2009-11-17

Hue, Vietnam's Old Imperial City

Huahh... akhirnya bisa traveling, walopun cuma 2 hari, setelah berbulan-bulan dormant!

Kenapa Hue termasuk di daftar must-visit-in-Vietnam? Jelas karena Hue (kota kuno lagi nih) dipenuhi bangunan bersejarah dan tentu saja termasuk UNESCO World Heritage Site. Hue dulunya ibukota Vietnam dari abad ke-17 sampai tahun 1945. Saat itulah Vietnam terpecah, Kaisar Bao Dai diturunkan dan ibukota Vietnam dipindah oleh pemerintah komunis ke Hanoi.

Meskipun sekarang terlihat damai (and somehow romantic) dengan sungai Huong atau Perfume River yang mengalir tenang melintasi Hue, Hue pernah menjadi saksi The Battle of Hue dan The Massacre of Hue yang hampir meratatanahkan kota indah ini. Di jantung kota Hue, istana dinasti Nguyen, yang sudah kosong, berdiri membisu di dalam citadel tua sunyi yang dilindungi tembok dan parit. If only walls could talk...

Datang ke Hue bulan November bisa dibilang gambling; cuaca nggak bisa ditebak. Kadang-kadang bisa hujan deras, mendung sepanjang hari, atau kalau beruntung pas cerah. Untuk photo hunting agak kurang menjanjikan. Enaknya, suhu agak enakan dan nggak terlalu lembab.
FYI, Hue di musim panas terkenal panas lembab; cocok untuk photo hunting dengan hasil langit biru tapi dijamin kita basah kuyup keringetan dan nggak keren dipotret... hehehe...

Akomodasi di Hue, seperti semua tempat di Vietnam, back-packer friendly banget. Kalau mau yang hotel berbintang, juga banyak. Terserah budget... Tapi, buat keliling Hue, regardless where you sleep, menurut saya cuma satu cara jalan-jalan yang paling sip: rent a motorbike!
Cukup dengan $5 (manual) atau $8 (automatic) per hari (nggak pake nawar), puas-puasin deh keliling Hue. Ajaibnya, saya sama sekali nggak ditanyai driving license atau disuruh ninggal passport. Bayar trus weeennngggg.... that's it.. Beneran nih..? Antara seneng dan takjub, apa muka saya segitu innocent-nya?


Must do di Hue:

- mengunjungi The Imperial Enclosure yang terletak di dalam citadel (di sini semua yang bersejarah-bersejarah ngumpul... mulai dari Hall of the Mandarins, The Forbidden Purple City, museum, etc..) Terus terang banyak bangunan sudah rusak dan sedang dibangun lagi karena jaman perang dulu Hue habis-habisan dibom.

- muter-muter di dalam citadel yang dikelilingi tembok tua dan penuh bangunan bersejarah

- ke Pagoda Thien Mu yang menjadi pagoda simbol Hue (sekitar 10 km dari Hue)
- jalan ke salah satu dari royal tombs yang tersebar di sepanjang Perfume River yang membelah Hue. Saking banyaknya, plan for one or two only. Satu makam aja udah sekitar 2 jam belum termasuk jalan ke sana dan kesasarnya :D Eh jangan salah, walaupun makam, areanya lumayan spektakuler; biasanyanya dikelilingi taman, danau, temple, etc. Tempat orang hidup pun kalah deh.


- makan di salah satu restoran tradisional Hue. Coba deh Hue rice pancake (versi favorit saya: khong heu= no pork, hehehehe). Btw, makanan Hue terkenal enak-enak (apa sih yg nggak enak...?) Pham Ngu Lao area sekitarnya dipenuhi restoran... just pick one.

Warning: untuk para pecinta kehidupan kota, skip it; Hue is not your place. Tapi untuk traveler yang antusias dengan sejarah dan arsitektur, jangan lewatkan Hue walaupun cuma sebentar.

2009-02-26

Hoi An...... penuh cobaan

Hoi An adalah kota yang terletak di Central Vietnam; pada abad ke 14-19 pernah menjadi salah satu bandar perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Setelah memudar perannya sebagai kota niaga, sekarang kota ini menjadi musium raksasa berkat kota kuno cantiknya yang dirawat dan dilestarikan (salah satu UNESCO World Heritage sites). Walaupun tidak bisa dibantah Hoi An sudah menjadi kota turis, tapi kharisma dan keasliannya masih tetap hidup. For history lovers, Hoi An adalah tujuan impian di Vietnam. Tapi siapa sangka, Hoi An also revealed my darkest side... hehehehhe guess what...

