2009-02-01

Siem Reap, part I: Tonle Sap & Ta Prohm

Sebagai pecinta reruntuhan bersejarah (hehehehe), Siem Reap sudah lama ada di daftar must-visit saya. Siem Reap adalah bekas pusat pemerintahan Khmer Empire yang berkembang sekitar Abad ke-7 higga Abad ke-15. Karena itu, di sini kita bisa menemukan banyak sekali situs bersejarah, yang kini terkubur atau terselip di antara tanah pertanian dan hutan. Makin terkenal setelah menjadi setting film Tomb Raider yang pertama (... bayangin deh Angelina Jolie loncat-loncat di sini)

Mengunjungi Siem Reap sebenarnya gampang sekali; jumlah penerbangan internasional ke Siem Reap menakjubkan frekuensinya dan dari berbagai negara pula; mulai dari Bangkok, Singapore, KL, Laos, HCMC, Hanoi, sampai Seoul.... Masuk ke Cambodia pun lumayan gampang, bisa dapat visa on arrival dengan membayar 20 USD dan selembar foto 4x6.
Untuk hotel, Siem Reap punya pilihan yang luar biasa banyak; mulai dari yang super fancy sampai budget option. Saya tinggal di sebuah guest house mid-range (tentu saja ketemu dari internet), yang menawarkan paket all-in: akomodasi, meal, transport, dan guide, dengan harga super reasonable. Tempatnya juga squeaky clean, dilengkapi dengan pemilik yang sangat bersahabat, plus staff yang ramah-ramah. Love it! (kalau mau tahu nama tempatnya, just ask me...)

Karena tiba di Siem Reap menjelang sore, rencana pertama adalah melihat sunset di Tonle Sap ("the Great Lake"), sekitar 30 menit dari Siem Reap. Danau ini sangat unik, karena selain luasnya yang berubah dramatis dengan pergantian musim, arah alirannya pun turut berubah sesuai musim. Di musim kemarau, Tonle Sap mengalir ke arah Sungai Mekong, mengerut ke ukuran sekitar 3000 km2. Setelah musim penghujan datang, arah aliran berbalik, dan Tonle Sap pun mengembang lima kali lipat lebih, membanjiri hutan dan area sekitarnya. Tonle Sap kaya dengan ikan, menjadi tempat tinggal ribuan orang di atas rumah terapung, juga mejadi habitat bebagai jenis fauna hingga ditetapkan menjadi UNESCO biosphere.

Menyusuri sungai menuju Tonle Sap, kita bisa melihat kehidupan orang-orang di atas rumah terapung. Anak-anak kecil yang berdayung dengan perahu atau bermain air dengan riang, orang bersiap untuk pesta malam harinya, mengantri beli barbecue ular (!), atau sekedar bersantai di atas hammock tanpa peduli turis-turis norak yang lewat. Tonle Sap sendiri sangat luas, lebih mirip laut ketimbang danau, sampai kita tidak bisa melihat tepi-tepinya. Setelah memotret sunset di atas sebuah restoran terapung, kami pun kembali ke Siem Reap melintasi sungai yang kini gelap, hanya diterangi semburat sisa cahaya matahari terbenam di balik gerumbulan bakau.

Esok harinya, kami berangkat menuju Ta Prohm pagi-pagi buta untuk mengejar sunrise dan menghindari rombongan turis masal. Di sinilah Tomb Raider dulu dibikin, makanya jadi tempat favorit turis deh. The real Ta Prohm? Eerie, mystical... apalagi di bawah cahaya matahari pagi yang keemasan malu-malu dan sunyi, reruntuhan kuil batu yang sebagian ditelan oleh akar raksasa pohon kapuk dan banyan ini benar-benar misterius dan sekaligus fotogenik. Justru karena belum direnovasi 100%, Ta Prohm malah jadi makin keren.

Aslinya sih, Ta Prohm didirikan sekitar Abad ke-12 oleh Raja Jayavarman VII sebagai kuil Budha; konon dulunya menjadi tempat tinggal 12,500 orang termasuk para pendeta dan penari. Sulit membayangkan, apalagi dalam kesunyian pagi di tengah reruntuhan batu Ta Prohm kini...

Untungnya kami datang pagi-pagi buta, jadi bisa foto-foto sampai puas. Sebentar matahari meninggi, rombongan turis yang berisik pun memenuhi Ta Prohm dan tempat ini sudah nggak ada mistis-mistisnya lagi deh...


(lanjut ke Siem Reap, part II)

1 comment:

  1. whahahah.. Ndra, tambah kepingin.... hua huaaa... :p

    ReplyDelete