving sehingga enak sekali untuk jalan-jalan. Dari situ kita bisa melihat padang-padang luas dengan sapi yang sedang merumput, angsa-angsa berenang, pokoknya romantis sekali...

Tidak jauh dari situ (lha kotanya memang cuma seiprit), ada juga gereja St.Mary Magdalene yang tidak kalah tua karena dibangun hampir saat bersamaan dengan kastil. Dulunya kota Newark adalah market town tempat para petani dari daerah sekitar menjual hasil panen. Dan tepat di sekitar gereja St.Mary Magdalene inilah market place alias pasarnya.

Kesimpulan saya, Newark adalah tipikal small traditional English town yang sangat cantik, lengkap dengan penduduknya yang sopan dan ramah, meskipun terhadap orang asing.

Malam itu, sambil makan malam di rumah makan Thailand di pojok jalan dekat market place, saya mengirim sms ke teman saya, protes, karena ternyata Newark cantik sekali. Dia malah membalas "Yah, kalau lu lihat semua kota kecil di Inggris, semuanya ya kayak Newark itu... Ngebosenin deh!"

Semuanya seperti negeri dongeng begini? Wow!

2008-04-26

Kuala Lumpur: just another big city

Kuala Lumpur, buat saya 'is just another town' jadi saya nggak terlalu motivated buat membahasnya. Masalahnya, hampir separuh waktu tahun lalu saya habiskan di KL karena urusan pekerjaan. Saking bosennya saya sudah nggak pernah ke mana-mana lagi di KL. "Tapi kan nggak semua orang pernah ke KL?" kata teman saya. Iya deh....

Persis seperti Jakarta, KL selalu panas, lembab, dan hujan sepanjang tahun. Bedanya, KL nggak pernah kebanjiran (atau jarang? rasanya kok belum dengar). KL juga lebih teratur, ada mass rapid transport system yang bisa diandalkan (train), dan jujur saja lebih nyaman ketimbang Jakarta.

Beda dengan Jakarta, KL selalu dibanjiri oleh turis Arab di musim liburan tengah tahun. Mereka biasanya tetap tenang memakai baju tradisional mereka plus membawa anak-anaknya berenteng-renteng. Maklum, Malaysia memang tujuan favorit keluarga Arab karena citranya sebagai negara tujuan wisata 'baik-baik' (bandingkan dengan Thailand...)

Makanan di KL, bisa ditebak hampir sama dengan makanan Indonesia. Jadilah buat saya yang kebetulan reside di suatu negara yang makanannya kelewat beda sama makanan Indonesia, tiap kali saya di KL pasti makan 'ngamuk'.
Untuk first-timer, wajib mencoba nasi lemak (yang ternyata idem ditto sama nasi uduk... hehehe...) Atau nongkrong di 'mamak', kurang lebih mirip warung kopi atau warung tegal, tapi buka 24x7. Makanannya Indo banget bahkan nggak jarang yang jualan memang orang Indo. Para expat (baca: westerner) yang datang ke KL, biasanya juga dibujuk mencoba duren. Kalo buat saya sih, ah, di kampung juga ada.....

Sedangkan kalau buat shopping, saya sarankan di Jakarta atau Bandung deh, jangan ke KL. Lha orang KL aja rame-rame ke Bandung buat belanja kok malah orang Indon belanja ke KL?

Popular places to visit in KL & around:

1- Petronas Tower
Tiket untuk naik ke tower dibagikan gratis tiap hari, tapi jumlahnya terbatas. Jadi datang pagi-pagi supaya bisa melihat KL dari Menara Kembar tertinggi di dunia ini (nggak sampai ke puncak sih, cuma ke sky-bridge yang menghubungkan kedua menara ini). Ada apa di dalam? Ya nggak ada apa-apa, cuma cerita basa-basi pembangunan si tower ini dan tembok....

2-Taman Tasik Perdana: Bird park, Butterfly park, Taman Bunga Raya
Lumayan enak nih buat jalan-jalan, setelah bosen sama pemandangan kota, kecuali Taman Bunga Raya (=bunga sepatu, bunga nasional Malaysia). Taman ini agak garing, isinya macam-macam bunga sepatu warna-warni (mirip kebun emak saya di belakang rumah) dan bunga anggrek ...yah...

3- Bukit Bintang
Asyik buat jalan-jalan karena banyak restoran dan dekat dengan banyak pusat perbelanjaan.

4- Chinatown
Buat turis yang mau belanja murah (ya murah lah, wong palsu). Tapi hati-hati deh, di sini penjualnya galak-galak, nggak terlalu ramah. Disarankan belanja di Pasar Uler atau Glodok aja deh.

5- Genting
Kalau Jakarta punya Puncak, KL punya Genting. Di sini ada fun park (agak kurang terawat.. suram muram deh), kereta gantung (lumayan buat lihat pemandangan), dan kasino. Di luar kasino ada poster yang menasihati kalau judi itu tidak terpuji dan sudah banyak orang yang jadi korban judi...So..? persis kayak naruh label peringatan di bungkus rokok, hehehe...mana ada yang baca...

Yah, kayaknya saya kok mencemarkan nama KL banget yah..? Aduh maaf deh, bukan maksud hati pakcik. Cuma jujur (hehehe). Kalau mau lebih 'flavorful' mendingan ke Malaka atau Penang aja deh...

2008-04-24

Oman: Musandam, the rock and the sea

Salah satu tempat paling menawan di Oman adalah Musandam, sering disebut 'the norway of Arabia', karena landscape-nya mirip fjords di negara skandinavia itu. Di sinilah laut terperangkap di antara gunung-gunung batu yang tinggi dan terjal, membentuk teluk sempit dengan pemandangan spektakuler.

Hari itu saya berkendara keluar Dubai menuju ke Musandam. Baru sebentar keluar dari kota Dubai, pemandangan berubah drastis dari metropolis yang dikelilingi padang pasir berdebu dan membosankan, menjadi padang pasir yang cantik kemerahan. Saat itu masih musim sejuk di Dubai, jadi padang pasir kemerahan itu dipenuhi kendaraan 4x4 yang sedang offroad, desert motorcycles, juga unta-unta yang selalu terlihat keheranan.
Tidak lama kemudian, padang pasir kemerahan menghilang dari pandangan dan pemandangan diganti oleh savana-savana datar serta gunung-gunung batu di cakrawala. Puluhan keluarga asyik berpiknik, ada yang sekedar duduk-duduk di atas tikar, ada yang membawa tenda, bahkan generator. Bukan rahasia lagi kalau orang Arab menyukai piknik dan barbeque; begitu cuaca membaik mereka pasti akan langsung berduyun-duyun keluar.

Satu jam berkendara dari Dubai, saya pun tiba di perbatasan Oman. Saya beruntung karena check-point tidak terlalu penuh (konon di hari-hari libur tertentu kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar melintasi perbatasan).
Lepas dari check point, udara laut yang segar dan pemandangan pantai yang luar biasa indah langsung sudah terlihat. Gunung-gunung batu membentuk tebing-tebing tinggi dengan berbagai corak dan warna, langsung bertemu dengan laut yang biru dan bersih tak bercela. Burung-burung camar bertebangan dan berteriak ramai. Wah, jalannya saja sudah bagus, apalagi Musandam-nya?

Saya pun tiba di Khasab, kota yang terletak di jantung Musandam. Kotanya sendiri kecil sekali, lebih mirip kampung. Suasananya sangat damai, tenang, dan tradisional; benar-benar sangat kontras dengan Dubai yang cuma 2 jam jauhnya. Saya pun menghabiskan sore dengan menikmati matahari terbenam di salah satu teluknya Khasab.