Hoi An tidak punya airport maupun stasiun kereta, tapi gampang dicapai dari Da Nang airport/ stasiun dengan mobil. Akomodasi gampang banget, konon sih memang surga back-packer saking murah dan bagus kualitasnya. Dan buat lone female traveler kayak saya, so convenient and safe...

Jalan-jalan di Hoi An old town kecil dan sempit, tidak boleh dilewati mobil. Benar-benar nyaman buat pejalan kaki. Rumah-rumahnya semua dijaga keasliannya (walaupun sebagian besar berubah fungsi menjadi toko atau restoran), dengan lampion warna-warni menggantung. Walaupun jumlah turis yang keluyuran luar biasa jumlahnya, tapi suasana tradisional menyelimuti Hoi An dengan kuat. Perempuan dengan ao dai dan caping, anak-anak bersepeda, warung pinggir jalan menyajikan makanan lokal, juga pasar tradisional yang hingar-bingar. Setiap bulan purnama, Hoi An old town ditutup untuk semua kendaraan bermotor ("only primitive vehicles allowed" begitu bunyi peraturannya, hehehe) dan jalanan dipenuhi pertunjukan tradisional... keren....
Selain suasananya yang back to 15th century, ada hal lain yang membuat Hoi An menggoda. Baju. Lho kok? Begini ceritanya. Hoi An dipenuhi dengan toko-toko pakaian. Wait, wait, terus apa bedanya dengan tempat lain? Di Hoi An, toko pakaian ini menyodorkan katalog-katalog ready-to wear designer terbaru (Next, Mango, Zara,...), terus kita tunjuk yang kita naksir, pilih kainnya, kita pun diukur, dan voila! baju impian pun jadi dalam waktu 3-4 jam saja. Kurang puas, nggak cocok, kesempitan, tinggal dibenerin saja...

Nah... di sinilah letak godaan Hoi An yang paling evil (you have to come here to feel the temptation!) Bagaimana enggak, disodori katalog designer yang super keren, ditimbuni kain-kain dengan corak dan bahan yang ratusan jumlahnya, ditawari harga seperlima harga baju aslinya, dihujani rayuan-rayuan maut ("ooo, this will look so good on you"... etc... those devils...)... berakhirlah saya menyerah dan nggak sanggup menerima cobaan ini. Jangan tanya berapa biji baju yang akhirnya saya jahitkan di Hoi An (only God knows, saya aja takut mau ngitung). Salah satu dress saya jahitkan tepat 3 jam sebelum flight saya balik ke HCMC (lagi-lagi nggak kuat melawan godaan di menit-menit terakhir...) Jadi juga dan puassss banget deh hasilnya. Seorang ibu-ibu Canadian yang menjahitkan baju bareng saya mengaku tanpa malu-malu kalau dalam sehari dia mengkoleksi sepuluh baju baru! Anak cowoknya yang metal pun lagi sibuk mencoba suit terbarunya di depan kaca.... Terbersit dalam hati, kalau sampai ada perempuan yang kuat menahan godaan Hoi An, hmmm.. she is really strong....

Dalam perjalanan pulang (udah pakai baju baru dong, hehehehe), saya seperjalanan dengan seorang wanita Belanda yang kelihatannya backpacker banget. Menurut pengakuannya sih sudah enam bulan traveling keliling dunia. Dia dengan bangga mengatakan kalau tidak bikin sepotong baju pun di Hoi An. Kontan saya nyaris memeluknya, "sweetheart, you are one tough lady!"










Siem Reap, part II: Angkor Wat dan temen2nya...

Angkor Wat selalu menjadi cherry on the cake di Siem Reap. Sering disebut sebagai the epitome of Khmer architecture (canggih amat istilahnya), Cambodia begitu bangganya dengan Angkor Wat sampai gambar bangunan ini dipasang di bendera nasionalnya.

