2010-01-21

Tehran- the capital of contrasts

Ibukota Iran dan kota terbesar di Iran, Tehran identik dengan kemacetan, gaya menyetir gila-gilaan, gadis-gadis trendy, restoran keren, dan (sssttt..) underground parties.

Tehran sendiri bukan kota dengan sejarah panjang. Hingga abad ke-13, Tehran hanya dikenal sebagai desa yang kalah pamor dari kota tetangganya, Rhages. Barulah di abad ke-17, penguasa dinasti Safavid mulai tinggal di Tehran dan akhirnya pada akhir abad ke-18 resmi menjadi ibukota Iran. Sayangnya, di zaman Mohammad Reza Pahlavi, banyak bangunan dan taman bersejarah dihancurkan demi "modernisasi". Hanya sedikit sekali bangunan bersejarah yang tersisa dan skyline didominasi bangunan apartemen "soviet style" yang kelabu coklat; jelas tidak memprioritaskan eksterior.

Meskipun demikian, Tehran punya banyak museum yang menarik, highway yang lebar dan mulus, metro system, dan bus rapid transfer system (sejenis busway lah)-- nggak kelihatan seperti negara embargo deh. Kalau bisa survive dengan gaya menyetir gila-gilaan di sini, Tehran bisa lah jadi tempat tinggal yang nyaman.

Berjalan di Tehran atau hang-out di salah satu cafe-nya, kita bisa merasakan kontras yang menarik di Tehran. Meskipun pemerintah mengontrol pelaksanaan "hukum Islam" dengan ketat, sangat mudah melihat gadis-gadis berdandan super-stylish (kadang dengan make-up super tebal yang membuat mereka kelihatan teatrikal) dan kerudung disampirkan sekenanya for the sake of rule, bergandengan tangan atau flirting dengan para pemudanya yang tidak kalah trendy.
Night life di Tehran saya kira cuma berputar di sekitar hang-out di restauran atau coffee-shop, tapi the youngsters jelas tertawa mendengar ini ("we make our own parties, home")
Saya juga menemukan, walaupun Iranian channels jelas-jelas cuma channels yang direstui pemerintah dan disensor super ketat, tapi satellite receiver adalah barang normal di setiap rumah. Isinya? Anything you can imagine.
Kontras inilah yang menggambarkan tegangan yang luar biasa antar generasi muda dan pemerintah. Tampak tenang di permukaan namun bergolak di bawah, persis seperti suasana di sekitar Sharif University yang teduh namun dimonitor ketat oleh pemerintah (lokasi berbagai demonstrasi, termasuk tempat terbunuhnya Neda Agha-Soltan). Semua educated youngsters yang saya ajak mengobrol jelas bukan fans berat Ahmadinejad dan menginginkan emigrasi ke negara lain. Saya cuma menghibur "Guys, your government sucks but mine is worse"
Mereka tidak terlalu terhibur. Ternyata, Iran ada di peringkat 168 corruption perception index (top 12 most corrupted contries on earth) sedangkan Indonesia masih *agak lumayan* di peringkat 111. Sigh (I'm not proud of that either)

Walaupun hal favorit saya di Tehran adalah orang-orangnya yang asyik, banyak juga tempat yang wajib dilihat di Tehran:

1- Golestan Palace
Kompleks istana peninggalan dinasti Qajar yang mulai dibangun abad ke-16 dan sekarang semuanya menjadi museum. Terdiri dari 10 museum, setiap museum membutuhkan tiket terpisah. Cek juga dulu masing-masing jadwal bukanya karena tidak semua dibuka tiap hari.

2- Museum of National Jewels
Salah satu museum paling impresif (apalagi untuk kaum-ehm-wanita), karena koleksi perhiasannya yang luar biasa. Mulai dari vas dan cangkir emas yang biasa banget deh, cuma 1-2 kilo emas dengan batu-batu mulia murahan (hehehe) sampai mahkota bertatahkan berlian-berlian besar dan singgasana emas dengan ribuan batu mulia.
Bintang museum ini adalah berlian Darya-i-Noor (sea of light), salah satu berlian terbesar di dunia (182 karat; sekitar 36 gram) dengan warna merah muda pucat yang sangat langka.
Museum ini terletak di bawah tanah National Bank of Iran, tanpa tanda maupun petunjuk. Pokoknya misterius banget deh.

3- National Museum of Iran
Museum ini mengoleksi 300 ribu relik mulai dari zaman pre-historik 9 milenium BC, masa pra-Islam, hingga post-Islam. Koleksinya sangat lengkap, sayang panduannya minim jadi kalau bisa mendapatkan buku panduan atau membaca sejarah in advance bakal lebih menarik. Salah satu koleksi favorit saya adalah tablet Darius I yang isinya memuji-muji dirinya sendiri dan dewa Ahura Mazda. Juga sebuat tablet dari seorang raja yang isinya kutukan terhadap siapapun yang merusak tablet bikinannya itu (good they keep it intact, hfff....)

4-Park e-Jamshidiyeh
Tehran yang kering dan (somewhat) kelabu dilatarbelakangi oleh Pegunungan Alborz yang cantik dengan puncaknya selalu bersalju. Park e-Jamshidiyeh adalah tempat di kaki pegunungan ini, banyak restoran trendy di mana kita bisa melihat pemandangan lampu-lampu Tehran di malam hari. Terus terang saja saya cuma betah sekitar 5 menit di sini walapun sebenernya suasananya asyik banget. Lagi puncak winter plus batas toleransi dingin saya yang rendah banget (maklum asli jogja). Kita bisa juga naik cable car ke puncak.

5-Azadi Monument
Dibangun masa Reza Pahlavi untuk memperingati 2500 tahun Persian Empire. Untuk menyainginya, rezim sekarang membangun Milad Tower yang desainnya pasaran (mirip banget dengan CN Tower-Toronto atau Kuala Lumpur Tower-KL)

6- Tehran Bazaar
Bazaar raksasa yang digerakkan oleh pedagang-pedagang kaya raya yang konon membiayai Revolusi Iran tahun 1978. Walaupun ada bagian yang berusia sekitar 200 tahun, sebagian besar hasil pembangunan di abad ke-20.



Oh ya, did I mention about the traffic?... Jangan lupa siapkan mental untuk menghadapi lalu lintas Tehran yang brutal (menurut saya cuma bisa dibandingkan dengan keliaran Cairo). Walaupun Tehranis umumnya lembut dan baik, mereka otomatis berubah kepribadian di balik roda setir!

No comments:

Post a Comment