2008-02-01

Lost in Translation: Korla

Korla? Where the hell is that?

Untuk menuju ke Korla, siang itu saya berada dalam pesawat menuju Urumchi (karena tidak ada direct flight dari Beijing ke Korla). Urumchi, ibu kota provinsi Xinjiang, sering disebut sebagai kota yang paling jauh dari laut; terletak di tengah benua Asia. Lumayan jauh juga, empat setengah jam dengan pesawat dari Beijing ke arah barat.

Dari pertama mendarat di Urumchi, saya sudah puzzled, karena tulisan "Urumchi" di bandara ditulis dengan 3 alfabet: latin, cina, dan arab! Nah lo. Dari sini, saya sudah punya feeling kunjungan ini bakal unexpectedly special.

Karena cuma transit, yang saya lihat di Urumchi cuma airportnya. Saya tadinya menduga bakalan melihat airport kecil dengan fasilitas pas-pasan; ternyata Urumchi airport luar biasa besar dan modern dengan ribuan orang yang berlarian mengejar pesawat. Ini bisa dijadikan indikator betapa booming-nya ekonomi Cina.

Begitu mendengar panggilan untuk boarding ke Korla, saya pun berjalan keluar menuju ke pesawat saya. Airport secanggih ini kok tidak pakai "belalai" yang langsung menghubungkan airport dengan pesawat ya? Sebentar kemudian pertanyaan saya terjawab: pesawat yang bakal membawa kami ke Korla ternyata adalah pesawat kecil dengan baling-baling! "Oh my God, this is going to be a bumpy ride!" teriak saya dalam hati.

Satu jam dengan banyak goncangan serta deg-degan, saya pun tiba di Korla. Saya disambut dengan angin kering agak berdebu dan airport yang mirip rumah kuno yang tidak terawat. Saya langsung mengenali penjemput saya yang membawa papan bertulis nama saya.

"Hi, how are you?" sapa saya pada si penjemput. Ia tersenyum manis. Masuk ke dalam mobil, kami mulai berkendara menyusuri jalanan Korla.
"Is the hotel away from here?"
Si sopir melihat ke arah saya, lalu menjawab dalam bahasa Cina. Ia menunjukkan beberapa papan petunjuk yang juga dengan huruf Cina, melanjutkan jawabannya panjang lebar.
Tentu saja saya tidak mengerti sepatah kata pun. I start to feel lost.

Check-in di hotel, semuanya masih konsisten: the lost feeling. Resepsionis yang bahasa Inggrisnya hampir nol, kertas penuh alfabet Cina yang harus saya tanda tangani.

Untunglah malam itu ketika saya makan malam dengan orang-orang dari kantor saya, rasa lost itu agak terobati. Meskipun sebagian besar dari mereka Chinese, tapi tentu saja mereka bisa bahasa Inggris. Juga ada seorang Malaysian dan seorang Omani di rombongan ini.

"Tonight we are ordering halal food. I know you are muslim," kata Chen, si pemimpin rombongan.
"Wow! This restaurant serves halal food?"
"Of course! There are a lot of muslims in Korla!"
Hmm, fakta yang menarik.
Kami pun mulai mengobrol; tentang Korla, tentang Xinjiang, tentang pekerjaan. Sebentar kemudian obrolan mulai berubah aneh, karena para Chinese mulai ngobrol antar mereka sendiri dengan bahasa Cina, sedangkan saya, si Malaysia, dan si Oman, ngobrol sendiri dalam bahasa Inggris, di meja yang sama.
"Does this happen all the time?" tanya saya.
"Oh yeah" kata si Oman pahit "we're always lost in translation"
Oh, kirain cuma saya yang merasa begitu. Hehehe...

Malam itu, salah seorang penduduk lokal yang baik sekali, mengajak saya jalan-jalan di Korla. Kami naik taksi ke downtown, ke pinggir sungai yang jadi pusat keramaian dan pertokoan di Korla. Jalan-jalan di Korla luar biasa bersih, lebar, dan mulus, dengan puluhan pencakar langit, pertokoan yang modern (Adidas, Nike, KFC... capitalism is here, my dear friend!), pasar malam di mana locals ngumpul untuk jajan, serta taman hiburan di pinggir sungai yang cantik dan ramai luar biasa.
Wah, siapa sangka kalau ini kota yang terletak ribuan kilometer terpencil di tengah benua Asia?

Malam itu saya mulai membuka buku "Entering Xinjiang" yang saya beli di Urumchi Airport. Korla, walaupun bukan kota terbesar di provinsi Xinjiang, adalah salah satu yang paling terkenal. Xinjiang sendiri adalah satu-satunya provinsi di Cina dengan populasi muslim yang sangat tua, terutama karena adanya etnik Uygur di sini. Otomatis di Korla juga banyak terdapat orang Uygur, dengan budaya dan bahasa yang berbeda dengan Cina Han (bahasa Uygur masih tergolong famili bahasa Turki).

Selain etnik Uygur, banyak juga etnik minoritas lain di Xinjiang: Kazak, Mongol, Kirkiz, Tajik... Sebagian masih memegang erat tradisi mereka dan bahkan masih hidup nomaden! Selain kekayaan budayanya, Xinjiang adalah bagian dari perlintasan ancient silk road (jalan sutra), jadi di sini banyak terdapat kota tua dan peninggalan yang hampir tak tersentuh modernisasi karena lokasinya yang sedemikian terpencil. Xinjiang, secara alamiah juga luar biasa cantik. Mulai dari gunung salju, danau yang dikelilingi hutan pinus, hingga gurun, semuanya ada di Xinjiang. What a hidden gem!
Tapi tidak ada surga yang sempurna di atas bumi, Separatisme adalah isu klasik di Xinjiang sejak lama. Salah satu hal yang membuat Xinjiang labil secara politik, selain karena masalah etnis, adalah produksi minyak di Gurun Taklamakan. Hmm, lagi-lagi minyak...

Esok siangnya, setelah saya selesai dengan urusan di kantor (saya ke Korla sebenarnya karena urusan pekerjaan), Chen mengajak saya makan di restoran lokal.
"Don't worry, it's halal!" kata Chen.

Aroma daging panggang yang langsung membungat ngiler (hehehe) menyambut saya di restoran ini. Membuka menu, saya terkaget-kaget karena menu ditulis dalam dua alfabet: Cina dan Arab (hey, tidak ada yang latin!).

"This is an Uygur restaurant" bisik Chen pada saya.

Saya melihat sekeliling. Hmm, benar juga, mereka kelihatan berbeda. Para pekerja lebih kelihatan seperti orang Eropa dengan mata agak sipit....

"So, what are we ordering?"

Chen memesan polo, nasi kambing a la Uygur, dan kebab kambing. Ohohoho, percaya deh, kebab kambing ini adalah kebab paling enak yang pernah saya cicipi seumur hidup...

Sore itu saya harus kembali ke Beijing. Rasanya sedih karena perjalanan ini terlalu singkat. Tapi saya sudah jatuh cinta pada Xinjiang. Saat ini Xinjiang berada dalam daftar prioritas backpack traveling plan saya. I am definitely going back, Insha Allah!

No comments:

Post a Comment