Konon salah satu struktur religius terluas di dunia, Angkor Wat dibangun sekitar Abad ke-12 oleh raja Suryavarman II sebagai kuil Hindhu, kemudian berubah menjadi kuil Budha di sekitar abad ke-14. Angkor Wat dikelilingi oleh danau buatan yang cantik dan menempati area seluas 2 km2. Bangunannya sendiri terdiri atas tiga tingkat. Tingkat pertama sedang ditutup waktu saya ke sana (syukur jadi ada alasan nggak usah naik ke atas; bayangin aja kemiringannya sekitar 75 derajat dan anak tangganya dulu didesain buat kaki bayi apa ya? a.k.a kecil-kecil amat, sadis!) Salah satu relief yang paling terkenal di Angkor Wat adalah reliefnya "apsara" alias gadis penari. Semuanya mblegedhing (bahasa apa coba ini) alias topless, udah gitu ukiran mukanya jelek-jelek semua lagi; bikin ilfil, hahahaha.

Di sekitar Angkor Wat, masih banyak candi lainnya yang rugi kalau nggak didatangi. Mengitarinya jelas butuh ketabahan. Soalnya, nggak mungkin kan dateng malam-malam; pasti deh harus siang waktu matahari menyengat. Jadi panas-panas kering Cambodia pun tetap nggak menyurutkan niat ke:

- Bayon Temple yang dulu terletak di pusat ibukota Khmer Angkor Thom (terkenal dengan struktur empat muka raksasanya)

- Baphuon, Royal Palace, dilanjutkan ke Terrace of the Leper King (konon tempat sang Raja menonton parade angkatan perang dulunya)

- ditutup dengan Phnom Bakheng: naik ke atas bukit-- bisa jalan kaki atau kalau mau lebih gaya naik gajah ( serius!) -- trus mendaki candi 75 derajat, trus bernapas lega melihat pemandangan hutan yang spektakuler dan Angkor Wat dari atas. Sebenarnya, sunset dari Phnom Bakheng bagus sekali, cuma kalau melihat jumlah turis vs luas Phnom Bakheng, hhh menyeramkan... takut runtuh deh tuh candi tua. Photographers, get your sunset somewhere else!

Kalau masih belum puas dengan historical visit, masih ada Angkor Museum yang surprisingly modern (dengan panduan keren a la British Museum lo). Belum puas juga? Ya udah coba aja malam-malam jalan di downtown Siem Reap, nyobain makanan Khmer yang ternyata enak di deretan restoran-restoran keren dan affordable di sini.

Anyway, night in the supposedly ancient town ini sama sekali nggak kuno... Thanks to tourists kota ini bangun 24 jam. I ended up in a small cafe yang punya live music bagus banget. No Khmer music ya, mereka mainnya top 40, hahaha...

2009-02-01

Siem Reap, part I: Tonle Sap & Ta Prohm

Sebagai pecinta reruntuhan bersejarah (hehehehe), Siem Reap sudah lama ada di daftar must-visit saya. Siem Reap adalah bekas pusat pemerintahan Khmer Empire yang berkembang sekitar Abad ke-7 higga Abad ke-15. Karena itu, di sini kita bisa menemukan banyak sekali situs bersejarah, yang kini terkubur atau terselip di antara tanah pertanian dan hutan. Makin terkenal setelah menjadi setting film Tomb Raider yang pertama (... bayangin deh Angelina Jolie loncat-loncat di sini)

Mengunjungi Siem Reap sebenarnya gampang sekali; jumlah penerbangan internasional ke Siem Reap menakjubkan frekuensinya dan dari berbagai negara pula; mulai dari Bangkok, Singapore, KL, Laos, HCMC, Hanoi, sampai Seoul.... Masuk ke Cambodia pun lumayan gampang, bisa dapat visa on arrival dengan membayar 20 USD dan selembar foto 4x6.
Untuk hotel, Siem Reap punya pilihan yang luar biasa banyak; mulai dari yang super fancy sampai budget option. Saya tinggal di sebuah guest house mid-range (tentu saja ketemu dari internet), yang menawarkan paket all-in: akomodasi, meal, transport, dan guide, dengan harga super reasonable. Tempatnya juga squeaky clean, dilengkapi dengan pemilik yang sangat bersahabat, plus staff yang ramah-ramah. Love it! (kalau mau tahu nama tempatnya, just ask me...)