Esoknya saya bangun pagi sekali supaya tidak ketinggalan matahari terbit. Saya pun berkendara ke salah satu titik tertinggi di Khasab dan sibuk memotret pemandangan yang luar biasa indahnya. Kemudian saya menuju ke salah satu restoran lokal, membeli roti dan keju ala India (yes, Indian! soalnya banyak sekali pendatang India di sini dan cuma mereka yang rela bangun pagi-pagi sekali untuk buka toko). Sarapan pun saya nikmati di pantai dengan pemandangan yang fantastis, ditemani beberapa ekor kambing yang siap menghabiskan apapun yang saya sisakan ... apa lagi yang bisa lebih mewah dari ini....

Saya pun berputar-putar sebentar di Khasab yang pagi-pagi sudah dipenuhi kambing berjalan tenang di sana-sini. Saya juga sempat mengunjungi museum Khasab, yang tampaknya jarang sekali dikunjungi orang. Museum ini dulunya benteng sekaligus tempat tinggal. Cuma ada dua orang yang bekerja di museum ini, penjaga pintu sekaligus guide dan penjaga toko cendera mata (yang ternyata suami istri, hehehe... enak betul..). Mereka ramah sekali dan jelas sangat excited menerima kedatangan saya. Bahkan saya boleh masuk gratis.

Saat mengisi bensin (yang ternyata lebih murah ketimbang di Dubai), seorang local menyarankan saya untuk pergi ke Khor Al-Najd. Khor artinya air yang terperangkap daratan.
Karena tidak punya rencana, saya pun langsung menuju Khor Al-Najd. Sebenarnya salah satu kegiatan favorit turis di Musandam adalah menaiki kapal untuk melihat lumba-lumba. Namun karena pagi itu begitu dingin menggigit, ide untuk berangin-angin di atas kapal kurang menarik hati saya.
Mengikuti petunjuk si local, saya berkendara sedikit keluar Khasab, lalu menaiki sebuah bukit terjal yang kering dan tidak menarik. Saya mulai bertanya-tanya, bener nggak nih? Begitu mencapai puncak, saya melihat dua mobil parkir dan beberapa orang duduk di puncak. Saya pun ikut parkir dan berjalan ke puncak. Di situlah saya pertama melihat Khor Al-Najd, pemandangan yang sedemikian indah sehingga menjadikan saya speechless. Ternyata al-Najd adalah teluk kecil berair biru kehijauan dan sangat tenang, diapit oleh bukit batu terjal di ketiga sisinya. Saya pun bergabung dengan orang-orang, terpaku, terdiam, menikmati keindahan Khor Al-Najd.


Puas menikmati Khor Al-Najd dari atas, saya pun berkendara turun bukit menuju teluk cantik itu. Saya berfoto-foto dan bermain air sebentar di situ, sambil merencanakan kunjungan selanjutnya. Besok kalau datang lagi, saya berencana berkemah dan menginap di sini serta membuat api unggun...!

2008-04-18

Saudi Arabia: Makkah


Bersamaan dengan jemaah umrah yang lain, tujuh kilometer dari Madinah kami tiba di "Abyar Ali" (sumur Ali). Diberi nama demikian karena konon sepupu Nabi Muhammad, Ali bin Abu Thalib, menggali sumur di tempat ini saat Nabi melaksanakan haji. Abyar Ali atau sering disebut "Byr Ali" ini dijadikan tempat "miqat": di mana para jemaah haji atau umrah mulai mengenakan pakaian ihram dan memulai ritual umrah/haji.

Ihram adalah pakaian yang harus dikenakan jemaah haji/umrah selama melaksanakan rukun ibadah tersebut. Untuk lelaki, pakaian ihram adalah dua helai kain putih tidak berjahit yang menutupi bagian bawah hingga di atas mata kaki dan bagian atas dengan bahu kanan terbuka. Tutup kepala dan alas kaki yang menutupi jari serta mata kaki tidak diizinkan. Untuk wanita, pakaian ihram adalah pakaian longgar yang hanya menampakkan wajah dan kedua telapak tangan; menutupnya tidak diizinkan.
Setelah mulai ber-ihram dan berniat melaksanakan ibadah, di sinilah larangan-larangan ibadah mulai berlaku hingga berakhirnya ritual. Memotong kuku, rambut, memakai wewangian, bercumbu (apalagi selebihnya..!), berkata kotor, dan berbantahan adalah dilarang keras. Ide dasarnya adalah kita melaksanakan ibadah ini, menghadap Tuhan, dengan kondisi suci dan sederhana tanpa memandang ras dan kedudukan.

Sepanjang perjalanan ke Makkah, kami terus mengucapkan talbiyah. Ucapannya dalam bahasa Arab, namun bila diterjemahkan kurang lebih "Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, wahai Tuhan yang tidak ada sekutu baginya. Segala pujian adalah milik-Mu, nikmat adalah dari-Mu, dan kekuatan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu!"

Kami mencapai Tanah Haram saat malam sudah larut. Dinamakan Tanah Haram, karena tanah ini disucikan; diharamkan untuk mencabut tumbuhan, membunuh binatang, juga berperang. Pendeknya: "inviolate zone". Semua membisu. Untuk saya yang pertama kali berada di sini, saat itu benar-benar mencekam (orang tua saya sudah pernah berhaji dan tinggal di Makkah lebih dari 2 minggu, jadi buat mereka mungkin lebih terasa seperti nostalgia).

Menjelang tengah malam kami pun tiba di Masjid al-Haram, jantung kota Makkah, tempat di mana Ka'bah berada. Saat memasuki masjid dan melihat Ka'bah yang berdiri tegak di tengahnya, saya sudah tidak mampu menahan air mata. Sedemikian sederhana, namun sedemikian agung. Tidak ada lukisan, atau ukiran, atau makam orang suci di sana. Inilah rumah Tuhan yang telah dilindungi oleh-Nya. Saya yang sedemikian hina dan berlumur dosa ini telah dikaruniai waktu, harta, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan untuk mengunjungi rumah yang agung ini. Saya yang begitu kotor ini telah diundang oleh-Nya! Air mata saya terus mengalir dan saya mulai merasa malu pada beberapa orang yang mulai memandang saya dengan heran. Namun linangannya sungguh tak tertahankan lagi.

Kami langsung memulai umrah kami dengan ber-tawaf, mengelilingi Ka'bah berlawanan arah jarum jam sebanyak tujuh kali. Dilanjutkan dengan sholat tawaf, bersyukur atas selesainya tawaf di masjid yang mulia ini. Lalu kami melanjutkan dengan sa'i, berjalan antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali (jalan antara kedua bukit ini sudah berupa lorong marmer ber-AC yang berada di dalam Masjid Al-Haram itu sendiri). Setelah melakukan perjalanan sepanjang 3 km lebih sedikit ini, ritual umrah pun berakhir dengan tahalul, memotong rambut. Mau gundul juga boleh, tapi yang disyaratkan adalah minimum tiga helai rambut.

Lega dan bahagia, kami pun melanjutkan berzikir di Masjid Al-Haram menunggu waktu subuh tiba. Ketika subuh berakhir dan kami kembali ke hotel, barulah terasa betapa lelahnya badan ini.
Namun rasa lelah itu tampaknya begitu mudah terhapus. Hanya dua setengah hari di Makkah, kami sempat dua kali melaksanakan ritual umrah. Saya juga selalu menyempatkan untuk tawaf sebelum melaksanakan sholat wajib, yang berarti hampir 5 kilometer setiap harinya. Meskipun tidur kami paling banter cuma 4 jam sehari (sayang rasanya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, saat kita berada begitu dekat dengan masjid suci ini!), kami tidak merasa lelah maupun sakit. Benar-benar luar biasa.

