2009-02-26

Hoi An...... penuh cobaan

Hoi An adalah kota yang terletak di Central Vietnam; pada abad ke 14-19 pernah menjadi salah satu bandar perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Setelah memudar perannya sebagai kota niaga, sekarang kota ini menjadi musium raksasa berkat kota kuno cantiknya yang dirawat dan dilestarikan (salah satu UNESCO World Heritage sites). Walaupun tidak bisa dibantah Hoi An sudah menjadi kota turis, tapi kharisma dan keasliannya masih tetap hidup. For history lovers, Hoi An adalah tujuan impian di Vietnam. Tapi siapa sangka, Hoi An also revealed my darkest side... hehehehhe guess what...

Hoi An tidak punya airport maupun stasiun kereta, tapi gampang dicapai dari Da Nang airport/ stasiun dengan mobil. Akomodasi gampang banget, konon sih memang surga back-packer saking murah dan bagus kualitasnya. Dan buat lone female traveler kayak saya, so convenient and safe...

Jalan-jalan di Hoi An old town kecil dan sempit, tidak boleh dilewati mobil. Benar-benar nyaman buat pejalan kaki. Rumah-rumahnya semua dijaga keasliannya (walaupun sebagian besar berubah fungsi menjadi toko atau restoran), dengan lampion warna-warni menggantung. Walaupun jumlah turis yang keluyuran luar biasa jumlahnya, tapi suasana tradisional menyelimuti Hoi An dengan kuat. Perempuan dengan ao dai dan caping, anak-anak bersepeda, warung pinggir jalan menyajikan makanan lokal, juga pasar tradisional yang hingar-bingar. Setiap bulan purnama, Hoi An old town ditutup untuk semua kendaraan bermotor ("only primitive vehicles allowed" begitu bunyi peraturannya, hehehe) dan jalanan dipenuhi pertunjukan tradisional... keren....
Selain suasananya yang back to 15th century, ada hal lain yang membuat Hoi An menggoda. Baju. Lho kok? Begini ceritanya. Hoi An dipenuhi dengan toko-toko pakaian. Wait, wait, terus apa bedanya dengan tempat lain? Di Hoi An, toko pakaian ini menyodorkan katalog-katalog ready-to wear designer terbaru (Next, Mango, Zara,...), terus kita tunjuk yang kita naksir, pilih kainnya, kita pun diukur, dan voila! baju impian pun jadi dalam waktu 3-4 jam saja. Kurang puas, nggak cocok, kesempitan, tinggal dibenerin saja...

Nah... di sinilah letak godaan Hoi An yang paling evil (you have to come here to feel the temptation!) Bagaimana enggak, disodori katalog designer yang super keren, ditimbuni kain-kain dengan corak dan bahan yang ratusan jumlahnya, ditawari harga seperlima harga baju aslinya, dihujani rayuan-rayuan maut ("ooo, this will look so good on you"... etc... those devils...)... berakhirlah saya menyerah dan nggak sanggup menerima cobaan ini. Jangan tanya berapa biji baju yang akhirnya saya jahitkan di Hoi An (only God knows, saya aja takut mau ngitung). Salah satu dress saya jahitkan tepat 3 jam sebelum flight saya balik ke HCMC (lagi-lagi nggak kuat melawan godaan di menit-menit terakhir...) Jadi juga dan puassss banget deh hasilnya. Seorang ibu-ibu Canadian yang menjahitkan baju bareng saya mengaku tanpa malu-malu kalau dalam sehari dia mengkoleksi sepuluh baju baru! Anak cowoknya yang metal pun lagi sibuk mencoba suit terbarunya di depan kaca.... Terbersit dalam hati, kalau sampai ada perempuan yang kuat menahan godaan Hoi An, hmmm.. she is really strong....

