Saigon: ditulis oleh seorang penduduknya :)

Post pertama saya tentang Saigon aka Ho Chi Minh City*,  ditulis waktu saya baru pindah ke Vietnam. Sekarang saya sudah bisa mengaku sebagai Saigoner (sebenarnya ada nggak ya istilah kayak gini). Maklum, kerjaan saya muter-muter di jalanannya, foto-foto, dan mencoba restoran-restorannya. Juga, jadi guide gratisan kalau pas ada teman yang datang ke Vietnam.

Dong Khoi street di malam Tet (tahun baru Vietnam)
Kalau mencari bangunan tua di Saigon, kayaknya bakalan susah. Saigon bukanlah Hanoi yang sempat menjadi ibukota Vietnam selama ratusan tahun. Tapi, kalau ingin merasakan vibe-nya the modern Vietnam, memang Saigon tempatnya, baby! Saigon juga punya banyak cerita tentang berdirinya Republik Sosialis Vietnam yang sekarang.

Pertama: tolong ya jangan membandingkan Saigon dengan Jakarta. Vietnam baru selesai dari perang yang demikian hebat di tahun 1975, terus masih diembargo Amerika hingga tahun 1995. Tapi, perkembangan di Vietnam luar biasa pesatnya, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 7% per tahunnya. 


Kesan pertama di Saigon biasanya adalah "buset, banyak bener motor ya?!". Maklum, jalan di Saigon sempit, harga mobil mahal, dan parkir susah, jadi masuk akal sih kalau sebagian besar Saigoners memilih sepeda motor. Lalu lintas di Vietnam lumayan liar, khas negara berkembang, klakson di sana-sini, merry merry merry...! Cuma, para motorbiker-nya lebih stylish ketimbang Jakarta. Termasuk gadis-gadis dengan rok mini dan high heels yang dengan keseimbangan sekelas akrobat dunia mengendarai motornya dengan santai.   

Tempat favorit saya di Saigon adalah District 1. Sebagian besar atraksi Saigon ada di sekitar sini dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Akomodasi tersedia buat segala budget, mulai dari buat budget traveler (di daerah Pham Ngu Lao) sampai dengan di jantung District 1 yang dipenuhi hotel berbintang. Semua tempat yang saya sebutkan di bawah ini (kecuali Cu Chi) bisa dicapai dengan jalan kaki. Kostum yang disarankan: baju yang menyerap keringat, sandal atau keds, topi, dan kacamata hitam.

Ca phe sua da
Di pagi hari, cobalah memulai hari dengan pho bo (baca: fe bo**): mie ala Vietnam dengan topping irisan daging sapi tipis dan berbagai macam sayuran segar. Biasanya sih banyak sekali penjual pho bo di pinggir jalan, tapi kalau ingin yang 'aman' bisa mencoba Pho 24 di Dong Khoi street (btw ini ada cabangnya di Jakarta, tapi nggak seenak yang di Vietnam).
For some caffeine and sugar kick di pagi hari, jangan lupa juga mencoba ca phe sua da (baca: ca fe se da), es kopi ala Vietnam yang dibuat dengan mencampur kopi yang baru diseduh dengan susu kental manis dan es batu.

Selanjutnya, para pecinta sejarah bisa melihat-lihat beberapa tempat bersejarah di sekitar District 1:
1- Ho Chi Minh City Museum: menceritakan sejarah Saigon di sebuah bangunan kuno cantik.
2- War Remnant Museum: berbagai relik tentang "American War" (di sini disebutnya bukan Vietnam War loh ya namanya). Ada beberapa foto dan display yang agak horor, siap-siap buat yang gampang punya mimipi jelek di malam hari.
3- Notre Dame Cathedral: gereja katolik cantik di tengan kota Saigon, siapa saja boleh masuk jika tidak ada misa.
4- Reunification Palace: bekas kediaman presiden Vietnam Selatan yang menjadi simbol berakhirnya Perang Vietnam setelah tank tentara Vietnam Utara berhasil meruntuhkan gerbangnya.
Notre Dame de Saigon

Setelah sukses menghayati sejarah Vietnam dan kaki pegal, paling enak makan siang di salah satu restoran favorit saya, Quan An Ngon. Letaknya di jalan Pasteur yang cuma beberapa langkah dari Ho Chi Minh City Museum. Restoran ini menghidangkan street food Vietnam, di setting sebuah gedung kuno yang cantik. Kita bisa memilih dan melihat para pedagang memasak makanannya.  Makanannya enak semua, saya aja sekarang agak ngiler membayangkannya. Untuk minta makanan tanpa pork, kita bisa bilang "no pork" atau "khong heo". Biar lebih aman, gambarlah Miss Piggy, terus dicoret... hehehe..

