2012-03-31

Luang Prabang and the Zen Moments


Awalnya penasaran dengan Luang Prabang, karena sempat disebut oleh Lonely Planet sebagai number one destination in Asia. Setelah browsing sana-sini, makin pingin jalan ke sini karena semua review nya keren-keren. 

Saya terbang dari Luang Prabang lewat Hanoi. Memang agak ribet rutenya, Jakarta- HCMC- Hanoi- Luang Prabang, jadi bagusnya trip ini digabungkan dengan visit ke Vietnam biar lebih ekonomis.

Luang Prabang memang bukan tourist destination pada umumnya. Ketika saya sampai pada malam hari, kota kecil itu sudah lengang. Di sini, nggak ada clubs, kalau adapun harus tutup cepat karena semua tempat wajib tutup jam 11. Partygoers, go somewhere else! Wajar sih, karena sebenarnya Luang Prabang adalah kota yang religius, tempat para bhiksu Buddha belajar. Di Luang Prabang kabarnya ada sekitar 32 Wat (temple) yang semuanya masih aktif. Oh iya, Luang Prabang juga termasuk salah satu UNESCO World Heritage Sites lho.

Nam Khan river
Saya tinggal di sebuah hotel kecil yang dulunya sebuah rumah tua bergaya kolonial. Sarapan disediakan di restoran terbuka di depan hotel, di tepi sungai Nam Khan yang mengalir jernih (salahsatu anak sungainya Mekong). Hawanya demikian bersih dan suasananya begitu tenang. Suara yang terdengar hanya gemericik air dan kicauan burung, yang kadang diselingi suara orang berjalan dan bercakap perlahan. Tempat ini begitu damainya, bahkan cara para penduduknya berbicara pun dengan nada rendah. Mereka juga mengemudikan sepeda motor dengan pelan dan tidak pernah menyalakan klakson. Beda banget deh dengan Jakarta atau Ho Chi Minh City. Luang Prabang adalah tempat yang tempat pas buat yang ingin mendamaikan diri, finding a zen moment...

Sebenarnya, Luang Prabang tidak selalu menjadi tempat yang damai. Luang Prabang pernah menjadi ibukota Laos dari abad ke-14 sampai runtuhnya monarki di tahun 1975. Kota ini pernah diserang lalu dihancurkan oleh tentara Thailand dan Cina pada waktu yang berbeda di abad ke-19. Setelah serangan Cina, monarki Luang Prabang sempat minta perlindungan Perancis. Inilah mengapa di kota ini, banyak bangunan dengan pengaruh arsitektur Perancis berdampingan serasi dengan bangunan asli Laos.

Luang Prabang kotanya kecil, sangat sangat bersih (kontras dengan kota Asia pada umumnya) dan lalu lintasnya sangat sopan. Jadinya, untuk mengelilingi Luang Prabang paling nyaman adalah dengan bersepeda. Bis-bis turis juga dilarang masuk, jadinya semakin enak.
Wat Xien Thong

Tempat-tempat yang harus dikunjungi di Luang Prabang di antaranya adalah:
  • Haw Kham Royal Palace, yang sekarang menjadi museum nasional
  • Bukit Phou Si, untuk melihat Luang Prabang dari atas sekaligus menikmati sunset
  • Berbagai Wat (temple) yang tersebar di Luang Prabang. Kalau tidak banyak waktu, paling tidak kunjungilah Wat Xien Thong yang merupakan wat terbesar
  • Pasar Malam Luang Prabang yang menjual kerajinan khas Laos yang bagus-bagus. Berbeda dengan pasar Asia yang manapun juga, pasar ini begitu teratur, bersih, dan tenang. Nggak ada penjual yang teriak-teriak maupun meyakinkan pengunjung untuk membeli dagangannya. Barang yang wajib dibeli di Luang Prabang adalah sutranya, terutama yang ada dihiasi embroidery khas Luang  Prabang. Harganya memang agak mahal, sesuai lah dengan kualitasnya yang memang hand made dan unik.
Tak Bat (alm giving)

Satu hal lain yang wajib dilakukan di Luang Prabang adalah melihat tradisi harian Luang Prabang: Tak Bat atau alm giving. Setiap pagi, ratusan biksu dari berbagai Wat (temple) di Luang Prabang, berjalan untuk mengambil sedekah dari penduduk. Sedekah ini umumnya berupa makanan sederhana seperti ketan atau pisang. Tradisi ini sekarang menjadi ikon Luang Prabang, bahkan turis-turis pun ikut duduk berbaris untuk memberikan sedekah. Tak Bat adalah acara keagamaan, jadi sebaiknya kalau mau melihat atau bergabung, tetap tenang, sopan, dan menghormati ritual ini secara keseluruhan.
Oh iya, nggak semua biksu di sini akan menjadi biksu seumur hidupnya. Sebagian besar hanya menghabiskan beberapa tahun di Wat sebagai bagian dari pendidikan agamanya dan kembali ke kehidupan biasa setelahnya.

