2013-06-21

Italy: Florence, Kota Kelahiran Renaissance

Mendengar kata Itali, semua hal yang indah dan romantis langsung terbayang di mata. Bangunannya yang cantik, makanannya yang enak-enak, sejarahnya yang luar biasa, bahkan bahasanya pun nyaman didengar tanpa perlu kita mengerti. Saya pertama mengunjungi Itali beberapa tahun yang lalu, tapi kunjungan kali ini benar-benar berbeda karena saya traveling dengan mantan presiden Young European Federalists yang punya teman di setiap kota yang saya kunjungi. What can be better!

Trip ke Itali ini saya mulai dengan Florence. Kota indah yang sering juga disebut Firenze ini sangat terkenal dengan sejarahnya, bahkan selalu dianggap sebagai tempat kelahiran Renaissance. Terletak di daerah Tuscany yang juga terkenal dengan keindahan alamnya, di Florence-lah Michelangelo, Botticelli, Dante, dan Machiavelli lahir serta mengukir sejarah. Setiap sudut Florence dipenuhi oleh karya seni dan arsitektur yang luar biasa. Sampai-sampai ada sindrom yang disebut Florence syndrome, yaitu kondisi di mana seseorang merasa pusing, jantung berdebar keras, bahkan mengalami halusinasi dan pingsan, karena terpapar karya seni yang sangat indah atau berjumlah sangat banyak di satu tempat (ini serius, cek di sini kalau nggak percaya). Walaupun kunjungan saya bertepatan dengan akhir musim gugur, tapi saya lumayan beruntung; walaupun cuaca selalu mendung tapi nggak hujan deras.

Florence dari vantage point di Boboli Gardens

Florence saya mulai dengan mengunjungi Galeri Uffizi, salah satu museum paling tua dan paling terkenal di dunia. Karena Uffizi ini adalah atraksi paling populer di Florence, antrinya bisa mencapai 5 jam. Saya sarankan untuk membeli tiket online jauh-jauh hari, sehingga tidak perlu terjebak di antrian yang super panjang.
Bangunan museum ini sendiri tadinya adalah kantor untuk pegawai kota Florence; dibangun oleh arsitek terkenal Giorgio Vasari untuk penguasa Florence, Cosimo I de Medici, pada tahun 1560. Sekitar abad ke-17, pewaris terakhir generasi Medici yang menguasai Florence menyumbangkan seluruh karya seni yang ada di dalam Uffizi kepada publik, dengan syarat karya seni tersebut tidak boleh meninggalkan Florence.
Ponte Vecchio di atas sungai Arno (hari sedang mendung!)
Koleksi Galeri Uffizi benar-benar luar biasa, baik dari segi jumlah maupun kualitas dan sejarahnya. Di antaranya kita bisa melihat lukisan karya Michelangelo, Raphael, Titian, Leonardo da Vinci, dan Rembrandt. Salah satu bintang di Uffizi adalah karya Sandro Botticelli "The Birth of Venus". Huh, hampir saja saya kena Florence syndrome di sini...

Palazzo Pitti
Dari Uffizi, kami berjalan menyusuri Sungai Arno yang membelah Florence, menyeberangi Ponte Vecchio (old bridge) yang dipenuhi toko permata dan perhiasan. Ponte Vecchio ini juga menyembunyikan sebuah jalan rahasia, Vasari corridor, yang menghubungkan Uffizi dengan Palazzo Pitti. Palazzo atau istana seluas 3.2 hektar ini dulunya adalah kediaman utama keluarga Medici, keluarga paling berkuasa di Florence di abad 15-18. Pengaruh kekuasaan mereka tidak hanya di Florence, tapi pada prinsipnya di seluruh Itali bahkan di dunia; karena selain mendirikan Bank Medici yang merupakan bank terbesar di Eropa pada abad ke-15, keluarga ini juga menghasilkan empat orang Paus yang merupakan orang nomor satu di dunia katolik.
Palazzo Pitti sekarang juga menjadi museum, dengan koleksi dari Rubens, Titian, Raphael, Caravaggio, dan pelukis ternama lainnya. Di belakang istana ini, terhampar Boboli Gardens (taman Boboli) seluas 4.5 hektar, yang dihiasi patung-patung klasik, air mancur, pondok-pondok kebun, bahkan sebuah gua buatan dan amphitheatre.

