2008-05-26

Food around the world

Mbah putri (nenek) saya bisa dibilang tempe maniac, tiada hari tanpa tempe. Hari ini oseng tempe, besok lodeh tempe, besok lagi rendang tempe... Saya sering dimarahi karena dianggapnya bergaya hidup mewah: suka makan ayam. Nah lo. Setelah lima tahun digembleng tempe, lodeh, dan sayur asem (karena selama kuliah saya tinggal bersama Mbah), ketika harus tinggal di luar negeri rasanya menderita banget.

Awalnya, beberapa bulan saya nggak doyan makan, kalau pun makan cuma demi kesehatan. Ketika sempat ketemu pare di supermarket, rasanya seperti menemukan harta karun. Saya langsung nelpon Ibu saya "Ma, aku malam ini mau bikin oseng-oseng pare!" Rasanya malam itu saya bahagia sekali. Benar-benar kampungan...

Tapi lama-lama, lidah saya tune-up juga. Apalagi dasarnya saya memang tukang makan (bapak ibu saya selalu mengajak saya pergi undangan kawinan, karena saya selalu makan paling banyak di prasmanan; jadi mereka nggak rugi ngasih duit angpao-nya). Sekarang saya sudah doyan macam-macam makanan. Satu hal yang bikin saya masih tetap ragu-ragu mencoba makanan baru di negeri orang adalah kehalalannya. Untunglah, Dubai adalah melting pot dari berbagai negara; jadi di sini kita bisa menemukan segala macam makanan orisinal dari berbagai negara tanpa ragu masalah halalnya. Tips untuk makan enak yang orisinal adalah mengajak teman yang asli dari negara tertentu untuk makan di restoran favoritnya, terus suruh dia memilih...

Thailand adalah sumber makanan enak. Waktu saya ke Thailand saya ngiler melulu, soalnya semua kelihatan enak. Berkat Matima, teman Thai saya yang imut-imut, saya jadi tahu Thai green curry: mirip lodeh tapi lebih berbumbu, pedas, dan enaaaaak sekali. Favorit saya yang lain adalah Crab curry: kepiting dimasak dalam bumbu kari thailand yang ringan, menggigit gurihnya, dan Pla Rad Prik: kerapu goreng kering disiram saus asam manis khas Thai. Lalu tentu saja Tom Yum Goong, sup udang pedas segar yang konon adalah masakan Thai terpopuler di dunia. Saya malah sudah sering mencoba masak sendiri beberapa masakan Thai ini, walaupun rasanya, yah,tebak sendiri deh... hehehe...

Lebanese food adalah makanan terfavorit di dunia arab. Gerai makanan Libanon mungkin ada ribuan di Dubai, mulai dari kelas warung sampai fine dining. Makanan Libanon paling enak menurut saya adalah shish tawook, chicken cubes yang direndam bumbu lalu dipanggang di atas arang, dimakan panas-panas dengan roti arab yang baru keluar dari oven. Oooo...

Makanan Libanon sebenarnya sehat sekali, karena rata-rata dipanggang (bukan digoreng seperti makanan kita) dan dimakan dengan banyak salad sayuran segar. Saya yang nggak pernah doyan salad, jadi nge-fans dengan fattoush (salad sayuran disiram dengan lemon dan minyak zaitun) dan tabbouleh (salad parsley diiris halus). Keduanya, enak sekali dimakan dengan panggang-panggangan Libanon (ayam, sapi atau kambing) plus hommous.

Hommous (perlu dijabarkan detil karena sangat enak) adalah semacam 'colekan', dibuat dari chickpea yang dihaluskan dengan sedikit bawang, lemon, serta tahina (pasta wijen). Saking enaknya sekarang saya benar-benar maniak hommous; makan keripik pakai hommous, mendoan pakai hommous... enak banget deh... (iya.. iya...!)

Selain makanannya, cocktail juice yang selalu dijual di rumah makan Libanon, berupa juice buah kental disusun berlapis di gelas tinggi, juga tidak boleh dilewatkan.

Egyptian food, sebenarnya (menurut saya) mirip-mirip Lebanese food, tapi teman-teman Mesir saya menolak mentah-mentah pendapat ini. Makanan Mesir yang paling terkenal adalah ful dan ta'amiyya. Ful, masakan dari kacang fava rebus, forget about it; saya nggak doyan. Ta'amiyya alias falafel: chickpea dihancurkan dicampur bumbu lalu digoreng, adalah makanan nasional Mesir. Yang ini enak buat ngemil (sambil nyolek hommous..). Falafel sekarang juga terkenal sekali di Eropa dan New York, banyak dijual di pinggir jalan malahan.

