2008-02-01

Lost in Translation: Beijing

Saya di Beijing cuma dua hari untuk urusan pekerjaan, jadi waktu sightseeing benar-benar terbatas. Setiap waktu luang harus dipergunakan semaksimal mungkin.

Pukul setengah delapan pagi itu saya sudah bersiap naik taksi menuju ke Forbidden City. Teman saya sudah mengingatkan, lalu lintas di Beijing sangat padat di pagi hari, jadi saya harus berangkat sepagi mungkin supaya bisa selesai mengitari Kota Terlarang sepuasnya.
"Forbidden city," kata saya pada si sopir taksi. "#*&@%}+ ?" katanya.
Saya langsung menyodorkan secarik kertas bertuliskan Forbidden City dalam alfabet Cina kepada si sopir. Ia langsung mengangguk dan tancap gas. Huh! Untung sebelum berangkat saya sudah minta concierge hotel menuliskan tujuan saya di kertas...

40 menit kemudian saya sudah berdiri di gerbang belakang the Forbidden City. Entah kenapa si sopir taksi menurunkan saya di sana, tapi ketimbang harus berdebat pakai bahasa Cina mendingan saya ngalah deh. Saya pun berjalan menuju pintu masuk, melintasi jalan di samping kanal yang romantis sekali dengan dinding merah Forbidden City menjulang di depan saya (oh, thank you Mr Driver, now I know why!)


Forbidden City yang merupakan kediaman Kaisar Cina selama 500 tahun sejak tahun 1400, terakhir kali ditinggali oleh Kaisar Puyi hingga tahun 1912. Sejak itu, kompleks seluas 7.2 kilometer persegi ini lebih merupakan sumber rebutan hingga akhirnya menjadi situs warisan budaya UNESCO tahun 1987.
Salah satu yang paling menarik di Forbidden City, buat saya, adalah bagian istana yang diperuntukkan untuk wanita (keputren, bahasa Jogjanya..). Diawali dengan pintu gerbangnya yang diberi tanggul setinggi sekitar setengah meter, konon supaya hantu kesandung dan tidak jadi masuk (masih ingat kan, hantu Cina di film Hongkong yang melompat-lompat?). Wah ini mah nggak bakal menangkal hantu Jawa, soalnya hantu Jawa melayang...
Hal menarik selanjutnya adalah tulisan besar yang terpampang di dinding salah satu bangunan yang berarti "doing nothing" i.e. "nganggur"- menunjukkan sebegitu terkungkungnya para putri Cina ini jaman dulu... Ada juga semacam bukit karang buatan yang di puncaknya berdiri sebuah pondok kecil, konon tempat para selir yang kangen pada desanya menyendiri untuk melihat gunung di mana desanya berada.
Walaupun hal di atas mengesankan kalau wanita Cina zaman dulu tidak punya daya, ada juga satu tempat menarik yang agak menjungkir- balikkan fakta ini: sumur sempit tempat Kaisar wanita Cixi menenggelamkan selir saingannya... hmmmm....

Karena kota terlarang ini sebegitu luasnya, saya harus berjalan setengah berlari untuk menuntaskannya sebelum jam satu siang (jam tiga sore saya harus ada di kantor untuk presentasi..!) Ada museum jam, museum perhiasan, museum giok, lumayan menarik tapi sebagian besar displaynya agak gloomy.

Akhirnya, saya berjalan keluar Kota Terlarang menuju Lapangan Tiananmen yang terkenal itu. Di dinding merah Kota Terlarang yang menghadap Tiananmen, foto raksasa Mao Zedong tersenyum memandang metropolitan Beijing yang sibuk. Langit masih abu-abu dan ratusan sepeda masih berseliweran di Tiananmen....

Malam itu saya melanjutkan perjalanan ke Maliandao, "jalan teh", tempat puluhan toko menjual teh bermacam jenis, kualitas, dan harga. Walaupun sudah sempat "riset" sebentar di internet, pusing juga harus memilih di antara puluhan jenis teh: teh hijau , teh merah, teh krisan, teh mawar,teh hitam, oolong... semuanya masih dibagi dalam berbagai jenis, kualitas, dan origin. Saya dijamu berbagai macam teh yang dibuat di depan saya (termasuk teh bunga yang merekah ketika diseduh). Setelah menawar dan memilih, dengan bahasa manusia dipadu bahasa monyet alias bahasa isyarat, akhirnya saya kembali ke hotel(sambil menahan "panggilan alam" gara-gara terlalu semangat mencicipi semua teh yang disuguhkan) membawa seperempat kilo teh hijau melati, teh merah, dan dua tea set cina yang super cantik. Semuanya sudah ditawar sampai puas!

Malam selanjutnya, saya menutup kunjungan ke Beijing dengan aktivitas yang paling menggiurkan di Beijing: shopping! Tujuan: the super famous Silk Market.

