2008-01-31

Travelthon in Bangkok

Waktu saya di Bangkok cuma satu hari. Jadi inilah cerita saya, satu hari traveling marathon (=travelthon, hehehe) mengunjungi Bangkok dan sekitarnya.

Pagi itu saya bangun pagi sekali, langsung mandi dan turun untuk sarapan. Rombongan tur saya akan berangkat pukul 7, jadi masih ada 45 menit untuk menikmati makan pagi a la Thailand. Tom yum buat sarapan.. ehm...
Beberapa saat kemudian, saya sudah ada di atas bis yang membawa rombongan tur. Tidak banyak, cuma empat pasangan suami istri setengah baya dan saya. Dulu saya freaked out dengan ide traveling sendirian. Tapi setelah dilakoni, wow, it's great!

Bis membawa kami menembus jalanan Bangkok yang masih lengang. Di sudut-sudut jalan terlihat orang membakar dupa dan meletakkan sesajen. Tujuan pertama kami adalah desa Damnernsaduak, lokasi pasar terapung yang terletak di pinggiran Bangkok.
Sesampainya di desa Damnernsaduak, kami pun melanjutkan perjalanan dengan kapal motor kecil. Kapal itu membawa kami menembus perkampungan yang berdiri di sepanjang kanal yang bercabang-cabang (klongs). Beberapa kali kami bertemu dengan penduduk setempat yang sedang bersampan untuk belanja sayuran di pagi hari.



Ketika kami tiba di pasar Damnernsaduak, terus terang saja saya lumayan kecewa. Masalahnya, di pasar ini lebih banyak turis ketimbang penjualnya. Jelas sekali kalau Damnernsaduak sudah dikomersialisasi habis-habisan oleh industri turis masal di Thailand (foto kanan atas).
Walaupun agak kecewa, saya sempat membeli ketan dengan mangga khas Thailand, lalu duduk di bangku panjang, makan bersama-sama beberapa penduduk lokal yang juga sedang menikmati sarapan. Banyak juga makanan yang lain juga bikin saya ngiler, cuma karena saya tidak terlalu yakin kalau halal, saya cuma berani ngicipin si ketan mangga.

Perjalanan kami dilanjutkan dengan mengunjungi Pagoda Nakhon Pathom yang kabarnya tertua di Thailand (foto kiri atas). Kali ini kami benar-benar bertemu dengan local dan biksu, jumlahnya mengalahkan turis walaupun persaingan masih tetap ketat....

Rombongan pun kembali ke Bangkok dengan empat pasangan yang kelelahan gara-gara jalan ke pagoda yang benar-benar menanjak. Tapi buat saya perjalanan masih panjang. Next destination: Bangkok Grand Palace.

Bangkok Grand Palace adalah istana raja Thailand pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20. Walaupun King Bhumibol sekarang tidak tinggal di sini, istana ini masih tetap terawat baik dan wajib dikunjungi. Istana ini arsitekturnya sangat menarik, campur sari antara gaya Thailand, Cambodia, Renaissance, agak susah menjelaskannya dengan kata-kata (foto bawah).

Malam itu saya akhiri dengan mengunjungi pasar malam Suan Lum ditemanai seorang teman Thai (yang tadinya saya harap bisa disuruh nawar, tapi ternyata nggak bisa diandalkan) untuk mencari oleh-oleh. Lumayan juga, saya menemukan tea set khas Thailand yang dari dulu saya cari, plus lukisan kopi penari Thailand.

Paginya, saya sudah berada di airport meninggalkan Bangkok. Cuma satu hari, travelthon, capek, tapi puas! Mungkin kapan-kapan balik lagi? Terus terang, sebenarnya nggak terlalu pengen tuh...


2008-01-30

Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 2: It's Not My Place

Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Dubai adalah padang pasir dengan beberapa biji gedung dan debu tebal.
Sekarang, Dubai adalah kota dengan ratusan pencakar langit:
- Burj Dubai, gedung tertinggi di dunia
- Burj Al Arab, : hotel tertinggi dan termahal di dunia, yang by the way selalu fully booked
- The Palms, keajaiban dunia terbaru, tiga set pulau buatan berbentuk palem raksasa dengan ratusan bangunan di atasnya (yang kabarnya sudah sold out)
- taman hiburan terbesar di dunia: Dubailand, yang direncanakan mengalahkan Disneyland California,
- juga mall terbesar di dunia: Dubai Mall.