Di Masjid Al-Haram, ada beberapa tempat yang dianggap istimewa karena konon doa di tempat tersebut tidak akan ditolak: salah satunya adalah antara Ka'bah dan Hijr Ismail, dinding berbentuk bulan sabit di barat daya Ka'bah; juga Multazam, dinding Ka'bah antara pojok Ka'bah yang bertempel Hajar Aswad dengan pintu Ka'bah. Salah satu hal yang juga disukai (karena pernah dilakukan Nabi Muhammad) adalah mencium Hajar Aswad, batu yang konon berasal dari surga.
Karena ribuan pengunjung semuanya ingin berdoa di tempat yang mustajab tersebut, termasuk juga ingin mencium Hajar Aswad, suasana dekat tempat-tempat tersebut sudah seperti zona perang. Liar! Sungguh menyedihkan, karena seharusnya justru dalam ibadah ini menyakiti sesama adalah terlarang.
Namun entah bagaimana, saya justru diberikan kemudahan: saya dapat memasuki Hijr Ismail dan berdoa di sana dengan leluasa, bahkan dapat mencium Hajar Aswad. Sepertinya hampir mustahil, karena yang berdesakan di sana hampir semuanya laki-laki dengan badan besar dilengkapi semangat perang untuk berdesakan. Lagi-lagi hadiah yang tak terkira dari Tuhan.

Saat saya harus meninggalkan Mekkah, hati saya benar-benar sangat sedih. Satu permintaan terus saya sebutkan: semoga saya diizinkan kembali lagi untuk melaksanakan haji.
Tanah Makkah ini begitu kering, tandus, tanpa keindahan apapun dalam pengertian umum. Namun di sinilah rumah peribadatan yang tertua telah didirikan, dan ke sinilah jutaan umat, yang ingin mempersembahkan hadiah kepada Tuhan Yang Esa, datang dengan segala daya dan upaya.

Saudi Arabia: Madinah

Sore itu kami tiba di King Abdul Aziz Airport, lapangan udara di Jeddah yang biasa digunakan sebagai tempat mendaratnya ribuan, bahkan jutaan, jemaah haji dan umrah, sebelum bertolak ke Madinah atau Makkah.
Meskipun kami sempat bermalam di Jeddah, tapi tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kota ini. Sebagai salah satu kota terbesar di negara kaya raya Saudi Arabia, Jeddah bisa dibilang mengecewakan. Airportnya sempit dan tidak efisien, kotanya didominasi oleh bangunan tua dan jalan yang tidak terurus (meskipun ada juga bagian kota yang sangat modern dan bersih). Kami sempat berbelanja di Balad, pasar terkenal dekat corniche, membeli jalabiyya hitam untuk saya, adik perempuan saya, dan ibu saya. Mengenakan jalabiyya ternyata sangat nyaman, kita bisa mengenakan jeans atau t-shirt atau apa saja, lalu tinggal menyampirkan jalabiyya di atasnya and ready to go! Cuma jelas saja jalabiyya ini tidak praktis dikenakan di Indonesia, karena meskipun sama-sama panas, negeri kita punya kelembaban sangat tinggi yang bisa membuat jalabiyya basah kuyup dan walhasil jadi berbau.

Hari berikutnya kami berangkat ke Madinah lewat jalan darat. Perjalanan sejauh lebih dari 400 km melewati padang batu yang tandus itu memakan waktu sekitar 4 jam. Kami tiba di Madinah lewat pukul sembilan malam. Tanpa menyia-nyiakan waktu kami segera bergegas menuju Masjid Nabawi (yang hanya 100m dari hotel kami) dan sholat di sana.

Masjid Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad tidak lama setelah kepindahannya bersama umat muslim ke Madinah, setelah diperlakukan dengan keji oleh para penyembah berhala di kota kelahirannya Makkah. Saat itu Madinah masih bernama Yatsrib.
Masjid Nabawi awalnya hanya bangunan sederhana dengan tiang-tiang batang kurma dan dinding lumpur. Kini masjid ini telah diperluas konon 100 kali ukuran aslinya dan mampu menampung setengah juta jamaah. Makam Nabi dan dua sahabatnya yang tadinya berada di luar masjid, kini berada di dalam masjid akibat perluasan ini. Makam ini sentiasa dijaga ketat supaya tidak ada yang berdoa pada makam.

Dua hari berikutnya di Madinah, tidak ada hal lain yang kami lakukan selain menikmati ibadah di Masjid Nabawi. Kami selalu datang paling lambat 1 jam sebelum waktu sholat tiba, karena beberapa waktu sebelum azan berkumandang pintu masjid telah disesaki manusia dan mencari tempat yang lega untuk bersembahyang sudah mustahil. Saat jeda antara Maghrib dengan Isha, di antara mengkaji Quran dan berzikir, para wanita juga berbagi kurma atau kopi.
Saya bertemu dan ngobrol dengan muslim dari berbagai belahan dunia namun para peziarah lebih didominasi oleh orang Turki dan Indonesia (yang lumayan dihormati di sana). "Indunisii?" adalah pertanyaan umum setelah melihat wajah Asia saya, disusul dengan senyum hangat (bahkan pernah seorang wanita tua Turki memaksa saya mencium tangannya, hehehe...)

Di Masjid Nabawi yang selalu bersih dan wangi ini (skuadron cleaning service-nya tidak pernah luput membersihkan setiap sudut, juga mengepel dan bahkan mencuci lantai masjid dengan sabun), para jemaah diorganisir dengan baik, sehingga meskipun jumlahnya puluhan bahkan ratusan ribu, ibadah terasa begitu tenang dan khusuk.

Namun, ada juga bagian Nabawi yang selalu padat dan disesaki pengunjung siang malam: Ar-Rawdah. Ar-Rawdah adalah area di antara mimbar Nabi Muhammad dengan rumah beliau, yang pernah beliau sebutkan "adalah bagian dari taman surga". Konon, doa yang dipanjatkan di sini tidak akan ditolak oleh Allah. Karena alasan inilah, orang berdesakan untuk memasukinya, lalu sholat dan berdoa di sana. Masalahnya, ukurannya lumayan sempit sedangkan ratusan orang berebut memasukinya. Untung saja di pintu masuk ada beberapa polisi yang mengatur "lalu lintas" bahkan mengusir orang-orang yang terlalu lama berada di Ar-Rawdah supaya yang lain bisa berganti memasukinya. Syukurlah, jalan masuk laki-laki dan wanita juga dibedakan, sehingga saya tidak perlu berdesakan dengan para laki-laki yang biasanya lebih berbau ketimbang wanita, hehehe....

Ketika kami meninggalkan Madinah, rasa sedih menggelayuti hati seakan berpisah dengan kekasih yang begitu dicintai. Namun, kami juga tak sabar untuk segera tiba di Makkah!

Saudi Arabia: Umrah, a religio-romantic journey

Kerinduan hati untuk menapak tilas jejak Nabi Allah memanggil kami untuk melaksanakan umrah. "Kami", karena perjalanan ini saya lakukan bersama keluarga saya.

Merancang perjalanan yang bisa mempertemukan waktu Bapak saya (yang masih bekerja), ibu saya (sudah pensiun dini sejak tahun lalu), adik perempuan saya (bekerja), adik laki-laki saya (kuliah), dan saya sendiri yang juga bekerja, sudah merupakan tantangan. Tanpa panggilan Allah rasanya tidak mungkin kami akhirnya bisa berangkat bersama.