Silk Market menyambut semua pengunjung dengan ramah. Para penjual sibuk merayu dengan bahasa Inggris, Itali, Melayu... impressive! Tidak terlalu heran sih, karena konon tempat ini dikunjungi 20,000-60,000 orang dari berbagai negara tiap harinya. Di sini kita bisa menemukan tas, sepatu, berbagai produk kulit, segala macam garmen, cendera mata khas Cina, perhiasan, sampai golf clubs dan peralatn olah raga lainnya. Semuanya, tentu saja, "original copy"...

Setelah berjalan bebarapa saat, barulah saya menyadari sistim menawar di tempat ini. Kalau di Malioboro kita sering dinasihati untuk menawar setengah atau sepertiga harga, di sini aturannya adalah "tawarlah seberapa saja". Contohnya, sebuah sweater cashmere ditawarkan seharga 800 RMB (sekitar $112) lalu saya tawar 60 RMB. Si penjual juga tidak marah ditawar sebegitu rendah, dia cuma beraksi manja "You are joking, lady! But because you are very beatiful, I will give you special price, 600 RMB!" Hehehe, masih mahal cik... Akhirnya kami setuju harga 70 RMB, setelah penawaran alot plus acara menarik-narik tangan saya supaya tidak meninggalkan gerainya.

Tapi secara umum, para penjual-penjualnya baik dan selling sekali. Malam itu setelah gempor bercampur puas menjelajah pasar raksasa ini, saya berjalan setengah terseok membawa barang belanjaan. Sepatu Puma, sandal, tas kulit Tod's dan dompet Louis Vuitton (yang saya pilih dari katalog!), jaket Mango, cashmere Banana Republic, kaos, berpuluh macam cendera mata khas Cina, plus satu tas traveling tambahan (karena saya yakin koper saya nggak muat, hehehe). Semuanya bermerek, original copy!

Di atas taksi, saya masih berpikir, apakah saya mendapat good bargain atau salah satu korban rayuan Silk Market? Belum selesai lamunan saya, tiba-tiba mata saya terpaku pada pintu salah satu club yang kami lewati. Tertulis jelas dengan lampu berkedip "No nuclear weapon allowed"


"Hei, are they serious or joking?" tanya saya pada si supir taksi "don't they mean No Fire Weapon?"

Si supir melihat ke arah club yang saya tunjuk, lalu menjawab dengan serius,

"#&>^@#*$$!"

Saya mengangguk dengan serius juga. Oh, I like this city!

Lost in Translation: Korla

Korla? Where the hell is that?

Untuk menuju ke Korla, siang itu saya berada dalam pesawat menuju Urumchi (karena tidak ada direct flight dari Beijing ke Korla). Urumchi, ibu kota provinsi Xinjiang, sering disebut sebagai kota yang paling jauh dari laut; terletak di tengah benua Asia. Lumayan jauh juga, empat setengah jam dengan pesawat dari Beijing ke arah barat.

Dari pertama mendarat di Urumchi, saya sudah puzzled, karena tulisan "Urumchi" di bandara ditulis dengan 3 alfabet: latin, cina, dan arab! Nah lo. Dari sini, saya sudah punya feeling kunjungan ini bakal unexpectedly special.

Karena cuma transit, yang saya lihat di Urumchi cuma airportnya. Saya tadinya menduga bakalan melihat airport kecil dengan fasilitas pas-pasan; ternyata Urumchi airport luar biasa besar dan modern dengan ribuan orang yang berlarian mengejar pesawat. Ini bisa dijadikan indikator betapa booming-nya ekonomi Cina.

Begitu mendengar panggilan untuk boarding ke Korla, saya pun berjalan keluar menuju ke pesawat saya. Airport secanggih ini kok tidak pakai "belalai" yang langsung menghubungkan airport dengan pesawat ya? Sebentar kemudian pertanyaan saya terjawab: pesawat yang bakal membawa kami ke Korla ternyata adalah pesawat kecil dengan baling-baling! "Oh my God, this is going to be a bumpy ride!" teriak saya dalam hati.

Satu jam dengan banyak goncangan serta deg-degan, saya pun tiba di Korla. Saya disambut dengan angin kering agak berdebu dan airport yang mirip rumah kuno yang tidak terawat. Saya langsung mengenali penjemput saya yang membawa papan bertulis nama saya.

"Hi, how are you?" sapa saya pada si penjemput. Ia tersenyum manis. Masuk ke dalam mobil, kami mulai berkendara menyusuri jalanan Korla.
"Is the hotel away from here?"
Si sopir melihat ke arah saya, lalu menjawab dalam bahasa Cina. Ia menunjukkan beberapa papan petunjuk yang juga dengan huruf Cina, melanjutkan jawabannya panjang lebar.
Tentu saja saya tidak mengerti sepatah kata pun. I start to feel lost.