Meskipun seluruh proyek yang saya sebutkan di atas belum sepenuhnya selesai, Dubai sudah genap menjadi the newest world's hottest destination.

Pembangunan dan ekonomi yang sedemikian pesatnya tentu saja menarik banyak orang untuk datang ke Dubai. Apalagi, pajak di Dubai 0%! Bayangkan, betapa ngilernya Europeans yang di kampung halamannya membayar 50% pajak, untuk segera pindah ke Dubai. Mereka yang di negara asalnya berpikir ratusan kali sebelum membeli mobil, di sini dengan gaya menyetir Porsche, Mercedez, atau Ferrari. Selain tanpa bea masuk, pajak nil, bensin juga disubsidi. Jangan heran kalau jalanan Dubai dipenuhi mobil-mobil paling mutakhir dan mahal di pasaran dunia.

Masalah fasilitas, di Dubai semuanya ada. Jalanan yang mulus dan lebar, pelayanan publik yang efisien, didukung dengan penegakan hukum yang pasti (mau menyuap polisi? Wah, hitung-hitung dulu deh sebelum masuk penjara). Masalah hiburan, buat para pecinta kehidupan malam, jep ajep ajep ajep, Dubai is your perfect haven! Ada puluhan clubs, discos, bars...... you name it!

Masalahnya, I am an early sleeper. Night life? Not for me. Saya lebih suka jalan-jalan ke alam bebas, melihat pemandangan, peninggalan bersejarah... Inilah yang Dubai tidak punya. Kota ini begitu artificial, semuanya man made, semuanya baru dibangun kemarin lusa, tanpa sejarah. Di musim dingin, kita masih bisa jalan-jalan offroad dengan 4x4 vehicle ke padang pasir, tapi di musim panas jangan coba-coba karena temperatur bisa mencapai 50 C.
Untuk kompensasi ini, saya biasanya pergi shopping. Semua brand ada di sini dan discount ada terus sepanjang tahun. Tapi, untuk barang non merek dengan kualitas top, Indonesia masih tidak ada duanya. (Jadi kalau ketemuan saya di Indonesia, tolong jangan diajak ke mall ya. Ke pasar aja.)
Sayangnya, shopping ini tidak bisa dilakukan rutin. Selain cepat bosan, bisa bangkrut lah.

Jadilah kegiatan favorit saya di weekend (kalau tidak keluar kota) adalah nonton bioskop dan makan. Ada 1001 restoran di Dubai, mulai makanan Arab, India, Thailand, sampai makanan Indonesia. Mulai dari yang $200 sekali makan atau $2 berdua.
Selanjutnya, menikmati bermalas-malasan di atas sofa, nonton TV. Atau masak kalau lagi mood.

Yah, itu mah nggak usah tinggal di Dubai juga bisa.. ?

Memang! Kan sudah saya bilang kemarin, Dubai is not my favorite place!

Fun fact: Dubai menggelar shopping festival mulai 24 Januari sampai 24 Februari 2008. Diskon besar-besaran di semua toko! Kalau mau berkunjung (karena baru menang lotere atau memang Anda aslinya kebanyakan duit), ini saat yang tepat. Meskipun cuaca sedang nyaman (temperatur sekitar 18-20 C), harga hotel meroket dan tiket pesawat ke Dubai sulit dicari. Sekitar 5 tahun yang lalu, harga di Dubai bisa disamakan Jakarta, tapi sekarang sudah berlipat-lipat lebih mahal.

Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 1: The Misunderstandings

Saat ini saya tinggal di Dubai, jadi rasanya aneh kalau saya tidak berbagi cerita tentang Dubai. Sebenarnya Dubai bukan tempat favorit saya, tapi tidak mengecewakan juga (mungkin kalau para pecinta Dubai mendengar kata-kata saya ini, mereka bakal berteriak "Are you mad? This city is super marvellous!!!") Anyway, let's start...

Hal yang sering ditanyakan orang ketika mereka mendengar saya tinggal di Dubai adalah:

1-Wah, apa aman tuh, perempuan kerja di Dubai? Sering diganggu orang Arab nggak?

Ini klarifikasi saya:
Aman Pak! Lebih aman jalan di Dubai ketimbang jalan di Jakarta. Di sini nggak ada jambret atau copet. Diganggu? Orang Arab sopan-sopan lo Pak. Tapi kalau pakai rok mini, nggak janji lah ya. Makanya kalau berpakaian yang sopan dong!