Untuk yang masih clueless tentang apa sebenarnya umrah ini, berikut ceritanya...
Umrah, atau haji kecil, adalah pelaksanaan ritual keagamaan mengikuti perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar. Berbeda dengan haji, umrah bisa dilaksanakan kapan saja.
Tata caranya sendiri dicontohkan oleh Nabi Muhammad:
- tawaf, tujuh kali mengelilingi Ka'bah (Baitullah, "rumah Tuhan", bangunan sederhana berbentuk kubus di tengah Masjid Al-Haram, yang konon dibangun Nabi Adam dan dibina kembali oleh Nabi Ibrahim)
- sa'i, berlari kecil tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah; mengingat larinya Hajar untuk mencari air buat bayi kecilnya Ismail, selepas ditinggal sendirian di lembah kering Makkah oleh suaminya Ibrahim atas perintah Allah)
- diakhiri dengan tahallul, mencukur rambut, melambangkan diperbaharuinya hidup

Buat saya, perjalanan ini bukan cuma religius tapi juga romantis.
Saya mencintai Tuhan, dan saya akan mengunjungi rumahnya!
Saya mencintai Nabi Muhammad, dan saya akan mengunjungi kotanya (Madinah)!
Saya mencintai Nabi Ibrahim, dan saya akan mengunjungi tempat ia pernah berdiri saat membina kembali rumah Tuhan hingga konon telapak kakinya tercetak (maqam Ibrahim)!
Saya mencintai sejarah, dan saya akan mengunjungi salah satu bangunan tertua di dunia (Ka'bah)!
Hati saya berdebar dan kerinduan itu semakin menyesakkan hati...

Labbaik Allahumma Labbaik!
Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu!

Turkey: Antalya

Antalya terletak di antara pegunungan Taurus dan laut Mediterania, jadi bisa dibayangkan betapa indahnya tempat ini.
Meskipun Antalya sendiri sangat kaya peninggalan bersejarah, tapi saya sudah kecapekan jalan-jalan. Agak susah bercerita tentang Antalya, soalnya sebagian besar waktu saya habiskan tidur dan makan (resort-resort di Antalya didesain all-in, makanannya juga enak-enak sekali...). Sempat juga sih bersafari dengan jeep 4x4 melintasi pegunungan Taurus, melihat kecantikan alam Antalya dan desa-desanya.

Now, that's real vacation!


Turkey: Istanbul

Turki sebenarnya adalah negara terakhir yang saya kunjungi dalam perjalanan saya ke Eropa. Namun saya agak tidak rela kalau Turki disebut Eropa, karena sebagian wilayah Turki masuk dalam wilayah Asia. Namun, apalah artinya benua? Bukankan benua Eropa, Asia, dan Afrika sebenarnya hanyalah satu daratan raksasa?

"Jika bumi adalah satu negara, maka Istanbul adalah ibukotanya" demikian kata Napoleon Bonaparte.

Istanbul berdiri bangga dengan sejarahnya yang pernah menjadi ibukota negara-negara besar dunia. Ia pernah dinamai Byzantium dan Konstantinopel saat menjadi ibukota kerajaan Romawi. Lalu menjadi Istanbul setelah Turki ditaklukkan Ottoman pada abad ke-15. Istanbul juga menikmati posisi yang unik, sebelah kakinya berdiri di benua Eropa (sisi Thracia) dan sebelah kakinya di benua Asia (sisi Anatolia), dipisahkan dengan selat Bosphorus di tengah-tengahnya.

Mengunjungi Istanbul berarti mengunjungi Hagia Sophia. Monumen simbolik yang sayangnya kurang terawat ini, awalnya ketika didirikan pada Abad ke-5 adalah sebuah gereja. Ketika Istanbul diambil alih oleh Ottoman tahun 1453, gereja ini dialihfungsikan menjadi masjid. Setelah Turki dikuasai oleh pemerintahan sekuler tahun 1923, Hagia Sophia diubah menjadi museum.

Karena sejarahnya ini, Hagia Sophia adalah tempat unik di mana kita bisa menyaksikan ada mimbar imam yang di atasnya terdapat lukisan Maria dengan Jesus (lukisan ini masih utuh karena orang Ottoman tidak merusaknya melainkan menutupnya dengan plaster). Saya sih antara kagum dan sedih, sungguh sayang tempat ini malah cuma jadi tontonan bukan tempat ibadah...

Tidak jauh dari Hagia Sophia terletak Masjid Biru, nama populer dari Masjid Sultan Ahmed. Dipanggil Masjid Biru, tidak lain karena interior masjid yang didominasi keramik dan cat warna biru. Lalu ada juga Suleymaniye Mosque, yang dibangun oleh Suleiman the Magnificent, konon untuk menyaingi Hagia Sophia. (Di kedua masjid ini, lampu gantung yang menerangi masjid digantungi dengan telur-telur burung unta, katanya sih untuk mencegah sarang laba-laba. Nah, silakan dicoba di rumah...)

Tempat yang wajib dikunjungi selanjutnya adalah Istana Topkapi, istana kediaman keluarga kerajaan Ottoman dari pertengahan abad ke 15 hingga abad ke-17. Istananya sendiri tidak terlalu mewah, tapi pemandangannya yang lepas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, benar-benar spektakuler.

Istanbul juga tempat belanja yang mengasyikkan, karena harga di sini bisa dibandingkan dengan Jakarta. Barang-barangnya unik, orisinal (tidak semuanya made in China, hehehe) dan harganya sangat terjangkau; Turki termasuk negara 'murah'. Meskipun kaya dengan sumber alam dan orang-orang yang cerdas, Turki sempat terhantam krisis ekonomi yang sedemikian parah hingga dalam kurun 1996-2001 nilai tukar Turkish Lira melemah hingga 15 kali lipat! Tahun 2005, Turki mengenalkan mata uang baru, New Turkish Lira (hehehe, nggak kreatif ya...) yang nilainya 1 juta kali nilai mata uang yang lama. Jadi, kalau di tahun 2004 kita bisa membeli sandal jepit seharga 2 juta Lira, di tahun 2005 cukup 2 Lira saja. Ngomong-ngomong, 2 juta Lira di tahun 2004 itu nilainya kurang lebih 14 ribu rupiah. Nah lo, ada juga ya yang lebih parah dari Indonesia...(jangan bangga..!)

Salah satu tempat yang menyenangkan untuk jalan-jalan di Istanbul, terutama karena suasananya yang orisinal, adalah Kapalicarsi (grand bazaar). Sebagai turis yang wajib membawa oleh-oleh, saya juga membeli coffee set khas Turki, Turkish sweets, dan jaket kulit dengan kualitas sangat bagus di sini. Harga sangat reasonable. Para penjualnya juga sangat ramah, bahkan pakai acara menyuguh teh segala, sehingga kadang kita harus melarikan diri sebelum diangkat anak (hehehe...).

Meskipun Istanbul sangat menarik, saya sudah agak kecapekan jalan-jalan. I needed a vacation from my vacation, and that's why I was heading to Antalya!

Europe: Rome

Untuk para pecinta sejarah, Roma (Rome) adalah open air museum terbesar di dunia. Untuk pecinta makanan, siapa yang tidak kenal dengan Italian food. Untuk para pecinta hidup, Roma adalah jantung Itali: tempat segala keindahan dinikmati, to the maximum! Huh, baru membayangkannya saja saya sudah deg-deg-an....

Roma konon dibangun 753 tahun sebelum Masehi, jadi kurang lebih sudah berumur 2760 tahun. Dari Amsterdam, ke kota purba inilah perjalanan saya selanjutnya. Saya memilih naik Easy Jet (low cost carrier-nya Eropa) dari Amsterdam ke Milan, lalu melanjutkan ke Roma dengan kereta.