Palazzo Vecchio
Esoknya, kami mengunjungi katedral terbesar di Florence, Cathedral Santa Maria del Fiore atau sering disebut Il Duomo. Katedral yang mulai dibangun tahun 1296 ini dikelilingi oleh kompleks bangunan bersejarah lainnya, sehingga kita bisa menghabiskan banyak waktu sekedar jalan-jalan di area ini.

Tidak jauh dari situ, adalah Palazzo Vecchio, balai kotanya Florence, yang sama tuanya dengan Il Duomo. Walaupun titelnya "balai kota" dan bagian luarnya kelihatan seperti benteng, interior Palazzo Vecchio ini sangat luar bisa (menurut saya paling mengesankan, dibanding bangunan lain di Florence). Gerbang masuknya dihiasi "David", patung paling terkenal karya Michelangelo (replika, karena aslinya dipindahkan ke Galleria dell'Academia biar nggak rusak).
Ruangan yang paling mengagumkan adalah Salone dei Cinquecento; dipenuhi lukisan-lukisan besar yang sangat indah, baik di dinding dan langit-langitnya. Beberapa patung karya pemahat terkenal, termasuk Michelangelo, menghiasi ruangan ini. Lantai kedua juga tidak kalah cantiknya, penuh dengan lukisan, fresco, dan pahatan yang menggambarkan kejayaan keluarga Medici.


Salone dei Cinquecento
Kami melanjutkan berjalan menyusuri Florence, menikmati gelato, melewati rumah Dante Alighieri, melihat pasar malam mulai dibuka di Piazza della Republica. Lalu malam itu kami diundang dinner oleh seorang penduduk asli Florence, Samuele, yang juga anggota dewan regional Tuscany.
Partner Samuele, Eliana, memasak spaghetti dan mereka sibuk menerangkan pada kami tentang hal-hal yang sangat penting, masalah hidup-mati, untuk Italian: memilih olive oil yang terbaik, cara merebus spaghetti yang benar (al dente -nggak boleh terlalu empuk!), juga merek pasta yang enak (buatan Itali! yang di supermarket itu nggak enak semua- menurut mereka...)

Sepintas Samuele menyebutkan kalau apartemen yang ia tinggali adalah milik Ibunya dan Ibunya tinggal di sebelah (seperti di Indonesia, di Itali pria single akan hidup dekat/ di rumah orangtuanya) Hal ini sangat lucu di Eropa. Eliana memberikan pandangan sinis, dan kami cuma bisa senyum-senyum saja sambil menikmati ciabatta, sejenis roti italia, dengan olive oil yang dibuat sendiri oleh Samuele dengan zaitun yang dia petik dari desa kakeknya (saya yang dulu benci banget sama olive oil, sekarang ketagihan). Malam semakin larut di Florence, tapi obrolan semakin seru. Saya berbisik pada Eliana "Get him out of his mom's place". Eliana terbahak-bahak lalu memeluk saya, sementara Samuele sibuk sendiri dengan obrolan politiknya....


Note: Florence adalah salahsatu setting novelnya Dan Brown (penulis The Da Vinci Code) yang terbaru: "Inferno"

2013-06-19

Schleswig-Holstein; less traveled route di Jerman Utara

Inilah jalan-jalan ke Jerman yang paling berkesan, soalnya diantar oleh Mama dan Papa S, pasangan yang sudah menghabiskan lebih dari 50 tahun hidupnya di daerah ini!

