2008-01-30

Dubai: Cerita Seorang TKW, Bagian 2: It's Not My Place

Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Dubai adalah padang pasir dengan beberapa biji gedung dan debu tebal.
Sekarang, Dubai adalah kota dengan ratusan pencakar langit:
- Burj Dubai, gedung tertinggi di dunia
- Burj Al Arab, : hotel tertinggi dan termahal di dunia, yang by the way selalu fully booked
- The Palms, keajaiban dunia terbaru, tiga set pulau buatan berbentuk palem raksasa dengan ratusan bangunan di atasnya (yang kabarnya sudah sold out)
- taman hiburan terbesar di dunia: Dubailand, yang direncanakan mengalahkan Disneyland California,
- juga mall terbesar di dunia: Dubai Mall.

Meskipun seluruh proyek yang saya sebutkan di atas belum sepenuhnya selesai, Dubai sudah genap menjadi the newest world's hottest destination.

Pembangunan dan ekonomi yang sedemikian pesatnya tentu saja menarik banyak orang untuk datang ke Dubai. Apalagi, pajak di Dubai 0%! Bayangkan, betapa ngilernya Europeans yang di kampung halamannya membayar 50% pajak, untuk segera pindah ke Dubai. Mereka yang di negara asalnya berpikir ratusan kali sebelum membeli mobil, di sini dengan gaya menyetir Porsche, Mercedez, atau Ferrari. Selain tanpa bea masuk, pajak nil, bensin juga disubsidi. Jangan heran kalau jalanan Dubai dipenuhi mobil-mobil paling mutakhir dan mahal di pasaran dunia.

Masalah fasilitas, di Dubai semuanya ada. Jalanan yang mulus dan lebar, pelayanan publik yang efisien, didukung dengan penegakan hukum yang pasti (mau menyuap polisi? Wah, hitung-hitung dulu deh sebelum masuk penjara). Masalah hiburan, buat para pecinta kehidupan malam, jep ajep ajep ajep, Dubai is your perfect haven! Ada puluhan clubs, discos, bars...... you name it!

Masalahnya, I am an early sleeper. Night life? Not for me. Saya lebih suka jalan-jalan ke alam bebas, melihat pemandangan, peninggalan bersejarah... Inilah yang Dubai tidak punya. Kota ini begitu artificial, semuanya man made, semuanya baru dibangun kemarin lusa, tanpa sejarah. Di musim dingin, kita masih bisa jalan-jalan offroad dengan 4x4 vehicle ke padang pasir, tapi di musim panas jangan coba-coba karena temperatur bisa mencapai 50 C.
Untuk kompensasi ini, saya biasanya pergi shopping. Semua brand ada di sini dan discount ada terus sepanjang tahun. Tapi, untuk barang non merek dengan kualitas top, Indonesia masih tidak ada duanya. (Jadi kalau ketemuan saya di Indonesia, tolong jangan diajak ke mall ya. Ke pasar aja.)
Sayangnya, shopping ini tidak bisa dilakukan rutin. Selain cepat bosan, bisa bangkrut lah.

Jadilah kegiatan favorit saya di weekend (kalau tidak keluar kota) adalah nonton bioskop dan makan. Ada 1001 restoran di Dubai, mulai makanan Arab, India, Thailand, sampai makanan Indonesia. Mulai dari yang $200 sekali makan atau $2 berdua.
Selanjutnya, menikmati bermalas-malasan di atas sofa, nonton TV. Atau masak kalau lagi mood.

Yah, itu mah nggak usah tinggal di Dubai juga bisa.. ?

Memang! Kan sudah saya bilang kemarin, Dubai is not my favorite place!

Fun fact: Dubai menggelar shopping festival mulai 24 Januari sampai 24 Februari 2008. Diskon besar-besaran di semua toko! Kalau mau berkunjung (karena baru menang lotere atau memang Anda aslinya kebanyakan duit), ini saat yang tepat. Meskipun cuaca sedang nyaman (temperatur sekitar 18-20 C), harga hotel meroket dan tiket pesawat ke Dubai sulit dicari. Sekitar 5 tahun yang lalu, harga di Dubai bisa disamakan Jakarta, tapi sekarang sudah berlipat-lipat lebih mahal.

1 comment:

  1. sapa si lho boleh dong...? aq minta alamat e-mail mu

    ReplyDelete