2013-05-11

Germany- Berlin


Berlin, ibukota Jerman, terkenal sebagai kota yang terbuka, toleran, dan begitu kaya sejarah. Baru 24 tahun yang lalu, sejarah mencatat revolusi yang sangat simbolik terjadi di sini: runtuhnya tembok Berlin. Tapi selain itu, Berlin juga terkenal sebagai kotanya para party-goers; konon katanya kota paling hedonis di Eropa!

Masalah cuaca, saya memang selalu beruntung. Matahari bersinar cerah waktu saya tiba di Berlin, sehingga udara musim semi tidak terlalu dingin menggigit ("You, lucky pig!" kata teman jerman saya - in this friendly german expression-).


The Wall Museum: sepotong Tembok Berlin yang
dijadikan monumen

Kesan pertama, lalu lintas di Berlin benar-benar jauh berbeda dengan ibukota tercinta kita, Jakarta. Walaupun jalannya sempit-sempit, tapi lancar. Mobil di jalanan sedikit sekali*. Pastinya lah, karena transportasi umum nya bagus sekali, sehingga orang malas nyetir sendiri. Makanya, Berlin women jarang sekali yang pakai high heels. Hampir semuanya pakai sepatu yang enak dipakai jalan, jadi mereka bisa luwes naik turun kereta atau bis. So effortlessly stylish! Love their style!
Selain itu, banyak sekali yang memilih bersepeda. Nggak peduli pakai jas atau anak punk, mereka nggak malu-malu naik sepeda. Malahan, sekarang Berlin punya sistim penyewaan sepeda online, yang tersedia hampir di setiap pojok jalan pusat kota. So cool!

Seperti biasa, I'm a sucker for museums. Pas banget karena Berlin punya sebuah kompleks museum yang disebut Museumsinsel (Museum Island- dalam bahasa Inggris), yang termasuk sebagai UNESCO World Heritage Site. Yang cinta sejarah dan nggak gampang ngantuk di museum, untuk mengunjungi museum-museum di sini sambil menghayati, kayaknya butuh 2-3 hari... Oh iya, saya sarankan untuk membeli 'Berlin Pass' yang berlaku 1,2, atau 3 hari, untuk bisa mengunjungi semua museum di Museumsinsel gratis, free public transport dalam region Berlin, plus diskon untuk venue lainnya.

Museumsinsel ini di antaranya terdiri dari Pergamon Museum, yang salah satu koleksi bintangnya adalah Ishtar Gate, yang dibangun raja Nebukadnezar dari Babilonia pada tahun 575 SM. Lantai kedua Pergamon Museum didedikasikan untuk Islamic Art, dengan koleksi karya seni dari abad ke 8 hingga ke 19 M.

Altes Museum

Selanjutnya ada Altes Museum, yang koleksinya terutama berasal dari masa Romawi, Yunani, dan Cyprus. Koleksi paling menarik di sini, menurut saya adalah hasil galian kota Troya oleh Heinrich Schlieman, termasuk beberapa perhiasan emas yang spektakuler. Lumayan kontroversial, karena belum ada yang 100% yakin kalau kota kuno yang digali oleh Schlieman ini benar-benar kota yang dimaksud oleh pengarang Homer dalam legenda Troya yang terkenal itu.
Lalu ada Neues Museum, dengan koleksinya yang sangat terkenal, yaitu patung ratu Nefertiti dari Mesir. Patung berumur lebih dari 2800 tahun tersebut terlihat sangat realistik, cantik dan anggun sekali. Selain itu, Neues Museum juga mengkoleksi peninggalan kuno dari Mesir lainnya.
Nah, sekarang mungkin semua heran- kok bisa semua peninggalan luar bisa berharga dan kuno dari negara lain ini berakhir di Jerman? Jawabannya: passion, dedikasi, kekuasaan, dan uang! Pertanyaan selanjutnya: ngapain juga ke Berlin tapi melihat peninggalan bangsa lain?
Nah, untuk memahami sejarah bangsa Jerman, sebelum melihat monumen lain di Berlin, wajiblah mengunjungi German Historical Museum yang cuma 50m dari Museumsinsel. Di sini kita bisa melihat sejarah Jerman, mulai dari zaman prasejarah, kekaisaran, hingga terbentuknya republik, masa di bawah Nazi, terbaginya menjadi Jerman Barat dan Timur, hingga kini.
Semua museum di atas sangat teratur dan ditata sangat runut (german style!). Kita juga bisa menggunakan audio guide tanpa biaya tambahan (kecuali di German Historical Museum, ekstra 3 Euro), sehingga sejarah dari koleksi tersebut sangat jelas.