Favorit saya yang lain, cocok untuk yang nggak pede dengan makanan Vietnam yang memang banyak unsur pork-nya, adalah Halal @ Saigon. Letaknya persis di depan Hotel Sheraton dan Masjid di jalan Dong Du, cuma beberapa langkah dari jantung district 1. Restoran ini juga menyajikan makanan vietnam yang enak-enak semuanya, plus masakan melayu juga (malaysian owned). Favorit saya di sini adalah Ca Kho To, ikan dimasak dalam hot pot. Duh...

Sore hari bisa dihabiskan di Ben Thanh market yang penuh dengan pernak-pernik khas vietnam yang lucu-lucu. Buat para wanita, bisa memilih kain dan sekaligus menjahitkan ao dai, baju khas Vietnam yang charming banget. Baju ini terdiri dari atasan dan celana panjang, jadi enak sekali untuk bergerak.Warning: baju ini didesain buat para perempuan Vietnam yang memang langsing-langsing, jadi yang punya "love handles" agak tebal tolong lebih sadar diri, hehehe...
Balik ke masalah menjahitkan ao dai, para penjahit Vietnam ini bisa menyelesaikan baju dalan 1x24 jam, jadi baju Anda bisa diambil besoknya. Harganya pun lumayan masuk akal (bargain hard, ladies!)

Yang masih punya ambisi shopping bisa melanjutkan ke Saigon Square- semacam ITC Kuningan a la Saigon. Saya suka banget tempat ini karena nggak terlalu besar, tapi banyak barang branded bagus-bagus seperti factory outlets, including Samsonite, Crumpler, dan NorthFace. Keasliannya? Yee, kok nanya saya hehehehe... Silakan dipilih dan dianalisa sendiri yaa..  



Parliament Building

Malam hari di HCMC bisa dimulai dengan foto-foto di depan Parliament Building dan patung Uncle Ho yang memang bagus pencahayaannya. Untuk cultural show, bisa melihat Water Puppet Show atau menghadiri konser di Opera Building (kalau pas ada karena nggak setiap hari). Untuk menutup malam di Saigon, kita bisa makan malam di rooftop-nya Rex Hotel atau some mocktails di rooftop bar-nya Hotel Caravelle (ini buat saya... I'm a mocktail girl... hehehe).

Buat yang belum bisa tidur dan ingin melihat Saigon nightlife, District 1 pun tempatnya. Banyak clubs yang super stylish di District 1. Tapi, tempat favorit masih Apocalypse; di sini party starts after 12 and the crowds are here for dancing!

Hari selanjutnya di Saigon, saya sarankan untuk langsung menuju Cu Chi tunnel. Cu Chi terletak sekitar 1-2 jam dari Saigon (tergantung traffic), jadi enaknya menyewa mobil untuk pulang-pergi ke sana. Di Cu Chi ada terowongan yang dulu digunakan tentara Vietnam utara pada masa perang. Konon terowongan ini membentuk network yang lumayan rumit dan membentang lebih dari 121 km. Sebenernya kita nggak perlu guide di sini, karena dengan membeli tiket otomatis kita akan langsung diberikan guide (yang pakai seragam tentara Vietnam, tapi ramah banget).
Tour dimulai dengan menonton video pendek tentang sejarah perang Amerika-Vietnam, dilanjutkan dengan melihat-lihat beberapa jalan masuk ke terowongan, booby traps, dan lubang bekas bom. Bahkan kita bisa masuk beberapa bagian terowongan, melihat ruangan-ruangan di dalam. Tour diakhiri dengan snacking a la Viet Cong jaman dulu, yaitu makan ketela rebus...



Balik ke Saigon, bisa dilanjutkan dengan jalan ke Chinatown dan beberapa pagoda (Giac Lam, Cao Dai, Jade Emperor). Terus terang saya nggak terlalu menyarankan, karena menurut saya biasa-biasa aja. Lebih enak strolling di Dong Khoi street, melihat-lihat toko di situ yang banyak menjual barang-barang seni. Mungkin duduk-duduk sambil menyeruput ca phe sua da. Mungkin sambil people watching (vietnamese girls are very pretty and slim; I always envy them, huhuhuhuhu)....


Hmm... jadi kangen sama Saigon...



* Saigon secara resmi berubah nama menjadi Ho Chi Minh City sejak 1976 
** bahasa vietnam termasuk bahasa yang menggunakan nada; artinya kata yang sama jika berbeda nada akan berbeda arti. Siap-siap untuk lost in translation. I mean, super lost.

No comments