Aktivitas lain di sekitar Luang Prabang yang harus dicoba:
  • Mengunjungi Kuang Si waterfalls yang terletak sekitar 1 jam di luar Luang Prabang. Terdiri dari beberapa air terjun, Kuang Si sangat unik karena entah bagaimana air terjun dan kolam-kolam yang mengitarinya bewarna biru turqouise secara alami. Banyak juga yang berenang di sini karena airnya yang bersih sekali. 
  • Kuang Si Falls
  • Bersampan di sungai Mekong, sekedar melihat-lihat atau bisa melanjutkan ke Pak Ou Cave, tempat "1000 patung Buddha"
  • Yang agak norak tapi tetap saya sarankan: naik gajah mengelilingi hutan-hutan di sekitar Luang Prabang. Sekaligus kita bisa menyumbang upaya pelestarian gajah lo (sigh, alasan sebenernya karena asyik aja)

Sunset from Phou Si hill

Waktu harus meninggalkan Luang Prabang, saya rasanya agak menyesal karena cuma tinggal tiga hari di sini.
Buat yang butuh kedamaian dan ketenangan, saya sarankan sih paling nggak seminggu, untuk lebih meresapi zen moments di sini...

2012-03-30

Saigon... written by a Saigoner :)

Post pertama saya tentang Saigon aka Ho Chi Minh City*,  ditulis waktu saya baru pindah ke Vietnam. Sekarang saya sudah bisa mengaku sebagai Saigoner (sebenarnya ada nggak ya istilah kayak gini). Maklum, kerjaan saya muter-muter di jalanannya, foto-foto, dan mencoba restoran-restorannya. Juga, jadi guide gratisan kalau pas ada teman yang datang ke Vietnam.

Dong Khoi street di malam Tet (tahun baru Vietnam)
Kalau mencari bangunan tua di Saigon, kayaknya bakalan susah. Saigon bukanlah Hanoi yang sempat menjadi ibukota Vietnam selama ratusan tahun. Tapi, kalau ingin merasakan vibe-nya the modern Vietnam, memang Saigon tempatnya, baby! Saigon juga punya banyak cerita tentang berdirinya Republik Sosialis Vietnam yang sekarang.

First: tolong ya jangan membandingkan Saigon dengan Jakarta. Vietnam baru selesai dari perang yang demikian hebat di tahun 1975, terus masih diembargo Amerika hingga tahun 1995. Tapi, perkembangan di Vietnam luar biasa pesatnya, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 7% per tahunnya. 


Kesan pertama di Saigon biasanya adalah "buset, banyak bener motor ya?!". Maklum, jalan di Saigon sempit, harga mobil mahal, dan parkir susah, jadi masuk akal sih kalau sebagian besar Saigoners memilih sepeda motor. Lalu lintas di Vietnam lumayan liar, khas negara berkembang, klakson di sana-sini, merry merry merry...! Cuma, para motorbiker-nya lebih stylish ketimbang Jakarta. Termasuk gadis-gadis dengan rok mini dan high heels yang dengan keseimbangan sekelas akrobat dunia mengendarai motornya dengan santai.   

Tempat favorit saya di Saigon adalah District 1. Sebagian besar atraksi Saigon ada di sekitar sini dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Akomodasi tersedia buat segala budget, mulai dari buat budget traveler (di daerah Pham Ngu Lao) sampai dengan di jantung District 1 yang dipenuhi hotel berbintang. Semua tempat yang saya sebutkan di bawah ini (kecuali Cu Chi) bisa dicapai dengan jalan kaki. Kostum yang disarankan: baju yang menyerap keringat, sandal atau keds, topi, dan kacamata hitam.

Ca phe sua da
Di pagi hari, cobalah memulai hari dengan pho bo (baca: fe bo**): mie ala Vietnam dengan topping irisan daging sapi tipis dan berbagai macam sayuran segar. Biasanya sih banyak sekali penjual pho bo di pinggir jalan, tapi kalau ingin yang 'aman' bisa mencoba Pho 24 di Dong Khoi street (btw ini ada cabangnya di Jakarta, tapi nggak seenak yang di Vietnam).
For some caffeine and sugar kick di pagi hari, jangan lupa juga mencoba ca phe sua da (baca: ca fe se da), es kopi ala Vietnam yang dibuat dengan mencampur kopi yang baru diseduh dengan susu kental manis dan es batu.

Selanjutnya, para pecinta sejarah bisa melihat-lihat beberapa tempat bersejarah di sekitar District 1:
1- Ho Chi Minh City Museum: menceritakan sejarah Saigon di sebuah bangunan kuno cantik.
2- War Remnant Museum: berbagai relik tentang "American War" (di sini disebutnya bukan Vietnam War loh ya namanya). Ada beberapa foto dan display yang agak horor, siap-siap buat yang gampang punya mimipi jelek di malam hari.
3- Notre Dame Cathedral: gereja katolik cantik di tengan kota Saigon, siapa saja boleh masuk jika tidak ada misa.
4-Reunification Palace: bekas kediaman presiden Vietnam Selatan yang menjadi simbol berakhirnya Perang Vietnam setelah tank tentara Vietnam Utara berhasil meruntuhkan gerbangnya.
Notre Dame de Saigon

Setelah sukses menghayati sejarah Vietnam dan kaki pegal, paling enak makan siang di salah satu restoran favorit saya, Quan An Ngon. Letaknya di jalan Pasteur yang cuma beberapa langkah dari Ho Chi Minh City Museum. Restoran ini menghidangkan street food Vietnam, di setting sebuah gedung kuno yang cantik. Kita bisa memilih dan melihat para pedagang memasak makanannya.  Makanannya enak semua, saya aja sekarang agak ngiler membayangkannya. Untuk minta makanan tanpa pork, kita bisa bilang "no pork" atau "khong heo". Biar lebih aman, gambarlah Miss Piggy, terus dicoret... hehehe..