Dalam perjalanan pulang (udah pakai baju baru dong, hehehehe), saya seperjalanan dengan seorang wanita Belanda yang kelihatannya backpacker banget. Menurut pengakuannya sih sudah enam bulan traveling keliling dunia. Dia dengan bangga mengatakan kalau tidak bikin sepotong baju pun di Hoi An. Kontan saya nyaris memeluknya, "sweetheart, you are one tough lady!"










Siem Reap, part II: Angkor Wat dan temen2nya...

Angkor Wat selalu menjadi cherry on the cake di Siem Reap. Sering disebut sebagai the epitome of Khmer architecture (canggih amat istilahnya), Cambodia begitu bangganya dengan Angkor Wat sampai gambar bangunan ini dipasang di bendera nasionalnya.

Konon salah satu struktur religius terluas di dunia, Angkor Wat dibangun sekitar Abad ke-12 oleh raja Suryavarman II sebagai kuil Hindhu, kemudian berubah menjadi kuil Budha di sekitar abad ke-14. Angkor Wat dikelilingi oleh danau buatan yang cantik dan menempati area seluas 2 km2. Bangunannya sendiri terdiri atas tiga tingkat. Tingkat pertama sedang ditutup waktu saya ke sana (syukur jadi ada alasan nggak usah naik ke atas; bayangin aja kemiringannya sekitar 75 derajat dan anak tangganya dulu didesain buat kaki bayi apa ya? a.k.a kecil-kecil amat, sadis!) Salah satu relief yang paling terkenal di Angkor Wat adalah reliefnya "apsara" alias gadis penari. Semuanya mblegedhing (bahasa apa coba ini) alias topless, udah gitu ukiran mukanya jelek-jelek semua lagi; bikin ilfil, hahahaha.

Di sekitar Angkor Wat, masih banyak candi lainnya yang rugi kalau nggak didatangi. Mengitarinya jelas butuh ketabahan. Soalnya, nggak mungkin kan dateng malam-malam; pasti deh harus siang waktu matahari menyengat. Jadi panas-panas kering Cambodia pun tetap nggak menyurutkan niat ke:

- Bayon Temple yang dulu terletak di pusat ibukota Khmer Angkor Thom (terkenal dengan struktur empat muka raksasanya)

- Baphuon, Royal Palace, dilanjutkan ke Terrace of the Leper King (konon tempat sang Raja menonton parade angkatan perang dulunya)

- ditutup dengan Phnom Bakheng: naik ke atas bukit-- bisa jalan kaki atau kalau mau lebih gaya naik gajah ( serius!) -- trus mendaki candi 75 derajat, trus bernapas lega melihat pemandangan hutan yang spektakuler dan Angkor Wat dari atas. Sebenarnya, sunset dari Phnom Bakheng bagus sekali, cuma kalau melihat jumlah turis vs luas Phnom Bakheng, hhh menyeramkan... takut runtuh deh tuh candi tua. Photographers, get your sunset somewhere else!

Kalau masih belum puas dengan historical visit, masih ada Angkor Museum yang surprisingly modern (dengan panduan keren a la British Museum lo). Belum puas juga? Ya udah coba aja malam-malam jalan di downtown Siem Reap, nyobain makanan Khmer yang ternyata enak di deretan restoran-restoran keren dan affordable di sini.

Anyway, night in the supposedly ancient town ini sama sekali nggak kuno... Thanks to tourists kota ini bangun 24 jam. I ended up in a small cafe yang punya live music bagus banget. No Khmer music ya, mereka mainnya top 40, hahaha...