Makanan Vietnam; saya baru nyoba sekali terus si Nguyen teman Vietnam saya pindah- jadi nggak pernah explore lagi. Saya baru mencoba Pho, sup bihun khas Vietnam yang, sumpah, enaknya luar biasa. Saking pengennya makan lagi saya sampai craving Pho ini. Karena restoran Vietnam masih belum terlalu banyak, saya mencoba mencari resepnya. Tapi ternyata melibatkan banyak oknum bumbu yang susah, jadi saya nyerah deh.. Konon makanan Vietnam enaknya nggak kalah dengan makanan Thailand dan sekarang semakin populer di seluruh dunia.

Eksperimen saya yang terbaru adalah makanan India. Terus terang saja dari dulu teman-teman saya sering mengajak makan makanan India, tapi saya selalu menolak. Gara-garanya, saya pernah kerja di suatu tempat terpencil yang kokinya terus-terusan menghidangkan masakan India yang nggak enak banget sampai saya trauma (ternyata masalahnya bukan makanan Indianya tapi kokinya!)

Thanks to Uzma, teman saya yang berhasil menyeret saya ke suatu restoran India, lalu memesankan beberapa makanan buat saya, sekarang saya adalah pecinta masakan India! Favorit saya adalah tandoori chicken, ayam panggang yang entah bumbunya apa, tapi warnanya merah dan sarat bumbu, juga berbagai macam kari (ayam maupun kambing) yang semuanya enak. Top of the top adalah cheese naan, roti khas India yang disajikan panas, di dalamnya dilapisi tipis dengan cottage cheese...ngiler deh...

Sayangnya makanan India terlalu sarat lemak dan minyak, jadi berdosa rasanya kalau sering-sering... Seorang teman juga berjanji mengajak mencoba makanan Kerala (salah satu daerah India) yang konon persik plek dengan masakan Padang. Laporan menyusul deh.

Nah, cukup dengan cerita makanan ya... Sekarang saya lapar beneran nih. Ngomong-ngomong, saya baru masak oseng tempe cabe hijau nih. Walaupun rasanya belum seenak bikinan Embah saya, tapi lumayan lah (sshhh, di Dubai ada yang jualan tempe lo). Besok mau bereksperimen bikin gudeg (entah dapat nangka mudanya dari mana, belum tahu). Masakan Indonesia masih paling top deh........!!!

2008-05-24

The Girls: Stress & The City

Saya dan teman grubyak-grubyuk saya tidak punya banyak kesamaan kecuali sama-sama perempuan, sama-sama pendatang di kota ini, sama-sama sering tenggelam dalam pekerjaan, sama-sama in the end of our twenties, dan sama-sama single (wah, ini sih banyak kesamaan kali ya..) Untuk melindungi oknum-oknum, saya terpaksa menyamarkan nama-nama mereka. Tapi deskripsinya kurang lebih akurat...

Fatma, cewek mesir yang juga master nuclear engineering ini, adalah si tomboy teman kesayangan saya. Terutama karena kami sama-sama doyan makan dan nggak bisa clubbing. Kalau ngomong ceplas-ceplos dan lucu setengah mati. Pikirannya selalu ngeres dan karena itu misi utamanya adalah mencari suami part time yang cuma datang hari Kamis (maklum hari lainnya dia sibuk, nggak ada waktu!). Ngerokoknya kuat sekali, dan walaupun saya sudah berkali-kali menasihati dia supaya at least mengurangi, mana mau lah dia dengerin! Saat ini Fatma lagi diet ketat gara-gara habis naik berat badan 15 kilo. Repotnya, dia bersumpah sampai beratnya mencapai normal, dia nggak bakal beli baju baru. Walhasil tiap hari saya melihat dia dengan jilbab, baju, dan jeans yang sama...

Rana, asal Mesir juga, super feminin dan dewasa, walaupun dugemnya rajin, surprisingly solatnya rajin juga. Saat ini dia punya bos yang banyak tuntutan, jadi dia paling sering kena ejekan karena kerja saat weekend ataupun pulang kantor malam-malam.

Maryam, Algerian, perfectionist & classy. Barang-barangnya serba bermerek. Bener-bener teman shopping yang sempurna; soalnya dia selalu belanja gila-gilaan, jadi saya nggak terlalu merasa berdosa kalau belanja gila-gilaan juga, hehehe...