Schleswig-Holstein adalah negara bagian Jerman yang paling utara, berbatasan langsung dengan Denmark dan North Sea. Di sini tidak ada daerah yang benar-benar jadi tujuan wisata internasional, jadi kemana-mana kita bertemu dengan penduduk setempat maupun pengunjung lokal, bukan turis. Schleswig-Holstein sebagian besar terdiri dari dataran rata dengan padang rumput, ternak; benar-benar imajinasi klasik tentang pedesaan Eropa utara.
Friedrichstadt, the "Little Amsterdam" of Schleswig-Holstein

Bunga viola mulai mekar di kebun Mama S
Pagi itu, Mama dan Papa S menyiapkan sarapan dengan roti, keju, madu rapeseed dan selai raspberry buatan sendiri. Kami mengobrol sambil memandangi kebun kecil mereka di belakang rumah yang mulai berbunga di awal musim semi. Papa S membuka oleh-oleh kerupuk udang dari saya yang sudah dia mimpi-mimpikan sejak lama, sambil bernostalgia saat pertama takjubnya beliau melihat kerupuk udang mekar di penggorengan (hahaha...) Udara masih dingin menggigit, dan Mama Papa S akan mengajak saya menyusuri pantai St. Peter-Ording, pantai yang menghadap North Sea. Saya mulai menggigil membayangkannya....

Mama S pun meyetir mobil hybrid-nya, sementara Papa S sibuk memberikan arah dan siap dengan peta (maklum, generasi yang nggak percaya sama GPS). Kami melintasi padang-padang hijau yang luas, kadang bersemu kuning buga rapeseed, lumbung gandum, sapi, kambing, serta kuda yang merumput dengan tenang. Sepanjang mata memandang, selalu terlihat kincir angin (windmill) berbagai ukuran untuk membangkitkan tenaga listrik, juga sel tenaga surya besar-besar yang dipasang di atas kandang ternak atau lumbung. Jerman memiliki target untuk memenuhi 35% kebutuhan energinya dari energi terbarukan pada 2020: objektif yang sangat agresif sekaligus membuat saya kagum. Bayangkan kalau sel tenaga surya sebanyak ini dipasang di negara kita yang panas sepanjang tahun, nggak kayak Jerman yang mendung melulu. Kita pasti nggak terlalu bergantung pada minyak dan gas ya...

Pantai St. Peter-Ording
Dengan jaket tebal pinjaman Mama S, kami berjalan menyusuri pantai St.Peter-Ording yang berpasir putih dan bersih tak bercela, dengan latar belakang sand dunes serta hutan. Katanya sih, di musim panas, pantai ini penuh sesak dengan orang berjemur dan olahraga air. Bahkan di hari itu yang notabene dingin menggigit (sekitar 5 C) dan angin yang berhembus keras, ada beberapa orang yang wind-surfing di laut. Hebat!!! Saya cuma terbengong-bengong aja melihatnya.

Flood meter di Tönning; tahun 1962 sempat banjir 5.2 meter!

Dari St. Peter-Ording, Mama dan Papa S mengajak saya mengunjungi berbagai kota kecil dan desa cantik di Schleswig-Holstein. Saya curiga, tempat-tempat ini ada sejarahnya dengan masa pacaran mereka., soalnya mereka kelihatan nostalgic banget. Ada Tönning, fishing village  yang terletak di tepi sungai Eider dekat muaranya ke North Sea. Juga Wesselburen, kota kecil dengan rumah-rumah kunonya yang terpelihara, mengelilingi gereja yang berumur lebih dari 800 tahun di tengahnya. Kami juga menghabiskan banyak waktu mengelilingi Friedrichstadt, the "Little Amsterdam", karena sejarahnya yang dibangun oleh orang-orang Belanda yang terusir dari negaranya karena konflik agama. Kota kecil ini otomatis memiliki arsitektur yang bergaya Belanda, termasuk juga penduduknya yang sebagian besar keturunan Belanda. Dari situ kami melanjutkan ke Storchendorf- Bergenheusen, desa kecil di mana penduduknya sangat bangga dengan burung-burung bangau yang membangun sarang di atap rumah mereka. Malahan, ada beberapa menara yang sengaja dibangun supaya burung-burung bangau gampang membuat sarang.
Bangau di atap rumah- Storchendorf

Malam itu kami makan di Kleiner-Heinrich restaurant, Glückstadt-- rumah makan favorit Mama Papa S. Benar-benar restaurant gaya tradisional, old-fashioned, yang cantik dan hangat. Saya yang sudah sejak pagi  terus-terusan melihat sapi gemuk di padang rumput dan membayangkan enaknya makan daging sapi free-range, langsung memesan beef steak. Dan ternyata memang benar, enak sekali; beda banget rasanya dengan daging sapi ternakan. What a meal, and what a day! Terimakasih Mama Papa S, hug and kiss!