Check-in di hotel, semuanya masih konsisten: the lost feeling. Resepsionis yang bahasa Inggrisnya hampir nol, kertas penuh alfabet Cina yang harus saya tanda tangani.

Untunglah malam itu ketika saya makan malam dengan orang-orang dari kantor saya, rasa lost itu agak terobati. Meskipun sebagian besar dari mereka Chinese, tapi tentu saja mereka bisa bahasa Inggris. Juga ada seorang Malaysian dan seorang Omani di rombongan ini.

"Tonight we are ordering halal food. I know you are muslim," kata Chen, si pemimpin rombongan.
"Wow! This restaurant serves halal food?"
"Of course! There are a lot of muslims in Korla!"
Hmm, fakta yang menarik.
Kami pun mulai mengobrol; tentang Korla, tentang Xinjiang, tentang pekerjaan. Sebentar kemudian obrolan mulai berubah aneh, karena para Chinese mulai ngobrol antar mereka sendiri dengan bahasa Cina, sedangkan saya, si Malaysia, dan si Oman, ngobrol sendiri dalam bahasa Inggris, di meja yang sama.
"Does this happen all the time?" tanya saya.
"Oh yeah" kata si Oman pahit "we're always lost in translation"
Oh, kirain cuma saya yang merasa begitu. Hehehe...

Malam itu, salah seorang penduduk lokal yang baik sekali, mengajak saya jalan-jalan di Korla. Kami naik taksi ke downtown, ke pinggir sungai yang jadi pusat keramaian dan pertokoan di Korla. Jalan-jalan di Korla luar biasa bersih, lebar, dan mulus, dengan puluhan pencakar langit, pertokoan yang modern (Adidas, Nike, KFC... capitalism is here, my dear friend!), pasar malam di mana locals ngumpul untuk jajan, serta taman hiburan di pinggir sungai yang cantik dan ramai luar biasa.
Wah, siapa sangka kalau ini kota yang terletak ribuan kilometer terpencil di tengah benua Asia?

Malam itu saya mulai membuka buku "Entering Xinjiang" yang saya beli di Urumchi Airport. Korla, walaupun bukan kota terbesar di provinsi Xinjiang, adalah salah satu yang paling terkenal. Xinjiang sendiri adalah satu-satunya provinsi di Cina dengan populasi muslim yang sangat tua, terutama karena adanya etnik Uygur di sini. Otomatis di Korla juga banyak terdapat orang Uygur, dengan budaya dan bahasa yang berbeda dengan Cina Han (bahasa Uygur masih tergolong famili bahasa Turki).

Selain etnik Uygur, banyak juga etnik minoritas lain di Xinjiang: Kazak, Mongol, Kirkiz, Tajik... Sebagian masih memegang erat tradisi mereka dan bahkan masih hidup nomaden! Selain kekayaan budayanya, Xinjiang adalah bagian dari perlintasan ancient silk road (jalan sutra), jadi di sini banyak terdapat kota tua dan peninggalan yang hampir tak tersentuh modernisasi karena lokasinya yang sedemikian terpencil. Xinjiang, secara alamiah juga luar biasa cantik. Mulai dari gunung salju, danau yang dikelilingi hutan pinus, hingga gurun, semuanya ada di Xinjiang. What a hidden gem!
Tapi tidak ada surga yang sempurna di atas bumi, Separatisme adalah isu klasik di Xinjiang sejak lama. Salah satu hal yang membuat Xinjiang labil secara politik, selain karena masalah etnis, adalah produksi minyak di Gurun Taklamakan. Hmm, lagi-lagi minyak...

Esok siangnya, setelah saya selesai dengan urusan di kantor (saya ke Korla sebenarnya karena urusan pekerjaan), Chen mengajak saya makan di restoran lokal.
"Don't worry, it's halal!" kata Chen.

Aroma daging panggang yang langsung membungat ngiler (hehehe) menyambut saya di restoran ini. Membuka menu, saya terkaget-kaget karena menu ditulis dalam dua alfabet: Cina dan Arab (hey, tidak ada yang latin!).

"This is an Uygur restaurant" bisik Chen pada saya.

Saya melihat sekeliling. Hmm, benar juga, mereka kelihatan berbeda. Para pekerja lebih kelihatan seperti orang Eropa dengan mata agak sipit....

"So, what are we ordering?"

Chen memesan polo, nasi kambing a la Uygur, dan kebab kambing. Ohohoho, percaya deh, kebab kambing ini adalah kebab paling enak yang pernah saya cicipi seumur hidup...

Sore itu saya harus kembali ke Beijing. Rasanya sedih karena perjalanan ini terlalu singkat. Tapi saya sudah jatuh cinta pada Xinjiang. Saat ini Xinjiang berada dalam daftar prioritas backpack traveling plan saya. I am definitely going back, Insha Allah!