2-Harus pakai cadar dan baju hitam-hitam nggak kalau jalan di luar?

Ini klarifikasi saya:
Mau pakai baju hitam-hitam, pakai cadar, pakai jilbab warna-warni, pakai baju biasa, pakai baju tradisional negara masing-masing, pakai yang memperlihatkan aurat, semuanya ada di Dubai dengan persentase yang sama rata! Yang ini saya no comment karena masing sering shock karena masalah aurat itu tadi (maklum wanita Arab ukurannya 'agak' berbeda dengan wanita Asia, hehehe). Kata Ibu saya yang baru berkunjung ke sini beberapa bulan lalu: "Jahiliyah!"

3-Dubai itu dekat sama Mekah kan? atau, Ooo... Dubai... yang di Arab Saudi kan?
Yang ini biasanya saya benar-benar jengkel. Iya lah, Indonesia itu negara besar buanget, tapi coba sekali-sekali melihat peta dunia gitu loh. Atau nonton berita. Jangan nonton sinetron terus, nggak mendidik (hehehe, saya nggak pernah ngamuk kayak gini loh; saya sembunyiin aja dalam hati).

Klarifikasi saya:
Dubai itu Pak, salah satu kota di negara United Arab Emirates. Jaraknya dari Mekah sekitar 1635 km, kurang lebih jarak dari Makassar ke Jakarta. Saudi Arabia itu cuma salah satu dari 10 negara yang berdesakan di Jazirah Arabia. Jelas Pak? Nanti kalau sampai di rumah tolong buka peta ya! (hehehe.... nggak segalak itu ding...)
Nah, besok kalau Anda ketemu saya, jangan tanya lagi ketiga pertanyaan di atas ya! Awas aja!

Berikut ini fakta sesungguhnya: Populasi Dubai diperkirakan sekitar 2 juta orang. Kurang dari 20% adalah warga negara asli (populer disebut "locals", identik dengan super rich), 23% Arab pendatang & Iranian, 50% orang India dan Pakistan, sisanya baru pendatang yang lain (Europeans especially British, Americans, Filipino, etc).

Jadi ini negara Arab apa negara bagian India? Kok lebih banyak orang Indianya? Begitulah....

Kebanyakan orang Asia di Dubai adalah Filipino. Mereka kelihatan mirip sekali orang Indonesia, tapi warna kulitnya cenderung lebih cerah. Kalau saya mengajak ngomong mereka dalam bahasa Inggris, biasanya mereka kelihatan sebal karena dikiranya saya salah satu bangsa mereka yang belagu. Entah sudah berapa puluh kali saya tahu-tahu diajak ngomong oleh orang Filipin "blktq blktq qtq qtq..!" Biasanya sih saya cuma cengar-cengir, menunggu mereka selesai ngomong panjang lebar, terus menjawab "Sorry, I don't speak that!"

Jumlah orang Indonesia di Dubai hanya sedikit, secara garis besar profesi dibagi 3: domestic helper (halah! pembokat bahasa jelasnya), pekerja hotel/ restoran, dan pekerja oil & gas. Saya termasuk golongan terakhir. Profesi saya agak susah dijelaskan ke non-oilfield people (muggles, hehehe....). Perusahaan saya juga namanya agak susah disebutkan.

Makanya, ketika orang bertanya apa pekerjaan saya, biasanya Ibu saya dengan enteng menjawab "Te-ka-we!"

Lah bener kan. Saya memang tenaga kerja wanita kok. Gitu saja kok repot!

2008-01-29

Sailing on the Nile, bagian 3: to Aswan

Kapal kami berlepas dari Luxor senja itu, menuju ke Aswan. Saya bergabung dengan para penumpang yang lain, duduk di atas dek menikmati belaian angin sore Nil yang hangat. Di sepanjang tepian Nil, waktu seakan-akan berhenti: semuanya serba tradisional dan orisinal. Kerbau sedang berendam, anak anak bermain air, para wanita sibuk dengan urusan rumahnya, para petani pulang berladang, ribuan pohon kurma, mangga, dan gandum, semuanya berkilau ditimpa cahaya keemasan matahari sore.