2013-06-03

Hamburg

Hamburg adalah kota kedua terbesar di Jerman, terletak di tepi sungai Elbe dengan pelabuhannya yang kedua terbesar di Eropa. Walaupun awalnya bukan tujuan utama saya ke Jerman, tapi ternyata kotanya keren banget. Hamburg juga dipenuhi turis, bahkan kapal-kapal pesiar besar ternyata bersandar di sungai Elbe...

Binnenalster, danau di tengah Hamburg
Pagi itu, matahari musim semi bersinar sangat cerah. Semua orang di Hamburg kelihatannya super excited, setelah melalui musim dingin dan musim semi yang kelabu. Hari kami mulai dengan berjalan-jalan di Hamburg Botanical Garden, taman seluas 25 hektar yang dipelihara oleh Hamburg University. Taman yang sangat indah dan bersih ini terdiri dari beberapa bagian yang semuanya cantik-cantik. Salahsatunya adalah taman Jepang, yang saat itu dipenuhi oleh bunga-bunga sakura yang bermekaran . Romantis banget...

Bike 30 mins for free!
Selanjutnya, karena cuma punya beberapa jam saja di Hamburg, kami memutuskan untuk berkeliling dengan sepeda. Seperti kota besar Jerman yang lain, Hamburg punya penyewaan sepeda umum di mana-mana. Lebih asyiknya, khusus di Hamburg, penyewaan 30 menit pertama gratis! Untuk menyewa sepeda ini, kita harus punya nomor telepon lokal serta smartphone; semua proses penyewaan dilakukan online. Nice!!

Hamburg Rathaus
Kami bersepeda menuju Rathaus (cityhall), kantor walikota dan pemerintah Hamburg yang dibangun tahun 1897. Kami lalu melanjutkan bersepeda ke Binnenalster, danau buatan di tengah kota Hamburg yang dulunya adalah sungai Alster yang dibendung. Danaunya sangat bersih dan cantik, membuat suasana kota menjadi sangat indah. Setelah duduk-duduk menikmati suasana, kami lanjutkan bersepeda ke St.Michaelis Church, gereja paling terkenal di Hamburg yang dibangun di tahun 1786. Di St.Michaelis, kita bisa naik ke towernya yang setinggi 132 m dan menikmati landscape Hamburg in a bird-eye-view.

Dari situ, kami bersepeda melewati Speicherstadt (warehouse district dari abad ke-19), ke arah Hafen City. Daerah ini adalah daerah perkembangan baru, dibangun di bekas daerah pelabuhan tua di tepi sungai Elbe. Salah satu bangunan yang paling impressive di sini adalah Elbphilharmonie, gedung konser kontemporer dengan budget lebih dari 500 Euro yang direncanakan selesai tahun 2015.

Hamburg dari St.Michaelis church tower
Dari Hafencity, kami menuju Port of Hamburg. Pelabuhan ini umurnya hampir sama dengan umur kota Hamburg sendiri, lebih dari 8 abad! Sejak dulu, Port of Hamburg menjadi jantung kehidupan dan perkembangan Hamburg, jadi benar-benar wajib dikunjungi.

Walaupun Port of Hamburg adalah pelabuhan yang sangat sibuk, dengan lebih dari 9 juta kontainer diproses per tahun, tapi bersih dan rapi banget, malah sangat romantis! ("agak" beda dengan Tanjung Priok ya...). Penduduk Hamburg sangat mencintai daerah ini, bahkan sebagian besar milyuner Hamburg memilih rumah di daerah ini karena pemandangan sungai Elbe yang indah dan hawanya yang bersih.

Sore itu kami habiskan menyusuri sungai Elbe dengan ferry, sepanjang Port of Hamburg. Bukan hanya dihiasi dengan bangunan tua yang cantik, namun juga karena sangat bersih, pelabuhan ini benar-benar sangat menawan. Bye bye Hamburg, cuma sehari tapi lumaya mengesankan!