Karena tiba di Siem Reap menjelang sore, rencana pertama adalah melihat sunset di Tonle Sap ("the Great Lake"), sekitar 30 menit dari Siem Reap. Danau ini sangat unik, karena selain luasnya yang berubah dramatis dengan pergantian musim, arah alirannya pun turut berubah sesuai musim. Di musim kemarau, Tonle Sap mengalir ke arah Sungai Mekong, mengerut ke ukuran sekitar 3000 km2. Setelah musim penghujan datang, arah aliran berbalik, dan Tonle Sap pun mengembang lima kali lipat lebih, membanjiri hutan dan area sekitarnya. Tonle Sap kaya dengan ikan, menjadi tempat tinggal ribuan orang di atas rumah terapung, juga mejadi habitat bebagai jenis fauna hingga ditetapkan menjadi UNESCO biosphere.

Menyusuri sungai menuju Tonle Sap, kita bisa melihat kehidupan orang-orang di atas rumah terapung. Anak-anak kecil yang berdayung dengan perahu atau bermain air dengan riang, orang bersiap untuk pesta malam harinya, mengantri beli barbecue ular (!), atau sekedar bersantai di atas hammock tanpa peduli turis-turis norak yang lewat. Tonle Sap sendiri sangat luas, lebih mirip laut ketimbang danau, sampai kita tidak bisa melihat tepi-tepinya. Setelah memotret sunset di atas sebuah restoran terapung, kami pun kembali ke Siem Reap melintasi sungai yang kini gelap, hanya diterangi semburat sisa cahaya matahari terbenam di balik gerumbulan bakau.

Esok harinya, kami berangkat menuju Ta Prohm pagi-pagi buta untuk mengejar sunrise dan menghindari rombongan turis masal. Di sinilah Tomb Raider dulu dibikin, makanya jadi tempat favorit turis deh. The real Ta Prohm? Eerie, mystical... apalagi di bawah cahaya matahari pagi yang keemasan malu-malu dan sunyi, reruntuhan kuil batu yang sebagian ditelan oleh akar raksasa pohon kapuk dan banyan ini benar-benar misterius dan sekaligus fotogenik. Justru karena belum direnovasi 100%, Ta Prohm malah jadi makin keren.

Aslinya sih, Ta Prohm didirikan sekitar Abad ke-12 oleh Raja Jayavarman VII sebagai kuil Budha; konon dulunya menjadi tempat tinggal 12,500 orang termasuk para pendeta dan penari. Sulit membayangkan, apalagi dalam kesunyian pagi di tengah reruntuhan batu Ta Prohm kini...

Untungnya kami datang pagi-pagi buta, jadi bisa foto-foto sampai puas. Sebentar matahari meninggi, rombongan turis yang berisik pun memenuhi Ta Prohm dan tempat ini sudah nggak ada mistis-mistisnya lagi deh...


(lanjut ke Siem Reap, part II)

2009-01-29

One Night in Singapore ...!

Entah kenapa, suatu hari Kamis yang kelabu, saya dan seorang teman memutuskan untuk pergi ke Singapore. Karena libur cuma hari Sabtu-Minggu, kami harus merencanakan trip ini dengan cerdas, hehehe... Who expected that, it was gonna be one of the coolest trip ever!

Sebenernya rencana kunjungan ke Singapore nggak jelas, saya cuma pengen "get a pair of Choo or Blahnik*" (if you know what I mean, hehehe)... Sementara teman saya "cuma pengen wind out dan mau ngikut saya aja, nggak pengen belanja". Nah lo...
Kami sampai di Changi airport hari Sabtu siang, langsung naik MRT ke Orchard-- the prime destination plus tempat kita menginap.

Sampai di hotel dan check-in, tanpa ba-bi-bu kami langsung melangkahkan kaki ke Orchard. Saat itu lagi sale season, jadi belum-belum sudah ngilerlah kami. Kami lalu ketemu dan ditemani seorang teman yang memang Singapore resident dan tahu banget tempat-tempat belanja paling asyik. Jadilah mulai sekitar jam 4 sore sampai jam 10 malam, kami shopping marathon sampai kaki bengkak (beneran!) Teman kami pun terus menyarankan tempat-tempat belanja asyik (dan somehow affordable), juga dengan semangat menyarankan "why don't you buy? enjoy it" Hihihihi, benar-benar dia ini our shopping guardian angel (this is a tribute for you, kalau pas baca, you know who you are and we really think that you are an angel!)