Hari selanjutnya, kami berhenti untuk mengunjungi kuil Kom-Ombo dan kuil Horus, masing-masing didirikan untuk memuja dewa favorit penduduk Mesir kuno setempat. Saya terus terang sudah lupa ada berapa puluh dewa, karena Guide kami terus nyerocos, tiap hari mengenalkan nama dewa-dewa baru. Bahkan dewa-dewa ini bisa merging (kayak perusahaan), supaya pemujanya tidak terus menerus berperang. Contohnya dewa Amun dan dewa Ra, yang di saat kemudian menjadi dewa Amun-Ra. Nah , mirip-mirip seperti Chevron-Texaco atau Sony-Ericcson kan...

Kami pun melanjutkan pelayaran ke Aswan. Saat itu saya sudah bosan dengan sejarah (siapa yang membangun apa, berapa ribu tahun yang lalu, digantikan oleh siapa... I just don't care anymore). Sebaliknya, saya sedang dimabuk perasaan romantis, maklum pemandangan luar biasa cantiknya. Saya cuma duduk-duduk di atas dek, menikmati pemandangan, memesan satu cup es krim dengan rasa berbeda setiap jam, dan memotret setiap rumah, binatang, atau manusia yang ada di tepian Nil....

Ketika akhirnya kami tiba di Aswan, saya tidak bisa lagi melarikan diri dari sejarah.

Dam Aswan, yang dibangun untuk mengatur aliran Nil, telah membentuk danau buatan Lake Nasser (atau disebut Lake Nubia oleh orang Sudan). Danau buatan raksasa yang luasnya sekitar 5250 kilometer persegi ini, otomatis menenggelamkan banyak desa dan situs bersejarah. Menariknya, ada beberapa situs yang diselamatkan, stone-by-stone, untuk kemudian dibangun lagi di tempat yang lain, stone-by-stone! Asli tapi palsu, jadi saya pura-pura melupakan fakta menyedihkan ini.

Salah satu situs tersebut adalah Kuil Isis di Philae, tempat yang selanjutnya saya datangi. Aslinya didirikan pada zaman Ptolemaic (dinasti asal Yunani yang menguasai Mesir 305-30 BC) di atas pulau Philae, kini direstorasi kembali 550 m dari situs aslinya. Untuk mencapai Kuil Isis kita harus menggunakan kapal kecil menyeberangi Lake Nasser. Kuil Isis populer dengan kualitas romantismenya; bagaimana tidak, dengan kolom-kolomnya yang tinggi dan berornamen indah, terpantul pada air yang biru jernih... Benar-benar tempat yang puitis...

Tempat terakhir yang saya kunjungi di Aswan, juga patut dicatat dalam sejarah: sebuah restoran lokal yang masakannya enak sekali. Dengan roti Mesirnya yang masih panas, restauran ini benar-benar best-kept secret...(thanks to Lonely Planet for this secret).

Fun fact: Bicara tentang romantisme, siapa yang tidak ingat Cleopatra. Cleopatra, pharaoh Mesir kuno terakhir, yang sekaligus terkenal sebagai simbol kecantikan Mesir, sebenarnya adalah orang Yunani. Cleopatra dan beberapa pharaoh sebelumnya adalah dinasti Yunani yang memerintah Mesir kuno beberapa ratus tahun sebelum runtuhnya kerajaan ini.Konon dia bahkan nggak bisa ngomong bahasa Mesir kuno.

Sailing on The Nile, bagian 2: Luxor

Pagi itu udara Luxor terasa sejuk menyapa wajah saya. Sleeping train yang membawa saya dari Cairo ke Luxor selama 9 jam benar-benar nyaman; saya tidur nyenyak seperti bayi semalaman.
Berjalan menyusuri jalanan Luxor yang mulai hiruk pikuk, sulit rasanya membayangkan jika ribuan tahun lalu kota kuno Thebes pernah berdiri tepat di sini. Thebes pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mesir Kuno Dinasti Baru, sekitar 3000 tahun yang lalu. Tidak heran Luxor sangat kaya dengan peninggalan bersejarah.



Perjalanan saya di Luxor dimulai di Kuil Karnak (foto kiri atas dan kiri bawah), yang sering disebut sebagai museum open air terbesar di dunia. Kemudian dilanjutkan dengan Kuil Luxor (foto kanan atas) yang berdiri di sebelah selatan Karnak. Dulunya, antara kedua kuil ini dipisahkan oleh danau buatan. Bayangkan ukurannya, karena luas area situs ini sekitar 35 hektar.