Day 9

Saya tiba pagi itu di stasiun kereta Termini yang ternyata tidak jauh dari hotel yang saya pesan on-line sebelumnya. Hotel ini juga tidak jauh dari Piazza della Repubblica, salah satu piazza (ruang terbuka di kota) yang terkenal di Roma dengan basilika Santa Maria degli Angeli e dei Martiri (panjang banget..), yang sebagian didesain Michaelangelo, di salah satu sisinya.

Karena waktu sudah lumayan siang dan saya belum punya rencana apa-apa hari itu, saya lalu menyewa scooter untuk mengitari Roma, in style.. (mengikuti gaya Audrey Hepburn di film Roman Holiday, hehehe) Saya pun dengan pe-de langsung memacu scooter dengan berbekal sebuah peta di tangan.

Jalan-jalan di Roma tidak diaspal melainkan dilapisi batu-batu yang membuatnya sangat unik. Sepanjang jalan, mata saya tidak lepas menemukan bangunan-bangunan kuno maupun klasik, semuanya masih ditinggali bahkan dijadikan apartemen. Bunga-bunga aneka warna menggantung dari balkon, restoran-restoran berjejer di trotoar jalanan, dan orang-orang dengan gaya super stylish maupun yang jelas-jelas backpacker tourists berseliweran di mana-mana.

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya menyimpulkan kalau saya cuma muter-muter di satu tempat karena bertemu satu bangunan besar yang itu-itu juga. Akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di piazza depan bangunan itu.

Dari membaca contekan (Lonely Planet Guide to Europe), barulah saya tahu kalau bangunan besar itu adalah Monument de Vittorio Emanuele II, didirikan di awal abad ke-20 untuk menghormati raja pertama Italia bersatu. Menurut saya sih bangunan ini lumayan cantik. Namun karena desainnya yang terlalu mencolok dibanding bangunan sekitarnya, juga pendiriannya yang sempat menelan sebagian dari situs bukit Palatine yang bersejarah, banyak yang sinis bahkan menyebutnya "kue pengantin" atau malah "mesin ketik".

Selesai makan siang, saya mengambil kesimpulan bahwa pizza paling tidak enak ternyata saya rasakan di sini. Saya juga mengambil kesimpulan kalau es krim di Itali rasanya tidak bisa disamakan dengan es krim di bagian dunia mana pun-- bahkan tidak seharusnya disebut es krim. Rasa dan teksturnya magical, pilihan rasanya juga luar biasa banyaknya. Pantas saja kalau italians tidak mau menyebutnya es krim, mereka menyebutnya gelato. Because they are not the same! (sejak itu, di Roma saya makan es krim, eh, gelato, lebih dari lima kali sehari. Bahkan Wall's pun rasanya berbeda di sini... sugesti mungkin ya...)

Puas mencoba beberapa rasa gelato, saya pun memacu scooter menuju bangunan paling terkenal di Itali. Apalagi kalau bukan Colosseum.

Persis di balik distrik modern yang sangat sibuk di Roma, berdirilah bangunan berusia hampir dua millenia ini. Colosseum, nama aslinya Amphitheatrum Flavium, fungsi aslinya mungkin mirip dengan stadion pertunjukan. Seperti dipopulerkan oleh Hollywood, Colosseum dulunya menjadi tempat pertunjukan gladiator di mana manusia diadu dengan binatang buas. Konon orang kristen awal yang dulunya dianggap musuh negara, juga dihukum mati di sini dengan perantara binatang buas. Karena inilah, setiap hari Paskah, Paus memimpin prosesi Via Crucis (jalan kesedihan) ke arah Colosseum.

Ternyata, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, Colosseum lebih mirip dengan reruntuhan (yang diiklankan dengan baik ke seluruh dunia). Bagian luarnya sudah separuh runtuh dan bagian dalamnya sudah nyaris tak berbentuk. Kalau dihitung-hitung, masih banyak roman amphitheatre yang lebih utuh di bagian dunia lainnya. Ibaratnya, masih banyak penyanyi yang lebih bagus suaranya dari Madonna, tapi semua orang mengakui siapa yang paling terkenal!

Day 10

Setelah ber-scooter di hari pertama di Roma, hari kedua saya bergabung dengan para turis lainnya untuk mengikuti guided tour keliling Roma.

Kami mulai memasuki lorong-lorong sempit di Roma. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Trevi Fountain, air mancur antik paling terkenal di Roma (gambar kanan bawah). Di sini konon kalau kita melempar koin, kita akan kembali ke Roma. Jadi semua orang pun melempar koin ke sini, termasuk saya, karena tidak ada yang menolak kembali ke kota yang begitu menawan ini.


Dari Trevi Fountain, kami lalu dibawa ke salah satu landmark Roma yang tidak kalah terkenal: Pantheon (foto kanan atas). Pantheon yang dibangun oleh kaisar Agrippa, awalnya dimaksudkan sebagai kuil pemujaan dewa-dewa Romawi. Setelah Kristen menjadi agama resmi kerajaan Romawi, pada abad ke-7 Pantheon diubah menjadi gereja. Bangunan ini sangat terkenal karena masih terpelihara baik, dan juga karena menggunakan desain yang luar biasa rumit. Kubah betonnya, yang konon terbesar di dunia, tidak disemen namun mampu menyangga beratnya sendiri yang sekitar 5000 ton selama hampir dua milenia. Bayangkan betapa hebatnya ilmu sipil orang Roma kuno ini, terlebih hingga kini 'resep beton' kubah Pantheon masih misterius.

Kami lalu melanjutkan ke Piazza Navona untuk melihat Fountain of the Four Rivers (Fontana dei Quattro Fiumi....$%#*@!), yang sering disebut sebagai karya terbaik Bernini (gambar kiri atas). Empat sungai yang dilukiskan di sini adalah Nil: mewakili Afrika, Danube: mewakili Eropa, Gangga: mewakili Asia, dan Rio de la Plata: mewakili Amerika. Jangan kecewa, Bengawan Solo atau Kapuas belum sempat dijelajahi oleh si Bernini ini.

Perjalanan diteruskan menelusuri jalan-jalan kecil yang cantik. Kami berjalan melintasi Via dei Condotti yang dipenuhi dengan butik-butik desainer Itali paling terkenal. Tersiar kabar kalau Valentino (buat yang belum pernah dengar.. hehe... dia ini desainer Itali terkenal..) pernah mencoba maju ke pengadilan supaya McDonald's membatalkan pembukaan gerainya di jalan bergengsi ini. Tentu saja dia kalah....

(Sambil melewati butik-butik Hermes, Ferragamo, Bvlgari, dan kroni-kroninya yang memasang label ratusan hingga ribuan dolar untuk tiap item-nya, saya memandang celana jeans yang saya beli di Matahari waktu ada diskon 20%. Kayaknya nggak kalah keren tuh, hehehe...)

Kami pun tiba di Piazza di Spagna, tempat Spanish Steps yang terkenal itu (foto kiri bawah). Berupa barisan tangga lebar yang berpuncak di gereja Trinita Dei Monti, Spanish steps terbentang hingga ke air mancur Barcaccia yang merupakan bagian Piazza di Spagna. Kanan kirinya dihiasi bunga Azalea warna-warni. Pemandangannya memang enak, jadi ratusan orang duduk-duduk di situ dengan berbagai aktivitas. Cuma di sini dilarang makan, jadi saya pun tidak berlama-lama di situ karena perut sudah bergeriyut tidak karuan.

.
Setelah mengistirahatkan kaki beberapa saat dan makan siang dengan risotto seafood, saya melanjutkan sendirian ke Palatine Hill konon merupakan awal sejarah Roma. Konon di Palatine Hill-lah letak gua Lupercal, di mana legenda menyebutkan dua pendiri Roma, Romus dan Romulus, dipelihara oleh serigala betina. Meskipun cerita ini lebih dekat ke mitos, yang jelas Palatine Hill dipenuhi dengan reruntuhan bersejarah.