Leena, dari Pakistan, punya chemistry banget dengan Fatma karena sama-sama suka berpikir jorok. Kerjanya dugem melulu, with or without anybody! Walaupun dia paling tua di antara kami, cuma dia yang selalu distop di pintu club, karena dicurigai masih di bawah 18 tahun.

Dari keempat teman saya ini, hobi mereka yang paling menarik adalah sama-sama suka mengutuk laki-laki dari bangsanya sendiri. Fatma sudah bersumpah darah nggak akan kawin dengan orang Arab apalagi orang Mesir, karena menurutnya mereka cemburuan, munafik, dan nggak mau tahu keinginan wanita (Rana mengangguk-angguk sambil menambahkan kalau laki-laki Mesir tukang bohong dan sombong). Leena dengan berapi-api nimbrung kalau jangan pernah kawin dengan laki-laki Pakistan, karena mereka bermuka dua, munafik juga, dan selalu punya double standard. Ia malah menambahkan kalau bisa pingin ganti passport saking eneknya jadi orang Pakistan.
Saya cuma ketawa-ketawa mendengar cerita emosional mereka. Ternyata jadi perempuan Indonesia enak juga, soalnya laki-laki Indonesia baik-baik (sebagian besar lah...)

Si Fatma langsung menyahut kalau dari dulu dia pingin kawin dengan laki-laki Indonesia atau Malaysia, karena terkesan dengan tindak-tanduk mereka yang tengah belajar di Al-Azhar University yang dekat rumahnya. Satu hal yang dia ragukan tentang laki-laki Indonesia atau Malaysia adalah masalah ukuran (..sssh! maksudnya tinggi badan, soalnya Fatma ini lumayan tinggi...hehehe)

Kami berencana traveling ke Maroko dan Spanyol bulan September nanti. Kami sendiri nggak terlalu yakin kalau rencana ini bakal mulus, masalahnya kami semua bekerja dan who knows what comes up. Tapi paling tidak saya dan Fatma (insha Allah) pasti berangkat: kami berencana makan gila-gilaan dan jalan-jalan ke seluruh pelosok Fez, Tangiers, dan Barcelona. That will be FUN!

2008-05-10

Yemen, the forgotten glory

Yaman, atau versi inggrisnya Yemen, adalah salah satu tempat lahirnya kebudayaan tertua di dunia lebih dari empat milenia lalu. Dulu, oleh orang Romawi, Yaman sempat dinamai "Arabia Felix" (Happy Arabia) saking kayanya negara ini dengan hasil dagangnya. Kini, Yaman adalah salah satu negara termiskin di dunia dengan GDP cuma seperempat GDP Indonesia.

Begitu mendarat di bandara Sana'a, ibukota Yaman, saya teringat saat pertama kali menjejakkan kaki ke tempat ini. Airportnya tidak banyak berubah, mirip bangunan puskesmas di desa terpencil. Sana'a-nya sendiri juga masih seperti lima tahun yang lalu: kotor, semrawut, dan jelas menampakkan kemiskinan. Orang-orang berkeliaran dengan pisau terpasang di pinggang dan mengunyah qat (daun yang memiliki sedikit efek narkotik). Uh, kayaknya saya nggak bisa jalan-jalan sendiri nanti malam, nih...

Sayangnya, meskipun Sana'a adalah kota yang luar biasa bersejarah (umurnya sudah lebih dari 2 milenia) dan kaya dengan bangunan antik, traveling ke Sanaa tidak disarankan untuk wanita yang sendirian. Apalagi yang jelas-jelas kelihatan asing kayak saya.
Kebetulan juga baru beberapa hari yang lalu ada peledakan bom di Sanaa, jadi lengkaplah -saya sudah langsung dilarang jalan-jalan.. ihik...

Terpaksa hari itu saya harus cukup puas dengan makan malam bersama teman-teman di sebuah jalan yang dipenuhi restoran di Sanaa. Ternyata lumayan nyaman juga kotanya, walaupun dalam hati saya masih dendam karena tidak bisa melihat-lihat kota kuno yang didaftar dalam UNESCO World Heritage Sites ini.

Besoknya saya terbang ke Mukalla, ibukota Hadramaut. Nama Hadramaut memang bikin merinding, karena artinya "maut telah datang", hiiiii.... Tapi ternyata orang-orang Hadrami (sebutan untuk penduduk Hadramaut) antusias sekali ketemu dengan orang Indonesia. Soalnya, hampir seluruh warga Indonesia keturunan Arab ternyata asalnya dari Hadramaut ini. Salah satu yang paling terkenal ya Ali Alatas. Nah, baru tau kan...? Coba saja google website-nya pemerintah Hadramaut, ada versi bahasa Indonesia-nya lho.