Setelah itu kami pergi ke Lau Pa Sat Festival Market untuk makan malam, apalagi kalau bukan dengan the infamous Singapore Chili Crab! Fueled up, walaupun kaki masih sakit, kami lalu jalan lagi ke Singapore Marina, melihat pemandangan malam Singapore yang menakjubkan dan foto-foto di depan Merlion, patung singa lambang Singapore (dengan gaya narsis dong). Kami lalu menyusuri sungai, melewati Anderson bridge, Clarke Quay... Sepanjang jalan kami terus berfoto-foto gaya gila dan ketawa-ketawa ngakak (curiga they put something in the Chili Crab!) Ketika kami tiba di Clarke Quay yang dipenuhi dengan clubs, waktu sudah hampir jam 3 pagi (club-goers pun sudah menyerah dan siap-siap pulang). Kami pun sadar dan ikut menyerah... it was time to sleep...

Paginya, kami bangun kesiangan, tapi tanpa malu-malu langsung pergi last minute shopping. Dasarrrr... Jam 2 siang kami sudah di atas pesawat (sukses menambah 17 kilo bagasi, hasil belanjaan) dan berusaha melupakan how much we have spent, hehehe.......

Laporan terakhir: saya tidak beli any pair of Choo atau Blahnik*, tapi yang jelas dapat yang lain dong (many of them, hahahaha). Dan, teman saya yang katanya nggak pengen belanja ternyata belanjanya lebih ngamuk dari saya....!

* wonder who are Choo and Blahnik? Get educated here

Nha Trang... just another beach?!


Nha Trang adalah salah satu kota pantai paling terkenal di Vietnam, konon teluknya salah satu yang terindah di dunia. Makin populer lagi, setelah menjadi lokasi Miss Universe Pageant 2008. Kebetulan saya ada meeting di Nha Trang, jadi terpaksa deh (beneran nih terpaksa.. hehehe) saya mengunjungi Nha Trang...

Pecinta scuba diving dan watersports bakal have good time di Nha Trang, karena memang di sinilah prime spot-nya. Harganya juga lumayan masuk akal. Sayangnya saya tidak punya waktu buat watersport dan diving, karena setelah diconfirm, diving atau snorkeling trip minimum dari subuh sampai jam 1 siang (sementara pesawat saya besoknya jam 1 siang....)

Jadilah Nha Trang trip saya sore itu dimulai dengan mengunjungi salah satu spa yang jumlahnya luar biasa banyak di Nha Trang. Selain spa, tempat yang juga populer adalah 'mud bath'. Bener-bener mandi lumpur! Kata teman-teman sih asyik juga dan direkomendasikan (none of them came out with smoother skin but still.... )
Malamnya saya nongkrong di salah satu beach restaurants keren yang menjamur di pinggir pantai, sambil sibuk menolaki ajakan dugem dari teman-teman (hehehe, Nha Trang juga terkenal dengan dunia dugemnya....)

Pagi harinya saya mulai muter-muter Nha Trang; naik becak lah yaa (di sini sebutannya cyclo). Enam puluh ribu Vietnamese Dong saja, sekitar 4 dollar, buat setengah hari. Karena pantai nggak terlalu menarik buat saya (lha wong rumah sudah di pinggir pantai), jalan-jalan dimulai dengan mengunjungi Po Nagar. Candi hindu Champa ini dibangun sekitar Abad ke-7 untuk memuja dewi Yan Po Nagar, Champa's equivalent of Mahisasuramardhini (Durga). Kerajaan Champa yang berkembang dari abad 7-18 di Vietnam selatan dan tengah, memiliki akar melayu-polynesian kuat seperti kerajaan-kerajaan di Melayu dan Indonesia. Mereka memiliki teks Melayu tertulis tertua, bahkan jauh lebih tua dari teks melayu tertua yang ditemukan di Sumatra. Kini orang-orang Champa tidak memiliki negara sendiri, setelah kerajaan Champa mulai ditaklukkan Vietnam sekitar Abad ke-15. Mereka sekarang tersebar di Vietnam dan Cambodia. Penampilan fisiknya lebih mirip melayu (mata lebar, kulit sawo matang) dan sebagian besar memeluk Islam.