Mengunjungi Palatine membutuhkan buku panduan dan imajinasi yang tinggi, soalnya semuanya sudah dalam bentuk reruntuhan. Untuk westerners yang menyadari di sinilah kebudayaannya lahir, harusnya sangat menarik. Tapi buat saya agak membosankan...

Day 11

Pagi itu saya merencanakan cara lain untuk menikmati Roma: mengendarai Smart. Mobil kecil dua penumpang favorit Eropa, hemat energi, dan rendah emisi, benar-benar cara paling hijau dan hemat (sewanya murah) untuk menikmati jalan-jalan sempit di Roma.

Tujuan pertama adalah negara dalam negara di Roma yang cuma seluas 44 hektar dan dihuni 800 orang, tapi punya kedaulatan sendiri dan pernah menjadi tempat nasib dunia diputuskan. Apalagi kalau bukan Vatikan. Di sinilah Basilika St.Peter dan Sistine Chapel yang terkenal itu berdiri, demikian juga apartemen Paus. Vatikan juga memiliki 'swiss guard' yang terkenal dengan seragam uniknya, prajurit pribadi Paus yang memang khusus direkrut dari kalangan katolik Swiss.

Basilika St.Peter yang berumur 5 abad ini boleh dimasuki siapa saja, asal berpakaian sopan (no short, mini skirt, or sleeveless). Arsitekturnya benar-benar luar biasa indah, dilengkapi dengan patung-patung orang suci dan lukisan-lukisan indah. Desainnya melibatkan artis-artis barat terkenal seperti Bernini, Michaelangelo, dan Raphael. Bahkan saya sempat melihat sebuah prosesi katolik yang tengah berlangsung, dipimpin oleh beberapa pendeta. Tentu saja karena bukan penganut katolik, saya tidak terlalu tahu, namun bisa merasakan suasana religiusnya.

Dengan Smart yang luar biasa irit bensin dan imut-imut, saya pun menghabiskan sore itu ke setiap sudut Roma, termasuk duduk-duduk di tepian sungai Tiber (Fiume Tevere) yang legendaris. Masih banyak tempat menarik di Roma yang wajib dikunjungi... mungkin nanti di kunjungan kedua...

Europe: Amsterdam

Belanda, Netherlands, negeri sempit yang cuma dihuni 16 juta orang,bandingkan dengan populasi Jabotabek yang 23 juta, tidak bisa dianggap enteng. Meskipun kontroversial dalam hal etika sosial (mengizinkan prostitusi, perkawinan sejenis, bahkan mengisap ganja), Belanda juga termasuk 10 negara terkaya di dunia, dengan ekspor hasil pertanian terbesar ketiga di dunia. Fakta paling mengiris hati, tentu saja penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung ratusan tahun. Kayak apa sih, orang-orang ini?

Day 6

Dengan kereta cepat yang dioperasikan Thalys, perjalanan Paris-Amsterdam hanya memakan waktu 4 jam. From the heart of Paris to the heart of Amsterdam- tanpa pengecekan gila-gilaan seperti naik pesawat-tanpa harus check in 2 jam sebelumnya di airport yang selalu di luar kota.. oh, oh, I love trains!

Amsterdam Centraal station menyambut saya dengan suara hiruk pikuk dan desakan manusia. Keluar dari stasiun, suasana hiruk-pikuk makin terasa. Di jalan raya yang tidak bisa dibilang lebar, mobil, sepeda, trem, dan pejalan kaki tumpah ruah tanpa jalur yang jelas. Belum lagi kanal-kanal yang membelah kota, dilewati oleh kapal-kapal beraneka rupa. Wow, saya langsung punya crush pada kota ini!

Saat makan siang tiba, benar saja kata orang kalau Amsterdam adalah tempat paling oke buat orang Indonesia. Di sini banyak sekali restauran Indonesia, mulai dari kelas warung sampai kelas fine dining. Di belakang hotel yang saya tinggali, ada warung bubur ayam Bandung. Di sebelah hotel juga ada restauran mewah yang menyajikan 'rijsttafel' (aneka makanan Indonesia disajikan dalam piring-piring kecil seperti masakan padang). Mmm...

Sore dan malam itu saya habiskan dengan berjalan kaki mengelilingi Amsterdam, lalu menyusuri kanal-kanalnya dengan kapal. Amsterdam memiliki bangunan bersejarah terbanyak di Eropa di pusat kotanya, yaitu melebihi jumlah 7000 bangunan bersejarah. Meskipun demikian, hanya bangunannya yang kuno, infrastruktur pendukungnya semua serba canggih. Benar-benar kota kuno yang super modern.

Day 7

Esok paginya, saya menaiki bis menuju ke Keukenhof, taman bunga terbesar di dunia, yang terletak di Lisse. Konon sekitar tujuh juta bunga ditanam di taman ini.
Saya beruntung bisa mengunjungi Keukenhof di hari terakhir taman ini dibuka. Karena Belanda adalah negeri empat musim, Keukenhof hanya dibuka hingga akhir musim semi, karena di musim yang lain taman bunga ini pastilah lebih mirip taman daun!

Sesampainya di Keukenhof, saya benar-benar terpana. Taman ini luar biasa indahnya, dengan bunga warna-warni (yang didominasi tulip) membentuk karpet-karpet menutupi seluruh permukaan taman. Bahkan salah satu anggota rombongan, seorang laki-laki dengan gaya agak preman, terlihat sangat terpana, hingga saya ingin tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya.

Saya menghabiskan waktu hingga hampir sore di taman ini, berjalan mengitari taman dengan ratusan bunga mekar di setiap sudut dan harum samar yang menggantung di udara, termenung melihat angsa-angsa yang berenang di sungai jernih dengan latar belakang pepohonan dan bunga beraneka warna. Oh, benar-benar secuil surga...

Malam itu saya kembali ke Amsterdam dan berniat belanja oleh-oleh. Di toko souvenir, bolak-balik saya melihat "Amsterdam survival kit" yang ternyata sekantong kecil ganja. Nggak saya beli, sih. Mau diapain? Diseduh kayak teh? Akhirnya saya cuma membeli oleh-oleh default, kaos dan keramik Delft kecil. No survival kit was bought, hehehe.

Day 8

Hari terakhir di Belanda, saya menuju ke Madurodam, kota miniatur yang terletak Scheveningen, Den Haag. Meskipun tergolong baru, didirikan pertengahan abad ke-20, kota miniatur ini termasuk salah satu atraksi favorit di Belanda dan konon sudah menarik 10 juta pengunjung.

Madurodam didesain sebagai miniatur dengan skala 1:25, benar-benar imut-imut dan menggemaskan. Selain bangunan-bangunan yang umum ditemukan di kota-kota Belanda, ada juga miniatur pabrik, pelabuhan, oil-rig dan airport Schiphol. Anak-anak berlarian dengan gembira di sela-sela bangunan kecil ini, berlagak seolah-olah raksasa...



Sore itu saya sudah mengepak barang dan terbang ke Itali. Buat saya, surprisingly, Amsterdam adalah kota yang lebih menarik ketimbang London dan Paris. I'll definitely be back someday.