2009-02-01

Siem Reap, part I: Tonle Sap & Ta Prohm

Sebagai pecinta reruntuhan bersejarah (hehehehe), Siem Reap sudah lama ada di daftar must-visit saya. Siem Reap adalah bekas pusat pemerintahan Khmer Empire yang berkembang sekitar Abad ke-7 higga Abad ke-15. Karena itu, di sini kita bisa menemukan banyak sekali situs bersejarah, yang kini terkubur atau terselip di antara tanah pertanian dan hutan. Makin terkenal setelah menjadi setting film Tomb Raider yang pertama (... bayangin deh Angelina Jolie loncat-loncat di sini)

Mengunjungi Siem Reap sebenarnya gampang sekali; jumlah penerbangan internasional ke Siem Reap menakjubkan frekuensinya dan dari berbagai negara pula; mulai dari Bangkok, Singapore, KL, Laos, HCMC, Hanoi, sampai Seoul.... Masuk ke Cambodia pun lumayan gampang, bisa dapat visa on arrival dengan membayar 20 USD dan selembar foto 4x6.
Untuk hotel, Siem Reap punya pilihan yang luar biasa banyak; mulai dari yang super fancy sampai budget option. Saya tinggal di sebuah guest house mid-range (tentu saja ketemu dari internet), yang menawarkan paket all-in: akomodasi, meal, transport, dan guide, dengan harga super reasonable. Tempatnya juga squeaky clean, dilengkapi dengan pemilik yang sangat bersahabat, plus staff yang ramah-ramah. Love it! (kalau mau tahu nama tempatnya, just ask me...)

Karena tiba di Siem Reap menjelang sore, rencana pertama adalah melihat sunset di Tonle Sap ("the Great Lake"), sekitar 30 menit dari Siem Reap. Danau ini sangat unik, karena selain luasnya yang berubah dramatis dengan pergantian musim, arah alirannya pun turut berubah sesuai musim. Di musim kemarau, Tonle Sap mengalir ke arah Sungai Mekong, mengerut ke ukuran sekitar 3000 km2. Setelah musim penghujan datang, arah aliran berbalik, dan Tonle Sap pun mengembang lima kali lipat lebih, membanjiri hutan dan area sekitarnya. Tonle Sap kaya dengan ikan, menjadi tempat tinggal ribuan orang di atas rumah terapung, juga mejadi habitat bebagai jenis fauna hingga ditetapkan menjadi UNESCO biosphere.

Menyusuri sungai menuju Tonle Sap, kita bisa melihat kehidupan orang-orang di atas rumah terapung. Anak-anak kecil yang berdayung dengan perahu atau bermain air dengan riang, orang bersiap untuk pesta malam harinya, mengantri beli barbecue ular (!), atau sekedar bersantai di atas hammock tanpa peduli turis-turis norak yang lewat. Tonle Sap sendiri sangat luas, lebih mirip laut ketimbang danau, sampai kita tidak bisa melihat tepi-tepinya. Setelah memotret sunset di atas sebuah restoran terapung, kami pun kembali ke Siem Reap melintasi sungai yang kini gelap, hanya diterangi semburat sisa cahaya matahari terbenam di balik gerumbulan bakau.

Esok harinya, kami berangkat menuju Ta Prohm pagi-pagi buta untuk mengejar sunrise dan menghindari rombongan turis masal. Di sinilah Tomb Raider dulu dibikin, makanya jadi tempat favorit turis deh. The real Ta Prohm? Eerie, mystical... apalagi di bawah cahaya matahari pagi yang keemasan malu-malu dan sunyi, reruntuhan kuil batu yang sebagian ditelan oleh akar raksasa pohon kapuk dan banyan ini benar-benar misterius dan sekaligus fotogenik. Justru karena belum direnovasi 100%, Ta Prohm malah jadi makin keren.

Aslinya sih, Ta Prohm didirikan sekitar Abad ke-12 oleh Raja Jayavarman VII sebagai kuil Budha; konon dulunya menjadi tempat tinggal 12,500 orang termasuk para pendeta dan penari. Sulit membayangkan, apalagi dalam kesunyian pagi di tengah reruntuhan batu Ta Prohm kini...

Untungnya kami datang pagi-pagi buta, jadi bisa foto-foto sampai puas. Sebentar matahari meninggi, rombongan turis yang berisik pun memenuhi Ta Prohm dan tempat ini sudah nggak ada mistis-mistisnya lagi deh...


(lanjut ke Siem Reap, part II)