Dari Po Nagar, lalu melanjutkan ke Long Son Pagoda. Walaupun terkenal dengan patung Buddha putih raksasa di puncaknya, pagoda ini menurut saya nggak terlalu spesial. Yang saya ingat spesial, di sini saya melihat orang masuk ke bawah bel raksasa terus dipukul deh bel itu sama seorang nenek tua. Guongggggg..... kebayang dong pasti tuh telinga berdenging..... Cuma saya nggak terlalu tahu maksudnya; ditanya nggak ada yang nyambung...

Dari situ saya melanjutkan ke Katedral Nha Trang, yang jalan masuknya dipenuhi plakat-plakat nama orang meninggal, Maria Nguyen Thi, Giuseppe Nhanh Trung..... Di dalam dan sekitar gereja orang sedang sibuk menyiapkan pesta natal, saya sih melihat saja sambil chill out di dalam gereja tua bergaya Perancis yang adem ini. By the way, walaupun pemeluk Kristen hanya 8% dari populasi Vietnam, Christmas is a BIG thing here.

Sayangnya, cuma sampai di sini lah Nha Trang trip buat saya. Musti pulang bo, besoknya ngantor. Next time mungkin harus diving & snorkeling ya...

Dalat, Vietnamese's honeymoon destination

Dalat di dataran tinggi Central Vietnam adalah top honey moon destination buat Vietnamese. Tempatnya dingin, banyak bunga, ada danau Xuan Huong di tengah kotanya, romantis...

Dalat bisa dicapai dengan mobil, sekitar 6 jam dari Ho Chi Minh City, atau dengan pesawat juga bisa. Kotanya sendiri sih buat saya kurang impressive-- TAPI (huruf besar) sangat terpelihara dan penuh perencanaan. Ceritanya, sekitar abad ke-19 waktu jaman Vietnam di bawah Perancis, tersebutlah seorang dokter yang naksir berat melihat potensi Dalat; namanya Alexandre Yersin. Dia pun mengajukan proposal ke pemerintah kolonial Perancis untuk menjadikan Dalat kota peristirahatan. Dalat pun dibangun berdasarkan urban planning yang lumayan canggih, termasuk boulevard dan villa-villa gaya Perancis yang masih lestari sampai sekarang.

Entah karena hawa dinginnya, atau memang tanahnya yang subur, Dalat dihiasi bunga di mana-mana. Kalau suka bunga, bisa mengunjungi Dalat Flower Garden (yang agak so-so gitu deh). Di dalam kota Dalat, tempat yang umumnya didatangi turis adalah Cho (pasar) Dalat, lalu istana musim panasnya Emperor Bai Dao, dilanjutkan dengan Dalat train station (kita bisa naik kereta tua ke Trai Mat, terus mampir ke Lin Phuong pagoda). Malam hari, kita bisa jalan-jalan di sekitar Xuan Huong Lake yang persis di tengah kota, duduk makan jagung bakar, lalu ngopi di salah satu restauran yang bertebaran dekat Cho Dalat.

Di sekitar Dalat, banyak danau dan air terjun yang cantik-cantik. Karena jalur ke air terjun pastinya naik turun, coba jadwalkan barang 1-2 saja. Yang wajib didatangi karena paling dramatis adalah Pongour waterfalls. Selain itu juga ada Bo Blang, Prenn, Elephant, dan air terjun lainnya. Saya juga sempat mengunjungi Traditional Silk Village, di mana kita bisa melihat proses pembuatan sutra mulai dari masih berupa kepompong sampai penenunan dan pencelupan warna. Tempatnya agak di luar kota, dekat Elephant waterfall.

Jujur saja, masih banyak tempat lain yang lebih impressive di Vietnam ketimbang Dalat. Tapi kalau telanjur tinggal di Vietnam kayak saya, ya gak rugi deh dateng ke Dalat. Jangan lupa beli oleh-oleh strawberry jam yummy khas Dalat yang kandungannya 100% strawberry dan gula tanpa bahan tambahan lainnya....