Europe: Paris

Day 3

Mendarat di Paris pagi menjelang siang, saya langsung disambut dengan kemacetan yang luar biasa di jalanan. Hotel yang saya pesan lewat internet, meskipun namanya sangat romantis, ternyata lebih mirip hotel melati. Okay-lah, no problem, I'm going to go around anyway, kata saya dalam hati.
Saya pun turun ke bawah, sarapan, membaca koran, dan langsung menemukan berita terheboh hari itu: Paris sedang strike! (pemogokan adalah kegiatan rutin di sini, cuma kok ya pas saya di Paris....) Masalahnya, yang mogok adalah pekerja transport umum, jadi otomatis semua pelayanan transport publik terhenti.

Saya pun bertanya pada resepsionis, "What transport I should take?"
"Well, mam, you can not take anything. Undergrounds, buses, everything stops!"
"How about taxies?"
"They are also part of the strike"
"What if I rent a car?"
"That will be a nightmare, because today everybody is taking their cars. Streets are congested and traffic jams are everywhere"
"So what can I do?"
"Nothing, just stay in the hotel" kata si resepsionis setengah tidak peduli.

Pemecahan yang sama sekali tidak membantu! Tak lama kemudian, seseorang memberitahu saya kalau French dinobatkan sebagai orang-orang paling tidak friendly di Eropa....Hmm, no comment...

Tentu saja saya tetap memutuskan untuk keluar hotel. Saya langsung berjalan kaki menuju Eiffel yang memang hanya sekitar 1 km dari hotel. Jalanan lengang, tak ada kemacetan. Di tengah jalan, saya sempat melihat patung Liberty, serupa dengan Liberty di New York yang memang hadiah dari Perancis untuk Amerika. Hanya yang ini lebih kecil karena memang 'her little sister'.

Eiffel. Landmark Paris yang sangat terkenal; simbol romantisme, kecantikan, keindahan Paris. Begitu melihatnya secara langsung, saya tersadar: inilah hasil marketing yang sukses! Eiffel, paling tidak buat saya, terlihat agak gloomy, bahkan kotor dengan banyak pengemis berteduh di bawahnya. Namun demikian saya tentu saja tetap naik ke atas Eiffel lalu berfoto-ria dengan latar belakang kota Paris di pagi hari.

Tidak terkesan, saya pun tidak ingin lama-lama di sini. Saya melanjutkan dengan tur menggunakan bis double-decker terbuka (yang ternyata tidak ikut mogok). Pertama-tama ke Les Invalides, kompleks bangunan yang berisi museum dan monumen militer termasuk makam Napoleon Bonaparte. Lalu Place de la Concorde, square terbesar di Paris dengan sebuah obelisk granit setinggi 23 m yang diambil (atau dicuri?) dari kuil Luxor di Mesir. Selepas Revolusi Perancis, di sinilah para bangsawan yang dianggap bersalah, termasuk Louis XVI dan Marie Antoinette, dihukum penggal dengan guillotine.

Selanjutnya, masih dengan double-decker bus, saya menuju ke Notre-Dame de Paris, katedral gotik berumur lebih dari 800 tahun yang menjadi salah satu landmark Paris. Seperti layaknya gereja katolik, di sini banyak terdapat patung dan lukisan yang indah. Salah satunya adalah lukisan Maria yang menjadi ikon gereja ini (Notre Dame berarti "our lady", merujuk kepada Maria) serta patung Joan of Arc, pahlawan wanita Perancis yang dihukum mati oleh Inggris dengan alasan kemurtadan (heresy) yang kemudian dijadikan santa 490 tahun setelah kematiannya.

Malam hari itu saya berjalan-jalan di Champs-Elysees, avenue yang konon paling bergengsi dan termahal di dunia, bersaing dengan New York's Fifth Avenue. Jalan yang cuma sepanjang 2 km ini, dibatasi oleh Place de la Concorde di timur dan Arc de Triomphe di barat, dipenuhi toko-toko bergengsi plus kafe-kafe dan bioskop. Belanja di sini jelas tidak menarik buat saya, pertama karena harganya terlalu mahal, kedua karena sebagian besar barang-barang itu bisa saya dapatkan di Beijing atau Jakarta seperseratus harga di sini... hehehe...

Day 4

Pagi itu saya mulai, french style, di sebuah Boulangerie & Patissierie dekat hotel. Secangkir kopi dan quiche bayam paling enak yang pernah saya rasakan, huh.... benar-benar sarapan yang luar biasa.

Tujuan pertama hari itu adalah Museum Louvre. Meskipun sudah terkenal, museum ini menjadi lebih terkenal lagi sejak dijadikan lokasi opening scene dalam novel Dan Brown yang menghebohkan dunia, The Da Vinci Code. Memasuki entrance Louvre, kesan pertama yang saya rasakan adalah perpaduan antara arsitektur klasik (bangunan Palais du Louvre yang dibangun abad ke-12, aslinya didesain sebagai benteng) dengan arsitektur modern (piramid gelas yang dijadikan jalan masuk Louvre).

Louvre memiliki lebih dari 380,000 objek, dengan koleksi lukisan yang sangat kaya dan menarik. Di antaranya karya-karya Rembrandt, Titian, Rubens, dan tentu saja yang paling terkenal adalah lukisan karya Leonardo da Vinci: the Monalisa.
Saya menghabiskan waktu hingga sore di museum ini. Koleksi kebudayaan barat museum ini benar-benar sangat menarik. Namun ternyata, si Monalisa yang terkenal itu cuma lukisan yang kecil dan biasa banget deh....

Setelah makan siang , saya melanjutkan menuju ke Versailles, tempat istana monarki Perancis. Meskipun hari itu para pekerja transport masih mogok, namun untungnya pemerintah Paris menjalankan beberapa transport darurat secara gratis.

Chateau de Versailles mulai dibangun tahun 1142 di bawah Louis XIII, dimaksudkan sebagai kediaman pribadi Raja dan didanai secara pribadi pula. Namun dalam perkembangannya, istana ini semakin diperluas besar-besaran dengan dekorasi yang sangat mewah dan taman-taman luas dengan berbagai tanaman eksotik; tapi pendanaannya semakin mencurigakan. Kini istana yang sudah menjadi museum ini, beserta taman-taman yang mengitarinya, mencapai ukuran yang spektakuler: 1060 hektar.

Mengelilingi istana yang sedemikian indah dan mewah ini, saya bisa memahami bagaimana revolusi Perancis bisa meletus. Di saat rakyat hidup dalam kemiskinan, para aristokrat Perancis justru hidup dalam kemewahan yang berlebihan: dekorasi emas, perak, dan kristal, lantai dan dinding marmer, karpet dan hangings sutra, lukisan dan patung karya seniman nomor satu dunia, serta taman-taman yang dihiasi air mancur dan patung-patung mewah...

Saking indahnya tempat ini, saya benar-benar kehabisan kata-kata untuk melukiskannya. Untuk mengikuti virtual tour ke Versailles: http://www.chateauversailles.fr/.

Day 5

Pagi itu saya menuju the destination of all destinations in Europe: Europe Disneyland! (hehehe) Karena jalur kereta yang melayani Disneyland terpengaruh pemogokan, saya terpaksa naik taksi dan membayar lumayan mahal. Tapi demi Disneyland, I'd do anything!

Disneyland sebenarnya tidak jauh beda dengan Dufan, tentu saja dalam skala dan varietas lebih besar, serta lebih terpelihara. Yang paling berkesan di sini adalah pengalaman ketika saya naik roller-coaster Star War yang merupakan indoor roller coaster, gelap melintasi 'bintang', 'galaksi' dan 'planet' asing. Begitu keluar dari labirin itu, terus terang saja perut saya terasa tidak enak. Tapi salah satu penumpang, yang notabene memakai suite dan dasi (bolos kerja nih ye), langsung muntah-muntah begitu turun dari kereta. Yaks....

Setelah memuaskan my inner child, sore itu saya pun harus meninggalkan Paris untuk menuju ke negara berikutnya. Au revoir, Paris!

