2008-01-29

Sailing on The Nile, bagian 2: Luxor

Pagi itu udara Luxor terasa sejuk menyapa wajah saya. Sleeping train yang membawa saya dari Cairo ke Luxor selama 9 jam benar-benar nyaman; saya tidur nyenyak seperti bayi semalaman.
Berjalan menyusuri jalanan Luxor yang mulai hiruk pikuk, sulit rasanya membayangkan jika ribuan tahun lalu kota kuno Thebes pernah berdiri tepat di sini. Thebes pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mesir Kuno Dinasti Baru, sekitar 3000 tahun yang lalu. Tidak heran Luxor sangat kaya dengan peninggalan bersejarah.



Perjalanan saya di Luxor dimulai di Kuil Karnak (foto kiri atas dan kiri bawah), yang sering disebut sebagai museum open air terbesar di dunia. Kemudian dilanjutkan dengan Kuil Luxor (foto kanan atas) yang berdiri di sebelah selatan Karnak. Dulunya, antara kedua kuil ini dipisahkan oleh danau buatan. Bayangkan ukurannya, karena luas area situs ini sekitar 35 hektar.

Menyeberangi Nil, saya pun tiba di Luxor tepi barat. Orang Mesir kuno membangun Necropolis (kota kematian) bagi raja dan para bangsawan di sini karena sisi barat adalah tempat terbenamnya matahari, yang melambangkan kematian. Salah satu monumen terpenting adalah Kuil Hatshepsut (foto kanan bawah) yang dibangun sebagai kuil kematian Ratu Hatshepsut, firaun wanita yang pernah memegang kekuasaan terlama di Mesir.

Dalam perjalanan pulang, saya juga mengunjungi situs makam bawah tanah di Valley of The Kings, tempat mumi para firaun beserta bekal kematiannya dikubur. Makam ini berupa ruangan sempit bawah tanah , sekitar 4x4 meter, penuh dihiasi lukisan yang menceritakan perjalanan hidup sang firaun. Setiap makam hanya diperuntukkan buat seorang raja atau ratu. Meskipun panas dan pengap (yang merasa mudah pingsan dianjurkan untuk tidak coba-coba), makam ini sangat menarik karena sebagian besar masih asli, belum dipugar sama sekali.

Fun fact: Setelah selesai dimumifikasi, sang firaun disemayamkan di makamnya dalam peti emas, dibekali perhiasan mewah, kereta kuda, makanan, minuman, bahkan juga sandal dan celana dalam. Meskipun didesain untuk tidak dapat ditemukan, sebagian besar makam di Valley of The Kings telah dirampok habis-habisan oleh para tomb raiders. (ternyata bukan cuma Lara Croft yang terlibat skandal ini, bisnis merampok makam ini umurnya sudah ribuan tahun...) Saya sih tidak terlalu menyalahkan para perampok kubur itu. Mau diapakan emas berkilo-kilo itu oleh sang firaun yang sudah mati? Pasti jauh lebih bermanfaat untuk yang masih hidup...(sssh, just a thought!)

No comments:

Post a Comment