Menyeberangi Nil, saya pun tiba di Luxor tepi barat. Orang Mesir kuno membangun Necropolis (kota kematian) bagi raja dan para bangsawan di sini karena sisi barat adalah tempat terbenamnya matahari, yang melambangkan kematian. Salah satu monumen terpenting adalah Kuil Hatshepsut (foto kanan bawah) yang dibangun sebagai kuil kematian Ratu Hatshepsut, firaun wanita yang pernah memegang kekuasaan terlama di Mesir.

Dalam perjalanan pulang, saya juga mengunjungi situs makam bawah tanah di Valley of The Kings, tempat mumi para firaun beserta bekal kematiannya dikubur. Makam ini berupa ruangan sempit bawah tanah , sekitar 4x4 meter, penuh dihiasi lukisan yang menceritakan perjalanan hidup sang firaun. Setiap makam hanya diperuntukkan buat seorang raja atau ratu. Meskipun panas dan pengap (yang merasa mudah pingsan dianjurkan untuk tidak coba-coba), makam ini sangat menarik karena sebagian besar masih asli, belum dipugar sama sekali.

Fun fact: Setelah selesai dimumifikasi, sang firaun disemayamkan di makamnya dalam peti emas, dibekali perhiasan mewah, kereta kuda, makanan, minuman, bahkan juga sandal dan celana dalam. Meskipun didesain untuk tidak dapat ditemukan, sebagian besar makam di Valley of The Kings telah dirampok habis-habisan oleh para tomb raiders. (ternyata bukan cuma Lara Croft yang terlibat skandal ini, bisnis merampok makam ini umurnya sudah ribuan tahun...) Saya sih tidak terlalu menyalahkan para perampok kubur itu. Mau diapakan emas berkilo-kilo itu oleh sang firaun yang sudah mati? Pasti jauh lebih bermanfaat untuk yang masih hidup...(sssh, just a thought!)

2008-01-28

Sailing on the Nile, bagian 1: Pengantar


"Mesir adalah hadiah dari Nil" kata Herodotus.

Sulit dibantah. Tanpa sungai Nil, bisa dipastikan peradaban Mesir kuno yang sudah berjaya ribuan tahun lalu saat bagian dunia lain masih berburu dan meramu, tidak akan pernah bersemi. Demikian pentingnya arti sungai Nil, orang Mesir kuno menamakan negara mereka "Khemet"; "hitam", merujuk pada warna lumpur yang dibawa oleh banjir Nil. Setiap tahun, selama ribuan tahun, banjir sungai Nil merendam daerah di sekitarnya. Banjir ini membawa endapan lumpur yang kaya nutrisi, menyuburkan kembali tanah pertanian di sekitar aliran Nil. Semakin tinggi banjir, bisa dipastikan daerah yang terendam semakin luas dan tanah pertanian yang kembali disuburkan pun semakin melebar. Pemerintah Mesir kuno bahkan menetapkan pajak berdasarkan tinggi banjir Nil: semakin tinggi banjir, semakin tinggi pajak pada tahun itu (karena otomatis panen semakin melimpah!).

Saat ini, banjir sungai Nil hanya kenangan masa lalu. Dengan dibangunnya Aswan Dam, aliran Nil telah diatur sedemikian sehingga banjir tidak terjadi lagi. Maklum populasi Mesir sudah berkembang sehingga banjir jadi urusan yang super merepotkan (orang Indonesia pasti tahu kan, bagaimana tidak enaknya kebanjiran!) Dilema memang, karena di satu sisi banjir berarti regenerasi nutrisi tanah, di sisi lain berarti terganggu atau bahkan rusaknya infrastruktur.

Hampir semua situs perdaban Mesir Kuno terletak di sepanjang aliran Nil. Mudah dimengerti, karena Mesir sebenarnya adalah dataran kering dengan curah hujan hampir nol. Ketika kita menyusuri sungai Nil, kita bisa melihat jelas bagaimana dataran yang dekat dengan Nil begitu hijau dan subur, sedangkan di latar belakangnya gunung-gunung berdesakan tanpa sebatang pun tanaman yang sanggup tumbuh.