Gempor menyusuri museum, dekat dengan German Historical Museum, kita bisa leyeh-leyeh sejenak di cafetaria nya Humboldt University yang murah meriah (untuk ukuran Eropa), menikmati organic & fair trade coffee/ tea. Gaya kan...


Bradenburg Gate: dipenuhi turis, pengamen & atraksi kostum

Dari situ, saya lanjut menyusuri avenue Unter den Linden yang dipenuhi tempat bersejarah, di antaranya Bebelplatz (tempat Nazi membakar buku-buku yang tidak disetujui rezimnya), Berlin State Opera, dan Hotel Adlon (dari dulu sudah terkenal tempat menginapnya para raja, semakin terkenal setelah Michael Jackson mengayun bayinya dari jendela untuk pamer). Di ujung Unter den Linden, ada lah Bradenburg Tor (Gate). Dulu saat Jerman masih terpecah, Bradenburg Gate yang menghubungkan Berlin Barat dengan Berlin Timur ini ditutup. Saat tembok Berlin diruntuhkan, ribuan orang tumpah ruah merayakan di sini, dan sekarang menjadi simbol perdamaian serta persatuan.


The Holocaust Memorial yang bentuknya kotak-kotak
(sorry, I don't get it!)

Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, dekat dengan Bradenburg Tor adalah monumen kubisme untuk menghormati para korban holocaust, juga Reichstag, gedung Parlemen German dengan cupola gelasnya yang spektakuler. Dari situ kita bisa bersepeda ke check point Charlie, gardu militer perbatasan sektor Amerika pasca perang Dunia II, serta The Wall Museum, di mana kita bisa melihat sebagian tembok Berlin yang masih dibiarkan utuh sebagai monumen.
Teman saya juga bercerita, waktu masa kecil, mereka meruntuhkan Tembok Berlin ramai-ramai dan menjual puingnya kepada turis. Saking larisnya, puing itu cepat habis dan mereka pun menjual puing tembok sembarangan kepada turis. Hahahaha.... german scam!!

Demonstrasi cinta rumput di Unter den Linden
Untuk mengkonfirmasi reputasi Berlin sebagai kota paling hedonis di Eropa, saya agak kesulitan. Maklum, setelah seharian jalan, malamnya capek juga. Rencana untuk gaul ke Berghain, club techno paling terkenal di Berlin dengan door policy yang ajib, juga nggak kesampaian karena semuanya kecapekan. Yang sempat saya datangi cuma sebuah punk/rock club yang lumayan populer. Crowd di Berlin sangat casual dan nyantai, bahkan pergi clubbing pun dandannya nggak ribet banget.
Semua orang sangat toleran dan cool...!

Sebelum meninggalkan Berlin, sore itu saya bersepeda ke sebuah taman (yang banyak sekali bertebaran di Berlin) untuk sunbathing. Gaya banget kan, sok bule. Ternyata kalau hawa pas dingin, berjemur di bawah matahari itu memang enak banget! Jadilah saya dan teman-teman bergabung sunbathing dengan Berliners lainnya, dengan gayanya masing-masing (termasuk beberapa gay couples dan nudists).
This is Berlin, everyone is welcome! 


* dengan area 20% lebih luas, penduduk Berlin cuma 3.5 juta vs Jakarta 10 juta lebih. Jadi wajar nggak ya kalau Jakarta macet, apalagi tanpa ada public transport yang memadai? Salah siapa? *sigh*

No comments:

Post a Comment