2013-05-11

Germany- Berlin


Berlin, ibukota Jerman, terkenal sebagai kota yang terbuka, toleran, dan begitu kaya sejarah. Baru 24 tahun yang lalu, sejarah mencatat revolusi yang sangat simbolik terjadi di sini: runtuhnya tembok Berlin. Tapi selain itu, Berlin juga terkenal sebagai kotanya para party-goers; konon katanya kota paling hedonis di Eropa!

Masalah cuaca, saya memang selalu beruntung. Matahari bersinar cerah waktu saya tiba di Berlin, sehingga udara musim semi tidak terlalu dingin menggigit ("You, lucky pig!" kata teman jerman saya - in this friendly german expression-).


The Wall Museum: sepotong Tembok Berlin yang
dijadikan monumen

Kesan pertama, lalu lintas di Berlin benar-benar jauh berbeda dengan ibukota tercinta kita, Jakarta. Walaupun jalannya sempit-sempit, tapi lancar. Mobil di jalanan sedikit sekali*. Pastinya lah, karena transportasi umum nya bagus sekali, sehingga orang malas nyetir sendiri. Makanya, Berlin women jarang sekali yang pakai high heels. Hampir semuanya pakai sepatu yang enak dipakai jalan, jadi mereka bisa luwes naik turun kereta atau bis. So effortlessly stylish! Love their style!
Selain itu, banyak sekali yang memilih bersepeda. Nggak peduli pakai jas atau anak punk, mereka nggak malu-malu naik sepeda. Malahan, sekarang Berlin punya sistim penyewaan sepeda online, yang tersedia hampir di setiap pojok jalan pusat kota. So cool!

Seperti biasa, I'm a sucker for museums. Pas banget karena Berlin punya sebuah kompleks museum yang disebut Museumsinsel (Museum Island- dalam bahasa Inggris), yang termasuk sebagai UNESCO World Heritage Site. Yang cinta sejarah dan nggak gampang ngantuk di museum, untuk mengunjungi museum-museum di sini sambil menghayati, kayaknya butuh 2-3 hari... Oh iya, saya sarankan untuk membeli 'Berlin Pass' yang berlaku 1,2, atau 3 hari, untuk bisa mengunjungi semua museum di Museumsinsel gratis, free public transport dalam region Berlin, plus diskon untuk venue lainnya.

Museumsinsel ini di antaranya terdiri dari Pergamon Museum, yang salah satu koleksi bintangnya adalah Ishtar Gate, yang dibangun raja Nebukadnezar dari Babilonia pada tahun 575 SM. Lantai kedua Pergamon Museum didedikasikan untuk Islamic Art, dengan koleksi karya seni dari abad ke 8 hingga ke 19 M.

Altes Museum

Selanjutnya ada Altes Museum, yang koleksinya terutama berasal dari masa Romawi, Yunani, dan Cyprus. Koleksi paling menarik di sini, menurut saya adalah hasil galian kota Troya oleh Heinrich Schlieman, termasuk beberapa perhiasan emas yang spektakuler. Lumayan kontroversial, karena belum ada yang 100% yakin kalau kota kuno yang digali oleh Schlieman ini benar-benar kota yang dimaksud oleh pengarang Homer dalam legenda Troya yang terkenal itu.
Lalu ada Neues Museum, dengan koleksinya yang sangat terkenal, yaitu patung ratu Nefertiti dari Mesir. Patung berumur lebih dari 2800 tahun tersebut terlihat sangat realistik, cantik dan anggun sekali. Selain itu, Neues Museum juga mengkoleksi peninggalan kuno dari Mesir lainnya.
Nah, sekarang mungkin semua heran- kok bisa semua peninggalan luar bisa berharga dan kuno dari negara lain ini berakhir di Jerman? Jawabannya: passion, dedikasi, kekuasaan, dan uang! Pertanyaan selanjutnya: ngapain juga ke Berlin tapi melihat peninggalan bangsa lain?
Nah, untuk memahami sejarah bangsa Jerman, sebelum melihat monumen lain di Berlin, wajiblah mengunjungi German Historical Museum yang cuma 50m dari Museumsinsel. Di sini kita bisa melihat sejarah Jerman, mulai dari zaman prasejarah, kekaisaran, hingga terbentuknya republik, masa di bawah Nazi, terbaginya menjadi Jerman Barat dan Timur, hingga kini.
Semua museum di atas sangat teratur dan ditata sangat runut (german style!). Kita juga bisa menggunakan audio guide tanpa biaya tambahan (kecuali di German Historical Museum, ekstra 3 Euro), sehingga sejarah dari koleksi tersebut sangat jelas.