Jadi, untuk napak tilas perdaban Mesir kuno, cara terbaik tentu saja berlayar menyusuri Nil. Sungai Nil mengalir ribuan kilometer membelah Afrika, bermula dari dua sumber: Nil Putih yang bersumber di Danau Victoria (Afrika Tengah) dan Nil Biru yang berhilir di Ethiopia. Kedua sumber ini bertemu di Sudan lalu mengalir membelah padang kering hingga bermuara di Laut Tengah.
Jadi tentu saja saya tidak perlu melayari Nil mulai dari hulu hingga hilir, karena liburan saya cuma seminggu, hehehe...

Rute klasik menyusuri Nil adalah dari Luxor ke Aswan (menentang arus), atau sebaliknya, searah arus, dari Aswan ke Luxor. Saya memilih menentang arus untuk menyesuaikan dengan kepribadian saya. Hehehe, bukan sih. Saya memilih menentang arus karena pelayaran menjadi lebih lama sedikit dan saya punya waktu lebih untuk menikmati Nil. Hei, saya datang jauh-jauh dari Jogja nih...!

Pyramids of Giza

Mengunjungi Mesir tanpa mengunjungi piramid bisa dikatakan sebuah dosa besar..! Karena itu, tidak lebih dari dua jam sejak saya menjejakkan kaki di Mesir, saya sudah sampai di Giza. Hanya sekitar 20 menit dari hingar-bingar Cairo, Giza dengan piramidnya adalah obsesi para pengembara sejati semenjak ribuan tahun.

Ada tiga piramid di Giza, masing-masing dibangun oleh raja (pharaoh) yang berbeda, Menkaure, Khafre, dan Khufu. Piramid yang tertinggi, 138 m, dibangun oleh Khufu 4500 tahun yang lalu.

"And here I am, pyramids! A girl from Indonesia!"

Hari itu saya didampingi guide bernama Nancy, seorang wanita Mesir setengah baya dengan keramahan yang luar biasa. Nancy membawa saya ke tempat di mana kami bisa melihat ketiga piramid itu bersamaan. Masya Allah, luar biasa. Saya duduk termenung, antara percaya dan tidak saya berada di sini. Antara kagum dan kasihan pada ketiga firaun yang tetap tidak hidup abadi meskipun mereka telah membangun piramid yang luar biasa ini...

Seperti orang lain yang merasa masih muda dan sehat, saya juga mencoba masuk ke dalam piramid. Nancy tegas-tegas menyatakan dia tidak mau ikut masuk. Bagaimana tidak, di luar pintu masuk (atau lubang masuk?), terpampang tulisan yang memperingatkan orang tua, penderita sakit jantung, dan klaustrofobik, untuk tidak masuk. Ia juga mengingatkan kalau saya harus membungkuk naik turun sejauh 50 meter tanpa ventilasi memadai, berhimpitan dengan para pengunjung lain (yang semuanya dalam kondisi berkeringat dan terengah-engah)

Akhirnya, setelah membungkuk dan berkeringat, saya sampai juga di ruangan luas di tengah piramid. Wow! Kosong, pengap, dan sama sekali tidak menarik! Sambil garuk-garuk kepala saya kembali berimpitan keluar, sambil menyesal tidak mendengarkan kata-kata Nancy. At least, I can tell you what's there so you don't have to enter it....

Saya dan Nancy lalu duduk di Pizza Hut yang terletak berhadapan dengan Sphinx. Seorang Indonesia, makan pizza yang aslinya dari Itali, dijual di waralaba sukses asal Amerika, sambil memandangi salah satu landmark Mesir kuno yang paling terkenal dalam sejarah. Now, that's what we call crash of cultures!

Fun fact: setiap malam, ada light & sound show dengan latar belakang piramid dan sphinx, menceritakan sejarah bangunan bersejarah ini. Wajib ditonton.

2008-01-27

Cairo - from a history freak point of view

Cairo, ibu kota Mesir, nama arabnya adalah Al-Qahirah, kurang lebih berarti "Kemenangan". Berhubung umurnya 'hanya' sekitar seribu tahun, Cairo termasuk anak-anak jika dibandingkan dengan ibukota-ibukota Mesir terdahulu: Memphis (sekitar 4700 tahun), Thebes dan Heracleopolis (sekitar 4200 tahun), atau Alexandria (2300 tahun).
Tapi jangan salah! Cairo adalah tempat impian para history freaks (termasuk saya...) Di setiap sudut, jangan kaget kalau kita bisa menemukan bangunan bersejarah berumur ratusan tahun, berdampingan dengan toko komputer. Atau masjid tua yang terselip di antara toko cenderamata piramid dan sphinx plastik made in China.