2008-03-05

Europe: London

Pagi itu, setiba dari Heathrow airport, udara musim semi yang sejuk menyambut saya di King's Cross station. Agak celingak-celinguk, siapa tahu Harry Potter pas ada di sini, di Platform 9-3/4 sebelum berangkat ke Hogwarts...?

( By the way, Platform 9-3/4 benar-benar ada: dinding bata merah antara Platform 9 dan 10, dibuat spesial untuk memenuhi permintaan khalayak. Konon para turis sering memadati area di depan dinding bata ini untuk berfoto. Yang lebih fanatik bahkan nekat mendorong trolley mencoba menembus dinding ini! Note: if you are not a Harry Potter lover, you might be confused with all of this. Man, buy a Harry Potter book and read it! This is 21st century and people read Harry Potter!! :D )

Hotel yang saya pesan lewat internet terletak dekat Trafalgar Square, jadi saya pun melanjutkan perjalanan dengan tube (=kereta bawah tanah) ke sana. Pagi itu Trafalgar Square sudah ramai. Ada yang ngobrol, sarapan, atau sekedar see-and-be-seen (=ngeceng), ditemani ratusan burung merpati yang sepertinya melakukan kegiatan yang sama dengan manusianya.

Day 1

London pagi itu saya mulai dengan mengunjungi landmark-nya: Big Ben. Setelah berfoto di depan jam besar berumur 160 tahun yang ternyata oh-cuma-begini-toh?, saya melanjutkan dengan Houses of Parliament yang berada tepat di belakang Big Ben.
Bangunan yang sering juga disebut Westminster Palace dan merupakan tempat pertemuan parlemen Inggris ini adalah salah satu bangunan paling cantik yang pernah saya lihat. Sayangnya, tur ke dalam Houses of Parliament hanya dibuka selama dua bulan di musim panas saat parlemen sedang reses. Jadi saya harus puas dengan berfoto-foto di luar saja.
Masih di area yang sama, tepat di depan Houses of Parliament, adalah gereja paling terkenal di Inggris: Westminster Abbey. Berumur sekitar 950 tahun, di sinilah para raja dan ratu Inggris dimahkotai, juga tempat keluarga kerajaan dimakamkan (termasuk beberapa orang terkenal yang "diningratkan": Isaac Newton dan Charles Dickens).

Dari Westminster Abbey, saya berjalan menyusuri St. James Park dengan tujuan istana Buckingham. Di tengah jalan, saya berpapasan dengan serombongan pengawal berkuda yang juga menuju ke istana Buckingham. Kontan saja saya (dan para turis lainnya) bergegas mengikuti mereka karena kami tidak mau ketinggalan atraksi pergantian penjaga istana Buckingham.
Setiap pagi, saat pengawal istana berganti shift, mereka keluar berbaris dan memainkan lagu-lagu. Jelas sekali hal ini menarik para turis dan mereka tahu hal itu. Buktinya, selain lagu kebangsaan Inggris, mereka juga 'menghibur' para turis dengan memainkan lagu "Killer Queen"-nya Queen dalam pergantian pengawal itu dengan wajah seserius persiapan perang!

Perjalanan saya lanjutkan ke British Museum. Tentu saja, menggunakan tube. Hal yang sangat menyenangkan di London, jaringan kereta bawah tanah sudah menghubungkan hampir setiap sudut di London. Walhasil, perjalanan sangat mudah dan murah (karena kita bisa membeli daily ticket yang bisa digunakan untuk perjalanan ke mana saja dalam sehari). Jalanan juga menjadi lega, sehingga berjalan kaki menjadi urusan yang sangat menyenangkan: tidak ada debu atau asap knalpot berlebihan.

Siang itu saya makan siang di great court British Museum, di bawah kanopi gelas yang konon merupakan square tertutup terluas di Eropa. Meskipun (seperti dibilang banyak orang) makanan Inggris benar-benar tidak enak, saya tidak bisa complain dengan suasana senyaman itu. British Museum, salah satu museum terbesar di dunia, pertama dibuka tahun 1753, memiliki koleksi sebanyak 13 juta objek (tentu saja tidak semuanya dipamerkan!). Konon, untuk benar-benar menikmati British Museum kita membutuhkan tidak kurang dari satu bulan.

Koleksi British Museum meliputi setiap sudut dunia: Romawi dan Yunani, Mesir dan Sudan, Mesopotamia, Assyria, Middle East, Cina, Asia Tenggara,... Salah satu koleksi British Museum yang paling terkenal adalah the Rosetta Stone yang merupakan kunci penerjemahan huruf hieroglif Mesir kuno (ada yang masih ingat pelajaran sejarah es-em-a?)

Di sudut Indonesia, kita bisa melihat beberapa patung kuno dari candi-candi di Indonesia dipamerkan di sini. Rasanya campur aduk juga melihat kekayaan budaya kita justru dipamerkan di luar negeri (mungkin kalau dipamerkan di negeri sendiri malah tidak ada yang peduli).

Malamnya, saya menonton opera modern "Phantom of the Opera"(opera yang ditulis Andrew Lloyd Weber yang orang Amerika dan pertama kali dipopulerkan di Broadway), di teater dekat Trafalgar Square. Saya membeli tiket termurah seharga 40 pound karena teman saya agak sinis dengan ide nonton opera dan cuma mau membayar tiket termurah (yang juga nggak murah-murah amat...). Namun ternyata, pertunjukannya benar-benar spektakuler sehingga kami keluar dengan agak menyesal karena duduk di kursi termurah yang butuh menjulurkan leher panjang-panjang untuk melihat panggung...

Day 2

Pagi itu saya memutuskan untuk menjadi turis sejati dengan mengikuti tur menggunakan double decker bus mengelilingi London. Namun beberapa saat kemudian saya agak bosan, lalu memilih untuk turun dan mingle dengan londoners di salah satu tempat paling ramai di London: Piccadilly Circus (tidak ada sirkus di sini, circus di sini berarti 'circle' atau 'lingkaran'). Dipadati toko-toko, restauran, dan orang-orang yang berdesakan, saya bisa melihat bahwa londoners sekarang bukan berarti british. Restauran cina, india, dan arab nampak di mana-mana, demikian juga dengan orang-orang dengan berbagai warna kulit dan ras. Bahkan konon, makanan paling populer di London sekarang bukan lagi fish & chips tapi chicken tikka.

Sorenya saya mengambil tur menyusuri sungai Thames. Menyusuri sungai yang sedemikian bersihnya, melewati Tower Bridge, House Parliaments, dan juga London Eye; melintasi sejarah yang dibangun selama ratusan tahun bahkan lebih dari satu milenium, saya benar-benar menyadari betapa beruntungnya London memiliki pemerintah yang begitu mengelola kotanya dan melindungi peninggalan bersejarahnya. Bahkan sungai Thames yang tanpaknya begitu alami ini pun sebenarnya tidak luput dari campur tangan science yang sophisticated. Akibat global warming, permukaan laut semakin meningkat dan juga mempengaruhi ketinggian sungai Thames. Di muara sungai Thames, telah dibangun dam canggih yang bisa dibuka-tutup, yang diregulasi sedemikian sehingga mencegah naiknya permukaan sungai yang terlalu tinggi. Tanpa dam ini, London akan mengalami banjir dari waktu ke waktu seperti Jakarta.




Menjelang matahari terbenam, saya pun sudah duduk di dalam London Eye. Persis terletak di tepi selatan sungai Thames, London Eye adalah ferris wheel tertinggi di Eropa (135 meter). Inilah cara paling nyaman menikmati pemandangan London dari atas, setiap kapsulnya ditutup dinding tembus pandang.