Gempor menyusuri museum, dekat dengan German Historical Museum, kita bisa leyeh-leyeh sejenak di cafetaria nya Humboldt University yang murah meriah (untuk ukuran Eropa), menikmati organic & fair trade coffee/ tea. Gaya kan...


Bradenburg Gate: dipenuhi turis, pengamen & atraksi kostum

Dari situ, saya lanjut menyusuri avenue Unter den Linden yang dipenuhi tempat bersejarah, di antaranya Bebelplatz (tempat Nazi membakar buku-buku yang tidak disetujui rezimnya), Berlin State Opera, dan Hotel Adlon (dari dulu sudah terkenal tempat menginapnya para raja, semakin terkenal setelah Michael Jackson mengayun bayinya dari jendela untuk pamer). Di ujung Unter den Linden, ada lah Bradenburg Tor (Gate). Dulu saat Jerman masih terpecah, Bradenburg Gate yang menghubungkan Berlin Barat dengan Berlin Timur ini ditutup. Saat tembok Berlin diruntuhkan, ribuan orang tumpah ruah merayakan di sini, dan sekarang menjadi simbol perdamaian serta persatuan.


The Holocaust Memorial yang bentuknya kotak-kotak
(sorry, I don't get it!)

Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, dekat dengan Bradenburg Tor adalah monumen kubisme untuk menghormati para korban holocaust, juga Reichstag, gedung Parlemen German dengan cupola gelasnya yang spektakuler. Dari situ kita bisa bersepeda ke check point Charlie, gardu militer perbatasan sektor Amerika pasca perang Dunia II, serta The Wall Museum, di mana kita bisa melihat sebagian tembok Berlin yang masih dibiarkan utuh sebagai monumen.
Teman saya juga bercerita, waktu masa kecil, mereka meruntuhkan Tembok Berlin ramai-ramai dan menjual puingnya kepada turis. Saking larisnya, puing itu cepat habis dan mereka pun menjual puing tembok sembarangan kepada turis. Hahahaha.... german scam!!

Demonstrasi cinta rumput di Unter den Linden
Untuk mengkonfirmasi reputasi Berlin sebagai kota paling hedonis di Eropa, saya agak kesulitan. Maklum, setelah seharian jalan, malamnya capek juga. Rencana untuk gaul ke Berghain, club techno paling terkenal di Berlin dengan door policy yang ajib, juga nggak kesampaian karena semuanya kecapekan. Yang sempat saya datangi cuma sebuah punk/rock club yang lumayan populer. Crowd di Berlin sangat casual dan nyantai, bahkan pergi clubbing pun dandannya nggak ribet banget.
Semua orang sangat toleran dan cool...!

Sebelum meninggalkan Berlin, sore itu saya bersepeda ke sebuah taman (yang banyak sekali bertebaran di Berlin) untuk sunbathing. Gaya banget kan, sok bule. Ternyata kalau hawa pas dingin, berjemur di bawah matahari itu memang enak banget! Jadilah saya dan teman-teman bergabung sunbathing dengan Berliners lainnya, dengan gayanya masing-masing (termasuk beberapa gay couples dan nudists).
This is Berlin, everyone is welcome! 


* dengan area 20% lebih luas, penduduk Berlin cuma 3.5 juta vs Jakarta 10 juta lebih. Jadi wajar nggak ya kalau Jakarta macet, apalagi tanpa ada public transport yang memadai? Salah siapa? *sigh*