Di Yaman jugalah letak Marib, lokasi sisa-sisa situs kerajaan Saba, konon adalah kerajaannya ratu Balqis yang terkenal itu. Lagi-lagi, semua situs yang sangat menarik ini sulit dijangkau. Selain karena minimnya sarana juga karena situasi keamanan. (Juli-Januari lalu, ada dua serangan bom pada rombongan turis di Marib juga di Hadramaut)
Yah berdoa saja lah supaya Yaman jadi aman, supaya kita bisa belajar sejarah di negeri yang kaya sejarah ini...

Note: gambar di atas diambil oleh teman saya dalam perjalanan kami di Hadramaut. Not my copyright!

2008-05-05

Going to America......!

Pertama kali saya harus pergi ke Amerika adalah sekitar tengah tahun 2002, hanya beberapa bulan sejak kejadian 9/11. Bepergian ke Amerika setelah 9/11 masalah utamanya bukan duit, tapi lebih rumit lagi: masalah visa.

Jadilah setelah 2 bulan menunggu untuk mendapat jadwal interview, saya dengan rapi jali mengantri jam 6 pagi di depan kedutaan Amerika. Melewati berlapis-lapis penjagaan, akhirnya hampir jam 10 siang saya baru bisa masuk ruang wawancara bersama dengan puluhan orang lain. Beberapa pewawancara duduk di balik jendela, sedangkan yang diwawancarai berdiri di depan jendela itu. Gampang sekali menandai antara pelamar yang dapat visa dengan yang tidak dapat visa, karena biasanya yang tidak dapat visa bete-bete semua tampangnya. Seorang ibu-ibu setengah baya malah sempat bicara agak keras "Tolonglah, anak saya ini sudah sepuluh tahun nggak ketemu kakaknya... Masak ditolak terus visanya...?" Si pewawancara tidak berkomentar malah dengan dingin memanggil nomer berikutnya. Waduh, kok gini ya? Saya mulai cemas.

Akhirnya saya ketemu juga dengan si pewawancara. Dari balik jendela, si pewawancara menanyakan beberapa pertanyaan trivial tanpa melihat ke arah saya, cuma sekali-sekali melirik "What are you going to do? Where? Why?..."
Dan... ia pun mengecap formulir saya. Yeah, I got the visa! Saya yakin banget ini ada kaitannya dengan tampang innocent saya...

Tapi, begitu mendarat di Amerika, ternyata tampang saya sama sekali nggak innocent. Setiap kali melihat paspor Indonesia saya, saya langsung disuruh ngantri di barisan spesial (barisan teroris apa ya..). Setiap kali ada 'random check' di airport, saya pasti kena. Masalahnya, saya masih harus ganti pesawat domestik lagi, jadi setelah bolak-balik kena 'random check' dari ujung gundul ke ujung jempol kaki, saya sudah gondok banget.

Setelah perjalanan panjang dibumbui dengan rasa jengkel, saya sampai di kota tujuan. Langsung melompat naik ke atas taksi, saya melihat di spion depan ada hiasan berupa tulisan "Allah" dalam huruf Arab.
"You are moslem?" tanya saya pada si supir.
"Yes. I am Palestinian" katanya mantap.
Walah.

Teringat kenangan di atas, ketika baru-baru ini saya harus pergi ke Amerika lagi, saya langsung males. Orang Amerikanya sih rata-rata baik, tapi perjalanannya itu loh... Namun karena untuk urusan kerjaan, rasanya nggak ada pilihan lain. Visa lebih mudah didapat, malah saya langsung diberi visa 5 tahun, tapi perjalanan masih tetap dibumbui banyak penggeledahan dan pemeriksaan.
Pulangnya saya sempat seperjalanan dengan seorang teman warganegara Kanada tapi berdarah Siria (tampang dan namanya pun jelas arab). Ternyata berjalan bersama dia benar-benar merugikan, kena cek melulu!
Ketika saya tanya apakah dia memang selalu digeledah habis-habisan seperti ini, dia menjawab kalau dalam perjalanan memasuki Amerika, malah sempat diinterogasi di ruang tersendiri sampai hampir ketinggalan pesawat. Pertanyaannya melibatkan "Nama kakek? Pekerjaan kakek? Di mana saja kakekmu pernah tinggal?"

Waduh, kalau saya ditanya begini ya mana bisa jawab.......!