Khan-Al-Khalili, pasar paling populer di Cairo, sampai sekarang masih didatangi ratusan pedagang dan pembeli dari segala penjuru Arabia. Bedanya, sekarang mereka datang dengan mobil atau taksi, tidak lagi dengan kuda atau unta, seperti Khan Al-Khalili 600 tahun yang lalu.

Untuk para history freak sejati, tempat paling menakjubkan di Cairo adalah The Egyptian Museum. Saat ini, museum tersebut terletak di tengah-tengah Cairo, namun museum baru yang lebih bagus sedang dibangun di Giza. Kalau sudah pernah mengunjungi museum ini, Anda bakal cuma melengos pada koleksi Mesir di British Museum atau Louvre. Koleksi Tutankhamun dipajang di sini (lengkap dengan peti emasnya), mumi para firaun termasuk Ramses II (yang diduga sebagai firaunnya Musa a.s.), plus ratusan koleksi lain mulai zaman paleolithik sampai Mesir Romanian . Yang Anda butuhkan: buku panduan yang bagus (pilih yang direkomendasikan Zahi Hawass), sepasang sepatu yang nyaman, air mineral, dan kaos katun (museum ini tanpa AC!). Lupakan kamera Anda karena memotret dilarang keras.

My Top 5 Cairo historical destinations:
1. Egyptian museum
2. Masjid Al-Azhar (gambar kiri atas)
2. Masjid Mohammad Ali di Salaheddin fortress (gambar kanan atas)
3. Khan Al-Khalili
4. Bayt-Al Suhaimi (best kept secret!)
(Piramid di Giza tidak termasuk, karena secara teknis bukan terletak di Cairo)

A Night in Cairo

Cairo! Terus terang saja sejak kunjungan pertama saya beberapa tahun lalu, saya masih punya 'rasa' dengan Cairo. Kata orang, Cairo macet, kotor, tak teratur. Tapi sebaliknya, saya jatuh cinta pada Cairo pada pandangan pertama. Bagi saya, Cairo punya kepribadian. Sejarah. Tradisi.

Siang itu ketika saya tiba di Cairo untuk kedua kalinya, saya sudah merasa sok sekali. Sengaja berdandan dengan kohl (pensil mata) agak tebal (biasanya mana pernah, amit-amit deh) supaya sedikit kelihatan seperti Egyptian. Percaya atau tidak, walaupun hidung saya agak bulat dan jongkok, saya sering dikira orang Mesir. Asal jangan buka mulut deh..!

Dikira orang Mesir lumayan menguntungkan lho. Semua atraksi wisata di Mesir punya 2 macam tarif masuk: untuk orang Mesir dan untuk non-Mesir. Selisihnya kadang-kadang bisa sepuluh kali lipat. Huh, sadis!

Malam itu saya dijamu seorang teman Mesir, Esam, dan tunangannya di Khan-Al-Khalili, pasar tradisional tua yang berseberangan dengan masjid Al-Azhar. Esam memesan moloukhia dengan kelinci. Tunangannya dan saya berbagi shish tawouk. Di bagian depan restauran, para pemusik mulai memainkan instrumen mereka dengan irama yang menyihir untuk mulai menari. Rasanya kok seperti di cerita 1001 malam, keren banget....

Ketika kami melangkah keluar dari restauran, waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Esam bertanya "Now, where do you want to go?" Saya tertawa, menjawab bahwa malam sudah larut. Mereka tertawa juga "The night just starts in Cairo!"


Tentu saja bung, ini Cairo! Fishawy, coffee shop paling terkenal di Cairo yang terletak di salah satu gang sempit Al-Khalili masih dipenuhi cairenese, termasuk beberapa anak-anak yang sibuk bermain petak umpet.
What I was thinking? Kami pun duduk di Fishawy, bergosip, menikmati segelas kopi arab yang rasanya mirip jamu godog bikinan embah saya, menghisap shisha rasa strawberry, menikmati malam hingga pagi menjelang, seperti cara para cairenese menikmatinya selama ratusan tahun.......

Cairenese: penduduk Cairo
moloukhia: daun yang rasanya mirip bayam
shish tawouk: daging ayam fillet panggang
shisha: hubbly-bubby, http://en.wikipedia.org/wiki/Hubbly_bubbly, cara lain menghisap tembakau