Favorit saya yang lain, cocok untuk yang nggak pede dengan makanan Vietnam yang memang banyak unsur pork-nya, adalah Halal @ Saigon. Letaknya persis di depan Hotel Sheraton dan Masjid di jalan Dong Du, cuma beberapa langkah dari jantung district 1. Restoran ini juga menyajikan makanan vietnam yang enak-enak semuanya, plus masakan melayu juga (malaysian owned). Favorit saya di sini adalah Ca Kho To, ikan dimasak dalam hot pot. Duh...

Sore hari bisa dihabiskan di Ben Thanh market yang penuh dengan pernak-pernik khas vietnam yang lucu-lucu. Buat para wanita, bisa memilih kain dan sekaligus menjahitkan ao dai, baju khas Vietnam yang charming banget. Baju ini terdiri dari atasan dan celana panjang, jadi enak sekali untuk bergerak.Warning: baju ini didesain buat para perempuan Vietnam yang memang langsing-langsing, jadi yang punya "love handles" agak tebal tolong lebih sadar diri, hehehe...
Balik ke masalah menjahitkan ao dai, para penjahit Vietnam ini bisa menyelesaikan baju dalan 1x24 jam, jadi baju Anda bisa diambil besoknya. Harganya pun lumayan masuk akal (bargain hard, ladies!)

Yang masih punya ambisi shopping bisa melanjutkan ke Saigon Square- semacam ITC Kuningan a la Saigon. Saya suka banget tempat ini karena nggak terlalu besar, tapi banyak barang branded bagus-bagus seperti factory outlets, including Samsonite, Crumpler, dan NorthFace. Keasliannya? Yee, kok nanya saya hehehehe... Silakan dipilih dan dianalisa sendiri yaa..  



Parliament Building

Malam hari di HCMC bisa dimulai dengan foto-foto di depan Parliament Building dan patung Uncle Ho yang memang bagus pencahayaannya. Untuk cultural show, bisa melihat Water Puppet Show atau menghadiri konser di Opera Building (kalau pas ada karena nggak setiap hari). Untuk menutup malam di Saigon, kita bisa makan malam di rooftop-nya Rex Hotel atau some mocktails di rooftop bar-nya Hotel Caravelle (ini buat saya... I'm a mocktail girl... hehehe).

Buat yang belum bisa tidur dan ingin melihat Saigon nightlife, District 1 pun tempatnya. Banyak clubs yang super stylish di District 1. Tapi, tempat favorit masih Apocalypse; di sini party starts after 12 and the crowds are here for dancing!

Hari selanjutnya di Saigon, saya sarankan untuk langsung menuju Cu Chi tunnel. Cu Chi terletak sekitar 1-2 jam dari Saigon (tergantung traffic), jadi enaknya menyewa mobil untuk pulang-pergi ke sana. Di Cu Chi ada terowongan yang dulu digunakan tentara Vietnam utara pada masa perang. Konon terowongan ini membentuk network yang lumayan rumit dan membentang lebih dari 121 km. Sebenernya kita nggak perlu guide di sini, karena dengan membeli tiket otomatis kita akan langsung diberikan guide (yang pakai seragam tentara Vietnam, tapi ramah banget).
Tour dimulai dengan menonton video pendek tentang sejarah perang Amerika-Vietnam, dilanjutkan dengan melihat-lihat beberapa jalan masuk ke terowongan, booby traps, dan lubang bekas bom. Bahkan kita bisa masuk beberapa bagian terowongan, melihat ruangan-ruangan di dalam. Tour diakhiri dengan snacking a la Viet Cong jaman dulu, yaitu makan ketela rebus...



Balik ke Saigon, bisa dilanjutkan dengan jalan ke Chinatown dan beberapa pagoda (Giac Lam, Cao Dai, Jade Emperor). Terus terang saya nggak terlalu menyarankan, karena menurut saya biasa-biasa aja. Lebih enak strolling di Dong Khoi street, melihat-lihat toko di situ yang banyak menjual barang-barang seni. Mungkin duduk-duduk sambil menyeruput ca phe sua da. Mungkin sambil people watching (vietnamese girls are very pretty and slim; I always envy them, huhuhuhuhu)....


Hmm... jadi kangen sama Saigon...



* Saigon secara resmi berubah nama menjadi Ho Chi Minh City sejak 1976 
** bahasa vietnam termasuk bahasa yang menggunakan nada; artinya kata yang sama jika berbeda nada akan berbeda arti. Siap-siap untuk lost in translation. I mean, super lost.